Ginjal Atau Janin dalam kandungan

1043 Kata
“Terima kasih, Sayang. Tanpamu, mungkin nyawa Liana tidak akan tertolong. Tapi masih ada satu hal lagi yyang harus kamu lakukan—” Sean menggantung kalimatnya, menciptakan jeda untuk memberi kesan manis di hati Luna. Sean berlutut di depan Luna, menggenggam tangannya erat. Tangannya kini memegang sebuah kotak beludru merah. Dia hanya punya waktu dua hari untuk membujuk Luna agar wanita itu mau mendonorkan ginjalnya. Lelaki itu membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, sebuah cincin berlian tunggal berkilauan memantulkan cahaya lampu kamar. “Ini untukmu, hadiah karena kau telah menjadi istri yang begitu luar biasa dan sayang pada saudara,” bisik Sean dengan nada yang dibuat sangat tulus. Ia segera menarik tangan Luna dan memasangkan cincin itu di jari manisnya, tepat di sebelah cincin pernikahan mereka. "Bagus, bukan? Cantik, seperti orangnya." Luna tertegun. Jantungnya berdebar kencang, menepis semua keraguan yang sempat ditanamkan Frans di kepalanya. "Dia mencintaiku. Dia tidak memperalatku. Semua yang dikatakan oleh lelaki itu semua salah," batin Luna sambil terus menatap cincin seharga ratusan juta itu. "Tapi masih ada satu hal lagi—" Sean mengulang, matanya menatap Luna penuh arti. Luna yang begitu bahagia memandangi cincin berlian itu mendongakkan kepalanya. “Hal apa lagi, Sayang?” tanya Luna dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih. Ia merasa begitu dicintai, begitu dihargai, hingga ia rela melakukan apa pun untuk membalas kebaikan suaminya. Sean tersenyum tipis. Senyumnya kini penuh kemenangan yang tersembunyi. Ia meraih tangan Luna, yang kini berhias dua cincin mahal, dan menciuminya berulang kali, membuat wanita itu tersipu malu dan merasa semakin larut dalam ilusi cinta mereka. “Ginjal Liana rusak, Sayang. Rusak parah akibat kemoterapi dan obat-obatan. Dia butuh donor ginjal.” Sean mengucapkan kalimat itu dengan penuh kehati-hatian, menimbang setiap kata sambil mengamati ekspresi Luna. “Lalu, kenapa kamu tidak mencari donor ginjal?” tanya Luna dengan polosnya. Baginya, itu hanyalah masalah medis, masalah yang bisa diselesaikan dengan uang atau donor dari orang lain, seperti yang biasa dilakukan oleh para orang kaya. Sean menarik napas panjang, berpura-pura sedih dan khawatir. Ia menatap mata Luna dengan wajah putus asa dan frustasi. “Seminggu lagi, kamu harus mendonorkan ginjalmu, Sayang!” Sean mengatakan hal itu dengan penuh kelembutan. Seolah apa yang baru saja dia katakan adalah hal biasa. Mata Luna membulat sempurna. Kilauan berlian di jarinya kini tak lagi dia pedulikan. “Apa kamu bilang?! Donor ginjal?” tanya Luna tak percaya, suaranya nyaris tercekat. Semua kebahagiaan dan kehangatan yang ia rasakan beberapa detik yang lalu, kini menguap, digantikan oleh sebuah kalimat yang membuatnya bergidik ngeri. Sean mengangguk, sorot matanya meyakinkan. “Sayang, aku janji. Ini adalah yang terakhir. Setelah ini, kita akan fokus pada kehamilanmu. Kita akan pergi jauh dan membina rumah tangga berdua. Aku janji, kita akan meninggalkan semua masalah ini di belakang kita. Kita tidak perlu lagi peduli dengan Liana.” Sean meraih wajah Luna dengan kedua tangannya, memaksanya menatapnya. “Setelah Liana sembuh total, kita bisa hidup tenang, tanpa beban lagi. Tolong, Sayang. Demi saudarimu, dan juga demi amanah kedua orang tuamu.” Luna menggelengkan kepalanya. Kenyataan ini menghantamnya keras. Tak peduli dengan amanah orang tuanya apalagi