54. Friendship

1914 Kata

Cinta laksana seorang penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan segala lara. Dan rindu adalah sajak sederhana yang tak akan pernah menemukan muaranya." ________________&&&_____________ Sesampainya di rumah sakit Galih tak langsung menuju ruang pratiknya melainkan menuju ke ruang praktik Ian. Sungguh Galih tak percaya jika Ian sampai tega memperlakukan Ara seperti itu. Galih masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Ian yang baru saja hendak mengenakan jas putihnya seketika menatap Galih datar. Untuk saat ini Ian sedang tidak ingin bercanda atau bahkan mendengarkan ceramah dari sahabatnya tersebut. Suasana hatinya benar-benar buruk. "Saya ingin bicara dengan dr. Ian sebentar," ucap Galih pada asisten Ian. Suster muda itu seketika menganggukkan kepala lalu segera ke pergi. "Five m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN