4 - Teman yang Bisa Diandalkan

1847 Kata
Bel istirahat berbunyi nyaring. Layaknya penyemangat bagi setiap siswa yang sudah suntuk di dalam kelas, mata-mata yang sudah mengantuk itu kembali segar. Selepas guru yang mengajar pergi, pintu dibuka lebar, mempersilakan tubuh-tubuh lelah itu untuk segera mengisi tenaga kembali di meja kantin. Tidak butuh waktu lama, suara buku-buku yang ditutup paksa, resleting yang bergerak terbuka, derit kursi terburu-buru, juga langkah kaki berirama, semua itu perlahan-lahan menghilang. Seisi kelas sudah nyaris sepi. Abel yang tenggelam di lipatan tangannya sama sekali tidak mendengar keriuhan di sekitarnya. Tiga temannya geleng-geleng kepala. Sering menasihati, tapi sendirinya tidak jauh berbeda. Begitulah Abel dan kebanyakan manusia lainnya. Biasanya Abel akan marah jika ada temannya yang duduk di meja guru, tapi Abel sendiri padahal lebih buruk karena tidur di jam pelajaran. Dan herannya Abel tidak mau disalahkan karena hal itu, sedangkan dirinya selalu saja ingin didengarkan. Kenapa sifat perempuan bisa merata seperti itu? "Bel! Abel!" Asep berteriak. Untunglah Abel itu bukanlah gadis yang kalau sudah tidur, perlu disiram terlebih dahulu agar bangun. Bola mata itu mengerjap, tubuh Abel menggeliat nyaman, dan mulutnya menguap lebar. "Ada kuda masuk ke mulut lo baru tau rasa lo," Leo memberi tahu. Heri menatap Leo. Menaikkan sebelah alisnya bingung. Mana mungkin kan kuda yang ukurannya sangat besar bisa masuk ke dalam mulut? Mungkin akan lain ceritanya jika nyamuk atau lalat, kedua hewan itu kecil dan memang kerap masuk ke mulut, terutama nyamuk, tapi kalau kuda, mustahil bukan? Abel menegakkan tubuh. Ia mengucek kedua matanya bergantian menggunakan jari. "Emangnya udah balik?" tanyanya polos. Setelahnya, sebuah jitakan mendarat di kepala Abel. Asep pelakunya. Cowok itu gemas melihat tingkah Abel yang minta ditampol itu. Kalau niat tidur ngapain datang ke sekolah? "Ngapain bangunin gue?" tanya Abel. "Heh, Semprul! Kita mau ke kantin. Lo mau ikut, gak? Gak ikut juga bodo amat, asal jangan nitip sesuatu ke gue. Paham?" Abel menatap Asep. "Sep, gue baru bangun tidur. Males banget jalan astaga. Ngapain segala ngajak ke kantin? Tinggal beliin gorengan aja ribet banget sih," gerutunya sedikit kesal. Ia tidak terima tidurnya diganggu oleh Asep. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang berani mengganggu tidurnya kecuali Asep dan ibunya sendiri. Asep itu layaknya sebuah alarm pribadi untuk Abel di sekolah, sementara ibunya bertugas di rumah. Kalau sudah bunyi sekali, harimau yang sedang tidur pun pasti akan bangun. "Gue bukan b***k lo, dan lo juga gak cakep-cakep amat sampe gue mau ngelayanin lo. Tapi sebagai teman yang baik, gue gak mau lo kelaparan." "Tul!" seru Leo setuju. "Be," sambung Heri membuat Asep dan Leo menoleh ke arahnya. Seolah sedang bertanya apa maksud dua huruf yang baru saja diucapkan oleh Heri. "Tadi kan Leo ngomong 'tul' nya aja, makanya gue lengkapin." Garing sekali. Tidak ingin menanggapi ketidakjelasan Heri, Asep kembali menatap Abel. "Mau ngantin, gak?" tanyanya kembali memastikan. "Tapi gue masih ngantuk banget." Abel menguap lagi, "Males juga ke sananya." Bisa dibilang jarak antara kelasnya dan kantin lumayan jauh. Untuk makan saja harus turun ke lantai satu, dan terkadang membuat Abel ingin protes, kenapa gurunya tidak membuat kantin di lantai tiga saja? "Lagian suruh siapa tidur di kelas?" tanya Leo emosi. Mengahadapi Abel hanya akan membuat semua uratnya menonjol keluar. Gadis itu tidak akan mau kalah, dan ia juga tidak bisa mengabaikan Abel begitu saja. "Namanya ngantuk itu gak bisa ditahan, Le." "Harusnya lo bilang itu ke diri lo sendiri!" seru ketiga temannya bersamaan. Entah karena lelah menghadapi sikap Abel, atau karena tidak ingin kehabisan jam istirahat, ketiganya bangkit dan meninggalkan Abel begitu saja. Setidaknya Abel sudah dibangunkan agar tidak kelaparan, kalau gadis itu tidak mau makan, terserah. Abel yang baru bangun tidur tidak akan mengeluarkan sumpah serapah jika ditinggalkan karena terlalu malas. Namun, belum sampai keluar dari pintu, Asep merasakan sesuatu menubruk bahunya, saat ia menoleh rupanya kepala Abel bersandar di sana. Untung saja Abel tepat menubruk bahunya, melesat sedikit saja, sudah bermesraan wajah Abel dengan lantai. Ya, begitulah Abel dan segala keajaibannya. Meskipun memiliki sikap buruk, Abel tidak akan sungkan menasihati temannya jika menurutnya salah. Dan kalau sudah saatnya makan siang, mau semalas apa pun, mau sengantuk apa pun, Abel akan pergi ke kantin sekolah kalau tidak hujan. Bukan karena teman-temannya tidak mau membelikannya makanan, tapi karena mereka tahu bahwa Abel tidak suka sendirian. Itulah kenapa Abel kerap dibangunkan, karena mereka sangat tahu bahwa Abel akan mengejar jika ditinggalkan. *** Tepat saat Abel akan melangkah melewati pintu kantin, seseorang dari arah depan tidak sengaja menyenggol bahunya. Wajah Abi langsung terlihat begitu Abel menoleh ke belakang. Karena berada di posisi paling pinggir, Abel sadar bahwa dirinya salah karena berjalan berjajar bersama tiga temannya sehingga mengakibatkan pintu masuk keluar kantin menjadi sempit. Mulut Abel sudah terbuka, berniat meminta maaf, tapi wajah Abi yang berdiri di depannya membuatnya mengurungkan niat. Itu adalah Abi, saudaranya, tapi Abel merasa bahwa Abi tidak akan suka jika ia berbicara dengannya. Wajah gadis itu datar, kentara sekali bahwa Abel bukanlah seseorang yang ingin dilihatnya. "Bi, mau ke mana? Gak makan?" Leo bersuara. Abel bersyukur karena hal itu membuatnya tidak perlu berbasa-basi dengan Abi. "Dompet gue ketinggalan, jadi mau ambil lagi ke kelas." Sontak saja Abel dan tiga temannya saling pandang. Abi itu memiliki dua teman yang sangat dekat dengannya, jadi sangat tidak mungkin jika dua teman yang sudah seperti dayangnya itu tidak mau meminjamkan uang pada Abi. Kenapa mau repot-repot kembali ke kelas, padahal jelas-jelas ada seseorang yang bisa diandalkan? Sama seperti Abel yang kerap mengandalkan tiga temannya, bisa dibilang kedekatan Abi dan dua temannya juga nyaris sama. "Kenapa gak minjem sama Disty atau Serly dulu?" tanya Leo. "Gak pa-pa, gue gak mau minjem sama mereka aja," jelas Abi membuat Abel Leo ber-oh ria. Ketika Abi hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba Abel merogoh saku dan mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari sana. Pecahan berwarna hijau itu diulurkan pada Abi. Uluran yang sama sekali tidak bersambut. Abel kira uang yang ia tawarkan kurang, karena itulah ia kembali merogoh saku, kali ini mengeluarkan uang sepuluh ribuan yang lipatannya tidak jelas. Dari sanalah tatapan Abi berubah. Meski sekilas, Abel dan teman-temannya bisa melihat raut jijik di wajah Abi. "Makasih, tapi gak perlu." Abi memilih memutar tubuhnya dan kembali melanjutkan langkahnya. Gadis itu berlari menjauhi kantin. Sampai bahunya hilang dari pandangan Abel. Dingin sekali. Perkataan dan perbuatan Abi dianggap terlalu dingin pada Abel. Bukan hanya Abel yang merasakannya, tapi tiga temannya juga. Dan mereka tidak tahu apa sebabnya karena Abel tidak pernah bercerita. Selang kepergiannya, Abel hanya tergugu sambil memperhatikan dua lembar uang kucal di tangannya. Pemberiannya tidak bersambut. Niat baiknya justru dianggap menggelikan oleh Abi. Mungkin karena uang yang ditawarkan Abel jumlahnya kecil dan kucal, atau karena Abel yang menjadi alasannya. "Udah, gak usah dipikirin." Asep mendorong tangan Abel yang masih mengambang ke dadanya, "saudara lo itu emang gak ada otak," sambungnya menarik paksa tangan Abel agar mau mengikutinya. Mereka memilih meja yang kosong di tengah ruangan. Asep duduk di samping Abel, sementara Leo dan Heri pergi memesan makanan. Keduanya saling terdiam. Asep menghela napas melihat Abel yang juga tidak berbicara. Gadis itu sepertinya masih memikirkan kelakuan Abi yang jelas merupakan penolakan telak. Tidak hanya Abel, Asep sendiri bahkan tahu bahwa Abi seolah sedang menjelaskan pada Abel, bahwa apa pun yang ada pada diri Abel, tidak akan disukainya dan tidak akan pernah disukai. Mereka memang saudara, kembar pula. Ikatan batin yang ada di antara mereka bukannya tidak ada, hanya saja entah tertutup oleh apa. Meskipun banyak yang membicarakan Abel diam-diam hanya karena kebiasaannya yang lebih suka bermain dengan cowok, Asep tidak pernah sekalipun menganggap Abel buruk. Tidak bisa dipungkiri, Abel itu hanya gadis tomboy yang tidak pintar-pintar amat, tapi kalau sudah kenal lebih dekat, siapa pun akan tahu apa yang terlihat dari Abel. Yaitu keistimewaannya. "Udah, gak usah mikirin saudara lo itu. Dia mah sampulnya aja sok anggun, sok baik, sok-sokan pokoknya lah. Tapi aslinya mah buruk rupa," ujar Asep berusaha menghibur Abel yang tidak kunjung bersuara. "Lo tau dari mana Abi buruk rupa?" tanya Abel bingung. Masalahnya sekali lihat saja semua orang akan langsung tahu bahwa Abi nyaris sempurna. Cantik, rambutnya tergerai indah, bicaranya lembut, jalannya anggun dan pintar. Mana mungkin dari semua itu akan ada yang berkomentar kalau Abi buruk rupa? Rasanya hanya Asep saja. "Gini ya, Bel," sahut Asep menatap Abel. Abel balas menatapnya, "kebanyakan anak-anak di sekolah ini tuh cuma liat sesuatu dari luarnya aja. Padahal dari cara Abi perlakuin lo, dari cara Abi natap lo, seharusnya mereka tau kalau Abi gak sesempurna itu. Dia tuh ibarat durian." "Kok durian?" "Soalnya semua orang cuma tau seberapa lembut daging durian, kalau mereka suka, nyium baunya aja udah ngiler. Gak mikir kulitnya itu berduri dan baunya kadang bisa bikin orang yang gak suka mabuk." Tolong beri tepuk tangan meriah untuk Asep. Karena berhasil membuat Abel tergelak hanya dengan lelucon recehnya itu. Perumpamaan yang aneh, tapi benar adanya. "Tapi, Sep, mereka yang muja Abi bakal langsung mikir mungkin aja Abi gak mau deket-deket sama gue emang karena kelakuan guenya yang bobrok." "Itu karena mereka gak mau kenal lo lebih deket," sergah Asep cepat. Abel tersenyum. Tuhan itu memang maha baik. Di tengah rasa sakit yang menyelimuti hamba-Nya, Dia selalu mengirim seseorang untuk membuat hamba-Nya melupakan rasa sakit itu. Entah sebagai penyemangat, pelipur lara, atau orang yang bisa diberi cinta. "Thanks udah ngehibur gue," ucap Abel tulus. Asep mengangguk mantap. Ia menatap dua orang yang sedang membawa nampan di masing-masing tangan mereka. Bibirnya melengkungkan senyum menjijikkan untuk Abel. Membuat gadis itu merinding. "Sebagai gantinya, tolong bayarin bakso gue ya, Bel?" Astagfirullah! Baru saja dibanggakan, tahu-tahu minta imbalan. Manusia macam apa sebenarnya Asep itu? Abel mendengkus halus. Leo dan Heri muncul di samping meja. Keduanya meletakkan nampan di atas meja, memindahkan keseluruhan isinya. Ada empat mangkuk bakso, satu piring gorengan bermacam-macam, dan juga empat es teh manis. Leo menarik kursi di seberang Abel, dan Heri di sampingnya. "Kalian lagi ngobrolin apaan?" tanya Leo menyisir rambutnya ke belakang sebelum akhirnya duduk dengan tenang. "Gak ngomongin hal penting. Abel cuma lagi curhat, katanya pembalutnya abis dan dia lagi gak ada duit," sahut Asep. "Heh!" seru Abel. "Jorok banget kalian di kantin gini ngomonginnya soal pembalut," komentar Leo jijik. Heri menatap Abel. Tidak merasa terganggu dengan sahutan Asep meskipun tidak begitu sebenarnya. "Nanti gue beliin Bel kalau emang lo lagi gak pegang duit. Gak perlu diganti. Santuy aja sama gue mah." Tolong hamba, Ya Allah. Pekik Abel dalam hati. Abel menghela napas lelah. Asep kalau berbicara terkadang tidak pernah disaring dan ceplas-ceplos, sedangkan Heri terlalu bodoh untuk mencerna sesuatu dan akhirnya percaya saja. "Her, lo kalau misalnya gue suruh bersihin kelas pas jadwal piket gue selama sebulan, lo mau?" tanya Abel. Tidak diduga, Heri yang duduk di seberang Asep mengangguk. "Mau, Bel. Jadi intinya kita piketnya tukeran, kan?" Ia balik bertanya. Innalilahi, tolong tenggelamkan Abel saja. Asep terkekeh geli, sedangkan Leo sudah anteng dengan bakso di depannya. Pipi cowok itu menggembung karena sedang mengunyah bakso. Dan daripada mood-nya memburuk karena meladeni Heri, Abel akhirnya memilih ikut menyantap baksonya juga. "Bel, jangan lupa bayarin bakso gue. Gue kan udah ngehibur lo." "Ogah, dasar human materialistis!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN