Malam itu, di kamar utama yang luas dan remang, Rafael menutup pintu perlahan. Aruna berdiri kaku di dekat ambang pintu, masih menunduk, menggenggam ujung bajunya dengan gugup. Rafael melepas jas dan meletakkannya di sandaran kursi, lalu berjalan menuju minibar dan menuangkan air putih ke dua gelas. “Minumlah,” katanya singkat, menyodorkan segelas pada Aruna. Aruna menerimanya dengan tangan bergetar. Ia meneguk pelan, tapi matanya masih tertuju ke lantai. “Kau masih takut padaku?” suara Rafael terdengar datar, tapi ada nada lembut tersembunyi di baliknya. Aruna tidak langsung menjawab. “Aku… hanya belum terbiasa,” jawabnya akhirnya. “Setiap kali aku melihatmu, aku teringat bagaimana kau datang menjemputku waktu itu.” Rafael terdiam sejenak, lalu menatap wajah gadis itu. “Kau boleh

