"Guys, kok tiba-tiba gue laper, ya?"
Abel, Leo dan Heri sontak menoleh serempak ke arah Asep. Cowok itu mengusapi perutnya sendiri dengan raut wajah aneh.
"Kenapa tiba-tiba, sih? Biasanya juga lo gak pernah laper kalau udah balik?" tanya Leo.
Masalahnya, suasana kelas sudah sepi. Hanya tersisa mereka berempat. Dan seharusnya mereka segera bergabung di lorong bersama siswa lainnya yang sudah mengantre di tangga.
"Gak tau, tiba-tiba laper aja. Namanya laper 'kan bawaan perut. Gue gak bisa ngatur mau laper jam berapa. Emangnya gak boleh?" tanya Asep.
"Bukannya gak boleh, tapi kan kita mau balik. Kalau lo mau makan mah makan aja sendiri."
Asep menatap Leo, tersenyum miring. "Kalau kalian nemenin gue, biar gue traktir. Soalnya nyokap gue lagi ke rumah adiknya yang lahiran. Nyokap gak ngizinin gue ke mana pun kalau dia gak ada di rumah, jadi gue gak bisa keluar malem buat cari makan. Sedangkan di lain sisi, gue ga percaya sama masakan kakak gue, jadi mau makan sekarang aja di kantin buat ganjel perut," ujarnya tenang.
Leo dan Heri langsung berdiri cepat. Kalau soal makan gratis, memangnya siapa yang mau menolak?
Sementara itu, Abel justru terlihat enggan. Kepalanya dipenuhi oleh Ardan yang akan bosan menunggunya jika ia terlambat datang. Cowok itu memang tidak mungkin memperlihatkan raut menyebalkan, tapi Abel sendiri yang merasa tidak nyaman. Di sisi lain, ia juga tidak enak jika tidak ikut menemani Asep. Meskipun judulnya ditraktir, tetap saja temanya menemani Asep.
Bagaimanapun, selama ini Aseplah yang selalu ada saat ia butuhkan. Cowok itu mau-maunya saja diminta menemani makan malam hampir setiap hari. Abel merasa jahat jika ia justru menolak menemani Asep hanya karena ingin menemui orang lain.
"Lo ikut 'kan, Bel?" tanya Asep.
Abel menatapnya. Mengangguk sekilas meskipun di dalam hati ia enggan melakukan hal itu.
"Oke, sip. Kita langsung cus aja. Laper nih gue."
Asep bangkit dari kursi dan langsung mendorong Abel agar segera keluar dari kursinya sehingga ia pun bisa keluar. Setelah keluar, Asep merangkul bahu Abel tanpa basa-basi lagi. Menarik gadis itu untuk segera mengangkat kaki dan bergegas keluar dari kelas. Menyusul Leo dan Heri yang satu langkah di depan mereka.
***
Di kantin, seperti perkataan Asep yang akan membayar makanan, Leo dan Heri memesan bakso dan gorengan. Abel yang ogah-ogahan hanya dipesankan makanan yang sama seperti Asep, yaitu nasi goreng dengan telur mata sapi.
Saat pesanan mereka datang, Asep, Leo dan Heri langsung menyantap tanpa menghiraukan Abel yang enggan menyentuh nasi gorengnya.
"Lo demam jam segini makan nasi goreng?" tanya Leo ditujukan untuk Asep.
Heri menatap Leo. "Emangnya cuma orang demam doang yang boleh makan nasi goreng jam segini, Le?" tanyanya seperti biasa. Polos dan tidak mengerti apa-apa.
"Gak gitu maksudnya, Junaedi. Udah, deh. Lo makan aja bakso lo. Mulai sekarang sampe makan kita selesai, tolong gak usah nyaut apa-apa. Paham?" Leo memelototi Heri. Dan karena tatapannya begitu mengintimidasi, Heri hanya manggut-manggut saja. Tidak ingin membuat masalah dengan berbicara.
Ya, memang hanya Heri, yang bahkan berbicara pun selalu salah. Membuat teman-temannya kerap jengkel karena tingkahnya yang seolah tidak merasa bersalah.
"Abisnya di kantin nyisa ginian doang, ya terpaksa makan nasi goreng. Gue lagi males makan bakso. Nanti bisa laper lagi malem-malem kalau gak makan nasi."
Karena datang sepulang sekolah, kebanyakan makanan yang dijual di kantin sudah habis, dan ada beberapa penjual yang sudah memilih pulang. Memang selalu ada beberapa siswa yang datang, tapi tidak banyak. Bahkan sekarang pun hanya ada mereka berempat dan beberapa orang di meja lain. Dan siswa yang duduk di meja lain itu hanya memesan minuman saja sambil ngobrol.
