Tiga puluh menit kemudian.
Genevieve sudah selesai dengan masakannya. Dia juga sudah meletakkan makanan sehat milik Emily di atas meja beserta jusnya.
Genevieve mendudukkan diri di balik meja.
Tatapannya lurus menatap segelas air dengan warna oranye yang menyegarkan. Adalah jus wortel yang spesial dia buat untuk mendampingi bubur ayam dan telur rebus untuk sarapan Emily.
Namun, sudah tiga puluh menit lebih sejak dia meninggalkan kamar tidur Emily, wanita tua itu belum juga keluar dari kamar tidurnya.
Dia sedikit khawatir dan cukup gelisah karena biasanya, belum selesai dia membuat sarapan, wanita tua itu pasti sudah duduk di sini melihatnya bekerja di dapur. Wanita itu akan mengatakan ini dan itu, mengatur ini dan itu, juga memarahinya kalau salah memotong atau salah mengambil gelas dan piring.
Selain sering memperhatikan hal umum tentang makanan yang di sajikan, wanita tua itu juga kerap memperhatikan detail kecil seperti potongan sayuran, bahkan bentuk piring dan gelas yang harus di sesuaikan dengan menu.
Wanita tua itu
Tsk.. tsk.. tsk..
Cerewet namun perhatian dan baik hati, membuat dia tidak tahan untuk melihat apa yang sebenarnya sedang Emily lakukan di dalam kamar tidurnya.
Apa mungkin Emily tidur lagi?
Dia menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Selain baru bangun tidur, jam tidur siang wanita tua itu pada kisaran jam sebelas sampai jam dua belas siang. Sebelum atau sesudah itu, Emily tidak akan bisa memejamkan mata. Jadi, itu mustahil.
Lantas, apa yang sebenarnya wanita itu lakukan?
Apa sembelit wanita itu kambuh?
Penasaran, Genevieve berdiri, dengan langkah pelan dia berjalan menuju kamar tidur Emily untuk memastikan kalau tidak ada masalah yang terjadi. Dia cukup khawatir dan dia tidak akan tenang sebelum memastikan kalau wanita tua itu baik-baik saja.
Tok.. tok.. tok..
Genevieve mengetuk pintunya.
"Grandma, apa kamu baik-baik saja? Apa sembelit mu kambuh?" Genevieve bertanya setelah tidak mendapat tanggapan apapun dari Emily meski dia sudah berulang kali mengetuk pintunya.
Tok.. tok.. tok..
"Grandma, apa perlu aku mengambil obat pelancar BAB untukmu?" Genevieve menambahkan saat Emily tidak kunjung menjawab.
Terkadang, Emily memang menggunakan obat pelancar BAB. Namun, atas saran dokter. Wanita itu tidak boleh menggunakan obat oral. Setidaknya wanita itu boleh menggunakan obat pelancar BAB dengan jenis yang di masukkan ke dalam a**s. Selain karena proses kerjanya yang lokal karena hanya bekerja di usus bagian paling bawah, itu juga tidak akan memengaruhi pergerakan usus secara keseluruhan. Efek sampingnya juga cenderung lebih rendah dari pada obat oral.
Jadi, dia menggunakan obat itu sebagai cadangan kalau Emily merasa tidak nyaman karena sembelit, juga bukan hal yang buruk.
Emily hanya tinggal memanggilnya, dan dia akan membantu Emily tanpa banyak bertanya, tanpa banyak bicara. Namun, sepertinya wanita itu sedikit sulit di atasi.
Tok.. tok.. tok..
"Kalau kamu masih tidak menjawab, aku akan menerobos masuk." Genevieve mulai kehabisan kesabarannya. Dia jengah kalau Emily keras kepala dan tidak mau di bantu meski dia tau kalau wanita itu hanya tidak ingin merepotkan dirinya. "Terserah kamu suka atau tidak, terserah kamu marah atau tidak, aku tidak peduli." Tambahnya kemudian.
Firasatnya buruk untuk hal ini. Dan dia merasa harus melewati garis bawah yang sudah Emily ciptakan di awal karena rasa khawatir yang dia rasakan saat ini sudah mengalahkan segalanya termasuk otoritas mutlak wanita tua itu untuk tidak mengganggu aktifitas pagi saat berada di kamar mandi.
Omong kosong! Memangnya siapa peduli?
Tangan Genevieve terulur untuk meraih kenop pintu. Dia sedikit ragu. Apakah dia harus melakukannya?
Membuka secara paksa berarti dia sudah benar-benar mengabaikan perkataan wanita tua itu untuk tidak mengganggu. Namun kalau dia tidak masuk, dia akan semakin penasaran. Jadi, apa yang harus dia lakukan?
Apakah dia harus masuk?
Genevieve memejamkan mata sembari menghela nafas panjang.
Baiklah, lakukan saja!
Buka pintunya dan lihat keadaan wanita tua itu.
Sekarang.
Genevieve memutar kenop pintu bersamaan dengan dia membuka matanya. Seketika pintu terbuka dan dia melangkah masuk.
"Grandma." Genevieve mengawasi sekeliling penuh selidik. Tidak ada siapapun di atas ranjang dan keadaan juga masih sama. Sunyi tanpa suara, sunyi tanpa jawaban. Sunyi tanpa ada suara lain yang terdengar selain gemericik air dari kamar mandi.
Genevieve melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Langkahnya cepat bahkan nyaris berlari. Dia takut firasat buruknya tentang Emily, terjadi. Dia takut sesuatu yang buruk menimpa wanita tua itu.
Tangannya terulur membuka pintu kamar mandi, dan-
"Grandma!" Genevieve menjerit saat melihat Emily tergeletak tidak berdaya di lantai dingin kamar mandi. Tubuhnya basah karena air keran terus mengalir membanjiri lantai.
"Tolong!!!"
***
Rumah Sakit.
"Kenapa dokter masih belum keluar?" Genevieve bertanya kepada dirinya sendiri. Dia mondar-mandir di depan ruang Instalasi Gawat Darurat dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Dia bingung, sedih, hancur dan tertekan saat menunggu Dokter yang tidak kunjung keluar.
Genevieve berjalan ke arah beberapa perawat yang bertugas mencatat data diri setiap pasien yang datang.
"Sebenarnya berapa lama waktu yang di perlukan untuk mengurus seorang pasien di ruangan ini?" Genevieve bertanya dengan cemas kepada beberapa perawat yang duduk di balik meja.
"Maaf Nona, dokter akan keluar sebentar lagi kalau pemeriksaannya memang sudah selesai." Salah seorang perawat menjawab dengan sabar pertanyaan Genevieve yang tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, melainkan terdengar seperti tuduhan karena di ucapkan dengan nada sarkas.
Genevieve meremas rambutnya dengan frustasi. "Baiklah. Maafkan aku." Dia tahu kalau dokter sedang mengupayakan yang terbaik di dalam sana. Mungkin dia yang gegabah sampai memarahi orang lain yang sebenarnya berniat baik untuk membantunya.
"Tidak masalah. Anda hanya cemas karena keadaan pasien. Kami bisa mengerti kalau orang yang panik seringkali berbuat demikian." Perawat berkata santai sembari mengembalikan kartu tanda pengenal milik Emily. "Sebaiknya Anda duduk dan menunggu dengan tenang demi kenyamanan semua orang di ruangan ini." Perawat kembali menambahkan.
Genevieve menerima pemberian perawat kemudian mengangguk pelan. "Terima kasih, Suster. Maaf sudah mengganggu." Selesai berkata dia segera mendudukkan diri pada salah satu kursi tunggu yang tersedia.
Genevieve memijit pelan ruang di antara alisnya. Dia bingung dan tidak tau harus berbuat apa. Itu sebabnya dia bertindak di luar kendali.
Sangat wajar sebenarnya. Melihat Emily terbaring tidak sadarkan diri di kamar mandi, dia takut sesuatu yang buruk terjadi, seperti patah tulang, terbentur, atau apapun itu. Terlebih, usia Emily sudah cukup tua dan takutnya wanita tua itu tidak bisa bertahan menghadapi rasa sakit semacam itu.
Dia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana.
Ada semacam perasaan sakit yang membekas di hati saat melihat orang yang di cintainya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Sama seperti mendiang sang ibu dalam ingatannya.
Ibu juga demikian. Terbaring di atas ranjang rumah sakit selama beberapa hari sebelum akhirnya Ibu di nyatakan tiada karena komplikasi penyakit akibat dari hipertensi.
Keadaan ini sedikit mirip dengan apa yang terjadi. Mengingat sang ibu, tanpa sadar sudah menambah rasa sakit yang dia rasakan, rasa sakit karena kehilangan, rasa sakit karena di tinggalkan, luka-luka yang hampir sembuh, terbuka kembali.
Sakitnya benar-benar terasa sampai air mata bahkan tidak lagi bisa mengalir. Dadanya sesak menahan berbagai macam perasaan yang menggumpal dan tumpang tindih di dalam hatinya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, membuat Genevieve terperanjat. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang dokter keluar dari ruangan dimana Emily di periksa.
"Keluarga Nyonya Emily?"
"Saya, Dokter." Genevieve berdiri dan berjalan mendekat ke arah dokter yang memanggil. "Bagaimana keadaan Grandma? Apa dia baik-baik saja?" Genevieve merentet beberapa pertanyaan kepada dokter sebagai wujud rasa ingin tahunya tentang kondisi Emily.
Dokter menyipitkan mata. "Maaf, Anda adalah?"
"Saya-" Genevieve terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dokter yang satu ini. Lagi pula dia memang bukan siapa-siapa. Dia bukan keluarga dan dia hanya orang asing. Jadi, hal ini memunculkan sebuah perasaan tidak nyaman yang takutnya pertanyaan dokter kali ini menjurus kepada sesuatu yang serius. "Saya adalah pengurus rumah tangga di kediaman Nyonya Emily." Adalah jawaban yang menurutnya paling aman dan tepat. Dia berbohong, tidak mungkin. Selalu ada permasalahan serius di balik pertanyaan dokter yang misterius.
"Saya membutuhkan tanda tangan dari keluarga Nyonya Emily." Dokter memberitahukan hasil diagnosis yang dia tulis dalam sebuah berkas sebagai syarat untuk perawatan medis Nyonya Emily selanjutnya. "Tulang pada pergelangan tangan Nyonya Emily patah, mungkin saat jatuh tangannya membentur sesuatu yang keras sampai menyebabkan fraktur tertutup." Dokter menambahkan dengan sedikit penjelasan yang seharusnya bisa di terima oleh keluarga pasien untuk kemudian menandatangani kelengkapan berkas, dan secepatnya melakukan tindak operasi.
"Apa? Patah tulang?" Dunia Genevieve seolah terbalik saat mendengar penuturan dokter. Itu tidak mungkin! Emily baik-baik saja. Setidaknya, itulah yang dia lihat. Tidak ada darah dan tidak ada luka. Seharusnya Emily baik-baik saja. "Tapi Grandma baik-baik saja dokter, tidak ada luka apapun. Grandma hanya pingsan. Seharusnya.. seharusnya-"
"Meski tidak terlihat sobek dan tidak ada tonjolan, namun tulang di dalamnya rusak, Nona." Dokter memotong ucapan Genevieve sebelum Genevieve bisa mengucap lengkap kalimatnya.
Genevieve memejamkan mata dan setetes bening luruh begitu saja saat dia membuka matanya kembali. Dia tidak menyangka kalau semua akan serumit ini. Semua ini, dia tidak bisa memikirkannya lagi.
"Nona, kami minta kerja sama dari Anda dan pihak keluarga. Kalau cedera Nyonya Emily tidak segera di tangani, takutnya ada beberapa hal tidak menyenangkan yang bisa membuat kondisi Nyonya Emily semakin buruk." Dokter mendesak Genevieve agar secepatnya mengambil keputusan.
"Bagaimana kalau saya saja yang menandatanganinya, Dok? Apakah itu mungkin?" Genevieve tidak tau tentang keluarga Emily. Selama hampir lima tahun mendampingi wanita tua itu, belum pernah sekalipun dia berjumpa dengan sanak saudara atau siapapun selain tetangga dekat yang tinggal di sekitar rumah. Hanya satu nama yang sering Emily sebutkan, yaitu Bastian. Tapi siapa Bastian?
"Saya sarankan sebaiknya pihak keluarga saja. Anak, cucu, keponakan atau siapapun yang masih terikat hubungan darah." Dokter selalu di tuntut berhati-hati dalam setiap pekerjaan termasuk mendesak pihak keluarga agar tidak mengulur waktu.
"Ya Tuhan." Genevieve menatap dokter dengan tatapan dalam. "Beri saya sedikit waktu untuk membawa salah satu keluarga Grandma Emily ke sini."