Bab 4

1707 Kata
Sekolah akan dimulai dua hari lagi, tapi aku sudah harus kesana pada hari Minggu dan itu besok, Rob sudah beberapa kali menelponku untuk menanyakan hal-hal dasar. Dan sore ini Aldo sedang ada dirumahku, sudah yang kedua kalinya dia kesini lagi, kali ini membawa setumpuk kertas-kertas registrasi untukku. Dia menaruh kertas-kertas itu diatas meja diruang tamu. Disetiap kertas itu terdapat lambang calon sekolahku, bergambarkan tameng yang dililit dengan ular dan gambar pedang yang saling bersilangan. Disitu juga tertera tulisan dengan huruf besar-besar 'VAGSAT ACADEMY Sekolah Khusus Remaja Berbakat' "Isi dengan benar." Katanya. Aldo duduk diatas sofa sementara aku dilantai, membaca pertanyaan pertama tentang nama lengkap. "Aku masih tidak percaya kau melakukan ini." "Melakukan apa?" Tanyaku sambil terus menulis. "Mendaftar di akademi mata-mata." Katanya. "Memangnya kenapa? Kau tidak suka kalau aku akan menjadi sepertimu? Atau kau takut aku bisa mengalahkanmu nanti?" Godaku. "Yang benar saja." Bayu datang dan bergabung ditengah-tengah kami, dia baru saja selesai mandi karena aroma sabun mandinya yang khas menyeruak dimana-mana. "Apa yang dilakukan di sekolah mata-mata?" Tanya Bayu pada Aldo, aku berhenti menulis. "Belajar." Jawabnya singkat. Bayu memutar matanya. "Apa yang dipelajari?" "Bermacam-macam." Lagi-lagi Aldo menjawab dengan singkat. Bayu kelihatan kesal dan berhenti bertanya. "Apa kau alumni Vagsat Academy?" Tanyaku. Aldo mengangkat sebelah alisnya, dan jujur saja itu kelihatan sangat keren karena aku tidak pernah bisa melakukannya. "Tentu saja." Jawabnya enggan. "Sekarang kau bekerja untuk agency apa?" Tanya Bayu, kupikir dia sudah jera. "Aku tidak bisa memberitahumu." Jawabnya enggan. Dengan sikap Aldo seperti ini, sekarang aku yakin Bayu benar-benar jera bertanya padanya lagi. Bayu mengambil napas panjang, dan bersandar di sofa. Dia melirikku seakan berkata, 'Dia menyebalkan.' Aku terkekeh. Aku melanjutkan mengisi kertas pendaftaranku dan menyelesaikannya dengan cepat, lalu memberikannya pada Aldo. Dia memeriksa kertasnya sebentar lalu menyerahkah dua lembar kertas kertas padaku. "Apa ini?" Tanyaku. "Baca saja." Kata Aldo. Aku menggeram pelan, dia menjengkelkan. Aku membacanya, itu adalah alamat dimana letak Vagsat Academy berada dan juga peraturan. Letaknya masih di Jakarta, hanya saja di bagian ujung kota. Dan peraturannya cukup banyak dan sama seperti sekolah pada umumnya, tidak boleh merokok dan membawa peralatan tajam dan membahayakan. Dan karena Vagsat Academu adalah asrama jadi ada peraturan yang belum pernah aku tahu sebelumnya, seperti masuk kekamar masing-masing setiap jam sembilan malam, anak laki-laki tidak boleh memasukin bagian asrama perempuan, begitu juga sebaliknya, tidak boleh mengadakan pesta sendiri tanpa sepengetahuan pengurus academy dan lain-lain. Kurasakan napas seseorang di belakang tengkukku, dan aku menoleh untuk melihat siapa itu, dan ternyata itu Bayu yang juga sedang ikut membaca diam-diam dibelakangku. "Penasaran?" Tanyaku. Bayu langsung menarik kembali kepalanya. "Tidak juga." Aldo bangun dari duduknya, "Jangan terlambat di hari pertama, dan jangan lupa membawa satu gaun." Ucapnya. "Gaun, untuk apa?" Tanyaku, dan aku berdiri karena kaget. "Tradisi, pesta pennyambutan." "Wow. Formal, semi-formal, atau casual? Aku kan harus menyesuaikan dressku." Ujarku. "Berdandan cantik saja itu sudah cukup." Katanya, lalu berjalan ke pintu. "Tidak mau tinggal dulu, ayah dan ibu belum pulang." Kataku. Sejenak aku berpikir, kenapa aku mencoba menahannya? "Kami bahkan belum menyediakan minuman untukmu." Kata Bayu juga. "Tidak usah, aku masih ada keperluan. Sampai jumpa." Kata Aldo, melewati pintu kami. Aku mendorong Bayu, "Antar dia, cepat." Dan Bayu tampak kikuk dan segera berlari keluar. Aku menunggu beberapa menit lalu Bayu masuk. "Mengapa kau ingin menahannya disini lebih lama tadi?" Tanyanya. "Aku hanya bertindak sopan. Kau juga melalakukannya tadi." Tudingku. "Aku hanya memberimu dorongan." Jawabnya sambil lalu. Lalu aku teringat tentang dress itu, jadi aku berlari kekamarku dan membuka isi lemariku. Yang aku takutkan adalah, saat pindahan kami yang mendadak dan terkesan memaksa itu, mereka yang membawa barang-barang kami pindah secara diam-diam, ketika dia membawa gaunku, dia merusaknya. Aku mengambil beberapa gantung gaunku yang aku punya, menjejerkannya di atas ranjangku. Aku punya beberapa pilihan gaun, aku tidak tahu masih muat padaku apa tidak, aku sudah lama tidak olahraga. Aku memutuskan akan mengenakan gaun semi-formal, jadi aku menyingkirkan beberapa yang tidak termasuk golongan itu. Aku punya gaun corset pendek ungu tanpa lengan bermanik-manik dengan bagian bawah seperti bunga, gaun hitam pendek tanpa lengan bergaris dan beberapa lagi. "Aku tidak tahu kau punya banyak baju seperti itu." Suara Bayu terdengar didalam kamarku. "Aku jarang memakainya, aku hanya senang membelinya." Bayu menghampiriku lalu menunjuk gaun hitam dengan belahan d**a V dan bagian punggung terbuka. "Kau pasti bagus memakai ini, kau punya dada." Aku memukul kepalanya dengan gantungan baju. "Dasar mesum." Bayu mengusap-ngusap bagian kepala yang aku pukul, matanya masih terus memilah-milah gaunku. "Ini bagus, kau akan terlihat ceria. Jadi orang-orang tidak akan mengira kau cewek yang menyebalkan." Bayu menarik gaun pendek berwarna pink lembut dengan sedikit lengan yang menutupi ujung bahu dan manik-manik yang mengelilingi pinggangnya. Aku menatap gaun itu dikaca, dan terlihat pas denganku. "Pilihan yang bagus Bay, mungkin kau lebih cocok jadi penasihat busana daripada dokter." "Aku sering menemani pacar-pacarku belanja." Dia mengucapkan itu dengan nada bangga. "Pacar-pacar?" Bayu menggerling. "Kau tahulah." "Ya ya." Aku memasukan gaunku ke pembungkus anti air dan menggantungnya di balik pintu. "Kopermu sudah beres?" Tanya Bayu. Aku menatap dua buah koper, yang satu berwarna ungu yang satu hijau. Keduanya sudah kuisi dengan semua barang-barang yang kuperlukan selama satu semester di asrama. "Sebanyak itu?" Tanyanya heran. Aku mengedikan bahuku. "Aku yang akan mengantarmu besok." Bayu nyengir lebar. "Kuharap mereka yang mengantarku, salah satunya saja sudah cukup." Kataku. "Mereka kan diluar kota Lis." "Ya aku tahu." Mereka orangtuaku, kalau tidak sibuk berarti bukan orangtuaku. "Tersenyumlah, masih ada aku." Katanya Bayu dengan senyum mempesonanya. "Ya, masih ada kau." Kami diam beberapa saat. "Sekarang keluarlah dari kamarku." Aku mendorongnya keluar dari kamarku. "Hei oke oke." Aku membanting pintu dibelakangnya. "Selamat malam." Teriaknya dari balik pintu. "Malam." Balasku. Aku berlari-lari kecil dan melompat keranjangku, menyelimuti diriku dengan selimut tebalku. Aku ingin tidur lebih cepat malam ini, tidak ingin menghawatirkan apapun untuk besok. Jadi aku menyetel alarmku dan mulai tertidur. ~~~ Aku terbangun dan melihat jamku, masih terlalu pagi, bahkan alarmku belum sempat berdering. Tidak bisa tidur lagi terpaksa aku memulai lebih awal. Setelah melakukan rutinitas pagiku, aku membuka lemari dan mengeluarkan satu pasang pakaian yang dibawa Aldo dua hari yang lalu. Seragam sekolahku yang baru. Kemeja putih panjang dengan blazer hitam dengan lambang Vagsat Academy dibagian d**a sebelah kirinya dan rok pendek seatas lutut warna merah dengan motif kotak-kotak yang senada dengan dasinya. Aku mengenakannya dengan cepat, sedikit kesulitan dengan blazernya. Tidak lupa mengenakan kaus kaki hitam panjang yang sudah disediakan dan sepatunya. Belum sempat mengagumi diri sendiri, aku langsung beralih ke bagian rambut. Rambutku cukup sulit untuk diatur, karena ikalnya. Kali ini aku biarkan rambutku terurai, membiarkan ikalnya jatuh dengan natural di punggungku. "Lis, kita kesiangan." Seseorang berteriak-teriak dari balik pintuku, dan ketika pintunya terbuka munculan Bayu dengan wajah bangun tidurnya dan rambutnya yang berantakan. Ketika matanya melihatku, dia terdiam. "Wow Lis, kau tampak berbeda." "Aku juga merasa beda. Bagaimana menurutmu?" Aku menarik-narik rokku. "Roknya terlalu pendek." Bayu mendekat, dia menunduk dan mengarahkan pandangannya ke pahaku. "Aku belum bisa melihat pakaian dalammu." Mendengar itu refleks aku merapatkan rokku. "Apa yang kau lakukan?" Jeritku. "Itu tandanya rok itu masih bisa dipakai." Katanya, berjalan kepintu. "Cepat turun, aku akan menyiapkan sarapan setelah itu berangkat." Katanya, lalu pergi. Dengan cepat aku berdandan, setelah itu langsung menarik tas selempangku dan membawa turun gaun dan dua koperku bersamaan. Bayu yang melihatku kesusahan di tangga menawarkan batuan, aku dengan senang hati menerimanya. Setelah kami berhasil memasukan koperku kebagasi mobil Bayu dan menggantung dressku didalam mobil Bayu, kami kembali masuk kerumah dan sarapan. Bayu membuatkan panekuk, dia juga ahli dalam hal memasak, itu membuatku semakin iri padanya sekaligus bersyukur aku akan jarang kelaparan selama ada dia dirumah. Aku menegak s**u coklatku sekaligus menuntaskan sarapankku. "Ayo kita berangkat sekarang." Bayu berjalan didepanku dan langsung masuk kedalam mobil setelah mengunci pintu rumah. Aku duduk disebelahnya, dan sudah memasang sabuk pengaman. Mobil melaju keluar pekarangan, tapi lupa sekarang kami tidak memiliki satpam. Jadi Bayu keluar lagi dari mobil hanya untuk menutup pagar rumah, lucu melihat dia kerepotan seperti itu. "Jangan tersenyum seperti itu." Kata Bayu saat dia masuk lagi ke mobil. "Sudah, berangkat saja cepat cepat." Suruhku. Mobil melaju di jalanan beraspal, jalanan sudah ramai di pagi hari. Kami terjebak macet di beberapa jalan, tapi tidak terlalu memakan waktu. Aku mencium sesuatu yang aneh dari dalam mobil, aromanya cukup menganggu. Aku melihat Bayu yang sedang fokus menyetir, dia sudah berpakaian cukup rapih, kaos merah berlengan panjang dan celana jeans. Tapi rambutnya masih berantakan, aku bahkan masih bisa melihat kotoran matanya. "Kau belum mandi?" Tanyaku. "Belum." Dia terkekeh malu-malu. "Sekarang aku tahu darimana asalnya bau ini, dari kau." Aku menyalakan radio, bersantai mendengarkan musik-musik yang sedang diputar. Tapi seberapa kuat aku mencoba mengalihkan pikiranku dari rasa takutku, aku tetap gagal. "Menurutmu aku bisa melakukan ini Bay?" Tanyaku. "Tentu saja." Pikiranku sedang penuh dengan hal-hal negatif, tapi aku berusaha menyingkirkannya. Jadi aku tidak bicara lagi sepanjang perjalanan. Sampai saat aku bisa melihat gerbang masuk dengan tulisan Vagsat Academy, banyak mobil yang mengantri untuk masuk. Aku bisa melihat banyak penjaga berpakaian serba hitam, mereka memeriksa setiap mobil yang akan masuk. Sampai tiba giliran mobil kami yang diperisa, Bayu membuka pintu bagasinya karena disuruh mereka, mereka juga meminta tanda pengenal Bayu. Aku bisa mendengar metal detector memeriksa setiap bagian mobil Bayu, kamera pengawas dimana-mana, dan ada beberapa pemeriksaan yang aku belum mengerti. "Mereka tidak main-main disini." Kata Bayu. Mobil berhenti di parkiran yang disediakan, kami segera turun untuk menurunkan barang-barangku. Bayu menurunkan kedua koperku dalam satu angkutan, jadi aku hanya mengambil gaunku dan aku sampirkan di bahuku. "Kau bisa membawanya?" Tanya Bayu, menyerahkan kedua koperku padaku. "Ya." Jawabku, menerima koperku. Sudah banyak para siswa lainnya yang berlalu lalang didepanku, kebanyakan dari mereka hanya membawa satu koper besar. Aku melihat kedua tanganku yang sibuk menggenggam koper, aku kelihatan berlebihan. Dan satu hal lagi yang membuatku ciut nyali, mereka terlihat bak model internasional. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan luar negri kurasa, terlihat jelas dari wajahnya. Dan para prianya, tidak perlu dipertanyakan lagi ketampanannya. Ada perbedaan antara seragam perempuan dengan laki-lakinya. Seragam laki-laki menggunakan blazer warna abu-abu, celana hitam, hanya warna dan motig dasinya yang sama dengan rok murid perempuannya. "Aku ingin membawa pulang satu." Kata Bayu saat segerombol murid perempuan yang berjalan dengan pinggul yang bergerak kelewatan. "Kurasa aku salah masuk sekolah." Bisikku. Ini lebih mirip sekolah model daripada sekolah mata-mata. "Para murid baru dan murid lanjutan silahkan berbaris." Terdengar suara seseorang, aku bisa melihat wanita tua itu dari kejauhan. "Kurasa itu panggilan untukku." Kataku. Bayu memelukku. "Baik-baik disini ya Lis, jaga selalu kesehatanmu." Katanya, memelukku makin erat. "Kau juga." Aku mengusap-ngusap punggungnya. Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum kecil. "Aku akan sangat merindukanmu, tulis email padaku setiap akhir pekan, kalau ada apa-apa telpon aku." "Pasti kulakukan. Dan sampaikan salamku pada ibu dan ayah." Kataku lalu berjalan menuju barisan yang ada, khusus para murid baru. Aku menengok ke arah Bayu, dia sudah masuk kemobilnya dan mobil itu perlahan melaju keluar dari pekarangan sekolah dan perlahan menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN