Sengaja ingin membungkam tawa Ian, Galih menyeringai seraya berkata-kata, "klo gitu terima kasih sahabat gue yang paling baik. Tapi karena lo udah nyicipin si Chelsea sekarang lo harus tanggung jawab." Benar saja, sisa tawa di bibir Ian lenyap seketika digantikan dengan wajahnya yang memucat. Tak hanya itu karena kulitnya yang putih darah di tubuh Ian seolah habis seketika. "Ma maksud lo apa Galih?" tanya Ian terbata. Sekarang berganti Galih yang mengulas senyuman. "Gue emang nggak tahu apa-apa tapi bukan berarti gue bodoh Ian," ucap Galih dengan santai. Tapi tidak dengan Ian yang mendadak gugup. Meskipun Galih sudah tidak mencintai Chelsea tapi Ian tetap bersalah karena mengambil keuntungan dari perempuan yang sedang mabuk. Terlebih saat melakukan itu Chelsea menganggap Ian sebagai Ga

