Udara malam makin dingin, lampu jalan memantulkan cahaya kuningnya di sepanjang trotoar.
Mobil itu berhenti perlahan di depan Magnus apartemen di Treptow-Köpenick. Di kursi belakang Eliora menoleh ke arah jendela “ Sudah sampai “
“Terimakasih…” ucapanya sambil menunduk sedikit ke arah sopir yang masih memakai topi, kacamata hitam dan masker hitamnya.
Pria itu hanya mengangguk .
Bau aroma campuran kayu dan Citrus, kembali tercium samar di hidung tegas Eliora “Kenapa bau ini lagi.” Gumamnya pelan, aroma yang sangat familiar bagi Eliora.
Ia membuka pintu dan melangkah turun. Udara malam langsung menyentuh kulitnya. Saat ia menoleh untuk mengucap terima kasih sekali lagi, mobil itu sudah lebih dulu berbelok dan pergi.
“Aneh sekali.” gumam Eliora pelan. “ Kenapa rasanya seperti aku sudah bertemu dengannya sebelumnya?”.
Ia menggeleng, menepis perasaan aneh itu, lalu berjalan masuk ke gedung apartemen.
Lorong-lorong di dalam sangat sepi, hanya suara ketukan sepatunya yang bergema di lantai. Saat tiba di depan unitnya Eliora menarik napas dan membuka kunci.
Lampu ruangannya menyala.
Suasana hangat mengisi ruangan sederhana itu, sofa abu-abu, meja kecil dengan tumpukan buku, dan foto keluarga yang ia letakkan di dekat jendela. Eliora tidak pernah menyangka akan hidup seperti ini, dulu waktu masih ada ayah dan ibunya Eliora tidak pernah merasakan sesepi ini. Apalagi dulu ada Kael yang selalu menemaninya kalau ayah ibunya pergi keluar negeri untuk urusan bisnis. Semua tinggal kenangan
Eliora menatap dirinya di pantulan cermin, wajahnya tampak lelah, tapi di balik itu semua ada keanehan yang belum terjawab.
“Kenapa aku merasa tenang.. padahal tadi aku bersama orang asing.” bisiknya
Ia melepas coatnya, lalu dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air hangat. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara notifikasi dari Handphonenya
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang tidak di kenal
| “Sudah sampai rumah, Liora ?”
Eliora menatap layar itu lama, jantungnya mulai berdetak dengan cepat.
Tak ada nama, tak ada profil
| “Kamu siapa ?” Balasnya singkat
Beberapa detik kemudian, Tring!
| Kamu sudah melupakan aku, Li ?
Tangan Eliora bergetar ponselnya hampir terjatuh, ia menelan ludahnya “ Ti-tidak mungkin dia kan?” Gumamnya gugup.
Eliora tak membalas pesannya.
Di sisi kota lain, di dalam mobil yang melaju ke Charlottenburg. Seorang pria melepas masker, kacamata hitamnya dan topi. Tatapannya tajam, tatapan itu milik Kael, namun menyimpan antara kerinduan dan dendam yang ia tahan dari tadi.
Ia menatap layar ponselnya, lalu tersenyum samar. “ Bagiku berdekatan denganmu saja sudah cukup untuk malam ini, liora.”
Tangannya terhenti di atas kemudi, seolah sesuatu menghantam hatinya.
Bayangan masa lalu berkelebat.
Suara dentuman mobil, tubuhnya terhempas, kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Bau antiseptik memenuhi udara.
Dari wajah Catherine yang tersenyum lembut di sampingnya.
“Dimana Liora?” tanya Kael waktu itu, suaranya lemah
Catherine menunduk, pura-pura sedih.
“Dia pergi Kael, dia tidak mau tau tentangmu lagi, katanya…kamu bukan pria yang sama.”
Kael menutup mata, rahangnya mengeras
“kalau begitu…” bisiknya pelan “biar aku tunjukkan siapa aku sekarang.” Tangannya menggengam kuat setir mobil.
Mobil melaju menembus malam, meninggalkan bayangan dendam masa lalu yang masih membara.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam.
Eliora belum juga memejamkan matanya. Keanehan sopir taksi tadi masih menganggu pikirannya. “ Aneh… aku seperti kenal dengan aroma dan postur tubuhnya .” gumamnya pelan.
Ia meraih ponsel diatas meja, membuka galeri dan menatap salah satu foto. Napasnya tercekat.
“Kael..”lirihnya, “ kenapa kau begitu tega?.”
Setetes air mata jatuh dilayar ponselnya, memburamkan wajah pria yang dulu ia cintai mungkin sampai sekarang masih ia rindukan.
Malam itu menjadi saksi dua hati yang dulu saling memiliki namun terpisah oleh luka.
Pagi berikutnya, Eliora bangun lebih awal. Ia menyiapkan dirinya untuk gereja sebuah kebiasaan kecil yang membantunya merasa tenang setiap Minggu.
Udara pagi terasa dingin. Terlihat sedikit kabut masih menyelimuti, Eliora keluar dari apartemennya dengan coat krem yang membungkus tubuhnya. Rambutnya di biarkan tergerai menutupi lehernya. Ia menyusuri pinggiran jalan, langkahnya menapak perlahan trotoar yang masih basah oleh embun. Suara lonceng gereja terdengar di kejauhan.
Hembusan angin yang lembut membawa aroma kopi dari kafe seberang.
Eliora menarik napas panjang, mencoba untuk tenang namun pikirannya melayang pada pesan semalam.
Sudah sampai rumah, Liora ? Kalimat pesan itu terus menari di kepalanya, membuat hatinya berdetak tak wajar
Suara lonceng kembali berbunyi, Eliora tersadar dari lamunannya. Ia mempercepat langkahnya.
Dari kejauhan mobil hitam melaju pelan mengikutinya, dalam mobil sepasang mata biru kembali menatap tajam ke arah punggung wanita itu. “ Kebiasaan yang tak pernah berubah.” Ucapnya, “ inilah yang aku suka darinya Adrian.”
Adrian menoleh sekilas dari kursi kemudi “ Tuan yakin melakukan ini lagi? Kalau menemuinya secara langsung, nona Eliora akan lari lagi seperti kejadian di museum.”
Kael terdiam sejenak “ Ah, kamu benar Adrian. “ bisiknya “ tapi sepertinya… kali ini akan berbeda Adrian”.
Kael menatap punggung Eliora yang menghilang di balik pintu besar gereja. Ia bersandar di kursi, matanya tetap melihat ke arah pintu gereja yang telah tertutup.
“Dia selalu datang tepat waktu.” Gumam kael pelan “bahkan setelah kejadian itu, dia tetap sama”.
Adrian melirik dari spion “ Tuan, apa rencana selanjutnya? Apakah kita menunggu sampai ibadah selesai?”.
Kael tidak langsung menjawab. Tangannya mengetuk pintu mobil yang di dekatnya. “Sepertinya aku akan masuk Adrian.”
Adrian kaget “ Tu-tuan, apakah itu tidak akan membuat nona Eliora kabur lagi?”.
Kael tersenyum menyeringai “ dia bukan orang yang akan meninggalkan ibadah kalau belum selesai”. Ucapnya pelan.
Adrian hanya menghela napas, ia tau jika Kael sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa merubah pikirannya.
Dengan perlahan Kael membuka pintu mobil, ia menapakkan kakinya di trotoar yang masih lembap karena embun.
Sejenak ia memandang bangunan tua itu, lalu ia tersenyum tipis. Kael melanjutkan langkahnya untuk memasuki gereja.
Begitu melangkah masuk ke dalam gereja, aroma dupa dan bunga lili menyambut indra penciumannya. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Eliora, “ kau tidak akan bisa lari lagi, Liora”. Gumamnya saat ia melihat Eliora duduk di bangku barisan tengah, ia melangkah kembali mendekati Eliora.
Suara sepatunya menggema di lantai gereja, beberapa jemaat sekilas meliriknya. Namun mereka menunduk kembali.
Eliora yang sedang khimat berdoa, tidak sadar Kael duduk disebelahnya. Ia menunduk sambil memangku alkitabnya
“Tuhan, tolong hapus rasa ini.” Gumamnya pelan
“Rasa kepada siapa Liora ?”
Eliora terkejut, ia membuka matanya dan menoleh
“Ka-kamu?.”