Jillian meninggalkan acara pernikahan dengan hati yang hancur, ia kembali ke kamarnya dan dengan cepat mengemasi pakaian seadanya. Semua hadiah dari teman-temannya yang ia dapatkan semalam ditinggalkan begitu saja tanpa dilihat isinya. Semuanya begitu sia-sia dan mengecewakan baginya. Masih dengan mengenakan gaun pengantin yang di design untuk outdoor partynya, Jillian meminta bantuan pihak hotel untuk segera memanggil taxi. Ia tidak ingin seorangpun mengetahui kepergiannya. Ia bertekad untuk menyendiri dan jauh dari semua orang. Airmata yang berkali-kali keluar, ia hapus dengan kasar dari pipinya yang tirus. Ia memang menyerahkan Elton ke Mea dengan rela namun pengkhianatan yang ia lihat semalam begitu nenikam jantungnya sampai ia bahkan susah untuk bernafas. Cara Elton memuja Mea benar-benar merobek hatinya. Sambil menunggu taxi yang dipesannya datang, ia mulai berusaha menguasai dirinya dan memikirkan sebuah lokasi yang bisa ia jadikan sebagai tempat pelariannya untuk sementara ini.
Bar? Night club? Atau mana? Semalam gara-gara ke bar, ia malah ditiduri oleh pria asing! Uh! Sial! Entah kenapa hidupnya bisa berantakan seperti ini hanya dalam waktu semalam! Jillian menggelengkan kepalanya dengan frustrasi, ingin ia mengakhiri hidupnya saat ini juga! Tapi dengan cara apa? Gantung diri? Terjun dari jurang? Menceburkan diri ke laut dan tenggelam? Atau .... ??
Ok! Got it!! Tiba-tiba terbersit sebuah pemikiran di otak cantiknya. Ia berencana menuju ke sebuah tempat yang pernah dikunjunginya beberapa waktu yang lalu ketika ia berlibur ke Bali bersama dengan Elton Wales dan Julian kakaknya. Saat itu, Elton dan Julian mengajaknya untuk survey lokasi demi hari pernikahan mereka yang memang direncanakan untuk diadakan di Bali. Dan Jillian dengan semangat mempertimbangkan beberapa tempat sampai akhirnya ia memilih Jayakarta sebagai tempat wedding partynya.
Bukan tanpa alasan ia memilih tempat itu, tetapi hotel itu sangat dekat dengan pantai Kuta. Ia berharap setelah selesai dengan upacara pernikahan, ia akan bisa langsung menghabiskan waktu berhari-hari di Kuta bersama dengan suami tercintanya, tetapi .... Ah! Sudahlah! Semuanya sudah berakhir dengan tragis di Bali.
Jillian kembali membayangkan tempat yang sudah tergambar dengan jelas di pikirannya. Tempat itu dirasanya sangat cocok saat ini untuk bisa membuatnya melupakan kesedihannya. Ia bisa melampiaskan hobbynya dengan cara yang sangat ekstrim di sana. Ketika taxi yang dipesannya sudah tiba, Jillian dengan sedikit terburu-buru segera bergegas keluar dari hotel dan masuk ke dalam taxi. Ia memberanikan diri untuk melihat sekilas ke tempat pesta pernikahannya berlangsung.
Di sana tampak suasana wedding party yang sangat kacau. Namun ia tidak lagi ingin tau detail kelanjutannya. Apakah Elton akan melanjutkan hubungannya dengan Mea akhirnya? Entahlah! Hatinya benar-benar pedih untuk saat ini jika mengingatnya.
Jillian bisa melihat di sebelah sana mamanya sedang menangis di pelukan papanya sementara Julian terlihat berkali-kali menghajar Elton. Dan Mea sahabatnya, berusaha menolong Elton yang hampir babak belur di tangan Julian. Jillian menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis sedih. Suasana pesta sama persis dengan kondisi hatinya saat ini. Sangat berantakan dan kacau. Hari yang ia tunggu-tunggu selama ini malah sangat menghancurkan hidupnya. Elton yang ia cintai dan kagumi, entah sejak kapan mulai mengkhianatinya. Dan Jillian pun tidak bisa berhenti menangis selama di dalam taxi.
35 menit perjalanan menuju pantai yang terletak di Desa Pecatu ini membuat tangisan Jillian perlahan-lahan mereda. Ia mulai menatap ke arah jendela dan melihat pemandangan Bali yang tampak indah dan hijau. Pemandangan indah yang jarang ia lihat di negara asalnya yang crowded! Perasaannya berangsur membaik. Waktu tersisa yang rencananya akan dipakai untuk bulan madu bersama dengan Elton akhirnya harus ia ambil sendiri untuk melupakan apa yang baru saja terjadi.
Jillian sampai di pantai Nyang Nyang yang berada di kabupaten Badung ketika hari masih sangat siang. Ia segera mencari hotel di sana dan meletakkan semua barang-barangnya. Ia menatap wajahnya di cermin dan menghapus make-upnya yang seperti zombie itu.
"It's okay, Jillian. Everything will be okay." Jillian berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri. Ia berusaha untuk tersenyum di depan cermin dan setelah dirasa perasaannya sudah membaik, ia pun keluar. Jillian masih mengenakan gaun pengantinnya ketika ia keluar kamar. Gaun itu berbentuk terusan simple yang menutup seluruh kaki Jillian dengan model atasnya berbentuk sabrina lengan panjang dengan belahan punggung yang rendah berbentuk V. Hiasan manik-manik yang menyerupai berlian kecil menghiasi bagian d**a sampai ujung gaun. Terlihat sangat cantik dan elegan ketika digunakan oleh gadis ramping seperti Jillian.
Dan dengan mengenakan gaun itu, ia mampir ke sebuah toko peralatan surfing. Semua mata yang berada di sepanjang jalan memandang kepada Jillian yang berjalan dengan cuek. Jillian terlihat sangat mencolok di lingkungan para surfer dengan gaun pengantinnya yang mampu menunjukkan keindahan bentuk tubuhnya. Penampilan Jillian benar-benar seperti seorang artis yang sedang melakukan sebuah adegan syuting di lokasi yang salah. Ia terlihat sangat mirip dengan film yang berjudul "Run away Bride".
Dan dengan penampilan yang seperti itu ia malah pergi ke toko peralatan surfing. Benar-benar sangat aneh! Jillian memilih sebuah papan selancar berwarna pink kombinasi biru. Dan tanpa mempedulikan semua mata yang memandangnya, ia pun berlalu dari sana.
*A few moments later*
Jillian sudah berdiri di tepi pantai dengan papan selancar di tangannya. Sementara itu belum ada tanda-tanda bahwa ia ingin mengganti gaunnya. Jillian masih mengenakan gaun pengantin yang sangat menarik perhatian di seluruh pantai itu.
Rambutnya yang tadi terikat sekarang sudah di lepasnya sehingga tergerai sangat indah dan semakin menambah kecantikannya. Make up yang tadinya sudah belepotan akibat terlalu banyak menangis sudah tidak terlihat lagi di wajahnya dan semua orang yang berada di sana bisa melihat wajah cantik alami Jillian yang putih tanpa make up.
Entah apa yang ada di pikiran Jillian saat ini sampai ia tidak ingin melepas gaun pengantin berwarna putih tulang itu. Semua mata para peselancar yang ada di sana menatap ke arah Jillian yang seolah hidup di dunianya sendiri. Kostum Jillian yang sangat anggun dan terlihat aneh itu benar-benar menarik banyak perhatian. Bagaimana mungkin seorang wanita yang membawa papan selancar di tangannya masih menggunakan gaun pengantin dan menatap laut lepas seperti ini? Seolah Jillian ini siap melakukan aksi yang menantang adrenaline.
"Hey, Girl, what you're gonna do by wearing that wedding gown?" Seorang pria asing mencoba membuka percakapan dengan Jillian.
Tapi pandangan Jillian tetap lurus ke depan. Ia tidak memperdulikan pertanyaan pria itu bahkan sekedar menoleh pun tidak. Dan dengan perlahan tapi pasti, Jillian berjalan menuju ke arah laut lepas, meninggalkan pria asing yang baru saja menyapanya.
"Wow!! I like that girl!." Beberapa pria menatap kagum ke arah Jillian yang sekarang sudah menelungkupkan dirinya di atas papan selancar dan sedang menuju ke tengah laut. Jillian mengayuh papan selancar itu dengan kedua tangannya sementara tatapan matanya tetap lurus ke depan. Ia dapat melihat gelombang yang sebentar lagi akan datang menghampirinya. Tangannya bergerak semakin cepat dan begitu ombak yang diharapkan sudah mendekat, Jillian merubah posisinya dan ia segera berdiri di atas papan selancarnya. Wajahnya tersenyum penuh kemenangan ketika ia ternyata sanggup berdiri di atas papan selancarnya itu. Tubuh Jillian bergerak meliuk-liuk mengikuti pergerakan papan selancar yang membawa dirinya menuju ke arah pantai.
Gaun pengantinnya yang berjuntai agak panjang sangat mengganggu pergerakannya ditambah lagi deburan air yang menghantam gaunnya seringkali membuat Jillian kesulitan untuk menjaga keseimbangannya. Tapi entah kenapa, Jillian sangat menyukainya. Dan ia berkali-kali berteriak untuk meluapkan perasaannya.
Gaun pengantinnya yang basah dan semakin berat itu terasa sangat mengganggu namun keliatannya Jillian mampu mengatasinya dengan baik. Kegiatan ber-selancarnya hari ini terasa menegangkan dan sangat memacu adrenalinnya. Kesulitan yang ia hadapi ketika ber-selancar mengenakan gaun ini seolah mewakili perasaannya. Berkali-kali ia hendak jatuh namun berkali-kali pula ia mampu tegak berdiri di papan selancarnya sampai jaraknya sudah sangat dekat dengan pantai.
Semua mata yang dari tadi memandangnya dengan khawatir kini semakin menatap ke arahnya penuh dengan kekaguman. Tidak terkecuali para peselancar wanita. Mereka melihat kemampuan Jillian dalam ber-selancar benar-benar sangat memukau.
"This girl is totally insane!" Beberapa peselancar wanita menggelengkan kepalanya melihat aksi Jillian yang menantang maut itu.
Jillian mendarat di dekat pantai dengan wajah yang puas. Kondisi hatinya sangat membaik ketika ia mampu menaklukkan kesulitan yang ia hadapi saat ber-selancar tadi. Sorak sorai dan suitan bergemuruh di sekelilingnya terutama dari para peselancar pria yang menatap Jillian dengan tatapan memuja. Jillian bak dewi yang baru saja turun dari langit melalui gelombang laut yang besar. Jillian seolah tidak mendengarkan sorak sorai di sekelilingnya, ia kembali membalikkan badannya dan kembali menatap ke arah laut. Semua mata masih enggan untuk berpaling dari Jillian, gadis ini seperti menyedot semua perhatian orang untuk menatap ke arahnya.
Akankah ia kembali mengulangi adegannya? Karena itu tadi benar-benar sangat seru. Bahkan Jillian hampir saja lupa bahwa ia baru saja mengalami kesialan yang bertubi-tubi sejak semalam sampai pagi tadi.
Jillian kembali berjalan menuju laut.. Namun sebuah tangan tiba-tiba mencekalnya. Dan Jillian pun dengan kaget, menoleh ke si empunya tangan tersebut.
"It's extremely dangerous, Girl! I won't let you do it again!" ujar seorang pria asing sambil menatap serius ke arah Jillian. Pria itu terlihat sangat tampan dengan garis wajah yang tegas dan mata abu-abu yang mampu menghipnotis para kaum hawa. Ditambah dengan bentuk tubuh pria itu yang terlihat padat dan keras semakin menyempurnakan penampilannya.
Namun sayang, Jillian sedang tidak tertarik untuk meladeni siapapun kali ini sekalipun yang ada di hadapannya saat ini adalah malaikat Mikhael atau Dewa Hermes!
"It's none of your business, mind your own!" Jillian membalas tatapan pria itu dengan tatapan yang berbahaya. Membuat sang pria melepaskan genggamannya dari lengan Jillian. Jillian kembali mengulangi aksinya. Ia dengan semangat menyongsong ombak yang ada di depan sana. Gaun pengantinnya semakin bertambah berat beda dengan saat pertama kali ketika ia ber-selancar tadi. Wajah Jillian penuh dengan semangat menyongsong laut lepas dan gelombangnya yang berbahaya ... Jillian kembali berhasil berdiri di papan selancar miliknya.
Ombak yang tinggi membuatnya sangat bersemangat. Gaun yang menyapu air laut membuat pergerakannya kembali terganggu. Namun ia sudah bertekad dalam hati, jika tadi ia mampu melewatinya maka kali ini pun, ia pasti bisa! Jillian berteriak dengan semangat diatas papan seluncurnya. Namun aksi kedua ini ternyata tidak semudah aksi yang pertama, gaunnya yang semakin berat dan sangat menganggu keseimbangan tubuhnya membuat ia harus ekstra bersusah payah untuk tidak jatuh ke dalam laut. Dan ketika ia sedang berada di dalam naungan gelombang yang sedang melambung tinggi, gaunnya menyeretnya untuk masuk ke dalam gelombang itu. Jillian terjatuh dari papan selancarnya.
Namun begitu, ia dengan cepat berusaha meraih papannya kembali, namun kecepatan gelombang itu membuat papannya terlempar semakin jauh ke arah sana. Jillian masih berusaha untuk berenang dan mencapai garis pantai namun malang baginya, gaunnya tidak bisa diajak bekerja sama. Gaun yang tadinya ringan itu sekarang menjadi sangat berat.
Tubuh Jillian yang ramping tidak mampu menahan beratnya gaun itu. Gaunnya sekarang jadi pemberat bagi tubuhnya. Dan dengan perlahan tapi pasti, gaun itu menyeret Jillian untuk turun terus ke bawah. Jillian berusaha naik namun usahanya sia-sia sampai ia akhirnya menyerah ketika air mulai masuk ke dalam hidung dan saluran pernafasannya.
"I'm sorry Mom, Dad, ... Julian ...!" Jillian membiarkan dirinya tenggelam ke dasar lautan. Ke dalam dasar lautan yang gelap... Mata Jillian yang masih terbuka, melihat sinar matahari yang semakin lama semakin pudar dan menggelap ...
**** Next chapter : "I have nobody beside me, Selena!" Sahut Jillian dengan suara lirih.Jillian meninggalkan acara pernikahan dengan hati yang hancur, ia kembali ke kamarnya dan dengan cepat mengemasi pakaian seadanya. Semua hadiah dari teman-temannya yang ia dapatkan semalam ditinggalkan begitu saja tanpa dilihat isinya. Semuanya begitu sia-sia dan mengecewakan baginya. Masih dengan mengenakan gaun pengantin yang di design untuk outdoor partynya, Jillian meminta bantuan pihak hotel untuk segera memanggil taxi. Ia tidak ingin seorangpun mengetahui kepergiannya. Ia bertekad untuk menyendiri dan jauh dari semua orang. Airmata yang berkali-kali keluar, ia hapus dengan kasar dari pipinya yang tirus. Ia memang menyerahkan Elton ke Mea dengan rela namun pengkhianatan yang ia lihat semalam begitu nenikam jantungnya sampai ia bahkan susah untuk bernafas. Cara Elton memuja Mea benar-benar merobek hatinya. Sambil menunggu taxi yang dipesannya datang, ia mulai berusaha menguasai dirinya dan memikirkan sebuah lokasi yang bisa ia jadikan sebagai tempat pelariannya untuk sementara ini.
Bar? Night club? Atau mana? Semalam gara-gara ke bar, ia malah ditiduri oleh pria asing! Uh! Sial! Entah kenapa hidupnya bisa berantakan seperti ini hanya dalam waktu semalam! Jillian menggelengkan kepalanya dengan frustrasi, ingin ia mengakhiri hidupnya saat ini juga! Tapi dengan cara apa? Gantung diri? Terjun dari jurang? Menceburkan diri ke laut dan tenggelam? Atau .... ??
Ok! Got it!! Tiba-tiba terbersit sebuah pemikiran di otak cantiknya. Ia berencana menuju ke sebuah tempat yang pernah dikunjunginya beberapa waktu yang lalu ketika ia berlibur ke Bali bersama dengan Elton Wales dan Julian kakaknya. Saat itu, Elton dan Julian mengajaknya untuk survey lokasi demi hari pernikahan mereka yang memang direncanakan untuk diadakan di Bali. Dan Jillian dengan semangat mempertimbangkan beberapa tempat sampai akhirnya ia memilih Jayakarta sebagai tempat wedding partynya.
Bukan tanpa alasan ia memilih tempat itu, tetapi hotel itu sangat dekat dengan pantai Kuta. Ia berharap setelah selesai dengan upacara pernikahan, ia akan bisa langsung menghabiskan waktu berhari-hari di Kuta bersama dengan suami tercintanya, tetapi .... Ah! Sudahlah! Semuanya sudah berakhir dengan tragis di Bali.
Jillian kembali membayangkan tempat yang sudah tergambar dengan jelas di pikirannya. Tempat itu dirasanya sangat cocok saat ini untuk bisa membuatnya melupakan kesedihannya. Ia bisa melampiaskan hobbynya dengan cara yang sangat ekstrim di sana. Ketika taxi yang dipesannya sudah tiba, Jillian dengan sedikit terburu-buru segera bergegas keluar dari hotel dan masuk ke dalam taxi. Ia memberanikan diri untuk melihat sekilas ke tempat pesta pernikahannya berlangsung.
Di sana tampak suasana wedding party yang sangat kacau. Namun ia tidak lagi ingin tau detail kelanjutannya. Apakah Elton akan melanjutkan hubungannya dengan Mea akhirnya? Entahlah! Hatinya benar-benar pedih untuk saat ini jika mengingatnya.
Jillian bisa melihat di sebelah sana mamanya sedang menangis di pelukan papanya sementara Julian terlihat berkali-kali menghajar Elton. Dan Mea sahabatnya, berusaha menolong Elton yang hampir babak belur di tangan Julian. Jillian menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis sedih. Suasana pesta sama persis dengan kondisi hatinya saat ini. Sangat berantakan dan kacau. Hari yang ia tunggu-tunggu selama ini malah sangat menghancurkan hidupnya. Elton yang ia cintai dan kagumi, entah sejak kapan mulai mengkhianatinya. Dan Jillian pun tidak bisa berhenti menangis selama di dalam taxi.
35 menit perjalanan menuju pantai yang terletak di Desa Pecatu ini membuat tangisan Jillian perlahan-lahan mereda. Ia mulai menatap ke arah jendela dan melihat pemandangan Bali yang tampak indah dan hijau. Pemandangan indah yang jarang ia lihat di negara asalnya yang crowded! Perasaannya berangsur membaik. Waktu tersisa yang rencananya akan dipakai untuk bulan madu bersama dengan Elton akhirnya harus ia ambil sendiri untuk melupakan apa yang baru saja terjadi.
Jillian sampai di pantai Nyang Nyang yang berada di kabupaten Badung ketika hari masih sangat siang. Ia segera mencari hotel di sana dan meletakkan semua barang-barangnya. Ia menatap wajahnya di cermin dan menghapus make-upnya yang seperti zombie itu.
"It's okay, Jillian. Everything will be okay." Jillian berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri. Ia berusaha untuk tersenyum di depan cermin dan setelah dirasa perasaannya sudah membaik, ia pun keluar. Jillian masih mengenakan gaun pengantinnya ketika ia keluar kamar. Gaun itu berbentuk terusan simple yang menutup seluruh kaki Jillian dengan model atasnya berbentuk sabrina lengan panjang dengan belahan punggung yang rendah berbentuk V. Hiasan manik-manik yang menyerupai berlian kecil menghiasi bagian d**a sampai ujung gaun. Terlihat sangat cantik dan elegan ketika digunakan oleh gadis ramping seperti Jillian.
Dan dengan mengenakan gaun itu, ia mampir ke sebuah toko peralatan surfing. Semua mata yang berada di sepanjang jalan memandang kepada Jillian yang berjalan dengan cuek. Jillian terlihat sangat mencolok di lingkungan para surfer dengan gaun pengantinnya yang mampu menunjukkan keindahan bentuk tubuhnya. Penampilan Jillian benar-benar seperti seorang artis yang sedang melakukan sebuah adegan syuting di lokasi yang salah. Ia terlihat sangat mirip dengan film yang berjudul "Run away Bride".
Dan dengan penampilan yang seperti itu ia malah pergi ke toko peralatan surfing. Benar-benar sangat aneh! Jillian memilih sebuah papan selancar berwarna pink kombinasi biru. Dan tanpa mempedulikan semua mata yang memandangnya, ia pun berlalu dari sana.
*A few moments later*
Jillian sudah berdiri di tepi pantai dengan papan selancar di tangannya. Sementara itu belum ada tanda-tanda bahwa ia ingin mengganti gaunnya. Jillian masih mengenakan gaun pengantin yang sangat menarik perhatian di seluruh pantai itu.
Rambutnya yang tadi terikat sekarang sudah di lepasnya sehingga tergerai sangat indah dan semakin menambah kecantikannya. Make up yang tadinya sudah belepotan akibat terlalu banyak menangis sudah tidak terlihat lagi di wajahnya dan semua orang yang berada di sana bisa melihat wajah cantik alami Jillian yang putih tanpa make up.
Entah apa yang ada di pikiran Jillian saat ini sampai ia tidak ingin melepas gaun pengantin berwarna putih tulang itu. Semua mata para peselancar yang ada di sana menatap ke arah Jillian yang seolah hidup di dunianya sendiri. Kostum Jillian yang sangat anggun dan terlihat aneh itu benar-benar menarik banyak perhatian. Bagaimana mungkin seorang wanita yang membawa papan selancar di tangannya masih menggunakan gaun pengantin dan menatap laut lepas seperti ini? Seolah Jillian ini siap melakukan aksi yang menantang adrenaline.
"Hey, Girl, what you're gonna do by wearing that wedding gown?" Seorang pria asing mencoba membuka percakapan dengan Jillian.
Tapi pandangan Jillian tetap lurus ke depan. Ia tidak memperdulikan pertanyaan pria itu bahkan sekedar menoleh pun tidak. Dan dengan perlahan tapi pasti, Jillian berjalan menuju ke arah laut lepas, meninggalkan pria asing yang baru saja menyapanya.
"Wow!! I like that girl!." Beberapa pria menatap kagum ke arah Jillian yang sekarang sudah menelungkupkan dirinya di atas papan selancar dan sedang menuju ke tengah laut. Jillian mengayuh papan selancar itu dengan kedua tangannya sementara tatapan matanya tetap lurus ke depan. Ia dapat melihat gelombang yang sebentar lagi akan datang menghampirinya. Tangannya bergerak semakin cepat dan begitu ombak yang diharapkan sudah mendekat, Jillian merubah posisinya dan ia segera berdiri di atas papan selancarnya. Wajahnya tersenyum penuh kemenangan ketika ia ternyata sanggup berdiri di atas papan selancarnya itu. Tubuh Jillian bergerak meliuk-liuk mengikuti pergerakan papan selancar yang membawa dirinya menuju ke arah pantai.
Gaun pengantinnya yang berjuntai agak panjang sangat mengganggu pergerakannya ditambah lagi deburan air yang menghantam gaunnya seringkali membuat Jillian kesulitan untuk menjaga keseimbangannya. Tapi entah kenapa, Jillian sangat menyukainya. Dan ia berkali-kali berteriak untuk meluapkan perasaannya.
Gaun pengantinnya yang basah dan semakin berat itu terasa sangat mengganggu namun keliatannya Jillian mampu mengatasinya dengan baik. Kegiatan ber-selancarnya hari ini terasa menegangkan dan sangat memacu adrenalinnya. Kesulitan yang ia hadapi ketika ber-selancar mengenakan gaun ini seolah mewakili perasaannya. Berkali-kali ia hendak jatuh namun berkali-kali pula ia mampu tegak berdiri di papan selancarnya sampai jaraknya sudah sangat dekat dengan pantai.
Semua mata yang dari tadi memandangnya dengan khawatir kini semakin menatap ke arahnya penuh dengan kekaguman. Tidak terkecuali para peselancar wanita. Mereka melihat kemampuan Jillian dalam ber-selancar benar-benar sangat memukau.
"This girl is totally insane!" Beberapa peselancar wanita menggelengkan kepalanya melihat aksi Jillian yang menantang maut itu.
