14 - Sisi Lemah Abel

1990 Kata
Malam itu, Abel berniat untuk pergi bersama Asep. Seperti biasanya. Kakinya melangkah keluar dari kamarnya setelah ia menarik hoodie putih yang tergeletak di atas kasur, memakainya sambil berjalan. Ia menuruni anak tangga dengan terburu-buru karena Asep katanya sudah berada di depan gerbang rumahnya. Sampai di lantai satu, seseorang memanggil namanya. Saat Abel menoleh, rupanya ibunya memanggil dari arah meja makan. Di sana, Abi dan ayahnya juga sudah duduk tenang di meja makan. Sepertinya mereka akan makan malam seperti keluarga normal kebanyakan. "Kamu mau ke mana?" tanya Kintan ibunya. Mau tak mau Abel akhirnya berjalan ke arah meja makan. Ia tidak mau dianggap anak durhaka karena mengabaikan orang tuanya, ia juga tidak mau dianggap sebagai anak yang tidak tahu etika, meskipun sebelum-sebelumnya orang tuanya itu tidak pernah berkomentar meski ia pergi tanpa pamit. "Mau ke luar sama temen, Ma," sahut Abel berdiri di belakang kursi yang berada tepat di samping Abi. "Sini duduk dulu, emangnya kamu gak mau makan?" tanya Kintan lagi. Abel menggeleng sambil tersenyum. "Aku udah ada janji sama temenku, mungkin kita bakal makan di luar nanti." Namun, bukan itu alasan sebenarnya. Abel pergi ke luar karena memang hanya ingin makan bersama Asep. Ia tidak nyaman makan di rumahnya, entah kenapa. Padahal rumahnya sendiri, tapi Abel tidak pernah nyaman. Mungkin karena memang ia tidak terlalu disambut. Adam, ayah Abel, memintanya agar Abel duduk terlebih dahulu. Ia mengatakan bahwa tidak sopan berbicara pada orang tua dengan berdiri. Alhasil, Abel duduk di kursi yang semulanya hanya ia jadikan pegangan tangan. Karena takut Asep akan menunggu terlalu lama, Abel mengeluarkan ponsel dan mengirimi pesan pada Asep berisi agar Asep menunggu sebentar lagi. "Ponsel kamu itu gak bisa ditaruh di saku dulu kalau lagi di meja makan?" tanya Adam. Abel menurut. Ia memasukkan ponselnya ke saku hoodie. Lagi pula ia sudah selesai mengabari Asep, dan memang ingin memasukkan ponselnya ke saku. "Kenapa, Ma?" tanya Abel. Menanyakan maksud dari Kintan yang tadi memanggilnya. Kintan tidak menjawabnya langsung. Ia mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk suaminya. Setelah itu, ia meminta Abi mengangkat piring agar ia bisa mengambilkan nasi untuk putrinya. Abi nurut. Piringnya segera terisi dengan satu centong nasi. Sedangkan lauk pauknya ia pilih sendiri. "Kamu serius gak mau makan dulu?" tanya Kintan pada Abel. Lagi, Abel menggeleng. Kintan duduk di kursinya setelah mengambil porsinya sendiri. "Jadi, pemimpin perusahaan tempat ayah ngadain acara anniversary pernikahannya. Dia sama istrinya bakal bikin pesta besar-besaran di rumahnya, dan seluruh karyawan kantornya diminta datang. Bukan cuma karyawannya aja, dia juga minta supaya ngajak anggota keluarga. Nanti di sana bakal ada rekan kerja papa juga. Rencananya papa mama mau ngajak kamu sama Abi buat ikut ngehadirin pesta itu." Tidakkah Abel salah dengar? Seingat Abel, ini kedua kalinya ayahnya mengajaknya ke acara besar. Pernah satu kali Abel diajak. Sudah lama sekali. Mungkin saat dirinya duduk si kelas satu SMA. Kala itu Abel ingat, ia tidak tahu harus berpenampilan seperti apa. Melihat film-film yang pernah ditontonnya, ia sering melihat orang-orang menghadiri sebuah pesta dengan setelan rapi. Jas, gown, dress, dan semacamnya. Sedangkan Abel tidak memiliki pakaian seperti itu. Waktu itu ibunya membelikan dress berwarna hitam yang terlihat mahal sekali. Katanya, dress-nya sama persis dengan milik Abi. Kalau kedua putrinya memakai di saat bersamaan, tentu akan menjadi pusat perhatian orang-orang. Tapi karena Abel tidak tahu cara merias diri, alhasil ia berakhir terlalu lama berada di dalam kamar dan turun tanpa mengenakan dress yang dibelikan ibunya. Ia hanya mengenakan pakaian seadanya dengan sepatu kets yang biasa ia pakai. Ayahnya marah luar biasa. Karena sudah menunggu lama dan akhirnya malah kecewa. Abi terlihat cantik dengan dress dan high heels berwarna hitam. Masih Abel ingat bagaimana kedua orang tuanya pergi meninggalkannya begitu saja. Sejak itu, ayahnya hanya mengajak Abi setiap kali mendapat undangan untuk menghadiri pesta. Abel tidak masalah dengan hal itu. Ia justru bersyukur karena tidak pernah diajak lagi. Selain karena takut tidak bisa beradaptasi di pesta dengan baik, ia juga masih tahu diri, penampilannya bisa saja mempermalukan ayahnya. Lalu, ada apa dengan sekarang? "Iya, pimpinan papa tau kalau papa punya anak kembar, dia minta papa supaya ngajak kalian berdua." Ahh, rupanya begitu. Abel akhirnya mengerti. Ayahnya sepertinya tidak ingin mengajaknya, tapi karena pimpinannya meminta langsung, ayahnya tidak mungkin bisa menolak. "Nanti mama beliin dress sama heels yang cocok buat kamu. Kamu cuma tinggal pake dan ikut sama kami." Abel benar-benar tidak mengerti kenapa tidak ada satu pun orang yang memahami dirinya di rumah? Tidak saudara kembarnya, tidak pula kedua orang tuanya. Ibunya tidak tahu bahwa ia tidak bisa merias diri. Mengenakan dress mahal tanpa riasan dan aksesoris yang pas hanya akan membuatnya terlihat konyol. Ayahnya tidak paham bahwa ia tidak datang karena tidak ingin mempermalukan pria itu. Lalu Abi, adiknya itu bahkan tidak pernah mau berusaha membantunya agar terlihat lebih baik. Abi pintar merias diri dan tahu apa yang pantas dikenakannya. Setidaknya Abel ingin adiknya itu bertanya, apa ia memerlukan bantuan atau tidak? Tapi Abi adalah Abi. Seseorang yang mungkin merasa menjadi anak tunggal dari pasangan Adam dan Kintan. "Aku gak mau ikut," kata Abel akhirnya. "Tadi 'kan udah aku bilang kalau dia gak mau ikut." Abi bersuara. Dari perkataannya saja Abel langsung tahu bahwa orang tuanya sudah membicarakan undangan itu kepada Abi sebelum ia datang. Dan Abi menyimpulkan dengan tepat akan bagaimana reaksi Abel. "Kenapa kamu gak mau ikut? Kamu mau terus kelayapan gak jelas setiap malam? Apa gak mau kamu ikut papa semalam aja? Tinggalin kegiatan gak jelas kamu di luar rumah, dan belajar jadi anak gadis sepenuhnya seperti Abi. Berhenti jadi anak berandalan, Abel!" "Pa!" sergah Abel cepat. Seperti Abi, seperti Abi, seperti Abi, selalu begitu. Apa tidak ada hal lain yang bisa ia dengar dari mulut ayahnya? Ia tumbuh sebagai Abel, bukan Abi. Sudah sepantasnya kedua orang tuanya memperlakukanku secara adil. Ia tahu Abi jauh lebih segala-galanya, ketimbang dirinya. Tapi apa salah jika ia ingin mendapatkan perlakuan yang sama? "Aku gak bisa jadi Abi, dan aku juga gak mau kaya dia. Si sempurna yang selalu dipuja-puja, sedangkan aku? Cuma gadis nakal yang suka dihina. Gak pa-pa, ini tetep aku, bukan Abi. Jati diri aku kaya gini, kaya yang kalian liat sekarang." "Abel!" panggil Adam berteriak. "Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu. Kami sudah mau berbicara baik-baik sama kamu, kenapa kamu bisa berbicara sampai sekasar itu?" "Karena Papa selalu banding-bandingin aku sama Abi. Dan aku gak suka. Aku itu aku, Abi itu Abi. Kita dua orang yang berbeda, selamanya gak akan bisa sama." "Abel!" Kali ini Adam sampai melepas kasar sendok dan garpu yang sedang dipegangnya. Menimbulkan bunyi dentingan yang cukup nyaring. "Papa cuma mau kamu berubah, Abel. Apa salah?" Tentu tidak salah. Dan Abel pun ingin berubah ke arah yang lebih baik, tapi kalau terus dibandingkan, itu sama saja kedua orang tuanya ingin ia seperti Abi. "Aku gak mau kaya Abi, aku gak mau semunafik dia!" Tidak tahan, Abel akhirnya kelepasan. Refleks Abi langsung menatap Abel. Keduanya saling tatap satu sama lain. "Apa maksudnya lo bilang gue munafik?" tanya Abi dingin. Awalnya Abel sama sekali tidak berniat memperburuk keadaan dengan mengatakan watak Abi yang sebenarnya di depan kedua orang tuanya. Tapi makin ke sini, keadaan terasa semakin keterlaluan, dan ia tahan. Abel menggeleng. Menahan perih di kedua matanya. Ia menatap kedua orang tua lalu berkata, "Abi sering dikasih pesan sama guru-guru buat ngajak aku belajar bareng di rumah. Dia sering diminta buat ngajarin aku supaya nilai aku membaik. Tapi nyatanya Abi gak pernah lakuin itu. Jangankan ngajak belajar bareng, dia bahkan gak pernah nyapa aku di rumah. Dia gak pernah anggap aku sebagai kakaknya. Dia selalu jelek-jelekin aku di depan guru, nyari muka di depan guru, dan pura-pura baik di depan kalian." Napas Abel memburu. Ia benar-benar tidak tahan. Di sekolah Abel tidak membeberkannya karena ia tahu konsekuensinya. Tidak akan ada yang percaya pada gadis urakan sepertinya. Namun, orang tuanya pasti akan percaya, bukan? Adam memandang putrinya bergantian. Dengan tatapan yang tidak bisa Abel baca. Pria itu mungkin masih mencerna kalimatnya barusan. Kemudian memikirkan apa yang akan dilakukan. "Abi gak mungkin kaya gitu, Abel." Tubuh Abel lemas seketika. Ia memandang kedua orang tuanya tidak percaya. Bahkan mereka, untuk orang yang notabene-nya adalah keluarga, mereka tidak mempercayai Abel. "Iya, Sayang. Abi gak mungkin sekejam itu sama saudara kembarnya sendiri. Bukannya selama ini kamu yang keliatan gak peduli? Bukannya kamu yang selalu pulang terlambat dan sering kelayapan gak jelas di malam hari? Bukannya kamu yang memang jarang ada di rumah? Kenapa kamu nganggap Abi bisa ngelakuin hal sekejam itu?" Perkataan Kintan terdengar lembut, tapi justru itulah yang membuat hati Abel tersayat. Kintan adalah ibunya. Orang yang melahirkannya ke dunia. Dan wanita itu tidak mempercayai putrinya sendiri? Abel tidak tahu sebenarnya dirinya yang salah, atau keluarganya yang bermasalah? "Kenapa kalian gak percaya sama aku?" tanya Abel. "Karena omongan lo ngawur. Gimanapun lo itu kakak gue, mana mungkin gue bersikap sejahat itu sama lo." Sebuah jawaban terdengar dari sampingnya. Abi yang bersuara. Kintan mengangguk. "Iya, Sayang. Mama bukannya gak percaya sama kamu. Mama—" "Cuma apa? Cuma ngira kalau aku bohong. Iya, 'kan? Lantas apa bedanya? Itu sama aja Mama gak percaya sama aku." Makan malam mereka jadi tertunda, dan lagi-lagi penyebabnya adalah pertengkaran. Rasa kekeluargaan sudah tidak lagi ada. Mereka tidak mempercayai satu sama lain. Dan Abel bertanya-tanya, apa sebenarnya makna di balik kata keluarga? "Sikap kamu ini kekanakan sekali, Abel. Kamu menjelekkan saudara kembar kamu sendiri supaya kamu bisa bebas dari pendapat buruk papa tentang kamu. Gak usah mengada-ada. Kita tidak sedang membicarakan sekolah kamu, atau nilai-nilai kamu, kita sedang membicarakan undangan dari pimpinan papa." Tiba-tiba tawa Abel menggema. Menyapa telinga ketiga orang di dekatnya. Ketiganya tidak mengerti apa yang lucu? Tapi Abel terus tertawa. "Iya-iya, kayanya emang aku yang salah," kata Abel. Ia berdiri dan keluar dari kursi. Mendorong kursi agar menjorok ke kolong meja. "Aku yang salah karena udah dilahirkan di keluarga ini. Oke, gak perlu ajak aku ke pesta yang diadain pimpinan Papa, gak perlu juga percaya sama semua perkataan aku. Anggap aja aku cuma gadis urakan yang suka membual gak jelas. Kalau nanti pimpinan Papa nanya di mana anak Papa yang satunya, bilang aja kalau anak Papa emang cuma satu." Abel tersenyum pedih. Ia memandang kedua orang tuanya. Mereka balas menatapnya. Ibunya berdiri. "Duduk, Sayang. Kita bisa bicarain ini baik-baik. Kamu gak perlu kaya gini. Jangan lari terus. Itu gak akan nyelesain masalah," ujarnya tenang. Abel bukan lagi anak kecil yang tidak memahami kalimat itu. Tanpa diberi tahu pun ia tahu bahwa lari tidak akan menyelesaikan permasalahan, tapi apa bedanya tetap duduk tenang jika tidak pernah mendapat kepercayaan? Selanjutnya, Abel langsung memutar tubuhnya meninggalkan meja makan. Sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah Abi. Adiknya itu bernapas lega, mungkin senang karena mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari orang tuanya. Dalam langkahnya, Abel menyembunyikan isak yang muncul begitu saja. Saat tangannya menyentuh pipi, dua bagian kenyal itu sudah basah oleh air mata. Benar apa kata Ardan, penampilan akan menjelaskan semuanya. Tanpa perlu berbicara, orang bisa menilai dengan mudahnya. Orang mudah percaya dengan apa yang mereka lihat. Seperti orang tuanya. Padahal Abel sangat berharap pada mereka, tapi mungkin karena kesalahannya sendiri, kedua orang paling penting dalam hidupnya itu bahkan tidak mempercayainya sama sekali. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya dianggap omong kosong. Entah bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya. Di rumah, tidak lagi terasa nyaman, dan memang pernah terasa nyaman. Ia memiliki teman-teman yang bisa diandalkan, tapi memangnya itu saja cukup? Tidak, bukan? Lalu, seburuk apa pun dirinya, seburuk apa pun penilaian orang tuanya, tetap saja Abel masih diberikan fasilitas yang lengkap. Kedua orang tuanya tetap memikirkannya meskipun bukan hanya itu yang sebenarnya Abel butuhkan. Ia memang perlu uang untuk memenuhi segala keinginannya. Entah makan di luar, sekadar nongkrong, untuk ongkos pulang pergi ke sekolah atau sekadar menjadi bekal tersendiri saat ia bertemu Ardan. Tapi uang tidak selalu memenuhi segalanya, 'kan? Ada sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang. Kepercayaan, cinta, kasih sayang, waktu, dan masih banyak lagi. Hal-hal itulah yang sulit sekali Abel dapatkan. Ia merasa bahwa tidak ada lagi ruang untuknya di tengah keluarganya. Tidak sebagai anak, atau saudara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN