Sentakan tiba-tiba Alister membuat Eisha terkejut dan refleks mundur takut. Namun, pria itu mencengkeram bahunya kuat. Membuatnya tidak bisa kemana-mana.
“Dua bulan, Galuh!” seru Alister lagi seraya mengguncang-guncang bahu Eisha. “Apa saja yang kamu lakukan di luar sana selama itu?! Apakah kamu sudah bosan hidup bersamaku?! Kamu menyesali pernikahan kita, begitu? Jawab!”
Eisha hampir menangis ketakutan. Sungguh, Alister begitu mengerikan ketika marah. Terlebih cengkeraman tangannya pada bahu Eisha semakin menguat. Ini menyakitkan.
Beruntung Damar segera menengahi mereka. Menyelamatkan Eisha dari rasa sakit serta takut yang lebih besar lagi.
“Tolong tenang dulu, Tuan. Anda menyakiti Nyonya.”
Alister menatap tajam Damar. Ia jelas tidak senang melihat pria itu memedulikan Galuh yang jelas-jelas merupakan istrinya.
“Menyingkir!” geramnya dengan gigi yang bergemeretak.
“Tidak sampai Anda meredakan emosi.”
Bukannya mereda, emosi Alister justru semakin memuncak.
“Menyingkir atau aku akan membunuhmu, Damar!” tegas Alister. Didorongnya tubuh Damar kasar sehingga pria itu jatuh tersungkur ke lantai.
Setelah itu, Alister kembali menatap Eisha, lalu menghampiri wanita yang dia kira sebagai Galuh istrinya.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Galuh. Kenapa kamu diam saja?”
Kini, Eisha hanya bisa menunduk takut. Sementara Alister sudah kembali mencengkeram bahunya.
“Apa kamu tahu betapa tersiksanya aku selama dua bulan ini? Kenapa kamu lari dariku, Galuh? Kenapa?!” Alister terus mencecar.
Eisha benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut salah bicara. Tapi, terus didesak seperti ini rasanya seperti mau mati saja. Ia harus bagaimana sekarang?
Terbersit di pikirannya untuk membuka mulut saja dan mengatakan yang sejujurnya bahwa ia bukan Galuh, supaya Alister berhenti mencecarnya. Sepertinya itu pilihan bagus daripada ia terus disiksa oleh pria mengerikan ini.
Namun, tepat ketika Eisha baru saja hendak membuka mulut, Damar sudah lebih dulu mengatakan sesuatu.
“Tuan, sebaiknya Anda berhenti mendesak Nyonya!” serunya berani, membuat Alister mencibir tidak senang menatapnya.
“Percuma, Nyonya tidak akan menjawab ...,” sambung Damar lagi menggantung kalimat. Alister menunggu kelanjutannya dengan tidak sabar.
“... karena Nyonya hilang ingatan!”
**
Kabar mengenai Galuh yang mengalami hilang ingatan dengan cepat menjadi gosip hangat di antara para pekerja di kediaman Alister. Beberapa di antara mereka pasti mendengar dan menyaksikan keributan intens yang terjadi di depan kamar sang tuan beberapa saat lalu. Kemudian berita tersebut menyebar dari mulut ke mulut, membuat heboh seantero rumah besar ini. Semua orang tentu terkejut, apalagi Alister. Pria itu langsung menyeret Damar ke kamarnya untuk berbicara empat mata.
“Apa maksudmu Galuh hilang ingatan, Damar?” cecarnya langsung begitu situasi hanya menyisakan mereka berdua.
Damar meneguk salivanya sebelum memberi penjelasan. Walau segala narasi telah ia siapkan dengan matang, tetapi ini kali pertama ia akan membohongi tuannya. Dan ini bukan kebohongan kecil. Ini akan menjadi kebohongan beruntun yang ia sendiri tidak tahu kapan akan berakhir.
“Saya menemukan Nyonya Galuh di sebuah desa terpencil yang masih minim alat komunikasi.” Damar mulai menjelaskan. “Seorang nenek tua merawat Nyonya setelah menemukannya tergeletak lemas di dasar jurang. Beliau bilang bahwa Nyonya sempat tidak sadarkan diri selama tiga hari. Begitu sadar, dia tidak mengingat apa pun.”
Alister terdiam. Tangannya terkepal, dadanya sedikit naik turun seperti menyiratkan setitik kekesalan. Entah pada siapa kekesalan itu ditujukan. Bisa jadi kepada dirinya sendiri, mengingat betapa pedulinya Alister pada sang istri tercinta. Mungkin dia sedang merasa bersalah karena telah gagal melindungi Galuh.
“Kenapa hal seperti itu bisa menimpa Galuh?” gumamnya sambil memukul meja. Tatapannya tampak kosong. Sesaat berikutnya, fokusnya kembali dialihkan pada Damar. “Apa menurutmu ini ulah orang yang sama dengan orang yang kita cari-cari selama ini?”
“Saya belum sempat menyelidikinya lebih jauh karena harus segera membawa pulang Nyonya. Tapi, bisa jadi ini memang ada kaitannya dengan orang itu.”
“Kurang ajar!” Kali ini Alister memukul meja lebih keras, dengan kedua tangannya. “Sampai kapan dia akan mengganggu orang-orangku?! Tidak bisa dibiarkan!”
Dengan napas yang memburu, Alister berpikir keras. Rasanya ingin sekali pria itu segera menangkap pelaku di balik segala musibah yang menimpa rekan-rekan terdekatnya. Terlebih orang itu menargetkan korbannya secara spesifik. Yaitu, orang-orang yang akan mencalonkan diri menjadi presdir perusahaan. Dia seperti sengaja memprovokasi keluarga Alister, supaya kompeni mengira bahwa keluarganya lah dalang dibalik peristiwa-peristiwa naas itu.
Kalau terus dibiarkan, situasi akan merugikan keluarga Alister. Orang-orang bisa semakin gencar berusaha menyingkirkannya. Apalagi istri terkasihnya mulai diseret-seret, Alister benar-benar tidak bisa membiarkan ini.
“Sebaiknya kamu bergerak cepat untuk menemukan siapa dia, Damar. Jangan sampai kita kecolongan lagi. Kita bahkan masih belum menemukan titik terang mengenai keberadaan orang tua Galuh. Jangan sampai Galuh juga ikut menjadi korbannya!” seru Alister lagi.
Damar memberi anggukkan pasti. “Saya pastikan akan terus mencari informasi soal orang itu, Tuan. Tapi untuk sekarang, sebaiknya Anda kembali fokus pada perusahaan. Kondisi di dalam sedang ricuh meributkan Anda yang mereka anggap tidak lagi kompeten dalam memimpin. Kalau kabar ini sampai didengar Tuan Gusni, kondisi beliau bisa jadi akan semakin drop.”
Alister mengusap wajah seraya menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya.
“Ah, Kakek .... Aku sampai melupakannya selama dua bulan ini. Bagaimana kondisinya sekarang?”
“Sudah membaik. Dokter bilang dua hari lagi beliau sudah boleh pulang. Maka dari itu saya harap Tuan segera membereskan situasi, sebelum Tuan Gusni mengetahui segala kekacauan yang terjadi dua bulan terakhir.”
Alister mengangguk, kemudian kembali berdiri. “Ya, aku akan bereskan. Kamu bantu aku persiapkan segalanya. Sekarang aku mau menemui Galuh dulu.”
Setelah itu, Alister langsung pergi dari hadapan Damar.
Sebetulnya Damar ingin mencegahnya karena takut Eisha belum begitu siap untuk bertemu Alister lagi setelah mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan. Tapi, ia mana berani? Tidak ada yang bisa mencegah keinginan seorang Alister.
Sekarang Damar hanya bisa berharap semoga saja Eisha bisa mengambil tindakan dengan tepat. ‘Eisha, jangan buat aku menyesal telah memilihmu!’’
**