SEBUAH FAKTA

1572 Kata
David telah sampai di rumahnya. Pria itu langsung diberondong pertanyaan oleh Laura, mommy nya. "Cepat katakan, apa yang terjadi?' mata Laura menelisik tampak mencari sesuatu. Ada desiran perih saat apa yang ia cari, tak didapati. David hanya menghela napas berat. Tubuhnya sangat lelah. Ia baru saja menderita jetleg. Laura memapah putranya ke kamar. Dalam kamar yang bernuansa biru dan coklat serta beberapa hiasan warna hitam. Dinding kamar terdapat lukisan abstrak dengan nilai satu juta dolar. Tampak kesan manly dan mewah. Belum lagi tempat tidur ukuran king size dilapisi sprei warna biru dengan garis tak beraturan letak dan ukuran berwarna putih. Wangi Woody dan musk sangat dominan. Citra rasa laki-laki. Laura membaringkan David di ranjang. David seketika memeluk mamanya. Tak lama terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya. Laura cukup terkejut dengan keadaan putranya. "Mommy. Aku kehilangan dua anakku ... hiks!" Seketika tubuh Laura menegang. Ia terkisap ketika mendengar kabar buruk itu dari putranya. "Ba-bagaimana ...?" cicit Laura. "Aku kehilangan putraku dan Melinda sudah tidak ada di sana," ujarnya dengan suara parau. "Mommy ... huuu ... uuu!" David tersedu, ia merapatkan pelukannya. "Sayang," Laura membalas pelukan putranya. Hati ibu mana yang sanggup mendengar kesedihan anaknya. Terlebih jika, sang anak baru saja kehilangan. Laura duduk di tepi tempat tidur. Ia menakup wajah putranya. Ditatapnya netra biru terang milik David. "Ceritakan, apa yang terjadi pada Mommy?!" David menceritakan semuanya. Ada sedikit helaan napas lega ketika mendengar hal itu. Dalam pikirannya Laura telah menyusun rencana. "Ini semua salahku Mommy. Kenapa aku membohonginya!" David masih terisak. Namun kemudian pria itu menatap wanita paruh baya yang masih jelita dengan pandangan kecewa. Tiba-tiba David menepis dua tangan Laura yang menakup pipinya. "Ini juga salah Mommy. Kenapa, Mommy datang mengatakan hal buruk tentangnya!" "Ada apa ini, kenapa kau kasar pada Ibumu, David!" tiba-tiba Edward masuk kamar setelah mencari keberadaan istrinya. Edward yang baru pulang dari pertemuan keluarga. Mencari Laura, hingga ia mendapati kamar di lantai dua yang tidak tertutup. Edward masuk ketika David tengah berbicara keras pada Laura. "Aku kehilangan dua anakku sekaligus. Dan semua ini ada andil Mommy!" teriak David sambil bercucuran air mata. "How ... come?" cicit Edward cukup terkejut. "Ketika aku datang. Aku hanya menemukan makam dua anakku. Sedang Melinda istriku, menghilang," ujar David datar. Dada David masih naik turun menetralkan isakannya. Sedang Laura hanya terdiam. Sungguh wanita ini tak sanggup mengatakan apa pun. "Mommy senang kan?" ujar David sambil tersenyum miring dan menghapus air matanya kasar. "Ya ... bisa dibilang begitu," cicit Laura. "Laura!' Edward memperingati. "Kenapa Mom. Kenapa kau pisahkan aku dengan istriku!" teriak David tidak terima. "Aku benci Mommy!" "Bencilah. Itu lebih baik. Setidaknya Melinda bisa berbahagia dengan pilihannya," ujar Laura datar. "Maksud Mommy?" tanya David tidak mengerti. "Setidaknya dia tidak akan seperti Mommy," ujar Laura masih dengan wajah datarnya. Laura bangkit pergi meninggalkan dua pria yang sangat ia cintai itu. Edward pun mengikuti Laura. Sedang David tidak mengerti perkataan ibunya, langsung bangkit dari tidurnya menyusul kedua orang tuanya. "Mom jelaskan, aku tidak mengerti!'' teriak David. "Ya kau dengarkan Mommy. Mommy sengaja melakukan itu. Agar dia jauh hidup lebih baik dari pada di sini!" jawab Laura murka. "Apa maksudmu Laura! Apa kau tidak bahagia hidup denganku?!' sela Edward tak terima. "Ya, aku memang tidak bahagia. Ternyata, mencintaimu itu sangat menyakitkan. Andai kau tahu itu!" Laura menitik air mata. "Mommy!" David masih tidak mengerti. Tiba-tiba Ben datang membawa setumpuk berkas. Pria berkulit putih pucat itu adalah asisten pribadi Edward dan Devan. "Baik. Biar aku ceritakan sesuatu yang paling berat aku rasakan ketika aku memutuskan untuk mencintaimu," ujar Laura sambil menghapus air mata dengan ujung jari telunjuknya. "Sebenarnya kau memiliki saudara kembar," jelas Laura dengan tatapan kosong. "Mom?!" "Laura!" Laura tersenyum datar, ia memandangi wajah Edward. Tiba-tiba ia melepas wig pirangnya. Terlihat rambut berwarna kemerahan tipis tergulung. Saking tipisnya, hingga kulit kepala Laura terlihat. Kemudian Laura melepas lensa biru dari ketua matanya. "Inilah bentuk asli Mommy. Kau tahu siapa yang berbuat ini padaku?!' ujar Laura lirih. "Laura ...." "Mom!" "Nyonya ... jangan!" tiba-tiba Ben bersuara. David makin bingung. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Ketika ia menatap ayahnya. Edward hanya bisa diam dengan raut wajah penuh kecemasan. "Sudah saatnya Ben. Aku menyerah dengan semuanya ... Aku ...." "Tidak ... jangan kau lakukan itu, Sayang," ujar Edward memohon. Laura meneteskan air matanya. Sungguh ia merindukan panggilan sayang dari suaminya. Tapi, otaknya berputar cepat. Ia tahu, keputusannya tidak akan salah. "Mom ...!" panggil David. "Ya sayang, sebenarnya kau memiliki saudara kembar jika saja Bibi Paulina tidak datang mengacaukan semuanya," ujar Laura. "Kau tau apa yang dikatakan Bibimu, Edward!" "Jangan kau mempermalukan darah bangsawan dengan melahirkan lebih dari satu. Kami ini berdar*h biru, bukan kucing kampung!" David menganga, sedang Edward menggenggam tangan Laura. "Ketika awal menikahi ayahmu. Aku langsung diberi surat perjanjian. Membuang nama keluarga dan mengganti warna rambut juga iris mataku!" Air mata mengalir dari sudut mata wanita yang masih cantik itu. Bibir Laura bergetar menahan kesakitan yang sudah lama ia simpan. "Aku tidak boleh mengakui Ayah dan ibuku ... hmmm ... hiks ...!" Laura menahan isakannya. "Aku tidak percaya!" sela David. Laura menatap manik putranya lekat. David bisa merasakan jika ibunya tidak tengah berbohong. "Apakah kau tidak merasa aneh. Ketika semua keluarga Guetta berpendidikan di sekolah ternama dan nomor satu di negeri ini, sedangkan kau hanya bersekolah di tempat lain, bahkan kualitasnya hanya dua puluh besar?" tanya Laura. David mulai memikirkan semua ucapan ibunya. Dan ia ingat, ketika semua anak keturunan Guetta menaiki mobil mewah, sedang ia hanya menaiki mobil biasa. "Itu karena kau lahir dari rahimku, seorang wanita miskin. Sedang mereka lahir dari keluarga terpandang dan kaya." "Awal hamil dirimu, aku dipisahkan dari Ayahmu. Kau tahu rasanya melahirkan seorang diri, di mana aku harus mengorbankan salah satu janinku. Kau bisa bayangkan itu!?" David menahan napas mendengar itu. "Bahkan ketika aku harus memilih janin yang mana yang laki-laki, karena jika tidak. Aku tidak bisa menjamin bagaimana nasib kita berdua di tangan Bibi Paulina." "Kau lihat Ben. Pria itu harus tunduk seumur hidup karena perjanjian konyol kakek nenek buyutnya ketika menerima bekerja di sini. Padahal kau tahu, kecerdasannya sama denganmu, David. Ben, sangat bisa menyaingi mu. Tapi, jika ia lakukan itu. Mereka akan dipanggang hidup-hidup!" "Nyonya ...," Ben menunduk, pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Laura menatap dalam kedua pria yang sangat ia cintai. "Apakah pernikahanmu hanya orang-orang luar yang tahu?" tanya Laura yang dijawab anggukan oleh David. "Kenapa Mom?" Ting! Ponsel Laura berbunyi. Satu pesan singkat terlampir. Laura membacanya sekilas. Sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan semuanya. Sebelumnya, ketika David mengatakan bahwasanya sang putra kehilangan dua anaknya. Ia telah menyuruh orang untuk mengecek kebenaran berita itu. Ternyata tidak hanya berita yang ia ingin tahu saja, tapi ada berita lainnya. Hal ini membuat keputusannya sangat tepat untuk membongkar semua. Laura menatap Ben. Wanita itu sedikit tahu, jika Ben adalah keturunan terakhir yang sudah putus akan perjanjian pengabdian pada Tuan Besar Eduardo Gabrielle Guetta , kakek buyut Edward. "Ben!" "Nyonya!" "Kau tahu apa yang kupikirkan bukan?" "Iya Nyonya!" Kemudian ia menatap Edward, suaminya. Menakup wajah tampan yang begitu ia puja, Kemudian mengecup lama bibir sang suami. Edward menangis tersedu mendapat ciuman itu. Ia harus merelakan istrinya pergi, karena itulah perjanjian yang harus dijalani. "Sayang, jangan tinggalkan aku!" pinta Edward lirih. "Aku tidak bisa hidup tanpamu." Laura ikut menangis. "Mom, jika memang Kakek buyut dan nenek sekejam itu. Kenapa kau memilih Stella?" tanya David heran. "Karena hanya Stella yang tidak mencintaimu, dia hanya menyukai hartamu. Maka tak penting baginya, kau mau menyentuhnya atau tidak asalkan ia diberi semua fasilitas mewah yang ia inginkan!' teriak Laura. "Kau tahu. Ketika Mommy telah melahirkanmu, selamanya Mommy tidak boleh disentuh oleh Ayahmu!" "Kau tahu betapa itu sangat menyiksaku!" David ternganga tak percaya. "Apa kau ingat, siapa yang mengurusi? Bukan Mommy. Bahkan, Mommy tidak sempat menyusuimu karena kau langsung dibawa Nenekmu, Paulina hingga usia sepuluh tahun?" David hanya mengingat ketika kecil, ia tidak pernah bertemu dengan ibunya. "Nenekmu berkata. Para bangsawan tidak mengurusi anak-anaknya. Semua anak dididik langsung oleh yang berpendidikan!" "Namun, kenyataannya terbalik. Kau yang cerdas harus dibuang jauh-jauh untuk mendapatkan pendidikan yang kualitasnya tidak sebanding dengan keturunan Guetta yang lain. Padahal otak mereka dibawah rata-rata," jelas Laura merendahkan keluarga suaminya. Laura berdiri. " Sayang, jangan kau tinggalkan aku!" "Hentikan rengekanmu, bodoh!' teriak Laura kesal. "Berpikirlah untuk menghapus semua perjanjian konyol itu! Aku sangat yakin, hanya kau dan David kunci dari semua ini!" Edward terdiam begitu juga David. Laura hanya mendengus kesal. "Ben. Arahkan mereka, jika kau ingin sebebas-bebasnya dari perjanjian yang menyakiti kita semua seperti ini. Dan awasi pergerakan Keluarga Marvis! Aku yakin, setelah perjodohan ini tidak terjadi. Mereka akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkan keluarga Guetta!' titah Laura. "Baik Nyonya!' jawab Ben sigap. "Sayang dengarkan aku," Laura menakup kembali wajah tampan suaminya. "Aku sangat mencintaimu. Aku pergi bukan untuk melarikan diri. Tapi, aku menyelamatkanmu juga anak kita, percayalah padaku. Jika kau ingin tahu apa pun. Kau bisa bertanya pada Ben. Karena hanya Ben yang tidak bisa mereka sentuh," jelas Laura panjang lebar. "Ternyata ada untungnya juga perjanjian itu." "David. Mommy ingin kau harus lebih berkuasa penuh atas semua saham keluarga Guetta. Pikirkan bagaimana caranya, Mommy serahkan padamu. Mommy percaya, kau pasti bisa melakukan itu!" titah Laura. "Aku pergi!" Laura setengah berlari meninggalkan kedua pria yang sangat berharga di hatinya itu. Edward hendak mengejar Laura, tapi Ben langsung menahannya. Edward meronta. "Lepaskan, Ben!" "Tuan berpikirlah!" sentak Ben. Tubuh Edward luruh ke lantai. Ia menangis tersedu-sedu sambil meneriaki nama istrinya. Hingga tiba-tiba pria setengah abad itu tak sadarkan diri. "Tuan!" Ben panik seketika. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN