“Bukan apa-apa, Luna. Sam hanya sedang melaporkan perkembangan kasus salah satu rival bisnisku.” Frans mengucapkannya dengan nada yang begitu tenang, dan datar, tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya yang tajam. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi roda, sementara Sam segera berdiri tegak, kembali memasang wajah kaku. Luna mengerutkan kening, masih memegang piring berisi potongan jeruk di tangannya. “Kasus apa sampai harus berbisik begitu? Sepertinya sangat rahasia.” Frans tersenyum tipis, senyum yang bisa membuat wanita manapun yang melihatnya langsung klepek-kelepek, termasuk Luna. “Hanya masalah kecil. Musuhku itu baru saja kehilangan istrinya yang meninggal di rumah sakit. Dan sekarang, dia menjadi gila dengan menyalahkan dokter yang menanganinya. Dia tidak terima kenyataan bah

