(Via telepon Yasmine dan Angga)
Angga : "Hallo kak?"
Yasmine : "Iya Ngga? Gimana?"
Angga : "Aku sama Bunda mau ke Jakarta, nggak tahu kalau Ayah, soalnya weekend katanya ada acara sama teman-teman pensiunnya."
Yasmine : "Lho, berangkat kapan?"
Angga : "Belum tahu, kayaknya Kamis sih kami berangkat, dan sampai Jakarta kayaknya sore, nanti aku lihat-lihat jadwal kereta dulu."
Yasmine : "O naik kereta, kamu udah liburan toh?"
Angga : "Iyaa, Bunda ngajak naik kereta aja. Iyaa udah semingguan ini nganggur dirumah aja, makanya Bunda ngajakin main kesanaa."
Yasmine : "Oh gitu, yaudah nanti kabarin aja keretanya sampai jam berapa, biar di jemput Mas Fahri nanti."
Angga : "Oke , udah dulu ya kak. Salam buat Mas Bro Fahri."
Yasmine : "Iyaa, salam juga buat Bunda sama Ayah ya."
Setelah ku tutup telepon dari Angga adikku, aku segera bergegas ke dapur buat sarapan mumpung Mas Fahri masih jogging biasanya kami jogging berdua tapi semenjak aku hamil aku jadi mager, paling aku cuma jalan jalan aja di depan rumah sambil menyiram tanaman.
"Sayang, aku pulang." Seru Mas Fahri dari luar
"Lho Mas kok cepet banget, aku aja baru mau buat sarapan."
"Kebetulan dong kamu nggak usah buat sarapan, nih aku beli bubur ayam."
"Yaudah langsung sarapan aja Mas. Keburu dingin, kamu tunggu di meja makan aku ambilin teh anget dulu di dapur."
Aku bergegas ke dapur untuk mengambil dua cangkir teh hangat yang udah aku siapin tadi, kebiasaanku dan Mas Fahri setiap pagi minum secangkir teh hangat.
"Mas, tadi Angga telepon aku. Katanya dia sama Bunda mau kesini."
"Oiya? Bagus dong. Kapan berangkat? Ayah nggak ikut?" Jawab Mas Fahri di sela dia menyuap bubur ke mulutnya
"Hari Kamis siang berangkat naik kereta. Nggak tau sih kalau Ayah masih belum pasti, soalnya weekend itu kalau jadi Ayah ada acara gitu sama teman-teman pensiun."
Ayahku sudah setahun ini pensiunan dari Pegawai BUMN dan Bunda buka usaha Catering rumahan dibantu sama Tante Ana adik Bunda. Aku anak pertama dan punya adik Laki-laki yang masih kuliah semester 2, Angga kuliah di Semarang saja katanya nggak mau jauh dari Bunda sama Ayah karena aku sudah merantau jadi dia pengen tetap menemani Ayah dan Bunda dirumah. oiya aku sendiri asal Semarang, sedangkan Mas Fahri sebenarnya asal Surabaya tapi Mama dan Papa mertua sekarang tinggal di Yogya sambil mengurus bisnis Kayu milik Papa mertua. Sesekali juga Mas Fahri diharuskan untuk terjun mengurusi bisnis Papa karena Mas Fahri anak laki-laki satu-satunya jadi Papa memberi kepercayaan kepada Mas Fahri untuk mengurus market penjualannya.
"Ada acara apa Ayah? Mau touring? Wah aku jadi kangen deh motoran sama Ayah, Yang."
"Kayaknya sih gitu, ngga tau deh nanti dikabarin sama Angga lagi jadinya gimana. Kamu mah kalau sama Ayah bahasnya nggak jauh jauh dari motor." Gerutuku
"Ya bagus dong, malah mempererat hubunganku sama Ayah mertua apa lagi Ayah, tipikal orang tua yang gaul. Ga tau ya dari pertama ketemu Ayah aku merasa beruntung jadi menantu Ayah." Ungkap Mas Fahri dengan tersenyum
"Ayah pasti juga bangga Mas punya menantu kaya kamu. Dan baby pun juga bangga kok punya Ayah kaya kamu, lebih bangga lagi aku punya suami kaya kamu." Jawabku sambil menompang dagu menatap Mas Fahri
"Sayang, kamu tau nggak kalau di situasi kayak gini aku jadi pengen makan kamu aja, hmm." Jawabnya sanbil menaikan alisnya, duh kenapa sih harus main gerakin alis aku tuh paling nggak bisa lihat kamu kayak gitu Mas
"Makan ajaa, emang aku bikin kamu kenyang?" Tantang aku
"Bukan bikin aku kenyang tapi bikin aku ketagihan dan terpuaskan. Yakin kamu masih nantang aku?hm" Mas Fahri bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan ke arahku
"Kenapa nggak yakin, Sayang. Kamu kan suami aku." Goda ku, duh udah lama aku nggak menggoda Mas Suamik kayak gini.
"Yang, kamu ada dalam zona bahaya saat ini." Bisiknya lalu menggendongku tanpa aba-aba
"Aakkh Mas Fahri! Bilang-bilang ih kalau mau gendong!" Reflek aku mengalungkan tanganku ke lehernya
"Kita langsung ke kamar, aku nggak sabar jenguk baby."
"Baby juga ngga sabar di jenguk Papa, tapi Mama juga makin nggak sabar Pa." Bisikku di telinganya entahlah rasanya aku sangat merindukan sentuhan Mas Fahri, mungkin karena hormon kehamilanku.
Akhirnya pagi ini kami meninggalkan bubur yang sudah dingin di meja makan dan saling memberi kepuasan di ranjang kamar.
" Aaahh ahhhh .. Maaassshhh.. ."
"Ahh.. i love you Yaaangh terimakasihh." Ucap Mas Fahri lalu mengecup keningku seperti biasa setelah mendapatkan pelepasan.
"I love you too, Sayang."
*****
"Sayang, bajunya udah aku siapin di atas ranjang, aku tunggu di meja makan ya." Seruku ke Mas Fahri yang masih mandi. Setelah memastikan jawaban dari Mas Fahri aku bergegas menuju meja makan untuk menyiapkan roti dan teh hangat. Sembari menunggu Mas Fahri turun aku memainkan ponselku dan membuka aplikasi i********: dan memposting foto ku hari ini dengan memperlihatkan perutku yang sudah membuncit.
Ku tutup ponselku bersamaan dengan Mas Fahri yang turun dari tangga. Pagi ini dia memakai kemeja panjang warna putih dan celana kerja warna hitam seperti yang ku siapkan tadi tidak lupa juga dasi yang melingkar rapi di kerahnya. Tanpa sadar aku mengelus perutku seolah aku memberi tahu baby kalau dia punya Papa yang benar benar tampan.
"Udah terpesonanya? I know, aku memang tampan Sayang." Kata Mas Fahri sembari tersenyum jahil dan hanya ku balas dengan senyuman ya memang aku harus balas apa toh yang dia bilang juga benar. Lalu dia berjongkok di sebelah kursi yang aku duduki dan memberikan kecupan manis di perutku sambil menyapa Baby.
Cup
"Selamat pagi Baby, sehat-sehat ya sayang. Jangan rewel ya, Nak. Papa sayang Kamu, dan Papa ciiiintaaaa sekali sama Mama kamu Mama." Ucapnya sambil mengelus perutku
"Mama juga Cinta Papa. Babypun juga sayang Papa." Jawabku sambil mengelus rambutnya
Cup
Dia mulai berdiri dan memberikan ku ciuman dibibir, dia mulai melumat bibirku dan akupun mulai membalas ciuman pagi ini, aku bisa merasakan tangan kekarnya mulai meremas squishy kesayangannya, bisa gawat kalau nggak di hentikan.
