Apa yang sudah terlupa. Kadang memang sebaiknya seperti itu. ________ Entah telah seberapa jauh. Entah sudah berapa lama jua entah di mana. Yang kusadari, sedari tadi aku terus mengikuti dia. Terduduk berjam-jam lamanya sambil menyembunyikan wajah di jok belakang mobil, lalu kini langkahku yang perlahan lagi-lagi membuntuti jejak kaki milik dia. Benar. Dia. Pria yang dugaku tak begitu asing bagi pengelihatan, pendengaran maupun perasaanku. Namun, tak tahu bagaimana aku justru tidak dapat mengingat siapa gerangan dia ini. Satu hal: dia mungkin berbahaya. Hanya itu yang sanggup kugali dari percikan-percikan firasat di rongga tercuram dalam diriku. Menekuk tulang leher, aku merunduk ciut di sepanjang pergeseran tungkaiku yang lamban. Hingga, tiba-tiba terdengarlah suara derit pintu dibu