Siapa pun memang akan lebih memilih langsung pulang jika sudah bel. Bel pulang sekolah yang berbunyi itu layaknya surga dunia bagi para siswa.
"Ya udah, makan baksonya pake nasi aja, Sep," sahut Leo menyeruput kuah bakso miliknya.
"Ada lagi aja heran. Gue bukan cowok rakus yang makan bakso aja harus pake nasi. Apa enaknya coba?"
Asep menggeleng heran. Tidak habis pikir Leo akan menyamakan dirinya dengan manusia plus enam dua di luar sana. Yang makan bakso pakai nasi, yang makan mie ayam pakai nasi, dan yang lainnya. Intinya memang selalu ada saja orang-orang yang tidak bisa ketinggalan nasi kalau sedang menyantap apa pun. Tapi ia 'kan tidak seperti itu.
"Tadi 'kan lo bilang kalau gak makan nasi lo bakal laper lagi. Ya udah, daripada makan nasi goreng jam segini, mendingan lo makan bakso pake nasi."
"Bentar." Asep mengangkat tangan, "emangnya tukang bakso di sini nyediain nasi juga?" tanyanya lempeng.
Leo langsung tergelak mendengar pertanyaan itu. "Ya, kaga lah. Lo harus bawa sendiri kalau mau pake nasi," ujarnya geli sendiri.
Heri menahan tawa dengan mulut tertutup. Membuatnya terbatuk-batuk karena tidak kuat. Melihat hal tersebut, Leo menoleh ke arah Heri. Menatap Heri jijik karena tindakannya tersebut.
"Makanya kalau ketawa itu jangan ditahan. Gitu 'kan jadinya."
Heri menatap Leo yang baru saja berkomentar. Ia berkata, "Elo 'kan yang tadi nyuruh gue buat diem sampe makan kita selesai."
Astagfirullah. Gak gitu juga maksudnya.
Leo mengusap wajahnya frustrasi, tidak ingin menanggapi perkataan Heri, ia lebih memilih meneruskan makannya saja. Tidak akan ada habisnya menghadapi Heri. Meski mulut sudah berbusa, Heri tidak akan mengerti. Dan itu melelahkan.
Sementara itu, Asep yang sejak tadi tidak mendengar suara Abel akhirnya menoleh ke arah Abel. Menggeleng saat melihat Abel rupanya sedang melamun. Nasi goreng yang ia pesan belum tersentuh sama sekali.
"Bel," panggil Asep. Tapi Abel masih diam. Membuat Asep geram dan tanpa sadar menepuk bahu Abel yang akhirnya membuat Abel berjengit kaget.
"Eh, iya, kenapa?" tanya Abel seperti orang linglung.
"Harusnya gue yang nanya, lo kenapa ngelamun kaya gitu? Mikirin si Ardan?"
Ditanya seperti itu, sontak saja Abel menegakkan tubuhnya. Ia memandang Asep sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah. Bagaimana cowok itu bisa tahu?
"Makannya gak lama, kok. Abisin dulu nasi gorengnya, terus abis itu lo bisa langsung nemuin dia. Lagian kenapa tadi gak bilang kalau mau nemuin dia langsung? Kalau bilang 'kan lo gak harus ikut ke kantin."
Mana bisa 'kan Abel menolak setelah semua yang dilakukan oleh Asep?
"Pokoknya makan aja dulu. Gak bakal sampe setengah jam, kok," kata Asep lagi.
"Bener, Bel. Ganjel perut itu penting, daripada bunyi keroncongan muncul di waktu yang gak tepat. 'Kan gak lucu," timpal Leo.
Mau tak mau akhirnya Abel memilih mengambil sendok dan garpu. Ia mulai menyantap nasi goreng di depannya. Menyusul teman-temannya yang sudah menghabiskan setengah makanan mereka.
"Oh, iya, Guys. Kita bentar lagi mulai sibuk ujian, ya? Kalian ada persiapan lebih atau enggak? Kaya kursus atau semacamnya?" tanya Leo.
"Gue disuruh ikut kursus tambahan sama Mama gue, tapi guenya gak mau, soalnya nanti takut otak gue kelelahan. Udah gitu kita 'kan belajar di sekolah, ngapain harus belajar lagi?" jawab Heri diselingi pertanyaan pula.
Leo langsung mendelik tajam ke arah Heri. "Diem!" suruhnya tegas.
"Jadi gue belum boleh ngomong?" tanya Heri.
"Lo tuh lebih baik diem aja, Her. Pening gue dengerin lo ngomong."
"Nyokap gue sih nyuruh, tapi gue males aja." Giliran Asep yang berbicara. Leo mengacungkan jempolnya setuju.
Abel menatap dua temannya bergantian. Asep sudah jelas tidak akan mau karena menurutnya itu sangat merepotkan. Jam mainnya akan berkurang dan ia juga akan dipaksa berpikir lebih keras. Sedangkan Leo, karena percaya bahwa nilai-nilainya akan tetap bagus, ia mengira tidak memerlukan yang namanya kursus atau semacamnya. Kalau Heri, tidak perlu ditanya pun rasanya sudah ketahuan. Cowok itu bukannya tidak pintar, hanya saja cara kerja otaknya lebih lambat sehingga belajar pun tidak akan membantu. Setidaknya itu yang Heri pikirkan.
Abel memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit. Memikirkan teman-temannya selalu saja membuatnya pusing. Untung saja tiga temannya itu masih bisa dibilang waras, walaupun sifatnya seringkali membuat orang lain mengelus d**a.
"Udah, deh, kalian gak usah sok-sokan ngomongin kursus tambahan. Hal penting kaya gitu mana mungkin kalian pikirin. Bener 'kan gue?" tanya Abel memasukkan nasi goreng ke mulutnya, kemudian mengunyahnya santai.
Memang benar. Kalau ada manusia yang tidak terlalu memikirkan masa depan, mungkin merekalah bagian dari orang-orang tersebut. Mereka lebih suka menghabiskan masa SMA dengan bersenang-senang.
"Kalau soal kuliah gimana?" tanya Asep.
Namun, bukan berarti di dalam isi kepala mereka tidak ada rangkaian masa depan sama sekali. Dari pertanyaan Asep saja sudah membuktikan, meskipun terkesan cuek, masa depan memang penting. Karena itulah harus dipikirkan meskipun sedikit. Lagi pula, tidak terlalu dipikirkan bukan berarti tidak peduli.
"Gue mah pasti kuliah," sahut Leo.
"Gue juga," sambar Heri cepat.
Melihat itu membuat Abel menarik senyum di tengah kegiatannya mengunyah nasi goreng. Tiga temannya memang b****k, tapi mereka jelas lebih baik dari dirinya yang tidak pernah peduli pada masa depan. Ia bahkan tidak tahu apakah masa depannya ada atau tidak.
"Kalau lo, Bel? Udah mutusin mau kuliah di mana?"
Abel menggeleng miris. "Gue gak minat kuliah. Kalaupun kuliah, udah pasti di kampus yang udah ditentuin sama orang tua gue," ujarnya tenang.
"Kalau kaya gitu pasti di kampus elit, 'kan?" tanya Asep lagi.
Abel mengendikkan bahunya acuh. Tidak peduli dan tidak mau memikirkan hal itu.
"Kayanya seru kalau kita berempat bisa bareng lagi. Mungkin bakal jadi kelompok paling b****k di salah satu fakultas."
Tiba-tiba sesuatu mendarat di kepala Asep. Pelakunya adalah Leo. Yang mengangkat sendok untuk memukul kepala Asep. Rupanya sendok yang digunakan Leo adalah sendok yang ia pakai setelah baksonya habis. Karena itulah ada sedikit kuah bakso di rambut Asep.
"Jorok banget lo, astaga!" sungut Asep buru-buru menarik tisu dan mengelap bagian kepalanya yang dipukul oleh Leo.
"Lagian elo juga, sih. Udah gede itu pikiran harus lebih dewasa dong. Masa mau jadi kaum b****k terus? Apa kata dunia nanti?"
"Dunia mah gak bakal komentar apa-apa, Le. Kita yang makin buruk."
Leo mendengkus sebal. Ia memukul kepala Heri keras. Memaksanya diam lewat pukulan itu.
"Gue sih gak terlalu masalah kuliah di mana. Mau kampus elit atau enggak, bagus atau enggak, menurut gue sama aja. Tergantung kita belajarnya serius atau enggak," ujar Leo dengan tenang menyeruput minumannya.
"Oke, Bel. Kalau emang lo gak mau nentuin kampus lo sendiri, dan milih ikut sama pilihan orang tua lo, kita gak masalah ngikutin lo juga. Yang penting bisa terus sama-sama aja."
"Kayanya berlebihan, deh, omongan lo itu, Sep. Jijik gue dengernya," komentar Leo bergidik ngeri.
Asep melemparkan sisa tomat yang ada di piringnya ke arah Leo, tapi Leo dengan cepat menghindar saat potongan timun itu baru dilempar, sehingga wajahnya selamat dan timun itu mendarat di lantai.
"Itu bukan berlebihan, tapi setia kawan!" sungut Asep memutar mata.
Abel hanya terkekeh geli melihat pertengkaran antara Leo dan Asep. Sebenarnya ia bersyukur karena mereka memutuskan untuk ikut dengannya, hanya saja ia merasa bersalah karena ia justru tidak terlalu berminat untuk melanjutkan pendidikan, sementara teman-temannya begitu bersemangat membicarakan kampus yang masih belum kelihatan bentuknya dan status pertemanan yang tidak terputus.
Menyudahi pertengkaran, akhirnya mereka memilih untuk segera pulang. Asep meminta plastik kepada penjual gorengan untuk membawa pulang gorengan yang belum sempat dimakan itu. Namun, baru beberapa langkah melewati kantin, Leo dan Heri sudah menyambar gorengan itu sebagai camilan mereka menuju parkiran.
Bahkan di perjalanan menuju parkiran, ketiganya masih membicarakan tentang pendidikan lanjutan mereka. Yang hanya didengarkan oleh Abel. Asep ingin masuk jurusan ilmu komunikasi, Leo ingin masuk kedokteran, dan Heri ingin masuk jurusan teknik informatika.
Hal itu tentu membuat Abel geleng-geleng kepala. Mana mungkin bisa satu kelas kalau memilih jurusan saja berbeda-beda?
Asep kekeuh agar semuanya masuk jurusan ilmu komunikasi saja karena katanya tidak terlalu sulit meski kenyataannya tidak begitu, dan komunikasi itu sangat diperlukan di kehidupan sehari-hari, sedangkan Leo ingin masuk kedokteran karena katanya jadi dokter itu keren parah, lalu Heri dihujat habis-habisan karena pilihannya. Asep dan Leo terang-terangan mengatakan bahwa Heri tidak akan bisa masuk jurusan teknik informatika karena otaknya terlalu lemot.
Pada akhirnya, tentu saja mereka saling adu mulut. Gorengan di tangan Asep habis, dan mereka menghiasi perjalanan menuju parkiran dengan perdebatan.
"Terserah kalian mau masuk jurusan apa, yang penting gue mau balik," kata Abel.
Asep, Leo dan Heri memandang Abel yang sudah berjalan lebih dulu. Asep mengangkat plastik kosong di tangan kirinya. Melotot tidak terima.
"Siapa yang ngabisin gorengan gue, woy?!" teriaknya kemudian.
Leo dan Heri berlari tunggang langgang menuju motor mereka yang ada di parkiran. Karena hanya tersisa beberapa motor di parkiran, keduanya bisa dengan mudah menemukan motor mereka dan langsung keluar dari parkiran sambil ngebut. Bertemu dengan Abel di gerbang, Leo dan Heri pamit pulang lebih dulu. Yang dibalas Abel dengan anggukan kepala.
Asep dibuat misuh-misuh melihat kelakuan tidak bertanggungjawab dua temannya. Sudah menghabiskan gorengan, tidak mau ngaku, lalu kabur begitu saja. Plastik dengan bercak minyak yang masih dipegang oleh Asep itu lantas dibuang begitu saja. Ia menuju motornya. Dan segera pergi dari parkiran.
Di depan gerbang, Asep berhenti tepat di samping Abel. Gadis itu sepertinya sedang menunggu angkutan umum yang lewat.
"Lo mau langsung balik atau mau nemuin Ardan?" tanya Asep.
"Mau nemuin Ardan."
Asep hanya manggut-manggut. Ia lalu mengambil melepaskan helmnya dan menyerahkannya kepada Abel.
"Ayo gue anterin aja!"
Abel mengerjapkan matanya melihat helm yang berada tepat di depan matanya. "Gak perlu. Gue bisa naik angkot. Lo balik aja duluan," tolaknya halus.
Namun, Asep kekeuh dengan tawarannya. Ia menarik tangan Abel agar lebih dekat dengannya dan memasangkan helm miliknya dengan asal.
"Gak usah sok nolak segala. Buruan naik. Nungguin angkot mah lama."
"Tapi kenapa helmnya gue yang pake, 'kam elo yang bawa motor?"
"Bawel banget lo, ya. Udah buruan naik, nanti keburu subuh."
Abel tergelak lantas memilih naik ke boncengan Asep. Memang dasar Asep, mau memberikan perhatian saja pake marah dulu.