"Enghh Massshh.. cukuuuphh.. ahh"
Dia akhirnya melepas ciuman kami dan mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu berbisik "Kamu makin hari makin sexy sayang, apalagi p******a mu semenjak hamil sepertinya bertambah penuh dan menggemaskan. Apa kita harus bolos kerja hari ini?"
"Dasar m***m ih! Nggak ya Mas, buruan habisin sarapannya terus anterin aku kerja. Lagian gimana nggak makin besar orang tiap hari juga diremas dan dipompa terus sama kamu, pura-pura lupa ha?" Gerutuku sambil mendorong dadanya untuk menjauh dari ku
"Haha iyaiyaa, berarti tangan sama benihku cocok ya. Buktinya kamu makin subur, makin cinta deh." Jawabnya dengan tertawa terbahak
Dasar Pak suami m***m, kalau diladeni obrolan ini yang ada kita ngga bakal berangkat kerja dan berakhir di ranjang lagi, dan aku teringat sesuatu yang memang harus segera aku bicarakan dengan Mas Fahri
"Hem, Mas aku mau bicara serius."
Dia mendongak dan menatapku
"Bicaralah." Jawabnya dengan nada serius
"Jadi, seperti yang kita sepakati diawal nikah, Mas kan pengennya kalau aku udah hamil aku harus fokus di keluarga. Minggu lalu aku udah buat surat resign dan udah aku ajukan ke Mbak Linda, mungkin mulai bulan aku udah resmi keluar dari perusahaan, dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Maaf kalau aku nggak bilang Mas sebelumnya, karena dari awal kesepakatan kita, aku tau kamu pasti bakal setuju sama keputusan ku resign. Tapi kalau aku udah resign aku tetep bolehkan lanjutin usahaku sama Deandra?" Tanyaku pelan-pelan
Jadi aku punya usaha bersama Deandra kita punya bisnis fashion namun fashion kita itu lebih fokus ke baju ibu hamil dan anak anak. Ya walaupun belum lama kami rintis namun sejauh ini selama 2 tahun sudah menguntungkan untuk kami.
"Kalau aku nggak kasih ijin gimana? Toh sekalipun kamu nggak lanjutin bisnis kamu dan kamu udah resign dari kerjaan, aku juga masih mampu kok biayain kebutuhan kamu." Jawabnya
Deg
Seketika aku terkejut dengan jawaban Mas Fahri, ini berbanding balik dari ekspektasi ku. Ku kira dia tetap mengijinkan aku untuk berbisnis tapi malah sebaliknya, padahal kalaupun dia mengijinkan aku tidak sepenuhnya sibuk harus ke butik setiap hari, hanya hari hari tertentu saja untuk mengecek dan mengawasi keuangan saja.
"Apa alasannya kamu ngga kasih ijin ke aku? Ini semata-mata ngga masalah materi lho Mas."
"Aku nggak perlu alasan untuk melarang kamu, dan kamu perlu ingat aku suami kamu dan kamu harus nurut sama aku."
"Kamu nggak bisa alasan bahwa kamu suami aku untuk melarang ini. Aku perlu alasan yang kuat kenapa kamu tidak mengijinkan? Toh aku pun nggak setiap hari harus ke butik, kamu tahu sendiri kan selama ini? Palingan cuma seminggu sekali atau dua kali, itupun nggak memakan waktu yang lama hanya sebentar saja." Jelasku membantah dia, dan dia masih tenangnya menyantap sarapan yang ada dihadapannya
"Tapi aku adalah suamimu Sayang, dan aku ingatkan selamanya aku adalah suami kamu."
"Mas kamu kok gini sih... " Aku ngga sanggup membantah ucapannya rasanya aku udah ngga kuat menahan air mata ku yang seolah olah sudah memberontak ingin berjatuhan. Aku hanya bisa menunduk dan menggenggam kedua tanganku sendiri, aku terheran tidak seperti biasanya dia seperti ini, atau mungkin ini sikapnya yang lain yang baru aku tahu setelah kami mengenal?
❤️❤️