Alasan

1425 Kata

Kutatap mata Ibu Mertuaku. Tersirat kesungguhan di matanya. “Ibu, aku sangat mengerti apa yang kurasakan saat ini. Terima kasih karena Ibu sudah mau memahami bagaimana rasanya hatiku,” ucapku perlahan. “Ada beberapa hal yang tampaknya tidak benar, tidak pantas, kok bisa begini, mengapa begitu. Bahkan terkadang aku juga berpikir sendiri. Aku kok bodoh, ya. Menerima segala sesuatunya begitu saja. Apakah tidak sakit hati?” Ibu membalas menatap mataku. Kemudian kedua tangannya meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Kamu tidak bodoh, Hanum. Kamu wanita kuat,” ucap Ibu lirih. Aku tersenyum tipis mendengar pujian dari Ibu. Seolah menambah kekuatan untukku. Mencoba berpikir positif dalam segala hal. Salah satunya adalah semua perkataan Ibu yang terakhir ini sangat mendukungku. “Ada kalanya ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN