Epilog

698 Kata

Seandainya, jika semua peristiwa itu tak pernah terjadi ....   "Jadi ... fix-nya namanya mau siapa?" Tante Ane atau lebih tepatnya dalam kurun waktu tiga tahun ini kusapa beliau dengan sebutan Bunda Ane, berbisik lirih padaku sementara jarinya terus saja aktif mengusap-usap permukaan pipi gembil milik sesosok bayi mungil yang tengah tertidur dalam box. "Em, tanya Ayahnya saja deh, Bun coba," jawabku justru melempar bola. Bunda Ane pun langsung berdecak gemas karenaku sebelum pandangannya lantas beliau larikan ke poros ruangan. Di mana pada permukaan sofa sana, tampak duduk sembari terdengar saling beradu urat ketiga putra dari Bunda Ane. Entah masalah apa yang sedang mereka argumenkan, sayup-sayup aku dapat menangkap kalimat-kalimat seperti: "Biru. Yang biru saja." Itu suara berat

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN