Lembar lusuh cerita baruku

1977 Kata
Straight-Wall, London, 9 Oktober 2014.. Pandanganku terpusat ke depan, saat kakiku mulai turun dari taxi jingga itu. Rumah ini, rumah di hadapan mataku, adalah rumah mewah yang akan kami tempati. Rumahnya besar, bertingkat dua. Eksteriornya dihiasi pernak-pernik kemilau pekarangan rumah, serta kelap-kelip pendaran lampu taman. Terletak di Villa Straight-Wall, perumahan kuno dekat pusat kota, namun memiliki cita rasa bergaya kuno. Kami pun mulai masuk, coba beradaptasi dengan angkuhnya rumah tua ini. Kugeret-geret koper bawaan yang tak berdosa, sambil menatap relif rumah yang melucuti perhatianku. Terdapat ruang tamu yang merupakan pusat yang menghubungkan dengan ruangan lainnya. Kamarku tepat di depan ruang tamu. Lalu, di sebelah kiri depan kamarku terdapat lorong kecil yang merupakan jalur menuju kamar ibuku. Mataku memandang ke lantai atas. Perlahan, langkah kakiku mengajakku kesana. Tangga tersebut berbentuk spiral ke kiri, dengan arah mengerucut ke atas. Semakin berpijak ke atas, semakin membuat kepalaku pening. Entah mengapa, setelah tiba di puncak lalu melihat ke bawah, rasanya kepalaku penat teramat sangat. Tanganku lesat mencengkeram pagar, sembari menahan tekanan dalam otak, seakan-akan benakku ditarik oleh ketakutanku sendiri. Aku lekas menepi pada tembok ruang atas, sambil mengatur nafas agar tak jatuh pingsan. Pandanganku kembali melesat, menepi pada sebuah pintu di lantai ini. Kusibak pelan pintu itu. Dengan penuh rasa penasaran, kuselak lagi pintu di ujung ruangan, pintu yang terhubung dengan balkon. Bola mataku menatap ke bawah, seketika itu juga rasa takut menghampiriku. Aneh, acapkali di atas ketinggian, batinku mendadak histeria. Aku buncah, apakah ini ada kaitannya dengan masa laluku? Kepalaku yang pening melangkahkanku cepat menuju kamar. Sejenak, kupulihkan akal sehatku. *** Berlama-lama di dalam kamar kian menyulutkan rasa jenuh. Beberapa saat kemudian aku bangkit, keluar dari sana lalu menyambangi sebuah ruangan di tepian jurang anak tangga. Hembusan angin tipis menyerbak, ketika tangkai pintu ruangan itu kuselak cepat. Mataku menajamkan fokusnya, saat kulihat ada tangga menuju ke bawah ruangan. Keren! Kami memiliki ruangan bawah tanah. Aku pun turun kesana, suatu tempat yang diselimuti keluh kusam partikel debu. Sasha!!! Teriak ibu dari arah kamarnya, menghentikan penjelajahanku seketika. "Iyaa..." balasku lantang, sambil menerbangkan langkah ke kamar miliknya. "Apa kau tadi ke ruang atas? Kau tak boleh kesana, tempat itu sangat kotor dan tidak baik bagi pernafasanmu. Lain kali kau tak boleh kesana lagi ya." ucap ibuku setelah menatap pintu kamar atas terbuka lebar. Kuanggukan kepalaku pelan, menghampirinya yang tengah membuka perlengkapan dari koper. Ibu keluarkan sebuah biola, lantas sorot mataku memandangnya candu. Biola yang anggun, dengan lengkung ukiran yang terpahat di atas tubuhnya. Calt the Shire, nama itulah yang terpatri di atas permukaan kayu maple ­tua tersebut. Tubuhnya seksi, berdawai empat, dan panjangnya 33 cm. Ringannya hanya 0.55 kg saja. Mungil, cocok untuk dibawa kemana-mana. Aku pun tergiur untuk segera memainkan biola milik ibuku. "Bisakah mama mengajariku?" "Tentu, tapi sejak kecil kau lebih lihai dalam memainkan piano. Kau juga membuat lagu-lagumu itu dari benda itu. Lebih baik kau fokus saja pada permainan piano." ungkapnya memberi nasihat. Kurapikan bingkai foto-foto ibuku ketika ia masih muda. Salah satu fotonya aku tatap. Tahun ini, usianya telah menginjak 39 tahun. Berbeda denganku yang masih berusia 17 tahun, namun tampak lebih dewasa, seperti berumur 20 tahun-an. Kubongkar-bongkar bagian dalam koper, memastikan apakah ada foto-fotoku disana. Hatiku bergetar pelan, nyatanya tak akan ada fotoku yang menghiasi bingkai-bingkai di sepanjang dinding rumah. Aku pun kembali menelan nafas resah. "Maafkan mama ya, tak bisa selamatkan satupun barang berharga milikmu. Lagu-lagumu juga, semua lagu itu ikut terbakar dalam kecelakaan itu." Aku bergeming. Rasa kecewa ini mencekik teriakku yang hendak keluar. "Lihatlah, mama menemukan buku notasi ini!" ucapnya kegirangan, lalu tangannya menyerahkan sebuah buku padaku. "Darimana itu?" balasku sembari menerima hangat buku tersebut. "Aku menemukannya terselip di samping lemari." sambar ibuku agak kikuk, "Kau tahu? Dulu kau sering memenangkan kontes penciptaan lagu. Kuharap, buku ini dapat membantumu dalam menjalani terapi ingatan." Kupegang utuh buku notasi itu. Tertanda tulisan disampulnya, 'Imagine Note'. Sebuah buku yang mungil, ketika disibak akan muncul nada-nada, lirik, dan melodi-melodi yang menyapa ceria mataku. Buku itu kuusap sekali lagi, menimbulkan beribu kisruh dalam ceruk sanubari. Aku heran, teramat heran. Siapa pula pemilik buku ini? Apa mungkin pemilik rumah ini sebelumnya adalah seorang komposer? Kutatap iri sebuah nama di pojok atas lembaran buku, tertanda Shania, sang pencipta lagu. Ternyata, semua ayat lagu dalam buku ini diciptakan oleh satu orang. Shania, siapa dia? Mungkinkah aku mengenalnya? Benakku terpaku akan nyanyian itu. Kurasa lagu ini adalah lagu yang cukup baik. Terlihat dari goresan lirik yang memikat, dan juga gelombang paranada yang melambungkan curah ceria sukacita. Bermula dari lagu ini, kucoba menggali kemampuan bermusikku yang kini terkubur. Kubaringkan buku itu di atas meja dekat jendela, merenung memikirkan semua cara mendapatkan piano. Merasa sesak, tirai jendela kubuka. Berharap buaian angin berikan inspirasi berharga. *** Mataku terselak ketika posisi wajahku terbaring di permukaan meja. Mendadak tubuhku bangkit, teringat pada sebuah mimpi semu. Mimpi indah semalam, ketika aku terjerumus jatuh, terlalu tersugesti terhadap musik. Terlalu berharap kelap-kelip kejadian tadi malam menjadi kenyataan. "Saatnya sarapan Sasha!" lengking ibuku dari balik pintu. Panggilannya memaksaku untuk segera beranjak dari kamar. Ruang makan dan dapurnya bersatu. Meja dan kursi makan terletak dua meter dari depan pintu yang terhubung dengan ruang tengah. Kutarik salah satu bangku, kududuki dia sambil bersandar manja pada wajahnya. Beraneka macam hidangan laut tersaji di atas meja makan. Mereka menatapku, melambaikan aroma sedap yang kian menyengat, membuat lidahku segera mengerahkan air liurnya. "Bagaimana jika kau masuk ke sekolah musik, mungkin disana kau dapat mengasah bakatmu yang terlupakan. Bagaimana menurutmu?" ujarnya mendadak, menghentikanku yang hendak menjangkau lobster di ujung meja. "Hmm... itu ide yang baik!" seruku dengan semesta wajah berbinar. Secarik kertas pendaftaran sekolah ia tunjukan padaku. Cataville Art University namanya, terpancang pada sebuah lahan dekat dengan lingkar gedung parlemen. Terdiri dari empat program keahlian, yaitu seni musik, seni rupa, seni drama, dan seni tari. Mataku bergulir ke lini bawah, tertera untuk dapat diterima di sekolah ini harus sesuai kualifikasi, ada audisinya. Ada waktu sekitar dua bulan untuk mempersiapkan uji diri. "Mam, mungkinkah aku bisa masuk ke sekolah semacam ini?" "Tentu saja bisa, seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya. Mama akan membelikanmu piano, kemudian mengajarimu." balasnya. Tangan ibu menjangkau udang bumbu pedas di sudut meja, kemudian beberapa takaran ia taruh di piring makanku. "Ini adalah makanan kesukaanmu." Untuk pertamakalinya ia menyaksikanku makan dengan sangat lahapnya. Tak sangka, makanan pedas ini ternyata meningkatkan nafsu makanku. Kutambahkan dua takaran lagi, sambil mengoyak-ngoyak tubuh ringkih si udang dengan gerigi tajamku, meremukannya seketika. Waktu mencelat seperti kilat. Siang pun telah padam, berganti malam. Sekali lagi, Kutatap parasku pada selembar cermin. Aku bingung, harus berpenampilan seperti apa. Rambut berponi, digerai percuma, atau dikuncir dua? Rencananya kami berdua akan melakukan aksi shopping night, berburu perlengkapan idaman seperti yang biasanya dilakukan oleh para kaum hawa. Menghambur-hamburkan uang demi kepentingan rohani. Kami berjalan di sekitar toko-toko pakaian, melihat-lihat trand mode saat ini. Ia memilihkanku salah satu baju. Dress merah cantik dibelinya untuk memanjakanku. Setelah membeli pakaian, kami telusuri toko lain untuk membeli piano. Namun aku berbalik arah, saat mataku menangkap sekumpulan manusia memadati jalan. Seperti lalat mengerubungi makanan, mereka mengerumuni seseorang yang tengah menampilkan street show case. "Mam, tunggulah disini. Kalau perlu belilah makanan dulu, aku mau jalan-jalan dulu." pintaku padanya. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama!" serunya singkat. Aku berjalan santai, menuju sekerumunan manusia di sudut jalan buntu. Semakin dekat melangkah, kudengar lantunan nyanyian. Seorang gadis bersama rekan prianya sedang melakukan acara musik jalanan. Mereka bersenandung menggunakan perlengkapan seadanya. Gadis itu sebagai vokal-gitaris, sementara temannya sebagai gitaris. Keterbatasan alat tidak membatasi bakat mereka. Bahkan, mereka tampil dengan perform yang baik. Suara aliran keras didengungkan oleh gadis itu. Nada-nada nge-rock dilantunkan antara syair dan melodi. Mendadak tiga orang polisi datang dari arah selatan. Memecah belah lautan manusia menjadi dua bagian. Mata gadis itu terbeliak, saat ketiga polisi datang menghadang. Tanpa basa-basi, gadis dan pemuda yang tengah melakukan show case itu mengakhiri pertunjukannya. Kemudian meninggalkan panggung, pergi, sambil mengambil kaleng koin tanpa membawa perlengkapan musik. Mereka berdua berlari ke arahku. Mataku dan mata gadis itu sempat beradu pandang, ketika ia melintas di samping kananku. "Hei, berhenti!!" ucap seorang polisi pada gadis dan pemuda itu. Namun gadis dan pemuda itu menghiraukannya, melanjutkan pelarian mereka ke arah utara. Dan lesap, di telan kegelapan malam. Sedangkan ketiga polisi itu menghentikan langkahnya, ketika mereka berada di dekatku. Mereka kehilangan jejak saat pengejaran. "Ada apa dengan mereka?" tanyaku penasaran. "Mereka tidak boleh melakukan pertunjukan ilegal." keluh seorang polisi. Pertunjukan usai secara paksa. Aku kembali menghampiri ibu. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah toko musik, sambil kutenteng tiga bungkus belanjaan. Hatiku terpikat, pada satu grand piano hitam di ujung ruangan. Meski ada banyak grand piano dan stand-up piano di jajaran barisan lain, aku tidak terbuai hati padanya. Aku tak peduli dengan yang lain, hanya ingin yang itu. Piano itu, sebuah grand piano menawan yang berhasil menghasut inginku. Sehingga aku tidak menaruh hasrat pada piano cantik lainnya. Singkatnya, ia akan sampai di rumahku esok hari. Aku kembali menaikki bus untuk pulang, sambil menanti lembar esok hari bahagia. Dimulai dari saat itulah, semua kenangan itu kembali mencuat, membanjiri otakku dengan air peluh ingatan manis. *** Aku beranjak dari ranjangku. Mondar-mandir tak jelas. Melirik jam dinding yang kian berganti angkanya. Aku termenung sepi, meratapi nasib di balik jendela dengan muram. Muka masam menghiasi wajahku yang kusut. Sesaat, aku kembali bangkit, saat bel rumahku berteriak keras, memanggilku yang masih menunggunya sejak tadi. Aku berlari cepat ke depan rumah. Kusibak pintu depan, lalu seorang pemilik bayangan datang menyapa. Kukira itu kiriman piano, ternyata itu adalah ibuku yang baru saja pulang. "Mama dari mana?" sapaku terperanjat. "Mama habis dari Trilogy Music. Nanti mama akan bekerja tetap disana." balasnya sambil berjalan pelan menuju kamarnya. Rupanya ibuku akan melanjutkan karirnya sebagai arranger. Pindah tempat tinggal menyebabkannya harus pindah ke perusahaan musik yang baru. Dia telah banyak mengaransemen lagu sejak dulu. Itulah satu-satunya pekerjaan yang dia miliki untuk mencukupi kebutuhan kami berdua. Bunyi teriakan bel berdering kembali. Pintu tua itu aku buka sekali lagi. Pancaran wajahku berbinar, saat sebuah piano tepat di hadapanku. Petugas pengiriman paket segera menggotong dan menaruhnya di kamar bawah tanah. Sesaat telah berlalu, aku dan ibuku turun ke bawah, hendak berkenalan dengan piano itu. "Setiap nada yang satu dengan lainnya memiliki interval, antara nada C ke D naik satu, sedangkan E ke F naik setengah." tutur ibuku membuka materi. "Jadi, tangga nada major memiliki interval 1-1- ½ - 1 – 1 – 1 - ½ ." ucapku meyakinkannya. "That's right! Bagaimana jika kau coba lagu ini." tunjuknya pada bait lagu dalam lembar Imagine Note. "Benar, ini buku yang mama temukan. Aku pasti akan lihai dalam waktu sebulan. Tidak, tapi dua minggu!" timpalku sangat percaya diri. Ibuku meraih Imagine Note sekali lagi. Kemudian jemarinya membuka lembaran buku secara kilat. Ia berhenti pada sebuah halaman di lagu terakhir. Lagu yang masih buram, baru diisi beberapa bait, belum lengkap sampai tuntas. "Sayang sekali lagu ini belum selesai, padahal nada depannya cukup baik. Lain kali coba kau lanjutkan lagu ini ya..." "Tentu saja... " gumamku ceria. Tiga minggu kemudian, 1 November 2014.... Batinku terseret jauh. Kala mendengarkan lagu di dalam Imagine Note, lagu berjudul 'keagungan cinta', karya Shania. Setelah mendengarnya begitu lama, kurasakan sesuatu hal yang berbeda, seakan aku pernah memainkan lagu ini sebelumnya. Tapi kapan? Kubertanya pada diri sendiri, namun ia tetap bungkam. Mendadak kepalaku terasa perih, terhimpit semua gejolak angin masa lalu. Terpantul jelas sepotong ingatan waktu silam. Ya, sepintas penglihatan ketika aku memainkan lagu ini. Shania, sontak saja namanya terpikir olehku. Siapa dia? Mengapa pula lagu ciptaannya malah menyulutkan ingatanku? Mungkinkah ia ada kaitannya denganku? Kucoba lupakan sejenak. Lambat laun kepalaku mulai pulih, setelah k*****s kontraksi pada pembuluh otakku. Disisi ini aku kesakitan. Namun di sudut lain aku mulai menyadari. Apakah ini pertanda bahwa ingatanku mulai kembali? Semoga ini adalah permulaan, dimana aku dapat mengingat kembali segalanya. Semua kebenaran dalam hidupku, meski itu yang terburuk sekalipun. Aku selalu berupaya untuk dapat mengakhiri kisah ini. Suatu kisah yang misterius, tentang aku dan tentang masa laluku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN