Aku mengikuti mereka hingga akhirnya Niel dan Aku akan tertabrak. Aku memejamkan mataku karna aku takut terjadi sesuatu kepada Niel.
"kakak"
"kakak tidak apa kan?"
"kakak bangun kak"
"jangan tinggalkan leta dan Niel"
"leta Niel apa yang terjadi" Tiba tiba ibuku datang memukuli ku dan Niel yang masih kecil.
aku terbangun dari mimpi burukku tapi muka Kaka itu tidak asing bagiku. aku mencoba untuk tidur lagi tapi tidak bisa karna aku merasa aneh dengan mimpi tadi. aku pergi keluar kamar untuk meminum segelas s**u hangat. Tiba tiba Axel juga Ada didapur, Ia menghampiriku.
"kenapa kau keringatan? apa kau bermimpi buruk?" tanyanya khawatir aku menggeleng karna aku tidak tau apa yang terjadi di mimpiku itu tapi terasa begitu nyata. Aku langsung memasuki kamar.
Dilain waktu Axel yang duduk di meja makan dapur sambil meminum air dan berpikir apakah Aleta masih takut pada dirinya atau masih ada rasa benci yang dalam terhadap dirinya. Axel yang merasa begitu kesal dengan emosionalnya begitu takut akan kehilangan wanita itu. sempat terpikir olehnya kalau dia mencintai wanita itu, Kini ia menyadari kalau dia benar benar mencintainya. Andai dari dulu ia menyadarinya ia pasti ceritanya sudah berubah. tapi karna ada keegoisannya yang dulu kini ia menyesal akan perbuatannya Dengan Aleta.
Di pagi hari Aleta akan segera menemui Bodyguard Carlos untuk mengirim surat kepada Daniel. sesampainya di halaman belakang Aleta menemui Carlos untuk memberikan suratnya ke tangan Carlos.
Aleta sangat senang pada akhirnya Surat itu akan tersampaikan pada Daniel.
Aleta menuju Kegudang Untuk menaruh baju baju yang sudah tidak layak di pakai. tapi langkah kakinya terhenti melihat lukisan wanita yang begitu mirip di mimpinya. ia memperhatikan lukisan tersebut dan matanya tertuju pada sebuah tulisan yang bertuliskan nama yaitu Daniel.
"Apa yang kau lihat?" suara itu mengagetkan aku dan ternyata itu suara Axel.
"Dia adalah kakak perempuanku yang sudah lama meninggal, dia Loren" aku baru tau kalo Axel memiliki kakak perempuan.
"kenapa dia meninggal?" ucapku penasaran.
"apa kau cemburu karna Daniel melukisnya?" Aku menggeleng pelan ada sedikit rasa sakit saat aku melihat lukisan ini.
"Dia sudah meninggal dan aku tidak mau menceritakannya"
Axel membalikkan badannya dan langkahnya saat itu terhenti.
"atau kau cari tahu sendiri saja kebenarannya" kali ini Axel berhasil membuat diriku pusing. sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Daniel melukis Kaka Axel? Apa yang terjadi pada diriku? apa aku melupakan sesuatu?
Aku berhenti memikirkan hal hal yang ada dimimpiku. aku lebih fokus dengan sekolah baruku besok yang akan di mulai besok. aku akan mulai fokus terhadap pembelajaran ku besok.
besok paginya aku berada di sekolah walau aku bingung dengan kelasku. "hai" ucap seseorang aku pikir dia sebaya denganku.
"kau murid baru ya"
"iya, aku bingung dengan kelas ku"
"menangnya kau masuk jurusan apa" aku langsung mengeluarkan sebuah kertas yang menunjukan jurusan ku.
"kau masuk sastra dan bahasa"
"baik akan ku antar kau kesana"
"terimakasih"
Ini adalah awal permulaan ku memulai kehidupan yang baru. aku senang sekali pada akhirnya ada orang baik yang akan membantuku walaupun masih ada orang jahat di sekelilingku.
aku memasuki ruang kelasku yang cukup nyaman aku tempati. Aku memperkenalkan diriku di depan semua orang, ada yang menatapku penuh senyum dan ramah, dan ada yang menatapku sinis menunjukan rasa tidak suka padaku.
Saat pulang sekolah aku di jemput oleh Axel. "bagaimana sekolahmu?" Dia bertanya dengan lembut kepadaku "emm... ada banyak orang yang senang berteman denganku, dan ada banyak orang sinis kepadaku"
"kau tahu jangan terlalu dekat dengan mereka"
"kenapa?"
"karena ada banyak orang baik yang berpura pura baik dan hanya memanfaatkan kita saja"
"seperti dirimu kan" jawabku santai, dia langsung menoleh kearahku dan mentapku dengan tajam.
"ulangi perkataanmu!"
"tidak mau"
"Turun"
"aku mohon kak jangan turunkan aku disini, aku minta maaf" lalu dia tertawa keras, baru kali ini aku melihatnya tertawa.
"kenapa kau tertawa? tidak ada yang lucu" aku memasang wajah cemberut
"Tentu saja ada, tadi itu sangat lucu melihat ekspresi mu hahaha"
Aku memalingkan wajahku malu ketika dia tertawa. jujur ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum tertawa aku merasa sedikit bahagia karna perubahan sikapnya.
"Hari ini aku ada rapat... Maaf tidak bisa menemani dirimu" aku benar benar tidak tahu kenapa dia sangat peduli padaku belakangan ini.
"iya aku tak apa, aku sudah biasa sendiri" aku mengatakan semua kebenaran yang selama ini menimpaku.
wajah Axel sangat murung dia. melihat perubahannya jujur aku senang tapi juga takut ada sebuah rencana jahat kepada ku.
"Nanti malam akan ada acara, kau harus ikut denganku"
"tapi Axel aku memiliki banyak tugas"
"apa kau tidak bisa menundanyadulu"
"baiklah"
Dimalam hari aku bersama Axel, didalam ruangan di penuhi keramaian tamu yang datang. Aku melihat sekeliling ruangan itu aku melihat ada Alena dan keluargaku sekaligus paman Axel.
Aku pergi keluar dari ruangan itu karna takut keluargaku mempermalukan aku. di halaman belakang aku sangat merasa kesepian dan kini aku merindukan Niel. Semenjak aku mengirim surat kepadanya dia tidak pernah membalasnya aku sempat berpikir kalau dia telah melupakan diriku.
"kenapa kau berada di sini?" tanya seseorang yang sedang berdiri di sampingku sekarang.
"aku hanya mencari udara segar" ucapku kepada seseorang yang kukenal Axel.
"Disini udaranya sangat dingin kau akan terkena flu"
dia memberikan jasnya kepadaku, kali ini sikapnya membuatku nyaman dan selalu ingin berada di sampingnya.
Acarapun segera dimulai aku dan Axel masuk kedalam. aku melihat Alena dan kedua orang tuaku berada di depan. tiba tiba orang tua Alena memanggil nama Axel.
"ini adalah calon menantu saya"
"Hari ini adalah hari pertunangan anakku dengan Axel"
aku sedikit bergembira atas apa yang menimpa kembaran ku tapi juga sedikit merasakan sedih takut suatu ketika Axel akan berubah kembali menjadi sosok yang dingin dan kejam.
Axel melihat kearahku yang tersenyum padanya tapi Axel menunjukan wajah datarnya.
aku meminum sebuah jus di meja tamu, seseorang menghampiri diriku. "berani sekali kau datang sebagai tamu" orang itu ku yakini adalah Alena. "kau tidak diundang tapi kau berani datang kemari" Alena hendak ingin menamparku tapi terhenti oleh perkataan Axel.
"Aku yang membawanya kemari"
"tapi kenapa Xel?"
"apa kau tega membiarkan saudaranya sendiri tidak datang keacara yang begitu penting?"
"kenapa sekarang kau membelanya?"
"karna...." dia melihat kerah ku.
"karna dia akan menjadi calon saudari iparku"