Saat aku bangun, dia sudah pergi. Rasanya seperti ada sebuah palu yang tertanam di tengkorakku. Aku melompat dari tempat tidur sambil meraung, mencengkeram seprai seolah-olah aku akan menemukan Stella bersembunyi di sana. Ke mana perginya dia? Aku menggaruk dadaku sampai muncul bekas cakaran yang berdarah. Saat dia masih dalam pelukanku, rasa sakit dan amarah itu bisa ditahan. Sekarang dia pergi, membuatnya semakin besar dan lebih menyakitkan. "Stella!" Aku mengamuk di apartemenku, menjatuhkan piala-piala dan juga foto-fotoku dengan rektor universitas, serta gubernur. Orang-orang yang tidak berarti bagiku. Hanya Stella yang penting dihidupku sekarang. Sesaat sebelum aku sampai di dapur, aku terhenti di depan foto ayahku. Kami berdiri bersama, di bawah confetti yang berjatuhan, denga

