Pagi-pagi aku sudah beres-beres. Setelah menyiapkan semua keperluan anak-anak sekolah, dan mereka sudah berangkat, aku pun mulai menyiapkan membuat kue semprit.
Rencananya, beberapa kue semprit di bagikan dan dimintai pendapat yang akan di video, tentunya setelah mendapat persetujuan. Ini usulan Fariz, dia bilang pembeli online biasanya selain melihat produk dia juga meneliti pendapat orang sebagai bahan pertimbangan. Makanya kalau di marketplace ada penilaian bintang.
Entah, Santi ke sini lagi atau tidak. Setelah percakapan tadi malam, aku tidak membuka ponsel lagi. Baru pagi subuh aku meniliknya, ternyata pesan yang masuk berderet.
[Tadi malam Mbak Hana dikirim foto makan bersama kita oleh Fariz]
[Dia marah, kenapa aku dan Fariz memihak Mbak Fika]
[Kok tidak ke saudara kandung, Mbak Fika kan ipar saja, itu katanya.]
[Kalau bagiku, Mbak Fika tidak sekedar istri Mas Farhan, tetapi orang tua dan pembimbingku]
[Maafkan Mbak Hana, Mbak]
Huuft ....
Aku menghela napas. Ternyata Hana masih saja mempermasalahkan. Padahal, salahku apa? Bicara atau kirim pesan saja tidak, atau membalas komentar di sss juga tidak.
Yang kirim w******p untuk pinjam uang pun, Mas Farhan--Kakaknya sendiri. Yang menegur dia lewat telpon, juga Pakde Ji--sodara ayahnya sendiri. Termasuk yang membalas komentar menyanggah dan mempertanyakan statusnya juga teman-temannya sendiri di dumay.
Trus, kenapa dia memusuhiku? Seakan aku menabuh genderang perang. Aku hanya sekadar diam untuk menjaga kewarasanku. dan tidak ambil pusing dengan hal yang tidak perlu.
Apa mungkin dia kesal karena aku mengabaikannya? Tidak memakan umpannya untuk marah atau sekadar balas komentar? Ibaratnya, dia melemparkan pukulan ke ruang kosong kemudian berakhir kecewa dan kesal.
"Assalamualaikum!" Suara keras dari depan, secepatnya aku mencuci tangan dan membukakan pintu.
Senyum lebar Santi langsung nampak, sekaligus sosok dibelakangnya--ibu mertua. Santi langsung mencium tanganku, dan berganti aku mencium tangan ibu.
"Sehat, Bu?"
"Alhamdulillah. Farhan sudah berangkat?" tanya Ibu mertua sebelum duduk di sofa. Dia mengamati sekeliling ruangan, bekas Fariz foto-foto ada disimpan di ujung ruangan bersama beberapa contoh produk.
"Itu kerjaan Fariz tadi malam," jawabku menjawab pertanyaan yang tersirat di matanya. "Mas Farhan mandi, Bu. Sebentar lagi bersiap berangkat," tambahku kemudian mendudukkan diri di depannya.
"Mbak Fika, lodehnya di taruh panci atau langsung di mangkok?" teriak Santi dari dapur.
Aku langsung menatap ibu kembali, "Ibu bawa makanan?"
"Iya. Ada lodeh nangka dan ayam bacem. Kemarin Ibu masak, Santi di sini jadinya tidak ada yang makan. Ibu ingat, kamu suka sekali makanan manis, makanya dibawa sekalian," jelas Ibu kemudian melepas jaket sweter berwarna coklat--jaket yang aku belikan tahun lalu.
"Sebentar, saya ambilkan minum, sekalian lihat Santi di belakang." Aku pamit kemudian beranjak meninggalkannya.
Setelah membuat minuman, dan mengarahkan apa yang harus dikerjakan Santi, aku ke depan. Langkah kaki ini terhenti dengan suara samar Mas Farhan yang berbincang dengan Ibunya.
"Kamu maklumi sikap Hana, Far. Dia itu anak yatim yang pas sayang-sayangnya dengan Bapakmu ditinggalkan. Aku tahu perasaan dia, biasa dimanja kemudian blas ... seketika hilang."
"Tapi, Bu. Okelah, dulu dia masih kecil. Sekarang ini dia sudah dewasa, sudah tahu mana sikap yang pantas dan mana yang tidak sesuai. Kalau kita terus maklumi dia, kapan dia dewasanya? Lama-lama dia keblinger. Kemarin yang dia menyuruh Santi pulang, aku sudah tidak enak dengan Fika. Kalau dia butuh, harusnya dia ke sini, ya. Wong, Santi kerjaannya belum selesai."
"Iya, Ibu mengerti juga. Makanya, kemarin juga Ibu tegur. Tapi, kamu juga harus memaafkan dia. Ibu hanya ingin kalian rukun selalu."
Kuurungkan niat untuk ke ruang depan. Mereka bicara dengan nada serius, bahkan suara Mas Farhan terdengar ditekankan. Aku tidak mau mengganggu, tidak enak nantinya.
Kuletakkan teh hangat di meja tengah, lebih baik aku ke belakang melanjutkan pekerjaanku bersama Santi.
Kalau mendengar percakapan mereka, ini hanya seputar karena Dek Hana yang meminta Santi pulang, bukan yang lain.
*
"Santi, kamu tidak bantu Mbak Fika. Main hape terus," celetuk Ibu yang membawa loyang berisi penuh kue semprit yang sudah siap packing.
"Dia tidak main hape, Bu. Santi kerjakan pemasaran online," ucapku yang jalan di belakangnya sembari membawa loyang juga.
"Iya, Mbak Fika! Ibu suka sekali suudzon. Setiap aku pegang hape dibilang main," sahut Santi dengan mulut bersungut-sungut.
"Iya gimana, ya. Kalau di rumah tuh pegang hapeeee terus. Mulai duduk, kemudian nyender, dan akhirnya sambil tiduran. Malah. kadang-kadang tertawa sendiri! Ya gitu, Fika. Kelakuan adikmu, walaupun di rumah Ibu tidak ada temen ngomong," terang Ibu mencurahkan isi hatinya.
"Ah, Ibu. Ngadu, ye."
"Ibu bilang seperti itu, karena Ibu belum tahu, San." Aku mensejajari mertuaku ini, mengambil ponsel dan menunjukkan kepadanya.
Aku bukakan i********: yang dari kemarin sudah di posting sebagian foto-foto. Follower sudah bertambah, bahkan ada beberapa yang mengajukan pertanyaan. Di biodata sudah dicantumkan link ke marketplace. Mereka diarahkan untuk bisa langsung pesan di sana.
"Jadi ini yang dikerjakan Santi?" tanya Ibu sambil menelengkan kepala ke arahku.
"Iya, Bu. Fotonya yang foto Fariz," jelasku menambah membuat Ibu mengangguk beberapa kali. Tersirat senyum kebanggaan di wajahnya, aku pun ikut senang melihat ini.
"Jadi Ibu tidak protes lagi, kan?" seru Santi yang sudah berdiri di belakang kami.
"Ya tetep protes, lah. Terutama, kalau kamu tertawa-tawa sendiri. Ibu takut kamu kesambet setan!" jawab Ibu sambil tertawa lebar. "Iya kan, Fika. Itu kan tandanya wong edan."
Aku dan Ibu pun tertawa bersama, apalagj melihat reaksi Santi yang menghentakkan kaki dengan bibir yang semakin ke depan.
*
---
Masih ngoven pake tangkring saja songong. Ngomong sana-sini mengumpulkan pasukan untuk menyerang. Kalau berani, hadapi langsung, dong. Beraninya main belakang dan menggelar drama.
---
Santi menunjukkan status Dek Hana di f*******: ke arahku. Sorot matanya menunjukkan kecemasan sekaligus kesal.
Ternyata teguran dari Ibu tidak menghentikannya, malah membuatnya tersulut. Foto yang dikirim Fariz pun tidak menggerakkan hati, malah menjadi ancaman buatnya. Seakan aku mengumpulkan masa untuk melawannya.
Kuhentikan Santi saat jemarinya akan menambah di kolom komentar. "Jangan di teruskan. Semakin diladeni, tambah semakin panas. Ini hanya seperti menyiram minyak ke api."
"Tapi, Mbak. Kalau Mbak Fika diam, Mbak Hana akan menginjak-injak Mbak Fika. Aku tidak rela dia seperti itu! Sarjana kok otaknya di dengkul!" teriaknya kesal.
Aku langsung memberi tanda untuk tidak bicara keras. Kawatir yang kita bicarakan terdengar oleh Ibu. Bisa tambah gawat, kalau Ibu mengerti dan marah, kemudian kambuh penyakitnya. Untung Ibu istirahat siang di kamar Lisa, jadi kami bisa leluasa bicara, tentunya tidak dengan suara keras.
Benar juga ucapan Santi, yang menjadi incarannya adalah aku. Maju atau tidaknya aku, sama-sama ada resikonya.
Tring .... Tring .....
[Dek, siang aku tidak pulang, masih belum selesai]
[Mungkin setelah magrib sampai rumah]
[Tadi aku telpon Hana untuk ke rumah setelah Isyak. Ada yang harus diluruskan sebelum tidak karu-karuan]
[Pastikan, anak-anak mengantar Ibu sebelumnya]
[Ingat ya, pastikan saat pembicaraan nanti, Ibu dan anak-anak tidak di rumah. Santi biarkan tinggal]
[Maafkan Mas, ya, Dek]
Pesan yang tidak biasa dari Mas Farhan, suamiku. Menyiratkan ada hal yang genting mengenai Dek Hana. Apakah ini karena pesan w******p, status f*******:, atau ada yang lain.
Aku menunjukkan pesan ini ke Santi, kami saling berpandangan dengan kecemasan yang sama. Apakah bom waktu yang aku kawatirkan akan meledak?
Huuft!
Aku harus bersiap kemungkinan apapun yang terjadi nanti malam.
BERSAMBUNG
***