Edward yang langsung jatuh tak sadarkan diri ketika Laura meninggalkannya. Menjadi berita heboh dikalangan bisnis.
Semua pemegang saham, panik. Pingsannya Edward mempengaruhi harga saham. David yang kini menjadi pusat dari perusahaan EGC group harus memutar otak agar harga saham tidak anjlok.
Banyak investor ragu untuk menjalin kerja sama. Tapi, kepiawaian David bisa memegang kendali usaha. Hingga dari sekian banyak investor yang mundur, kembali menjalin kerja sama.
Harga saham yang terus merosot, membuat para pemegang saham menjual saham mereka. David melihat kesempatan ini. Ia membeli saham perusahaan.
Tadinya David hanya memiliki 25% saham. Walau ia salah pucuk pimpinan. Tapi, masih ada kepala pimpinan terbesar yakni Tuan Eduardo Gabrielle Guetta, kakek buyut David.
Kini saham David ada 35% sedkit lebih banyak dari saham milik Paulina yang hanya 10%.. Sedang sisanya dimiliki oleh Eduardo Gabrielle Guetta.
David menatap nanar tubuh yang kini tergeletak tak berdaya. Semenjak kepergian Laura, Edward unfall. Jantungnya melemah, trombositnya menurun drastis.
David menatap Ben. Sedang pria berambut keperakan itu, hanya bisa menghela napas panjang.
"Apa ada yang tidak kuketahui di sini?" tanya David kemudian.
"Panjang ceritanya, Tuan Muda," jawab Ben kemudian menundukkan kepalanya.
"Aku punya banyak waktu untuk mendengarkannya," ucap David tegas.
Ben mulai mengisahkan sesuatu yang ia ketahui. David mendengarkan secara seksama.
Sementara di tempat lain. Tampak seorang wanita setengah baya dengan rambut tipis kemerahan, berjalan sambil membaca secarik kertas di tangannya.
Setelah yakin dengan apa yang ia cari. Ia membaca sebuah kertas yang menempel di kaca toko.
Sebuah senyum terpatri. Kemudian ia melihat penampilannya. Baju kemeja lengan pendek berwarna coklat tua dipadu dengan rok hitam selutut motif bunga-bunga kecil warna pink.
Dengan sangat yakin, wanita itu masuk bermaksud untuk melamar pekerjaan yang tengah dibutuhkan oleh pemilik toko.
Tring!
Bunyi lonceng menandakan ada yang memasuki toko. Melinda langsung melihat siapa yang datang. Hari ini ia cukup kerepotan. Matilda mendadak berhenti di karenakan putranya pindah kerja.
Ketujuh anaknya tengah rewel sedang pesanan kue harus diselesaikan. Sungguh membuat kepalanya pusing.
"Selamat siang, Nyonya ada yang bisa aku bantu?" tanya Melinda ketika melihat sosok wanita datang.
"Ah ... selamat siang, saya hanya ingin melamar pekerjaan yang terpampang di kaca toko. Apa bisa?" tanya wanita setengah baya yang masih cantik dan bertubuh cukup seksi.
Melinda memindai sosok yang datang. Kulit bersih terawat, bahkan bajunya bisa dibilang cukup mewah bagi orang yang membutuhkan pekerjaan.
Melinda sangat tahu baju-baju keluaran butik ternama. Dan baju yang dikenakan oleh wanita dihadapannya ini cukup berkelas.
Merasa dirinya tengah dinilai. Wanita itu melihat penampilannya. Setelah menyadari. Ia pun berujar.
"Ada orang kaya yang melusuhkan seluruh bajunya di tong s****h. Kebetulan saya sedang memulung dan mendapatkan keberuntungan itu," jelas wanita itu.
"Ah ... maafkan Aku, Nyonya," ujar Melinda kikuk.
"Panggil saya Laura, Nyonya," pinta wanita itu.
"Laura?"
"Laura Bernard," Laura memperkenalkan diri seraya menyodorkan tangannya.
Melinda langsung menyambut tangan itu dengan kedua tanga sambil tersenyum.
"Ah ... kalau begitu kebetulan sekali. Bisakah kau membantuku mengawasi anak-anak?" tanya Melinda sedikit memohon.
Laura langsung mengangguk antusias. Sungguh hati wanita itu berdebar-debar ketika sebentar lagi, ia akan melihat secara langsung.
Melinda membawanya ke ruang tengah. Netra Laura membeliak takjub. Tujuh anak dengan wajah serupa. Ia nyaris saja berteriak histeris ketika melihat bocah-bocah kecil yang menggemaskan itu.
"Kenapa mirip sekali?" cicitnya pelan.
"Ya mereka kembar identik," ujar Melinda menjelaskan.
"Tujuh kembar identik?" tanya Laura tak percaya.
"Tadinya sembilan. Tapi, saya harus merelakan dua lainnya karena ada kelainan," jelas Melinda sendu, "Tapi mereka sangat sehat."
Laura menatap perubahan wajah Melinda yang cepat. Wanita setengah baya itu sangat salut. Ada sedikit penyesalan dalam hati. Tapi, melihat seperti ini. Ia tidak menyesali apa yang telah diputuskannya waktu itu.
"Boleh kah mereka memanggilku, Grany?" tanya Laura setengah meminta.
Melinda sedikit mengernyit.
"Grany?"
"Ya, aku mohon. Untuk mengingatkanku jika aku ini sudah tua," jawab Laura memberi alasan.
Melinda terkekeh mendengarnya. Tapi, sejurus kemudian ia mengangguk tanda setuju.
"Anak-anak!" teriak Melinda memanggil anak-anaknya yang sedang bermain.
Ketujuh bocah lucu dan menggemaskan itu menoleh. Laura menatap kesemuanya dengan pandangam berbinar.
"Perkenalkan ini pengasuh baru kalian," ujar Melinda. "Perkenalkan dirimu, Laura."
"Halo anak-anak, aku Laura. Kalian boleh memanggilku Grany Laura," ujar Laura memperkenalkan diri.
"Ah ... Gleny?'' tanya Lily dengan mata membulat.
Laura mengangguk, hatinya berdebar menunggu reaksi ke tujuh bocah yang kini memandangnya penuh keingintahuan mereka.
"Mommy, apa sekarang kita jadi punya Grany?" tanya Juan dengan pandangan masih pada Laura.
Melinda terdiam. Pikirannya buntu seketika. Tapi, kemudian ia mengangguk.
"Anggap saja begitu, sayang," jawaban Melinda membuat hati Laura senang bukan main.
"Hore kita punya Grany!' teriak mereka bersamaan sambil melompat-lompat kegirangan.
Lily langsung menggandeng tangan Laura. Wanita itu menuruti keinginan cucunya itu.
'Ah, jika Melinda tahu siapa aku. Aku pasti sudah dilempar dari tempat ini,' gumamnya bermonolog.
"Glany ... Glany!' panggil Lily.
Laura baru menyadari jika, gadis kecil ini adalah anak perempuan satu-satunya di sini. Wanita itu merunduk, menyamakan tinggi tubuhnya dengan gadis kecil yang sangat mirip dengan sosok pria dalam ingatannya.
"Iya, sayang," ujar Laura.
"Laura. Aku tinggal dulu untuk melanjutkan pekerjaanku," ujar Melinda langsung meninggalkan Laura bercengkrama dengan anak-anaknya, setelah mendapat jawaban anggukan dari Laura.
Melinda kembali menyusun kue-kue dalam kotak. Pesanannya akan diambil sebentar lagi oleh salah satu pelanggannya.
Sebuah mobil sedan mewah terbaru berwarna hitam mengkilap berhenti di depan tokonya. Sosok pria muda langsung mendatangi Melinda menanyakan pesanan yang telah dipinta.
Melinda menyerahkan beberapa kotak kue tersebut setelah ia menerima pembayaran.
"Oh ya, Nyonya kami juga ingin memesan kue ulang tahun berikut seratus Snack ukuran sedang dan seratus ukuran mewah," ujar pria itu.
"Untuk tanggal berapa, Tuan Roy?" nampaknya Melinda mengenal pria itu.
"Untuk tanggal lima bulan depan" Melinda menyanggupi pesanan setelah ia melihat tanggal dan menandainya.
Kemudian memasukan catatan pad list jobnya.
"Uang untuk pesanan ini, sudah ditransfer secara terpisah," ujar Roy kembali.
Melinda melihat sebuah notifikasi. Kemudian ia menulis sebuah kwitansi, lalu ia berikan pada Roy.
"Kau bisa mengambilnya tiga jam sebelum acara paling lambat," jelas Melinda yang ditanggapi anggukan oleh Roy.
Setelah Roy pergi. Melinda ke dapur. Ia kembali mengolah kue.
"Apa kau sudah makan, Laura?" tanya Melinda dengan suara agak keras karena jarak mereka sedikit jauh dan anak-anak tengah berisik.
"Sudah, Nyo ...."
"Panggil aku Melinda, Laura!"
"Ah, baiklah. Aku sudah makan tadi," jawab Laura.
"Oh ya, aku harap kau tidak cepat pulang, karena aku sangat membutuhkanmu hingga malam," ujar Melinda, "tapi jika kau tidak keberatan. Apa kau mau menginap atau tinggal di sini Laura?"
"Tinggal?"
"Iya, apa kau mau?" tanya Melinda penuh harap.
Sungguh ia sangat membutuhkan tenaga tambahan untuk mengurusi anak-anaknya. Sementara ia belum bisa mempercayakan buatan kuenya pada orang lain
Sungguh tawaran itu tidak bisa dilewatkan oleh Laura. Dengan tinggal bersama, ia bisa melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya.persoalan identitasnya yang akan ketahuan nanti. Laura tidak ambil pusing.
"Bagaimana Laura?" tanya Melinda kembali, kini seperti setengah memaksa.
"Ah baiklah. Di rumahku pun aku sendirian. Jadi tidak mengapa aku menginap. Hanya saja, aku tidak membawa baju ganti," jawab Laura.
"Ah soal itu, aku punya beberapa baju. Tampaknya tubuh kita tak jauh berbeda, Laura," ujar Melinda tenang.
"Berapa usiamu, jika aku boleh tau?" tanya Melinda.
"Ah aku sudah empat puluh tujuh, Mel!" jawab Laura.
"Aih, kau masih muda ternyata, dan tubuhmu membuatku iri!" ujar Melinda.
"Ah ... Kau bisa saja. Kau pun tak kalah seksi. Padahal kau mengandung anak sebanyak ini!" ujar Laura memuji.
"Oh ya, kau bisa buatkan s**u mereka. Ini saatnya tidur siang," pinta Melinda dengan nada lembut.
Laura langsung mengerjakan apa yang dipinta Melinda dengan senang hati. Setelah membuatnya. Melinda menunjuk kamar anak-anak.
Ketika masuk. Laura mendapati satu tempat tidur besar dengan banyak bantal. Setelah mencuci kaki mereka, semuanya naik ke tempat tidur sambil mengedot botol s**u.
"Grany, dongengkan cerita dong!" pinta Edric.
"Baiklah, kalian dengarkan ya," ujar Laura.
Laura mengedar pandangannya untuk mencari buku dongeng. Ketika mendapatkannya. Laura langsung mengambil dan membacakan isinya.
Belum selesai cerita yang ada di buku. Ke tujuh bocah itu sudah tidur. Laura menciumi pipi para bocah itu satu per satu.
Secara perlahan, ia meninggalkan kamar dan menutup pintu secara perlahan.
Laura mendekati Melinda yang tengah sibuk mengolah adonan kue.
"Apa bisa aku bantu?" tanya Laura menawarkan diri.
Melinda menatapnya sambil tersenyum. "Kemarilah, bantu aku."
Laura mulai ikut membantu Melinda.
"Bolehkah aku mengetahui siapa nama anak-anakmu?"
"Oh, aku lupa memberitahukan mu. Edrico Guetta, adalah yang pertama, kedua Danniela Lilybeth Guetta. Keanu Javier Guetta adalah yang ketiga, keempat Edward Sylvester Guetta, kelima Juan Carlos Guetta, keenam Rodrico Eduardo Guetta dan terakhir Charlie Angelo Guetta," jawab Melinda.
"Jangan katakan mereka adalah anak Tuan Guetta," ujar Laura pura-pura terkejut.
Melinda hanya tersenyum hambar. Kemudian ia mengangguk lemah.
"Kau tau, aku begitu membenci pria itu, Laura," adu Melinda sendu.
Laura mengepalkan tangannya, sungguh ia tidak terima jika ada orang yang membenci putranya. Tapi, ia menahan emosi juga egonya.
"Namun ketika melihat ke tujuh anakku. Apa aku bisa membencinya?" tanya Melinda dengan pandangan kosong. Ia menghentikan kegiatannya mengolah adonan kue.
"Mereka seperti tidak ingin untuk tidak diakui oleh keluarga Guetta. Bahkan bagianku hanya lesung pipinya saja," jelas Melinda lagi kemudian terkekeh, hambar.
Laura menghela napasnya. Ia sangat tahu hal itu. Bahkan putranya sangat mirip dengan moyang yang paling ditakuti itu.
"Bersabarlah, aku yakin semua akan ada jawaban indah untukmu," ujar Laura sambil mengusap bahu Melinda menenangkan ibu muda itu.
Mereka kembali mengolah adonan dalam hening. Hanya bunyi alat-alat masak yang timbul.di ruangan itu.