Akhirnya mobil yang di kemudikan Fikar sampai juga di depan rumahnya. Talita tidak langsung turun, dia mau mengucapkan sesuatu. "Pak," "Hm?" "Makasih ya Pak udah mau nemenin saya ke pasar malem." "Iya sama-sama." Talita menoleh ke samping, "Tapi Bapak ngga merasa di rugiin kan ke pasar malem?" "Kalo saya merasa di rugiin, saya udah ninggalin kamu dari tadi. Buat apa nemenin ke sana kalo saya ngga mau." Senyum langsung mengembang di wajah Talita, "Pokoknya makasih ya Pak." "Iya, udah sana turun. Nanti Dzakki nyariin." Mendengar nama masnya di sebut, seketika raut wajah Talita berubah. "Ck, saya kan udah mau lupain bentar Pak. Kenapa di ingetin lagi sih namanya." Fikar mengernyitkan dahinya, dia bingung. Kalau tidaj di sebut, nanti juga mereka bertemu di dalam rumah. Baru saja

