“Luna, bagaimana keadaanmu hari ini? Maaf, jika aku hanya bisa sedikit membantumu. Semoga, setelah ini, kamu tidak akan pernah lagi mengalami hal seperti ini. Hiduplah dengan bahagia, Nak.” Suara Dokter Anestesi terdengar pelan, nyaris berbisik, tetapi penuh kehangatan. Tangannya memegang lengan Luna yang terlihat makin kecil dari beberapa waktu lalu saat dia membius Luna untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
Sedikit banyak, dokter itu tahu bagaimana keadaan Luna. Meski iba, dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia hanyalah dokter biasa yang tak memiliki wewenang apapun di rumah sakit ini.
Luna yang terbaring lemah di atas brankar, tak mampu merespon apa maksud kata 'membantu' dari dokter itu. Lampu sorot operasi yang terang menyilaukan matanya. Wanita itu melirik brankar di sampingnya yang masih kosong. Itu artinya Liana belum datang, mengingat nama itu, hatinya terasa perih. Namun, kehangatan dari dokter anestesi yang bertugas membuat hati Luna sedikit tenang.
Luna menatap samar pada dokter yang mengenakan masker itu. Matanya memancarkan rasa lelah. Namun dia tidak memiliki energi untuk bertanya.
“Kamu harus kuat,” bisik dokter itu lagi, seraya mencari-cari urat nadi di lengan Luna yang sudah terpasang jalur infus. “Kuat untuk anakmu.”
Air mata kembali menetes di pipi Luna, rasa sakit pengkhianatan Sean begitu pekat. Ia hanya bisa mengangguk pasrah. Berharap setelah ini, semua penderitaannya akan berakhir.
Tangan lelaki itu memegang jarum suntik, siap menyuntikkan obat bius yang akan membawa Luna ke kegelapan, dan ke meja operasi.
Tepat saat obat bius itu hendak disuntikkan, pintu ruang operasi terbuka. Perawat segera mendorong brankar Luna ke sudut ruangan, memberi jalan untuk tim medis lain yang membawa brankar kedua.
Dari sudut matanya, Luna melihat tubuh lemah Liana yang juga sudah mengenakan pakaian operasi. Di belakang brankar Liana, berdiri Sean dengan raut wajah yang dilanda kepanikan dan obsesi.
Sean tidak melihat Luna. Fokusnya total pada Liana. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Luna, yang seharusnya sudah dibius, masih sadar.
Sebelum brankar Liana masuk sepenuhnya ke dalam ruang operasi, Sean menahannya. Ia membungkuk dalam-dalam, menyingkirkan rambut tipis Liana, dan berulang kali menciumi bibir Liana dengan gairah yang membara. Sebuah ciuman yang tak pernah Luna dapatkan sejak malam pengantin mereka hingga saat ini.
“Kau akan sembuh, Sayang. Setelah ini, kita akan bahagia,” bisik Sean, suaranya serak dan sarat gairah. Ia menciumi kening Liana, menciumi seluruh wajahnya dengan posesif. “Kita sudah tidak butuh Luna lagi. Operasi ini akan menyelesaikan semuanya. Kita akan hidup bahagia.”
Liana, yang tampak setengah sadar, tersenyum lemah. Senyum puas yang membuat perut Luna terasa mual.
Kata-kata Sean menghujam jantung Luna seperti jarum yang ditusukkan berulang kali. Sakit.
Akhirnya, terjawab sudah semua keraguan di hatinya. Kini, dia tak butuh lagi pengakuan, karena semua sudah jelas. Air mata pun menetes di pipinya.
"Ternyata, semuanya benar," batin Luna pilu.
Cinta yang ia yakini, kini hancur berkeping-keping. Janji Sean untuk hidup bersama setelah operasi ini berhasil pun kini hanya ilusi.
"Dia menikahiku hanya karena butuh darah dan organ tubuhku, setelah selesai, dia akan membuangku beserta anak ini. Malangnya nasibku," tangis Luna dalam hati.
Brankar Liana telah didorong masuk. Ruangan kembali hening. Dokter anestesi kembali mendekati Luna, mencari posisi terbaik untuk menyuntikkan obat bius.
Sambil menunggu reaksi obat bius yang seharusnya bekerja cepat, dokter itu terus saja bertanya pada Luna, sengaja mengulur waktu.
"Apakah sudah menyiapkan calon nama untuk anakmu, Nak? Kamu pasti sangat bahagia menantikan kelahirannya."
Luna tidak menjawab. Hanya air mata yang terus menetes di pipinya, membasahi kain penutup di bawah kepalanya.
"Jika laki-laki, namanya siapa? Sudah punya pilihan? Harusnya nama yang kuat, seperti ayahnya."
Luna memejamkan mata. "Ayah yang kuat? Ayahnya adalah iblis yang menjual organ ibunya demi kekasihnya," batin Luna.
"Dan jika perempuan namanya siapa? Harus cantik, seindah ibunya."
Dokter itu terus berbicara, nadanya lembut dan penuh perhatian, tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti nyanyian putus asa hanya untuk mengulur waktu.
Luna merasa jiwanya telah mati bahkan sebelum tubuhnya dibedah. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata terakhirnya jatuh. "Ambil saja ginjalku, Sean. Ambil semuanya, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi ayah untuk anak ini."
Sementara itu, Dokter Nico berdiri di ujung ruangan, memantau persiapan operasi. Kepalanya terasa sakit. Ia tahu operasi ini adalah kesalahan besar. Ia melirik jam tangannya, menunjukkan waktu yang kritis. Ia berharap, sangat berharap, agar pria yang tadi dia telepon segera bertindak. Namun, hingga sepuluh menit berlalu, yang ditunggu belum juga datang.
"Kemana dia? Kenapa hingga jam segini belum datang? Aku tidak mungkin memulai operasi ini," gumamnya sambil terus melirik jam tangannya.
Dokter Nico melihat Luna dan Liana sudah mulai memejamkan mata, reaksi obat anestesi perlahan mulai bekerja. Ia harus segera memutuskan. Ia tak punya pilihan selain memulai.
"Ya Tuhan, semoga apa yang aku lakukan ini tidak salah."
Tepat saat Dokter Nico hendak melangkah maju dan memberikan perintah untuk memulai operasi, tiba-tiba...
Bluup!
Listrik di seluruh rumah sakit itu padam. Lampu-lampu ruangan operasi yang terang benderang mendadak mati. Ruangan itu langsung gelap gulita, diiringi kegaduhan para perawat yang berteriak terkejut.
Semua orang mendadak panik, tak terkecuali dokter Nico.
Terdengar beberapa langkah kaki di tengah kegelapan itu. Namun, tak satupun dari mereka bisa melihat siapa yang datang.
“Genset! Cepat nyalakan genset!” teriak Dokter Nico, suaranya tegang. Operasi transplantasi vital tidak boleh tertunda walau semenit.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, Luna merasakan sepasang tangan kuat mengangkat tubuhnya dengan sangat hati-hati. Obat bius itu memang telah berhasil membuat tubuhnya lumpuh, tetapi indera penciumannya masih bisa mengenali aroma kayu maskulin kayu cendana yang masih sangat dia ingat.
Luna mendengar bisikan yang sangat lembut di telinganya. "Bertahanlah, aku datang untuk menolongmu."
Beberapa menit kemudian, lampu ruangan operasi akhirnya menyala, cahayanya kembali menerangi meja operasi. Dokter dan perawat segera berlari menuju brankar Luna untuk memastikan ia masih di sana dan obat biusnya tidak terganggu.
Namun, perawat itu segera menjerit, suaranya memecah keheningan pasca pemadaman.
“Dokter! Brankarnya ... Nyonya Luna! Tubuh Luna ... telah menghilang!”
Semua menatap brankar itu. Benar saja, Luna tak ada disana. Hanya ada selimut dan pakaian operasi yang ditinggalkan. Jendela ruang operasi yang tinggi dan tertutup kini terbuka sedikit, menyisakan jejak pelarian yang terasa sangat mustahil dilakukan di tengah kegelapan.
"Ini tidak mungkin?!"