Jillian mendarat di dekat pantai dengan wajah yang puas. Kondisi hatinya sangat membaik ketika ia mampu menaklukkan kesulitan yang ia hadapi saat ber-selancar tadi. Sorak sorai dan suitan bergemuruh di sekelilingnya terutama dari para peselancar pria yang menatap Jillian dengan tatapan memuja. Jillian bak dewi yang baru saja turun dari langit melalui gelombang laut yang besar. Jillian seolah tidak mendengarkan sorak sorai di sekelilingnya, ia kembali membalikkan badannya dan kembali menatap ke arah laut. Semua mata masih enggan untuk berpaling dari Jillian, gadis ini seperti menyedot semua perhatian orang untuk menatap ke arahnya.
Akankah ia kembali mengulangi adegannya? Karena itu tadi benar-benar sangat seru. Bahkan Jillian hampir saja lupa bahwa ia baru saja mengalami kesialan yang bertubi-tubi sejak semalam sampai pagi tadi.
Jillian kembali berjalan menuju laut.. Namun sebuah tangan tiba-tiba mencekalnya. Dan Jillian pun dengan kaget, menoleh ke si empunya tangan tersebut.
"It's extremely dangerous, Girl! I won't let you do it again!" ujar seorang pria asing sambil menatap serius ke arah Jillian. Pria itu terlihat sangat tampan dengan garis wajah yang tegas dan mata abu-abu yang mampu menghipnotis para kaum hawa. Ditambah dengan bentuk tubuh pria itu yang terlihat padat dan keras semakin menyempurnakan penampilannya.
Namun sayang, Jillian sedang tidak tertarik untuk meladeni siapapun kali ini sekalipun yang ada di hadapannya saat ini adalah malaikat Mikhael atau Dewa Hermes!
"It's none of your business, mind your own!" Jillian membalas tatapan pria itu dengan tatapan yang berbahaya. Membuat sang pria melepaskan genggamannya dari lengan Jillian. Jillian kembali mengulangi aksinya. Ia dengan semangat menyongsong ombak yang ada di depan sana. Gaun pengantinnya semakin bertambah berat beda dengan saat pertama kali ketika ia ber-selancar tadi. Wajah Jillian penuh dengan semangat menyongsong laut lepas dan gelombangnya yang berbahaya ... Jillian kembali berhasil berdiri di papan selancar miliknya.
Ombak yang tinggi membuatnya sangat bersemangat. Gaun yang menyapu air laut membuat pergerakannya kembali terganggu. Namun ia sudah bertekad dalam hati, jika tadi ia mampu melewatinya maka kali ini pun, ia pasti bisa! Jillian berteriak dengan semangat diatas papan seluncurnya. Namun aksi kedua ini ternyata tidak semudah aksi yang pertama, gaunnya yang semakin berat dan sangat menganggu keseimbangan tubuhnya membuat ia harus ekstra bersusah payah untuk tidak jatuh ke dalam laut. Dan ketika ia sedang berada di dalam naungan gelombang yang sedang melambung tinggi, gaunnya menyeretnya untuk masuk ke dalam gelombang itu. Jillian terjatuh dari papan selancarnya.
Namun begitu, ia dengan cepat berusaha meraih papannya kembali, namun kecepatan gelombang itu membuat papannya terlempar semakin jauh ke arah sana. Jillian masih berusaha untuk berenang dan mencapai garis pantai namun malang baginya, gaunnya tidak bisa diajak bekerja sama. Gaun yang tadinya ringan itu sekarang menjadi sangat berat.
Tubuh Jillian yang ramping tidak mampu menahan beratnya gaun itu. Gaunnya sekarang jadi pemberat bagi tubuhnya. Dan dengan perlahan tapi pasti, gaun itu menyeret Jillian untuk turun terus ke bawah. Jillian berusaha naik namun usahanya sia-sia sampai ia akhirnya menyerah ketika air mulai masuk ke dalam hidung dan saluran pernafasannya.
"I'm sorry Mom, Dad, ... Julian ...!" Jillian membiarkan dirinya tenggelam ke dasar lautan. Ke dalam dasar lautan yang gelap... Mata Jillian yang masih terbuka, melihat sinar matahari yang semakin lama semakin pudar dan menggelap ...
**** Next chapter : "I have nobody beside me, Selena!" Sahut Jillian dengan suara lirih.