Mertuaku Perfeksionis

1327 Kata
“Muhammad Haydar.” Petugas Puskesmas memanggil nama Haydar, menandakan waktunya untuk bertemu dokter. Kugandeng tangan Haydar dan Jasmine menuju ruang perawatan dokter. “Permisi, Bu Dokter.” “Silakan masuk, Bu. Abang ini namanya Haydar ya? Sakit apa? Sini, Tante periksa. Naik keatas tempat tidur, ya.” Dokter cantik itu membantu Haydar naik ke tempat tidur. Doter kemudian memeriksa perut dan d**a Haydar menggunakan stetoskopnya. “Abang sakit apa. Cerita saja sama tante dokternya.” Aku mencoba membujuk Haydar agar mau menceritakan sakit yang dialaminya. “Abang sakit perut.” Kemudian Haydar menceritakan apa yang dialaminya tadi hingga perutnya sakit. “O… Begitu. Abang kalau jajan jangan sembarangan ya. Mending buat sendiri dirumah kalau pengen es rasa strawberry. Lebih sehat. Tolong diperhatikan apa yang dimakannya ya Bu?” Dokter memberikan penjelasan sambil membantu Haydar turun dari tempat tidur. “Iya, Bu Dokter. Saya akan lebih memperhatikan apa yang dimakan Haydar nanti.” “Saya beri resep penurun panas untuk demamnya, obat lambung dan mualnya. Keterangannya saya tulis di bungkusnya. Kalau ternyata sampai besok dia masih muntah-muntah juga, kembali lagi kemari ya Bu?” “Baik, Bu Dokter. Terima kasih.” Aku membawa kedua orang anakku keluar dari ruangan menuju ke apotek untuk menebus obat. Setelah selesai mengambil obat di apotek, aku mengajak anak-anakku pulang kerumah. Paling tidak ada kelegaan bahwa Haydar tidak mengalami permasalahan yang berarti dengan perutnya. Kekhawatiran telah berkurang. Kulirik arloji di tangan kananku, jam telah menunjukkan pukul 15.15 yang berarti bahwa kami cukup lama berada di puskesmas. Tiba dirumah sudah pukul 16.00. Aku teringat bahwa Jasmine belum sempat makan siang sedari tadi. Hanya kuberi sepotong roti seharga Rp. 1000,- untuk mengganjal perutnya selama mengantri di Puskesmas. Haydar kuperintahkan mengganti pakaiannya dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu, kuberikan obat yang ditebus di apotek tadi untuk perut dan lambungnya juga untuk penurun panasnya. Kuminta dia untuk istirahat, karena aku harus mengurus adiknya yang belum sempat makan siang, begitu pula denganku. Saat sedang menyuapi Jasmine, ponselku bergetar. Aku segera mengambilnya dan melihati “Suamiku” menelpon. “Assalamualaikum, Mas.” “Waalaikumsalam. Yang, Ibu sudah perjalanan menuju kerumah kita. Mungkin sekitar satu jam lagi sampai dirumah. Kamu sambut dan layani ibu ya, Yang. Aku tidak bisa pulang sore. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Aku terburu-buru, sudah ya. Assalamualaikum.” Aku terkejut mendengar penuturan Mas Dandi yang mengatakan Ibu sedang dalam perjalanan. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan apapun kepadaku. Padahal hari Minggu kemarin aku sempat berbicara via telepon. Belum sempat aku bertanya, Mas Dandi telah mematikan sambungan teleponnya. Aku mencoba mencerna apa yang disampaikan Mas Dandi barusan. Lagi-lagi aku harus menarik nafas dalam. Apakah aku harus bersiap-siap untuk menyambutnya? Memasak makanan kesukaannya? Padahal hari ini aku sudah lelah lahir bathin. Tapi, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kutarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. “Adik, bisa makan sendiri kan, Sayang? Nenek dari ayah sedang dalam perjalanan menuju kesini. Ibu harus menyiapkan kamar Nenek.” “Adik bisa makan sendiri, Bu.” “Ibu tinggal dulu, ya.” Jasmine menjawab dengan anggukan kepalanya. Segera dia kutinggalkan di ruang makan. Yang pertama kali perlu kulakukan adalah membersihkan kamar tamu. Untungnya kami tidak sering kedatangan tamu, karena keluarga kami berdua sama-sama berada di Sumatera. Untungnya lagi kamar tamu dalam kondisi bersih, hanya perlu menyapunya dan memasang seprei yang bersih. Ibu Marni mertuaku adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anak lelakinya. Dari beliaulah aku banyak mendapatkan ilmu bagaimana cara melayani suami. Beliau pulalah yang kerap kali memberikan wejangan dan petuah padaku. Saat aku berkeinginan untuk bekerja beberapa tahun yang lalu, Beliau memberiku nasehat. “Bila kamu bekerja nanti, kamu akan kekurangan waktu dalam mengurus suamimu. Kamu juga akan lebih lelah nantinya. Karena tuntutan di tempatmu bekerja bisa saja lebih besar daripada tuntutanmu sebagai seorang istri. Hiduplah dengan sederhana, ibu rasa apa yang diberikan Dandi sudah lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.” Aku menganggukkan kepala mengiyakan apa yang disampaikan ibu. Padahal jauh didalam hatiku, aku ingin sekali bekerja. Minimal menjadi Guru SD. Tapi apa boleh buat, aku hanya bisa menuruti apa kata suami dan ibu mertuaku. Aku baru saja akan membuang sampah di dapur sisa memasak tadi siang, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Pasti ibu mertuaku sudah sampai. Setangah berlari aku menuju pintu depan rumah. Dan ternyata benar, Ibu sudah tiba. Pintu segera kubuka. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam, Ibu. Apa kabarnya?” Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman. Aku mencium tangannya dan menempelkan pipiku dengan pipi ibu. Ibu menepuk punggungku. “Alhamdulillah sehat. Kamu sendiri gimana? Sehat? Dandi dimana?” “Alhamdulillah sehat, IBu. Mas Dandi belum pulang. Ada pekerjaan yang belum selesai. Jadi kemungkinan malam ini lembur.” “O… Anak-anak mana?” Ibu bertanya sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Ibu celingukan melihat sekitar ruangan tamu. “Jasmine lagi makan, Ibu. Haydar sedang istirahat, baru saja minum obat.” “Jasmine bisa makan sendiri, Ya. Sakit apa Haydar kok minum obat?” “Tadi di sekolah muntah-muntah. Sudah Hanum bawa ke Puskesmas. Sekarang istirahat setelah minum obat.” “Lho, kok bisa muntah-muntah? Makan apa dia?” Ibu bertanya dengan nada tinggi dan mata melotot. “Sepertinya Haydar minum es yang mengandung pemanis buatan, Bu.” Jawabku. “Kok bisa, sih. Tidak kamu bawakan bekal apa Haydar? Minumnya gimana?” “Kalau bekal selalu saya bawakan, Bu. Minumnya juga air putih saya bawakan. Mungkin dia penasaran lihat teman-temannya beli es, dia juga kepengen beli.” “Lain kali kamu harus hati-hati lho. Untung dia tidak apa-apa. Kalau sempat sampai dehidrasi gimana?” “Iya, Bu.” Tiba di kamar Haydar, Ibu langsung memeluk dan mengelus rambutnya. Haydar yang sedang tertidur menjadi terkejut, terbangun seketika. “Bu, Haydar baru saja tidur. Kasihan kalau dibangunkan.” “Ahhh. Tidak apa-apa kok. Ketemu sama neneknya juga jarang. Sekali-sekali dikasih kejutan.” Aku sebenarnya tidak setuju dengan perkataan ibu. Tapi aku urungkan niatku untuk protes. Karena aku tahu bahwa Ibu akan tetap membenarkan perbuatannya. “Bu, Hanum bawakan tas Ibu dulu kekamar.” Ibu menjawab dengan anggukan kepalanya. Aku harus sehat. Sehat badan dan pikiran. Ibu mertuaku sangatlah perfeksionis. Dia menginginkan segala sesuatunya sempurna. Kerap kali apa yang kulakukan seolah kurang sempurna di mata beliau. Aku berusaha mengambil hikmah dan nilai positif tiap kali hal itu terjadi. Bahwa setiap apa yang disampaikan beliau adalah suatu pelajaran hidup agar aku lebih baik. Setelah meletakkan tas di dalam kamar tamu, aku menuju ke ruang makan dimana Jasmine sedang menikmati makan siangnya. Tiba ruang makan, aku melihat nasi berjatuhan di lantai. Maklumlah, Jasmine baru bisa makan sendiri. “Adik sudah selesai makannya, Bu.” Katanya dengan memasang mimik wajah senang. Aku tersenyum dan mengelus kepalanya. “Anak pintar.” Aku membersihkan sisa-sisa makanan yang berjatuhan mengotori lantai. Ibu muncul tiba-tiba. “Jasmine cucu nenek, makan sendiri ya. Kenapa? Ibu malas menyuapi Jasmine? Kasihannya cucu nenek.” ibu mendekati Jasmine kemudian menggendongnya. Aku berusaha tetap tersenyum mendengar sindiran itu. Sudah hal biasa kudapatkan itu dari ibu mertua, jadi aku tidak kaget lagi. Aku baru mengenal ibu dan bagaimana sifatnya saat ibu untuk  pertama kali mengunjungi kami disini. Aku harus ekstra sabar dan ekstra tenaga meladeni keinginan ibu. “Kamu itu lho, kalau anaknya makan harusnya disuapi, bukan disuruh makan sendiri begini. Jasmine kan masih kecil. Biarkan dia mendapatkan kasih sayang dan perhatian ibunya. Jangan dibiarkan apa-apa sendiri.” Ibu melanjutkan perkataannya. “Iya, Bu. Maaf. Tadi Hanum sambi beres-beres rumah.” jawabku pelan. “Beres-beres rumah itu setelah selesai merawat dan mengasuh anak. Bukannya disambi. Ini sudah sore, belum pada dimandikan ya?” “Belum, Bu. Setelah ini mau saya mandikan. Ibu istirahat dulu saja. Biar Hanum buatkan minum untuk Ibu.” “Ya sudah, cepat dimandikan anaknya. Untung saja Dandi lembur. Kalau tidak, apa ga marah dia melihat rumah kotor, anak belum mandi?” kata ibu meninggalkan aku dan Jasmine di ruang makan. Setelah selesai membersihkan lantai, aku merebus air untuk membuatkan teh. Tentu ibu kelelahan setelah perjalanan jauh dari Sumatra menuju Jawa Timur. Aku meletakkan teh dan setoples kue kering di meja ruang tengah tepat didepan TV. Ibu sedang membersihkan meja rak buku serta menatanya berdasarkan ukuran tinggi dan rendahnya. Aku tahu, pemandangan yang tidak mengenakkan bagi Ibu bila melihat segala sesuatunya tidak pada tempatnya. “Ibu, tehnya sudah Hanum buatkan. Silakan ibu minum dulu.” “Ya. Kamu kok tidak pernah bersih-bersih ya, Hanum. Debu dimana-mana, buku-buku berserakan. Mainan anaknya juga kalau sudah tidak bisa dipakai lagi mending dibuang saja. Biar ga penuh sesak rumahnya. Ini kan rumah tinggal manusia, bukan hewan kan?” kata Ibu masih dengan kegiatannya menyusun buku-buku dan mainan Haydar dan Jasmine. “Iya, Bu. Maaf. Masih belum sempat bersih-bersih.” Jawabku. “Hanum kebelakang dulu memandikan Jasmine ya, Bu.” Ibu menganggukkan kepalanya, aku segera berlalu kebelakang akan memandikan Jasmine. Sepertinya aku salah lagi. Aku masih jauh dari kata sempurna untuk seorang ibu dan istri.   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN