Gadis Ketel dan Ular Berbisa

1652 Kata
"Elena, kau yang mengajarkan anak-anakmu untuk tidak menyembunyikan sesuatu. Tapi ... kau sendiri menyembunyikan hal penting dari mereka. Mau sampai kapan kau menutupinya? Khususnya pada Ellyora. Sebentar lagi dia akan pergi ke Osmond. Bukankah akan lebih mengejutkan untuknya kalau dia tahu kebenarannya dari orang lain?" Alih-alih menjawab Marliah, Elena hanya membuang napas perlahan. Kata-kata Marliah membuat dadanya terasa sesak, melebihi sesak yang berasal dari kepulan asap tungku yang mulai mengudara di dapur.  "Apa yang kau tunggu Elena?" tanya Marliah lagi. "Saranku, katakanlah pada Ellyora sekarang sebelum dia berangkat ke Osmond nanti malam." "Katakan apa—Bi?" Elena dan Marliah terkesiap bersamaan ketika Ellyora tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur. "Ell? Ibu pikir kau masih tidur. Sejak kapan kau bangun?"  "Baru saja. Apa yang sedang Ibu dan Bibi bicarakan?" Mendengar jawaban Ellyora, Elena menghela napas. Syukurlah Ellyora tidak sampai mendengar pembicaraannya dengan Marliah di dapur. "Bukan apa-apa," jawab Elena diakhiri senyum. Mendengar jawaban Elena, Marliah yang tahu kebenarannya tentu saja ingin menyela, tetapi ketika Elena menoleh padanya dan menggelengkan kepalanya pelan, Marliah hanya bisa kembali melanjutkan pekerjaannya memotong lobak dan urung ikut campur.  "Kau sudah selesai beres-beres keperluan yang akan kau bawa ke Osmond, Nak?" tanya Elena mengalihkan topik pembicaraan. "Belum."  "Kalau begitu, ayo Ibu bantu menyiapkan keperluanmu. Sekalian ada yang ingin Ibu berikan padamu."  Ellyora mengangguk, lalu membuntuti Elena masuk ke dalam kamar.  *** Beberapa saat kemudian, Ellyora telah selesai bersiap-siap dan mengemas tasnya. Ia juga telah berbaikan dengan Shira. Meski begitu, hatinya masih berat. Dalam beberapa waktu ke depan yang terbilang cukup lama, ia tidak akan bertemu keluarganya. Seseorang yang akan mengantarnya ke Osmond akan datang malam ini, sebentar lagi. Di meja makan, Elena dan Marliah sedang menyiapkan hidangan. Mereka tersenyum pada Ellyora begitu tahu gadis itu keluar kamar. Melihat senyuman itu, hati Ellyora semakin terhantam. Ia tahu perpisahan semakin dekat. Elena dan Marliah hanya sedang berusaha menyembunyikan kesedihan di balik senyuman mereka. Mata Ellyora menghangat. Air matanya hampir saja tumpah. Tetapi gadis itu mengalihkan dengan bergegas menuju dapur. Ia tidak ingin menambah kesedihan keluarganya. Pegangan ketel ia raih dari atas tungku, lalu dibawanya ketel itu ke meja ruang makan. Ellyora menuang air mendidih dalam ketel ke poci teh dengan lebih cepat ketika mendengar banyak langkah semakin mendekat. "Selamat malam."  Mendengar sapaan yang datang, jantung Ellyora serasa terhantam. Suara berat dan dalam itu terdengar tidak asing. Mata Ellyora membulat ketika ingatannya menghubungkan suara itu dengan wajah pria bermata hijau emerald. Ellyora pun memutar kepalanya ke arah suara dengan ragu lalu terhenti pada seorang pria yang terlihat begitu menonjol di antara Ayah dan Pamannya. Bukan karena pria itu memiliki tubuh tegap dan tinggi di atas rata-rata, bukan pula karena rambut pirang sebahunya atau warna mata hijau emeraldnya yang lumayan indah. Pria itu menonjol karena sepasang matanya memberi tatapan yang membuat d**a Ellyora sesak. Ellyora mengucek matanya demi memastikan objek visual yang ditangkap indera penglihatannya adalah salah. Sayangnya, itu benar. Di tengah pencahayaan lilin yang remang, seseorang yang Ellyora anggap si preman gotik tengah diarahkan Gery untuk duduk ke kursi seberang meja, berhadapan dengan dirinya yang sedang berdiri memegang ketel. Hampir saja air mendidih dalam ketel itu tumpah karena tangan Ellyora yang mendadak gemetar. Ia ngeri membayangkan bahwa tamu penting yang dimaksud keluarganya dan yang akan mengantarnya ke Osmond adalah si preman itu. "Ell, cepat selesaikan tehnya," tegur Elena. "Lalu sajikan pada tamu kita Kai Xavier. Dia ketua The Keepers!" Apa? Ketua The Keepers? Petir ilusi menyambar si gadis pemegang ketel. Otaknya seolah mati terbunuh fakta bahwa pemuda yang sempat ia sangka preman ternyata adalah ketua The Keepers. Semua itu membuat Ellyora pasrah. Dengan kikuk, gadis itu menunduk lalu cepat-cepat menyelesaikan tugas ketel dan pocinya. Dimasukkannya satu kubus gula, lalu mengaduknya dengan cepat. Gerakan sendok di tangannya yang memutar, selaras dengan penolakan yang juga berputar-putar di kepalanya. Semangat pergi ke Osmond tenggelam dalam pusaran itu. Sambil menyelesaikan tugas teh pocinya, Ellyora melirik penampakan pria yang duduk tegap di depannya. Pria itu sedang bercakap-cakap dengan Harry, kemudian Gery, Elena, Marliah, bahkan Shira. Obrolan mereka memenuhi udara, menciptakan atmosfer hangat yang tak mampu Ellyora jangkau. Penampilan pria bermata hijau emerald itu malam ini terlihat sedikit berbeda. Rambut pirang sebahunya kini diikat rapih, tidak acak-acakan seperti yang ia lihat saat di pasar. Pakaiannya pun rapih, tanpa kalung rantainya. Jika begini, mungkin dari awal Ellyora tidak akan menyangka pria itu sebagai preman pasar. Namun, Ellyora merasa tetap harus waspada. Baginya, lelaki itu memiliki sorot mata yang misterius. Yang entah bagaimana mampu menghipnotis Ellyora untuk menyelami sesuatu. Entah apa itu. Kai menyadari bahwa gadis pemegang ketel di hadapannya sedang mencuri pandang. Dengan kepercayaan diri tinggi, ia membalas tatapan itu. Mata mereka pun bersirobok. Kai mengangkat ujung bibirnya, memberi senyuman simpul pada Ellyora. Debar jantung Ellyora serasa mendobrak-dobrak menerima tatapan sekaligus ekspresi itu. Keringat dingin mengalir dari pelipis turun ke pipi. Ia berharap cahaya remang-remang di ruang makan ini mampu menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di wajahnya. Ellyora menyambar gelas kosong lalu dituangnya teh poci dengan tangannya yang gemetar. Gerakan tak stabil itu mengundang banyak pasang mata menatap, terutama Marliah yang duduk di kursi sebelahnya. "Ellyora, kau kenapa, Nak? Wajahmu pucat sekali?" Pertanyaan Marliah seperti serangan yang datang dari arah tak terduga. Kini, seluruh mata memandang Ellyora penuh tanya. Tubuh Ellyora menegang. Rasanya, ia lebih baik menjadi anggota pasif yang tak dianggap saja daripada menjadi pusat perhatian begini. "Ke—kepalaku se—sedikit pusing, Bi." Ellyora menggigit bibirnya yang berwarna merah cherry, mengutuk kegagapannya yang muncul tanpa permisi. "Apakah boleh jika aku beristirahat dulu di kamar?" "Ell?" tegur Harry. Ayahnya itu menggelengkan kepala, memberi isyarat bahwa tindakan putrinya kurang sopan. Kemudian mengucapkan maaf pada Kai. "Tidak apa-apa, Paman." Kai berkata dengan lembut. "Perjalanan ke Osmond bisa jadi akan melelahkan untuknya. Ellyora bisa memanfaatkan waktu sekarang untuk istirahat." Ellyora mencibir dalam hati. Nada suara lembut yang baru saja keluar dari pria itu membuat ia semakin yakin bahwa si gotik sedang memasang tabir kepalsuan, menutup fakta bahwa lelaki itu tidak sebaik yang ditampilkan di ruangan ini. Ellyora benar-benar meragukan pria di hadapannya itu. Tapi kembali lagi, sebagai tuan rumah, ia harus bersikap sopan. Akhirnya Ellyora mengucapkan maaf dan terima kasih pada Kai dengan volume super kecil. Ia undur diri dengan anggun meski nyaris tak tahan untuk buru-buru kabur. Dari dalam kamar, Ellyora mendengar mereka semua kembali berbincang, dan tertawa. Shira yang Ellyora kenal sulit menerima kehadiran orang asing pun ikut aktif dalam pembicaraan. Ellyora mendesah. Kepalanya menoleh penuh harap pada bintang-bintang yang mengintip di celah dinding kamar.  Haruskah aku pergi bersama pria itu? *** Ellyora membuka mata disertai dentuman keras di jantungnya. Ia baru saja ketiduran. Padahal, seharusnya ia mampu menguping banyak pembicaraan di ruang makan itu. Ditengoknya uang makan yang sudah sepi. Sekarang percakapan terdengar dari ruang tamu. Ellyora mengendap-endap, mengintip ke arah ruang tamu. Sepasang mata coklat terangnya menyapu cepat situasi di ruang itu. Tapi ia tidak berhasil menemukan seseorang.  Ke mana si preman itu? Kai yang baru selesai dari kamar mandi, menahan tawa di belakang Ellyora. Gadis yang mengenakan dress coklat selutut itu sungguh menggelikan. Ia pun berdeham sehingga membuat Ellyora berbalik karena kaget. Sudut bibir gadis itu berkedut tak siap mengantisipasi Kai yang sudah bersidekap dan memangkas jarak satu meter di hadapannya. Refleks, Ellyora bergerak mundur. Menempelkan punggung di dinding kayu seperti cicak yang canggung. "Mencariku?" tanya Kai dengan penuh penekanan, tapi lagi-lagi disertai ekspresi kelembutan. Ekspresi yang aneh bagi Ellyora. Ellyora mendecih dalam hati. Ia paham ada nada mengejek di pertanyaan itu, tapi ia tidak sedang dalam situasi aman untuk mendebat. Ketika melihat pria di hadapannya, entah mengapa ia jadi ingat ular berbisa. "Tidak," jawab Ellyora singkat. Kai membuang wajah seraya terkekeh. "Segera ganti pakaianmu. Kau bisa kedinginan sepanjang perjalanan dengan pakaian ini. Pakailah pakaian yang hangat. Aku menunggumu di ruang tamu." Ellyora mengembuskan napas panjang dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya begitu Kai melenggang pergi. Tangannya mengibas-ngibas karena mendadak hawa di sekitar wajah gadis itu memanas. Sungguh, ia tidak menyukai nada bicara dan ekspresi si ular berbisa itu. Namun, Ellyora juga tidak menyangkal bahwa ekspresi menyebalkan Kai Xavier berhasil membuat hatinya bergetar. *** Keheningan merayap. Kesedihan dan isak tangis melebur bersama malam. Tak ada tempat berpegangan sekarang. Ellyora pun semakin mempererat genggamannya pada tali tas. Ia enggan menoleh pada wajah sedih keluarga yang sedang menangisi keberangkatannya. Kepala Ellyora tertunduk. Sepatu sol kulit membersamai langkahnya yang gontai. "Tenanglah Ellyora, tenang!" gumam Ellyora pada dirinya sendiri. Baru beberapa langkah dari pintu, tapi ia merasa bahunya sudah digayuti beban yang berat. Kalau begini bagamana ia akan menjalani hari ke depannya? Ellyora tidak bisa membiarkan tekadnya goyah. Ia mencoba berpikir jernih. Bukankah siap tidak siap hidup harus terus berjalan? Ellyora menyeka pipi dan menegakkan wajahnya. "Aku bukan gadis yang cengeng! Begitu banyak omelan Ayah tapi tidak berhasil membuatku menangis. Bahkan, aku juga pernah dikejar-kejar lebah hutan tanpa mengeluarkan air mata sedikit pun. Ya, aku bukan gadis yang lemah!" Dari sudut mata, Kai memperhatikan Ellyora yang sedang bermonolog. Kai kembali dibuat tersenyum karena tingkah aneh gadis itu. "Naik." Ellyora menoleh pada Kai yang menginstruksikannya naik ke atas kuda. Sekilas, ia takjub melihat penampakan kuda dari jarak dekat untuk pertama kalinya. Apalagi kuda milik Kai itu nampak begitu gagah dengan warna coklatnya yang gelap. Karena terlalu lama, Kai lantas membopong Ellyora hingga tubuh gadis itu dapat dengan cepat terduduk di atas kuda. Lalu, Kai menyusul duduk di belakangnya. Mata Ellyora melebar mendapatkan perlakuan Kai yang begitu sigap padanya. Untung saja Ellyora memakai celana kulot yang longgar, sehingga ia bisa langsung duduk di atas pelana kuda dengan nyaman.  "Eh?" Ellyora merasa sedikit gugup ketika Kai mulai meraih tali kekang kudanya. Dengan posisi itu, ia bisa merasakan kehangatan yang menyebar di punggungnya, kehangatan yang berasal dari Kai. Ketika kudanya mulai berpacu, Ellyora mencoba menciptakan jarak, tetapi Kai justru menahan pergerakannya. "Jangan banyak bergerak. Atau kau akan terjatuh," tutur Kai, lalu tersenyum pada gadis itu. Ya, gadis itu. Gadis yang sebelumnya ia rindukan siang dan malam selama bertahun-tahun kini bersamanya, dalam lindungan tangannya. Gadis si pemilik mata cokelat terang yang indah, Ellyora Bright. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN