tidak ada kegiatan yang harus di lakukan, Nara menganggap hari-hari yang akan dia jalanin ke depannya adalah waktu istirahat setelah menekuni dunia pendidikan yang begitu lama, seseorang pasti kadangkala merasa letih jika memikirkan soal materi pelajaran dan sering kali sangat menantikan liburan panjang untuk mengistirahatkan pikiran. Dan sekarang Nara mendapatkan waktu istirahatnya, bagi setiap perempuan memiliki karir di dunia perkerjaan sangatlah penting, memiliki uang banyak guna membahagiakan orang tua dan dirinya sendiri juga salah satu impiannya, tapi jika dia terlalu sibuk dengan pekerjaan waktu untuk bersama keluarganya akan sangat singkat
Di saat sore hari begini dari pada pergi jalan-jalan, dia memilih duduk bersantai di sofa ruang tamu seraya bermain ponsel. Pintu utama rumahnya juga di biarkan terbuka, agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah
"assalamualaikum” mata Nara langsung membulat sempurna ketika mendengar suara berat milik pria yang berasal dari luar, sudah kepalang tanggung tidak bisa lari lagi...ibarat maling ayam yang sudah tertangkap basah. Dia terpaksa menjawab salam itu dan menghampiri tamu yang datang ke rumahnya
Saat sampai di hadapan pria yang datang bertamu, dia lantas Langsung terlihat berfikir dan kembali teringat dengan wajah pria yang tadi siang “oh...ibu saya ada di dapur" ucapnya setelah mengetahui tujuan pria itu datang kerumahnya
Pria itu hanya menanggapi dengan senyuman tipis
"... Silahkan Masuk pak. biar saya panggilkan ibu saya dulu " Nara mempersilahkan pria itu untuk masuk terlebih dahulu sebelum dia pergi ke dapur untuk memanggil ibunya
Setelah sampai di dapur "...bu ada tamu" Nara langsung memberi tahu Dira
Dira yang sedang memasukkan kue ke dalam toples lantas menoleh "siapa?" Tanyanya
Nara mengidikkan bahu "nggak tau juga, ibu liat aja sendiri" jawabnya
kemudian Dira segera melangkah menuju ke ruang tamu sedangkan Nara mengikuti langkah ibunya itu
"Oh, Arkan, ada apa?" Dahi Dira menyergit bingung setelah melihat Arkan, pasalnya untuk pertama kalinya laki-laki yang selalu di elu-elukan sebagai menantu idaman itu kini tiba-tiba menyambangi kediamannya
Pokus Arkan malah teralih ke arah Nara yang masuk ke dalam kamarnya, Dira menyadari hal itu dan mengikuti arah pandang Arkan, menurutnya bujangan yang duduk di sebrangnya itu hanya penasaran dengan kehadiran orang baru, bukan tertarik dengan anak gadisnya. Jika semudah itu maka Arkan tentu saja sudah menikah sejak lama, banyak wanita cantik yang bersedia menjadi istrinya.
Arkan kembali menoleh ke Dira "...oh itu Bu, saya mau tanya soal tanah yang rencananya mau ibu jual" dia segera menjawab pertanyaan yang belum sempat di jawabnya dengan senyuman ramah
"oo, tapi bentar saya ke kebelakang dulu " Dira teringat sesuatu dia langsung pamit ke dapur dan meninggalkan Arkan sendirian di ruang tamu
Ceklek
Pintu kamar kembali terbuka, dengan membawa baju ganti Nara segera berjalan begitu cepat menuju ke arah dapur. Dia ingin mandi dan sialnya letak kamarnya berada di paling depan dan kamar mandinya ada di dapur, otomatis setiap ada tamu dia akan membuang rasa malunya terlebih dahulu baru bisa keluar...
Arkan lantas tampa ragu kembali memperhatikan gerak-gerik Nara, wanita yang kelihatannya malu-malu seperti itu cukup wajar baginya, beda cerita kalau bertemu dengan wanita yang seperti cacing kepanasan justru hal itu yang membuatnya merasa ngeri setengah mati. Dia juga tidak bisa menampik bahwa pikirannya sama seperti pria-pria lain pada umumnya yang langsung tertarik dengan fisik rupawan seorang wanita, tapi kalau ingin di jadikan calon istri pria yang mengerti tangung jawab tentu saja mempertimbangkan banyak hal, cantik saja tidak cukup untuk di ajak membina rumah tangga
"...kok gerah ya" gumamnya seraya menelisik seisi ruang tamu
"maaf karna saya lama di belakang" Dira kembali menghampiri Arkan, setelahnya keduanya sibuk membahas soal Tanah yang akan Di jual Dira
•••
Beberapa menit berlalu, saat Arkan masi bernegosiasi soal harga justru terdengar suara rintikan air hujan menimpa genteng rumah
Arkan menoleh ke luar jendela “sekarang mulai musim hujan ya bu” ucapnya, tadinya dia baru pulang dari perkebunan jagung, karena berfikir jika Bu Dira sudah tinggal sendiri lagi akhirnya dia memberanikan untuk mampir
atensi Arkan beralih ketika melihat kehadiran Nara yang sedang membawa nampan berisi 2 cangkir teh serta 1 toples kue, Arkan menelisik penampilan Nara yang hanya memakai kaos oblong berwarna putih serta celana pendek yang mengekspos pahanya. tapi dia segera menyadarkan diri dan menjaga pandangannya
“ini teh mau di apain?" Dira tiba-tiba bertanya ke Nara
“di minum" balas Nara pelan sambil terus memperhatikan ibunya
“kok cuman di taro dan diem aja, mas Arkannya kok nggak di tawari buat minum tehnya” lanjut Dira
Nara menoleh ke Arkan “tehnya di minum pa— pak” ujarnya, lalu setelah itu dia buru-buru kebelakang
Arkan membalas dengan anggukan pelan
“oh iya, perempuan tadi itu Nara anak gadis saya satu-satunya, saya suruh pulang cepet-cepet. Nanti dia dapet jodoh di kota malah saya yang pusing. Udah anak cuman 1, udah tua harus tinggal sendiri kan kasian. Sekalian nikah sama orang di dekat-dekat sini aja, saya nggak mau jauh-jauh lagi sama dia” papar Dira panjang lebar
Arkan hanya membalas dengan senyum tipis, lalu meraih cangkir tehnya dan menyeruputnya perlahan.
•••
Nara yang berbaring miring di atas karpet depan TV, sontak menoleh ketika melihat ibunya ingin melangkah ke dapur “Bu, bapak-bapak yang tadi Itu gebetannya ibu, ya? keren banget loh dapet brondong ” ledeknya
“huss sembarangan, dia ke sini mau tanyain tanah yang mau ibu jual” tentu saja Dira langsung menepis tuduhan aneh dari anaknya
“kenapa di jual?” dahi Nara menyergit bingung
“buat beli sawah, tanah yang di sana itu nggak ngehasilin apa-apa. Sedangkan beberapa hari lalu ada yang jual sawah makanya ibu jual tanah terus beli sawah kan itu ada hasilnya " jelas Dira
“oh iya bener juga"gumamnya
“kenapa kamu manggil Arkan, pak? Harusnya kan panggil mas aja gitu, lebih enak di dengar. Umurnya juga baru tiga puluhan kok” kata Dira
Nara memasukkan satu persatu biji kacang goreng ke mulutnya “Mas? Mas'ut" guraunya di iringi tawa kecil “aku kok males ya manggil dia Mas, soalnya kelihatan udah berumur gitu ” lanjutnya dengan melebih-lebihkan ucapannya
“udah berumur apanya, kelihatan Masi muda begitu..." jelas Dira
“muda apanya...bujang umur tiga puluhan di kampung ini udah biasa ya bu ” ujar Nara
“ya biasa aja sih, cuman dia laki-laki idaman perempuan di kampung ini, padahal banyak gadis cantiknya loh di sini tapi dia nggak nikah- nikah juga sampe sekarang. Orang tuanya aja sampe pusing karna anaknya nggak mau nikah padahal udah pada tua-tua tapi belum punya cucu juga, ya sama kaya ibu. Udah tua tapi Masi belum punya cucu ” ibunya menceritakan
“Pak Arkan anak tunggal?” dia sudah menyadari, karena tidak mungkin ibu-ibu pusing cucu kalau anaknya ada banyak. Jadi kalau pusing cucu berarti anaknya cuman satu tapi ta kunjung nikah-nikah
“iya, tapi mamahnya arkan juga punya anak angkat, nah anak angkatnya itu anak dari adiknya mamahnya arkan yang udah meninggal. Dia tinggal di ibu kota katanya ngurus perusahaan keluarga. Soalnya papah dan mamahnya Arkan, lebih milih tinggal di sini dari pada di ibu kota. Kata orang-orang perusahaan itu mau di serahin ke Arkan tapi Arkannya sendiri juga nggak mau katanya lebih enak tinggal di sini” jelas Dira
”Oh pantes jadi idaman, anak tunggal kaya raya ternyata” ucapnya membatin
“Orang aneh” ujarnya menanggapi penjelasan dari ibunya, jelas saja dia berfikir seperti itu karena manusia macam apa yang bisa menolak hidup nyaman di kota yang apa-apa serba cepat dan mudah
“ya gitulah, anaknya baik nggak serakah, bertanggung jawab, berwibawa pula. Gagah lagi, ibu nggak berharap kamu bisa berjodoh sama dia...soalnya seleranya si Arkan pasti kaya Bu dokter Laura yang pinter dan cantik banget itu” ibunya tersenyum memuji Arkan serta dokter Laura
Nara memutar bola matanya malas, ibunya memuji layaknya memuji anaknya sendiri “tau dari mana sih, ibu cuman tau permukaan yang sering di tunjukkin ke orang-orang aja...” ujarnya
“Nara kalau ibu jodohin kamu sama Ayas kamu mau nggak?” tanya Dira hati-hati
Nara melotot menatap ibunya, tiba-tiba saja, memangnya dia kelihatan ingin segera menikah
“dia ganteng, baik, kerjaannya bagus juga cuman dia duda anak 2 yang usia anaknya juga baru 8 atau 9 tahun gitu terus Pak Ayas juga masi 34 kok Masi muda itu " jelasnya dengan begitu cepat
“apa?" Tanyanya terdengar malas “ibu mau aku nikah sama duda? Anak 2" dia menoleh ke arah TV seraya tertawa tidak percaya setelahnya “yang menurut ibu baik, belum tentu baik buat aku” Nara lalu menoleh menatap ibunya lagi tetapi setelahnya dia jadi merasa bersalah saat melihat raut wajah ibunya yang kelihatan murung “Okelah...apa-apa kan harus di liat dulu, nanti aku kenalan dulu sama orangnya. Kalau Aku ngerasa cocok bakal aku pertimbangin lagi keputusan ibu ” baiklah dia mengalah kali ini, ibunya punya hak untuk menikahkannya dengan pria pilihannya. Bukan hanya uang yang bisa membuat ibunya senang tapi dengan cara seperti ini pun bisa membuat ibunya merasa lebih di hargai sebagai orang tua, dia merasa cukup mendapatkan banyak kebahagiaan setelah hidup selama 22 tahun. Sekarang giliran ibunya yang harus di buat bahagia
“beneran?, Ibu yakin kamu bakal suka sama orangnya” ujar Dira begitu bersemangat
“emm” Nara tersenyum dan mengangguk “tuh kan udah ketebak, pasti di suruh nikah" dumelnya dengan suara lirih
“umur kamu udah pas buat nikah, anak orang-orang aja umur 19 udah pada nikah"
“asstafirullah, bawa-bawa anak orang lagi..." Nara mengelus d**a sabar, dia lupa jika pemikiran para orang tua tidaklah bebas seperti para remaja jaman sekarang
•••
setelah Arkan sampai di kediaman milik orang tuanya. Hujannya malah semakin deras dia kemudian masuk ke dalam rumah dengan keadaan basah kuyup
“Assalamualaikum” ujarnya ketika berjalan melewati ruang tamu
Semua orang menoleh yang duduk di sofa ruang tamu termasuk Rena adik sepupunya Arkan juga ada
“walaikumsalam" balas semua orang yang ada di ruang tamu itu bersamaan
“cepet buruan keringin diri nanti jadi Mermaid, aduh buruan jalannya letoy amat dah cepetan. jangan sampe ketahuan kalau bang Arkan itu ikan duyung” seru Rena “laki kok letoy, jalannya kaya bebek. Lama" lanjutnya
Arkan tidak menanggapi dan terus melangkah menuju ke kamarnya yang ada di lantai 2
Setelah selesai mandi dan berpakaian dia duduk di pinggir ranjang, sembari mengelus brewoknya yang mulai memanjang. Tiba-tiba dia teringat anak gadis dari Bu Dira, menurutnya kecantikan dari gadis itu biasa saja... banyak yang lebih cantik. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang berbeda di diri gadis itu sampai bisa memikatnya di pertemuan pertama mereka
Pria itu terlalu identik dengan sebutan mahluk visual. Jika menatap wajah perempuan saja sudah enggan bagai mana dia bisa menetap, bagi para pria wanita itu ibarat buku Kalau sampulnya saja sudah tidak menarik, laki-laki tidak akan mau buang-buang waktu untuk membaca isinya.
Kemudian dia berbaring telentang di atas ranjang seraya menatap flafon kamarnya “sekarang sudah jelas, yang nyembuhin luka itu bukan waktu tapi gerak” monolognya....dia lantas menutup matanya dan mendesah lelah setelahnya