Bab 2

1476 Kata
Aku menoleh kepada Aldo, mendengus meremehkan. "Kau tidak perlu membuat lelucon jelek seperti itu Al." "Menurutmu ini lelucon?" Tanyanya balik. Aku mengamati wajahnya yang kelewat tampan itu, yang tanpa cacat. Aku menggertakan gigiku ketika pikiranku mulai berkelana sendiri. "Ini sungguhan?" Tanyaku pada lelaki paruh baya yang daritadi hanya duduk dikursi besarnya itu. "Kami tidak harus merahasiakan ini pada kalian, karena kalian sekarang dibawah perlindungan kami." Jawabnya. Mataku membulat tidak percaya. "Jadi mata-mata itu nyata?" Aku memutar tubuhku menghadap Aldo lagi. "Dan kau tidak memberitahuku tentang ini?" Aku menghentakan kakiku kesal. "Memangnya kau tidak pernah menonton film tentang mata-mata? Tentu saja kami harus merahasiakan ini." Kata Aldo, dan dari tatapannya padaku, aku tahu dia menganggapku bodoh. Well, aku tidak akan menyangkal dengan yang satu itu. "Bahkan dari keluargamu sendiri?" Tanyaku, aku menyipitkan mataku, tahu bahwa pertanyaanku itu krusial. "Tentu saja." Jawabnya santai. Sial. Aku menarik napas dalam, menenangkan diriku sendiri dan mencoba untuk tidak menendang s**********n Aldo. "Oke, mari kita lupakan sejenak tentang itu dan fokus kepermasalahan. Jadi kalian akan melindungi aku dan keluargaku, benar?" Lelaki paruh baya itu mengangguk meyakinkan. "Kami akan berusaha semampu kami." "Semampu kalian?" Tanyaku balik, entah mengapa kata-katanya malah membuatku ragu. "Kita bisa menghentikan pembicaraan ini, kita tidak harus memberitahu semuanya pada anak ini." Kata Aldo pada lelaki paruh baya itu. Aku sudah membuat ancang-ancang untuk menendang kaki Aldo, tapi lelaki paruh baya itu mulai bicara lagi. "Tidak apa, kurasa dia berhak tahu." Lelaki itu berdiri daru kursinya yang kelihatan mahal. Dia berjalan kearahku dan berdiri didepanku, matanya mulai memandangku dari atas sampai bawah. "Aku punya penawaran bagus untukmu." "Apa?" "Kau mau jadi mata-mata?" Tanyanya. Sangat tidak terduga. "Apa?" Pekikku. "Apa?" Aldo juga terdengar sama terkejutnya denganku. "Aku bahkan baru tahu kalau mata-mata itu nyata, dan kau menawariku menjadi salah satunya?" Kataku. "Aku yakin kau akan menjadi mata-mata yang hebat, aku punya perasaan yang kuat padamu." Katanya, menepuk bahu seperti bersungguh-sungguh dalam setiap perkataannya. "Ini lelucon. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi mata-mata." Kataku, menepis tangan lelaki paruh baya itu dari pundakku. "Kau akan dilatih di salah satu akademi kami di kota ini, kami akan mengajarimu semuanya." Kata lelaki paruh baya itu. "Kau bercanda? Dia akan gegar otak di hari pertama pelatihan." Kata Aldo. "Terimakasih." Desisku pada Aldo. "Pikirkanlah ini. Kalau kau menjadi mata-mata, dengan segala pelatihan yang kami berikan padamu, kau akan bisa melindungi keluargamu sendiri. Bagaimana?" Tanyanya. Aku memandangi keluargaku dari balik pintu kaca, ayahku sedang sibuk berbicara pada seseorang berpakaian rapih, ibu sedang menelpon, dan kakaku sedang memandang balik padaku. "Akan kupikirkan." Jawabku singkat. "Pikirkan dengan cepat, akademi akan dimulai akhir pekan ini." Kata lelaki paruh baya itu. "Buru-buru sekali." Kataku pelan, seperti.berbisik pada diriku sendiri. "Kami bergerak di bidang yang cepat." Kata lelaki paruh baya itu, dan aku tidak percaya dia dapat mendengar perkataanku barusan. Lelaki itu memberikan kartu namanya padaku, tertulis nama Robert Stevenson, cocok sekali dengan wajahnya yang mirip aktor hollywood. "Darimana asalmu?" Tanyaku tiba-tiba pada Robert. Dia terlihat terkejut dengan pertanyaanku. "Kentucky, kenapa?" "Tidak, hanya penasaran." Sesungguhnya aku sendiri juga tidak tahu alasanku bertanya. "Elise, kita harus pergi sekarang." Kata ayahku yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu kaca. "Boleh kupanggil kau Rob?" Tanyaku. Robert mengangkat sebelah alisnya. "Tentu." "Akan kupikirkan tentang tawaran itu, Rob." Kataku sambil memasukan kartu namanya kesakuku, lalu berjalan keluar dari ruangannya dan berkumpul lagi bersama keluargaku. Bayu langsung menyambutku, "Apa yang kalian bicarakan tadi?" "Dia menawarkanku menjadi mata-mata." Jawabku. Bayu tertawa keras, dan mendapat respon sebuah pukulan di lengannya dariku. "Kau jadi mata-mata?" "Aku hebat dalam olahraga, dan aku cukup pintar." Kataku penuh percaya diri. "Perkalian saja masih sering lupa." Katanya, dan aku kembali memukulnya. "Aku tidak mau membicarakan ini." Kami berhenti membahas ini dan mulai berjalan keluar dari gedung ini. Ayah dan ibu berjalan didepanku dalam diam, sedangkan Aldo dan Bayu sibuk berbincang disebelahku. Sementara aku sibuk mengagumi arsitektur gedung ini yang luar biasa indah dan mewah, serta orang-orang yang berlalu lalang dan kelihatan sibuk itu. Ketika kami sudah sampai di pintu masuk gedung, sebuah minivan hitam sudah menunggu. "Bagaimana dengan kendaraan kami?" Tanya ibuku pada salah satu pria yang mengawal kami daritadi. "Kami sudah mengaturnya." Jawab pria itu. "Silahkan masuk." Kata pria itu, dia menggeser pintu minivan itu sampai terbuka. Dengan gerakan yang cepat, kami dipaksa masuk kedalam minivan mewah. Kursinya dipasang saling berhadapan, aku duduk di samping jendela kiri, disebelahku duduk kakaku Bayu. Aku mulai menyandarkan kepalaku pada pundak Bayu, dan dia melingkarkan lengannya padaku. Tidak ada yang bicara sama sekali, semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan aku sibuk memandangi wajah Aldo, sulit untuk tidak memandangnya. Tapi ketika mata kami saling bertemu, aku mengalihkannya dengan cepat. Jantungku berdegup sangat cepat ketika dia memandangku balik. Mataku mulai memberat, dan kakiku rasanya pegal karena dipaksa berlari dengan cepat ketika dirumah tadi pagi. Jadi aku tertidur di pundak Bayu yang keras, tapi nyaman. Aku terbangun ketika Bayu membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Mau kemana kita?" Tanyanya. Aku mengerjapkan mataku, dan megusap pinggiran bibirku yang penuh dengan air liurku yang juga membasahi kemeja Bayu. Aldo yang menyaksikan hal ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan aku tidak memperdulikannya. Dia sudah tahu kalau aku suka mengiler kalau tidur, jadi aku sudah tidak malu-malu lagi didepannya. Setelah sepenuhnya tersadar, aku melihat arloji hijau toscaku. Sudah hampir 3 jam perjalanan dan kami belum juga sampai. Aku melihat kejendela, kami berada dipinggiran kota. "Tempat tinggal kalian sudah tidak aman lagi, jadi kami memberikan yang baru." Kata pria yang duduk disebelah Bayu. Bayu mendengus. "Bagus, sekarang aku harus menempuh waktu lebih lama untuk kekampus." Ibuku menatap ayahku dengan pandangan bertanya, dan ayahku hanya mengangguk meyakinkannya. Walau aku bisa melihat dengan jelas raut kekhawatiran dari wajah ibuku yang belum hilang dari awal aku melihatnya di gedung tadi. Dan akhirnya kami sampai disebuah rumah sementara kami yang sederhana, namun tampak indah. Pagarnya berwarna hitam dengan taman kecil dan garasi. Bagian luar rumahnya di beri warna putih gading yang menenangkan, warnanya sama dengan rumahku. Aku sama sekali tidak keberatan tinggal dirumah ini, walau tidak sebesar rumah asliku. Kami semua turun dari minivan dan mulai memasuki rumahnya. Aku berlari dengan penuh semangat, aku akan mencari kamarku. Pintunya tidak terkunci, jadi aku langsung masuk. Didalam rumah sudah ada segala perabotannya, lengkap. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, satu kamar mandi di setiap lantai, dan empat buah kamar. Aku memasuki sebuah kamar dilantai dua yang terdapat setumpuk barang-barangku, orang-orang itu sudah membawanya kesini. Aku memeriksa lemarinya, dan pakaianku sudah lengkap didalamnya. Selama sisa hari itu, ayah dan ibu sibuk berbicara dengan Aldo dan pihak-pihak yang bersangkutan. Tentang keselamatan dan perlindungan kami. Aku tidak mau mendengarkan, aku hanya berdiam diri didalam kamarku setelah mandi tentu saja. Aku masih mencoba menenangkan diriku setelah melihat banyak mayat dari orang-orang yang kukenal. Dan aku masih sedikit terguncang setiap kali aku mengingat Aldo menembak seseorang. Lalu seseorang membuka pintu kamar baruku, Aldo muncul di ambang pintunya. "Hai." Sapanya. "Hai." Balasku. "Aku harus pulang sekarang." Katanya. "Baiklah." Jawabku. "Al," panggilku sebelum dia pergi. "Terimakasih karena sudah menyelamatkanku tadi." Aldo mengangguk. "Bukan masalah." Lalu membalikan badannya, memunggungiku. Tangannya tampak ragu-ragu menutup pintuku, lalu dia berbalik lagi menghadapku. "Tentang tawaran Robert padamu tadi, kumohon pikirkan baik-baik. Menjadi mata-mata tidak sehebat yang kau pikirkan." "Aku tidak menggap itu hebat." Kataku. "Kumohon pikirkan baik-baik. Sejak dulu kau selalu ingin menjadi dokter kan? Apa kau mau membuang cita-citamu demi menjadi seorang mata-mata?" Tanyanya. Aku terdiam. "Jangan pikirkan keselamatanmu dan keluargamu, itu tanggung jawabku. Kalian hanya tinggal menjalani hidup dengan normal lagi." Dia melanjutkan. "Bagaimana itu bisa menjadi tanggung jawabmu? Aku mengenalmu, kau bahkan tidak bisa bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri." Kataku. "Kau bahkan tidak pernah mengunjungiku selama empat tahun belakangan. Dan sekarang tiba-tiba kau muncul dan mengatakan bertanggung jawab terhadap keluargaku?" Aku mendengus dengan keras. "Yang benar saja." "Terserah kau saja." Bentaknya, dan menutup pintu kamarku dengan kasar. Aku memejamkan mataku dan menghirup napas dalam-dalam, menenangkan diriku. Ini pertama kalinya Aldo membentakku, dia terlihat sangat kesal. Tapi ada perasaan bahagia yang menyusupiku ketika aku bisa melihat wajahnya lagi, tidak bisa dipungkiri kalau aku merindukannya. Sangat merindukannya. Setelah perbincangan singkatku dengan Aldo tadi, aku terus saja memikirkan tentang tawaran yang diberikan Rob padaku. Aku melewatkan makan malam, melewatkan acara tv favoritku hanya untuk memikirkan ini. Aku selalu memikirkan keluargaku, mereka prioritasku. Walaupun kedua orangtuaku hanya punya sedikit waktu untukku dan kakaku, mereka tetap orangtuaku. Aku menyayangi mereka, aku tidak akan sanggup jika kehilangan mereka. Bagaimana kalau ayah atau ibuku dibunuh ketika mereka sedang sibuk bekerja di kantornya, atau bayu yang di bunuh ketika dia sedang ditengah-tengah kuliah kedokterannya? Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah itu, untuk menyelamatkan mereka. Rasa-rasanya aku akan sangat egois kalau tidak menerima tawaran Rob dan hanya mengikuti keinginanku saja. Lagipula aku tidak terlalu pintar untuk bisa menjadi dokter. Jadi aku mencari kartu nama Rob yang aku letakan di meja belajarku. Aku melihat nomor yang tertera di kertasnya, dan menekan tombol di ponselku. Terdengar nada sambungnya sebentar, dan suara seorang Rob terdengar. "Rob? Ini aku, Elise." 'Oh, hai Elise. Ada apa?' Tanyanya. "Tentang tawaranmu itu, aku sudah memikirkannya. Aku menerimanya." Kataku. 'Kabar yang menggembirakan sekali. Aku akan mengurus semuanya, kau hanya tinggal menunggu kabar dariku. Senang kau akan bergabung bersama kami.' Suara Rob yang berat terdengar lebih tinggi, mungkin dia sedang sangat bersemangat tentang hal ini. "Baiklah, thanks Rob." Dan aku menutup teleponnya. Sekarang masalahnya adalah, bagaimana aku memberitahu tentang keputusanku ini pada ayah dan ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN