Sepertinya kejadian kemarin terlalu membekas dalam diri Diko. Buktinya, dia tidak mau melepaskan ku. Memang, kemarin-kemarin dia juga seperti ini. Tapi ini lebih parah dari apapun itu. Padahal ia tahu banyak orang yang berlalu lalang menyiapkan pesta, dia dengan seenaknya, dengan santainya memelukku dengan erat. Bahkan di ejek pun tidak membuatnya goyah. "Sayang, ih!. Lepas, malu!" Ujarku kesal. Si baby alias Novan sudah di ambil sama mama, memperkenalkannya dengan ibu-ibu gengnya. Setidaknya ada sedikit rasa malu pada Diko, tapi ini tidak sama sekali. "Nanti kamu kabur lagi." Jawabnya. "Gak bakal, ih!" Aku menurunkan kepalanya di sofa, dia kembali menaruh kepalanya di pahaku. Lama-lama aku malah berpikir kalau dia mau menyaingi putranya sendiri, tidak mau kalah dalam hal bermanja-
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