saudarinya. Baginya, bayinya yang terpenting. Luna menarik tangannya dari genggaman Sean. “Aku tidak mau! Aku sedang hamil anakmu loh, Sean. Kenapa kamu tidak mencari orang lain saja? Aku yakin, dengan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Liana, dia bisa mencari pendonor dengan cepat. Kenapa harus aku?” Air matanya mulai mengalir, membasahi pipi. “Aku tahu, Sayang. Aku tahu kamu hamil, itu sebabnya aku minta maaf. Tapi, pihak rumah sakit sudah mencari kemana-mana. Mereka sudah mencari donor yang cocok di seluruh Asia Tenggara,” Sean menjelaskan dengan sabar, agar setiap kebohongan yang dia keluarkan tidak terlihat oleh Luna. “Namun tak ada satupun dari mereka yang cocok. Dan mereka sudah memeriksamu. Ternyata, ginjal kamu yang cocok, Sayang. Kita tidak punya waktu lagi untuk menunggu. Aku mohon, please. Ini yang terakhir. Demi Liana, demi aku, demi masa depan kita.” Luna berdiri, menjauh dari Sean, menyentuh perutnya yang mulai membuncit samar. “Aku tidak percaya ini. Kamu menjual organku, Sean! Bagaimana dengan anak kita? Bagaimana jika terjadi apa-apa denganku? Aku tidak mau hidup hanya dengan satu ginjal dalam keadaan hamil.” Sean berdiri, wajahnya langsung mengeras, topeng aslinya itu mulai retak. “Kamu tidak akan sendirian! Aku akan bersamamu! Apa susahnya sih mendonorkan satu ginjal? Ribuan orang bisa hidup normal dengan satu ginjal! Ini demi saudara kembarmu!” “Dan demi kekasihmu!” teriak Luna pada akhirnya. Kata-kata Frans di lobi kembali menghantamnya. Ia menatap Sean dengan mata penuh kebencian. “Jangan bohongi aku, Sean. Kamu dan Liana ... kalian sepasang kekasih, bukan?!” Tawa Sean yang renyah dan dingin memenuhi ruangan. “Bodoh! Dari mana kau dengar omong kosong itu? Itu hanya fitnah orang iseng. Aku mencintaimu, Luna. Maka dari itu aku menikahimu!” Sean mencoba meraih tangan istrinya tetapi Luna menepiskannya. “Aku tidak mau!” putus Luna. Ia menggeleng keras, air mata jatuh tanpa henti. Cincin berlian di jarinya terasa seperti rantai emas yang mengikatnya. “Aku tidak akan mendonorkan ginjalku. Lebih baik, kau ceraikan aku daripada aku harus hidup dengan satu ginjal.” Sean terdiam. Udara di ruangan itu menipis, digantikan oleh ketegangan yang membeku. Kelembutan palsunya menguap sepenuhnya. Ia berjalan menuju pintu. “Baiklah, jika itu maumu,” kata Sean, nadanya kini berat dan penuh ancaman. Sean meraih kunci kamar dari meja samping, kemudian membalikkan badan, menatap Luna dengan mata yang kini memancarkan obsesi gelap, bukan cinta. “Kalau begitu, jangan salahkan aku jika dokter yang akan kupanggil nanti, bukan dokter bedah transplantasi, melainkan dokter kandungan yang akan membersihkan rahimmu,” ancam Sean, suaranya kejam dan menghancurkan. Luna tersentak, tangannya langsung memeluk perutnya erat. “Sean! Jangan! Dia anakmu!” “Dia akan menjadi anakku, jika kau mendonorkan ginjalmu. Jika tidak, dia hanya akan menjadi benih yang kusingkirkan. Kau pilih mana, Luna? Ginjal, atau janin di raimmu?” Sean membalikkan badan, membuka pintu kamar. Ia melangkah keluar, menutup pintu itu dengan suara debuman keras, dan memutar kunci, mengurung Luna di dalam kamar mewah itu. Luna terperosok ke lantai, meraung. Ia memukul-mukul pintu, tetapi sia-sia. Sean tak memperdulikan teriakannya. Di luar pintu, Sean hanya menunggu waktu. Operasi ginjal harus dilakukan lusa, dan ia tidak akan membiarkan Luna kabur dan mengganggu rencana besarnya. "Besok, semua akan berakhir."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN