Dexter!
Edbert menuju kamar Dexter dengan tergesa-gesa. Wajahnya menegang dan pikirannya dipenuhi firasat buruk tentang racun. Ia hendak langsung masuk dengan teleportasi, tapi ternyata Dexter menyelubungi kamarnya dengan mantra sihir.
Kemampuan sihir Dexter lebih rendah, sehingga mudah saja bagi Edbert untuk menghilangkan selubung sihir itu. Edbert pun berhasil masuk, lalu dengan langkah cepat, ia bergerak menelusuri ruang kamar adiknya.
"Dexter!" teriak Edbert setelah menemukan Dexter terbaring di atas ranjang dengan wajahnya yang telah memucat. "Dexter, bangun!"
Edbert meraih pundak Dexter. Ia sempat terkaget karena tangannya seolah baru saja memegang salju.
Tubuh Dexter sangat dingin. Bibir anak itu pun terlihat sudah membiru. Cepat-cepat, Edbert memeriksa pergelangan tangan Dexter. Denyut nadi anak itu masih terasa namun belum bisa membuat Edbert lega.
"Pelayan!" seru Edbert.
Dengan tergopoh-gopoh seorang ketua pelayan kamar Dexter masuk menghadap. Perempuan bercelemek biru itu membulatkan mata dan menutup mulutnya yang menganga begitu melihat Dexter selaku tuannya tergeletak di atas ranjang.
"Cepat panggilkan Ayah!" titah Edbert.
Sang pelayan mengangguk. Kemudian buru-buru menemui Hagburn agar pesan daruratnya tersampaikan pada Roland.
"Bertahanlah," tutur Edbert lirih. Dilihatnya wajah Dexter. Mata anak itu sembab. Mungkin Dexter baru saja menangis akibat sikap Roland yang keras padanya.
Melihat Dexter tak berdaya, entah mengapa membuat hati Edbert sesak. Padahal, seringkali adiknya itu mengesalkan. Digenggamnya jemari tangan Dexter yang dingin. Kemudian Edbert menemukan sesuatu di genggaman tangan Dexter. Sebuah gelang manik-manik.
Senyuman miris menggantung di wajah Edbert. Ia teringat apa yang pernah dikatakan Dexter tentang gelang itu.
"Jadi gelang pemberian gadis Albara itu benar-benar berarti untukmu? Anak bodoh," kata Edbert pada Dexter lirih.
***
Shira berbaring memunggungi pintu kamar sambil menyembunyikan tangis dalam bantal. Ia sedih setelah melepas kepergian Ellyora. Ditambah, sebenarnya ia juga belum bisa melupakan Tummy—kucingnya yang hilang. Elena masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang dan memberi usapan lembut pada punggung putrinya.
"Ibu, kakak akan baik-baik saja bukan?" tanya Shira lirih. "Kadang Ellyora memang menyebalkan, tapi aku sangat menyayanginya. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya."
"Shira, kakakmu akan baik-baik saja. Bukankah tadi kau sudah mengenal Kai?"
Shira mengangguk. "Dia ketua The Keepers yang baik. Kemampuan pedangnya juga sangat hebat."
"Benar. Kai akan menjaga Ellyora. Dia sudah berjanji pada Ayahmu." Elena membelai rambut Shira, lalu mencoba tersenyum saat putri ke duanya itu berbalik menatapnya. Sama halnya dengan Shira, ia dan seluruh penghuni rumah cat biru pun merasa sedih. Dan ia sungguh berharap, Ellyora baik-baik saja di luar sana.
***
Ellyora tidak bisa tidur. Sudah berkali-kali ia hanya mengubah posisi di atas ranjang sementara matanya tetap waspada. Bagaimana ia bisa tidur kalau di dekatnya ada seorang pria?
Belum lagi kamar yang sesak. Apa si ketua The Keepers itu memang sengaja hanya menyewa satu kamar dengan ukuran paling sempit di penginapan? Sungguh Ellyora enggan berebut oksigen dengan lelaki itu sepanjang malam. Memang di dalam kamar ada dua ranjang, tapi Ellyora tetap tidak bisa tertidur satu ruangan bersama pria asing.
Untuk ke sekian kali Ellyora mengubah posisinya. Selain tak nyaman, ia juga penasaran apa yang sedang dilakukan oleh si ketua The Keepers alias si ular berbisa itu. Sedikit pun Ellyora tidak ingin lengah. Ia tidak akan memberi peluang pada si ular berbisa itu untuk mendekatinya, apalagi menyentuh dirinya.
Gadis itu pun memutar tubuh menghadap pintu. Matanya seketika membulat setelah melihat objek visual yang belum pernah ia lihat. Punggung telanjang seorang lelaki. Kokoh, berotot, dan ada beberapa bekas luka di sana.
"Apa yang sedang kau lakukan! Dasar mésum!" teriak Ellyora lalu menutup mata dengan telapak tangan.
Kai menoleh sebentar lalu melanjutkan memakai pakaiannya dengan santai. "Kau tidak lihat? Aku sedang berganti baju."
"Kenapa mendadak ganti baju?" sergah Ellyora.
Kai berbalik. "Karena kotor. Memangnya ada hal lain yang kau harapkan?"
Ellyora membuang napas kasar kemudian bergumam. "Satu-satunya hal yang kuharapkan adalah kau tidak tidur di ruang ini."
Mendengar gumaman itu, Kai terkekeh geli. "Jadi itu yang kau harapkan? Kalau begitu selamat, harapanmu terkabul."
Kening Ellyora berkerut. Perlahan ia menurunkan tangannya. Melihat kembali ke arah Kai. Punggung telanjang pria itu sudah tertutupi pakaian hitam lengan pendek yang mengekspos pundaknya yang kekar.
Ellyora menelan ludah. Matanya yang bulat mengedip cepat. "Apa maksudmu?"
Kai kembali terkekeh. Ia mengambil pedang katana dan jaket kulitnya yang tergantung lalu berkata sebelum membuka pintu. "Tidurlah dengan nyenyak. Aku juga tidak terbiasa tidur dengan seorang gadis di sisiku."
Rahang Ellyora jatuh. Ternyata si ular berbisa itu tidak sebuas yang ia bayangkan. Tapi sekarang ia bertanya-tanya. Ke mana si ular berbisa itu akan pergi malam-malam begini?
***
Kai telah berjalan cukup jauh dari penginapan. Sesekali ia tersenyum kecil karena terbayang wajah Ellyora yang tadi melihatnya dengan mata membulat dan bibir mengerucut. Kai berpikir gadis itu sungguh menggemaskan.
Sama seperti yang ia temui delapan tahun lalu. Gadis itu belum berubah.
Kai terus melangkah. Suara ketukan sepatunya begitu pelan, membelah jalan di perbatasan kota Eden yang lengang. Tak ada suara lain yang membersamainya kecuali gemerisik daun-daun tertiup angin malam.
Kai meninggalkan jalan dan memasuki gugusan hutan kecil, berniat mencari tempat duduk nyaman untuk menyendiri. Setelah menemukan pohon oak berakar besar, ia menyandarkan punggung di sana. Kepalanya menengadah pada langit, melihat bulan purnama yang memantulkan cahaya di dalam sepasang mata hijau milik Kai.
Damai dan sunyi, Kai mulai terhanyut di dalamnya. Ia hampir terlelap, sebelum akhirnya mencium bau belerang.
Kai membuka matanya kembali. Menelusur ke sekeliling melalui sorot matanya yang tajam, lalu pandangannya terhenti pada seekor burung gagak bermata hijau. Burung itu bertengger tak jauh di depannya. Nampak bulu burung gagak itu yang sudah rontok di beberapa bagian sehingga memperlihatkan kulit lehernya yang berwarna merah muda.
Selama beberapa detik, dua pasang mata hijau emerald itu saling memandang. Wajah mereka bersitegang.
Sampai akhirnya ujung bibir Kai terangkat, membentuk senyuman hangat yang ditujukan pada burung itu. "Ramseya, pendaratanmu selalu sangat senyap. Tapi aku khawatir karena bulumu semakin rontok."
Burung gagak perempuan itu tidak segera menjawab. Ia lalu mengatur napas yang sebenarnya masih terengah. Tidak mudah bagi burung gagak hasil transformasi sepertinya berhasil bertahan hidup di kerajaan timur setelah berulang kali menyeberangi samudra Erion.
"Kau membutuhkan ini?"
Kai mengeluarkan botol kecil seukuran jari telunjuk dari dalam saku sabuknya. Botol itu berisi cairan hitam. Kai membuka penutup botol dan meminumkannya pada Ramseya setelah burung itu mengangguk. "Merasa lebih baik?"
"Saya merasa seperti terlahir kembali, Tuan. Terima kasih. Selain ketua The Keepers, ternyata Anda adalah seorang Alkemis yang hebat."
Kai tertawa. "Hanya kau, Ramseya! Burung gagak yang tahu rahasia ramuan ini. Sekarang, berita apa yang kau bawa?"
KREK! Terdengar suara berisik.
Secepat kilat, Kai dan Ramseya menoleh ke sumber suara. Mata hijau mereka menajam setelah melihat pergerakan di balik semak-semak.
***
Ellyora memiliki keahlian mengendap-endap yang mumpuni. Biasanya, ia menggunakan keahlian itu untuk menemani Ayahnya berburu burung, kelinci hutan, atau kadang rusa. Seperti yang ia lakukan sekarang, Ellyora sangat bersyukur diberkahi keahlian itu sehingga bisa membuntuti Kai tanpa ketahuan.
Namun, kini ia benar-benar dibuat geram pada apa yang baru saja dilihatnya. Kai Xavier, si ketua The Keepers itu berbicara pada seekor burung gagak berbulu rontok? Ternyata pria itu adalah seorang penyihir?
Sedari awal Ellyora sudah curiga. Kai tidak seperti yang lelaki itu tampilkan pada orang banyak. Lelaki itu menyembunyikan sesuatu. Ternyata dugaannya sekarang benar. Berani-beraninya si ular berbisa itu membohongi semua orang, termasuk keluarganya. Parahnya lagi, tadi Ellyora sempat berpikir bahwa ular berbisa itu adalah orang baik. Ellyora benar-benar menyesal.
Tak bisa tinggal diam. Ellyora harus kabur dari si ular berbisa itu. Selagi belum terlalu jauh, entah bagaimana caranya ia akan kembali ke rumah Bibi Marliah dan akan ia katakan semua perbuatan lelaki itu kepada keluarganya.
Ellyora berlari keluar dari gugusan hutan kecil. Ketukan sepatu kulitnya terdengar sepanjang jalan yang lengang. Ia tak peduli. Ia hanya ingin cepat pulang.
Namun, tiba-tiba empat lelaki tinggi besar mencegat dari arah berlawanan. Napas Ellyora tersentak melihat tanda lingkaran matahari emas di leher empat lelaki itu.
Mereka ... pesuruh Yurza?
Dengan perasaan gamang, Ellyora berusaha mengundurkan diri. Ia tidak bisa memutuskan tindakan selanjutnya. Berbalik atau maju sama-sama bertemu penyihir.
"Kau mau ke mana, cantik?" tanya seorang lelaki dengan surai hitamnya yang panjang disertai tatapan buas.
Ellyora tidak menjawab. Sadar kemampuan pedangnya tidak cukup melawan empat pesuruh Yurza itu, Ellyora merasa harus melarikan diri. Ia pun berbalik, tapi pergerakan para lelaki itu sangat cepat hingga kini keempatnya sudah mengepung Ellyora.
Udara malam yang dingin membekukan kaki Ellyora. Pandangannya mengabur. Apa sekarang ia mulai menangis? Ia tidak tahu lagi.
"Hei!"
Kepala Ellyora menegak. Ia mengenal suara itu. Ya, suara itu... suara Kai.
Ellyora mencoba mengedarkan pandangan. Barangkali yang baru saja ia dengar hanya imajinasi. Tapi meski benar, ia tidak tahu kehadiran Kai apakah memang benar-benar menyelamatkannya atau hanya membuatnya lega untuk sementara.
Sebelum Ellyora menemukan di mana sosok Kai, kehangatan telah menyelimuti bahunya. Kehangatan itu berasal dari lengan yang kokoh. Kemudian suara familier berbisik di telinganya. "Aku bersamamu."
Mata Ellyora terbuka lebar. "Kai?"
Kai menutup kedua mata Ellyora dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, menghabisi keempat pesuruh Yurza itu dengan sekali tebasan pedang.
Erangan dan suara darah yang menetes membuat jantung Ellyora serasa berhenti sesaat. Apakah memang seperti ini kejamnya bertahan hidup di luar hutan? Selama ini ia hanya bersembunyi dan tidak pernah tahu. Kenapa untuk bertahan hidup, manusia harus saling membunuh?
Ellyora merasa pandangannya kabur, dan kesadarannya perlahan hilang. Wajahnya terbenam dalam dekapan Kai Xavier.
***