[Non, apa kau sudah berangkat? Semua karyawan sudah menunggumu di sini.] Araz
Aku mengembuskan napas panjang setelah membaca pesan itu. Posisiku masih berada di apartemen, tepatnya dalam kamar, di depan cermin meja rias. Menatap pantulan wajah yang sedikit pucat. Kemudian, setengah malas menyapunya dengan makeup tipis. Diakhiri dengan mengikat rambut dengan model kuncir kuda.
Hari ini aku akan ikut liburan bersama para karyawan kafe. Masih ingat saat ulang tahun Araz? Dia meminta hadiah berupa liburan bersama. Ya, itulah alasan di balik ini. Dia merencanakan untuk outbond di sebuah taman. Dengan tujuan untuk menghilang penat dari pekerjaan, juga untuk merekatkan kerja sama katanya. Dan aku sangat setuju dengan itu.
[Aku berangkat, sekarang! Tunggu saja!] Terkirim.
Setelah bersiap untuk pergi, lekas langkahku berayun menuju pintu. Setelah sampai di parkiran, kupanaskan sejenak mobil kesayangan, kemudian bergegas memacunya menuju tempat janjian. Bukan di kafe, tapi di rumah salah seorang karyawan. Baru setelah itu kami akan berangkat bersama menuju taman.
**
Sejurus mata memandang dengan awas ke depan, sejujurnya hatiku sedikit was-was. Sebab perjalanan menuju rumah Desti—karyawanku—sesekali terhambat gara-gara macet. Sementara Araz, beberapa kali ia menghubungi lagi, menanyakan posisiku saat ini. Ah... barangkali mereka sudah tak sabar. Atau juga terlalu bosan menunggu kehadiranku.
Aku mencoba mengatur napas demi menetralisir rasa kesal, saat jalanan yang kulalui ini lagi-lagi padat merayap. Seperti siput berjalan, mobilku serupa itu pergerakannya. Jika saja tak mampu menahan diri, mungkin sudah kutekan klakson ini, seperti yang dilakukan pengendara lain.
Saat mataku fokus mengawasi gerak mobil di hadapan, lagi, Araz menelepon. Ya Tuhan... selain situasi menyebalkan ini, dia juga turut menambah kesal di hati. Kuraih segera ponsel berisik itu dari jok samping, kemudian kuusap dengan cepat layarnya.
“Aku terjebak macet, Araz! Bisakah kau tidak menambah kekesalanku dengan menghubungi seperti ini terus? Hahh?” cetusku tak tahan. Dia yang sebelumnya seperti ingin berbicara, sampai tak jadi bersuara. “Maaf!” kataku lagi saat sadar, sikapku berlebihan. Ah... ini semua gara-gara macet.
“Tidak apa-apa,” sahut Araz datar.
“Begini saja, kalian berangkatlah lebih dulu. Nanti aku menyusul!”
“Oke, sampai jumpa di sana!”
“Iya!”
Sambungan terputus, seketika aku melempar ponsel ke jok samping, kemudian kembali fokus menyetir. Semoga saja setelah ini perjalanan lancar, akan kutancap gas agar segera sampai.
**
Setelah menghabiskan waktu satu setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai di Taman Grand Village. Turun dari mobil, lalu bergegas menuju pintu masuk. Pandanganku langsung mengedar ke sekeliling, mencari keberadaan Araz dan karyawan yang lain. Saat tak kunjung kudapat mereka, kuputuskan untuk menelepon Araz.
“Non!”
Araz! Tak kuduga dia muncul lebih dulu dari pintu masuk, menghampiriku.
“Ayo, masuk!” ajaknya.
“Oh. Ayo!”
Tanpa membuang waktu aku mengiringi langkahnya menyusuri taman ini. Sejauh mata memandang, aku disuguhi pemandangan yang indah. Hamparan rumput dan pepohonan di beberapa titiknya begitu menyejukkan. Begitu juga dengan tanaman berbunga yang terdapat di setiap sudut, menambah indah suasana.
Kami terus berjalan. Lalu, saat melewati sebuah danau yang cukup luas. Di atasnya tampak seseorang tengah bergelantung di tali flaying fox. Tepat saat jaraknya mendekati kami, terdengar orang itu berteriak. Seru. Itu kesan yang kutangkap. Ah... tidak sabar ingin segera mencoba.
Aku begitu antusias, hingga tak sadar langkah Araz terhenti di sebuah trampolin berukuran besar dengan tiang menjulang. Sekilas, ini seperti ketapel raksasa. Tampak seseorang hendak mencobanya dibantu petugas. Hanya menunggu beberapa saat setelah bagian tubuhnya dipakaikan ikat pengaman, barulah ia mulai melompat. Pelan, sedang, lalu tampak kuat tubuhnya bergerak naik turun. Wah... permainan ini juga sepertinya seru. Aku harus mencobanya.
“Apa kau berani mencobanya?” tanya Araz. Sekilas dia melirik ke arahku.
“Emhh... berani! Memangnya kenapa?”
Araz menggeleng. “Tidak apa-apa!” katanya. “Kalau begitu nanti kita coba!”
“Oke, siapa takut!”
Kami kembali meneruskan langkah menapaki jalan paving blok menuju tempat titik kumpul. Di bawah sinar matahari yang perlahan semakin menghangat, dengan udara yang terasa sejuk. Rongga paru-paruku seakan dipenuhi dengan udara bersih saat ini. Sungguh menenangkan!
“Ayo!” seru Araz saat jarak kami hanya beberapa meter dari teman-teman yang lain. Beberapa dari mereka langsung menyambut dengan melambaikan tangan. Duduk membentuk lingkaran di atas rumput, di satu sudut yang datar dan luas.
“Hai, sory aku telat!”
“Gak apa-apa, Bos!” sahut Gilar. Bersahutan ucapan yang sama dari karyawanku yang lain.
Aku langsung bergabung bersama mereka, duduk di dekat Sukma yang sekilas melempar senyum simpul. Tak lama, Araz maju ke tengah. Berdiri, lalu memberi sambutan sebagai seorang penanggung jawab acara ini. Aku memerhatikan, begitu juga yang lain.
“Oke, teman-teman, untuk suksesnya kegiatan ini, mari kita berdoa terlebih dulu menurut kepercayaan masing-masing!” ucap Araz mengakhiri sambutan. “Berdo’a dimulai!”
Ya Tuhan... semoga acara ini berjalan lancar tanpa hambatan. Semoga semua karyawanku bisa semakin kompak dan semangat dalam bekerja. Aamiin.
“Selesai!” Araz mengintrupsi. “Sekarang, semuanya boleh berdiri! Ayo! Semangat!”
Lagi, kami semua menuruti perintah Araz, berdiri melingkarinya. Tampak wajah-wajah di sekitarku berseri, antusias penuh semangat. Aku pun turut terbawa suasana hangat ini. Entah, rasanya lupa akan beban pikiran yang selama ini memenuhi kepala.
“Kita pemanasan dulu, ya!” Araz mengucapkan itu sembari mendekati Dika. “Ayo, Dik! Kamu yang pimpin!” sambungnya menunjuk pemuda itu.
“Ahsiapp! Oke everybody follow me!” seloroh Dika dengan gaya lebay. Semua terhibur, terlebih saat dia memerintahkan kami mengikuti gerakannya, ber-Chiken’s dance.
“Yuhuu!”
“Asyik!”
Aku tak bisa menahan tawa saat melihat tingkah konyol Dika. Dia bergerak dengan lincah, meliuk-liuk sesuka hati, ditimpali aksi temannya yang lain. Yang memiliki selera humar serupa. Bahkan tanpa ada suara musik pengiring pun suasana menjadi riuh dan ramai. Dasar, mereka memang tukang guyon.
Aku begitu larut dalam suasana keakraban ini, hingga tak sengaja menangkap pemandangan yang tak biasa. Kulihat Sukma diam-diam memperhatikan Araz, tapi sepertinya pria itu tak menyadari. Baru sedetik kemudian saat Araz mengarahkan pandangan, buru-buru dia memalingkan wajah. Haha... kenapa aku jadi memerhatikan mereka ya?
“Oke teman-teman, sekarang kita mulai permainannya!” Araz kembali mengambil alih perhatian. Kemudian dia mulai membagi kami menjadi beberapa grup. Dari lima belas orang berkaos seragam yang ada di sini, terbentuklah lima grup dengan masing-masing tiga orang anggota.
Aku ikut di grup satu, dengan anggota Dika dan Desti. Satu persatu permainan pun dimulai. Dari game estafet bola dan tongkat, bomb timer, pipa bocor, dan masih banyak lagi. Semua permainan itu membuat kami saling bahu membahu agar bisa menang dari grup yang lain.
Gelak tawa mewarnai setiap game yang berlangsung. Seru. Kami semua larut dalam kekompakan ini. Bekerja sama untuk melampaui grup lain, serupa anak-anak yang tengah berkompetisi. Iya, sekilas aku merasa kembali pada masa itu. Saat di mana tak ada beban pikiran yang memenuhi kepala. Saat di mana rasa sakit itu tercipta karena luka, bukan karena cinta.
Saat permainan yang tergolong low imfact selesai, kini kami berlanjut ke permainan yang memacu adrenalin. Seperti flaying fox, dan yang lainnya. Jika di permainan sebelumnya kami harus kompak bergerak, di sini justru kami harus berusaha sendiri demi menaklukkan tantangan.
Dan ya, belum apa-apa nyaliku sudah ciut saat berada di ketinggian hendak mencoba flaying fox. Lututku gemetar, hatiku juga kebat kebit tak karuan. Apalagi saat melihat ke bawah. Ya Tuhan... jantungku serasa diremas, ngilu. Apa aku menyerah saja, ya?
“Ayo, Non, giliranmu!” celetuk Araz tiba-tiba.
“Araz, aku takut!”
“Tenang saja, ini aman!” Araz mengulurkan tangannya, aku berjalan hati-hati, mendekatinya. “Kau pasti bisa! Lihat, mereka di sana!”
Araz menunjuk ke arah sebrang di mana beberapa karyawanku berhasil mendarat. “Masa kau kalah dari mereka!” katanya lagi. Entah dia meledek atau menyemangati, aku tak terlalu memperhatikan sebab perhatianku tertuju pada alat pengaman yang hendak dipasang.
“Tapi ini benar-benar aman ‘kan?” Aku menyelidik. Araz dan seorang petugas itu malah terkekeh.
“Aman! Ayo!”
Yah, kalau sudah begini aku hanya bisa berdo’a dalam hati semoga tidak pingsan saat meluncur nanti. Kubiarkan petugas memasangkan ikat pengaman, hingga tak lama siaplah aku untuk segera meluncur.
“Kau pasti bisa! Berteriaklah sekeras mungkin, lepaskan beban pikiran yang ada dalam hatimu!” Araz menepuk kedua pipiku. “Kau siap?”
Aku mengangguk pasrah. Lalu melangkah maju ke tepi, dan melompat.
Arrrrgggh... Arrrrgggh... Arrrrgggh....
Tubuhku terasa ringan, angin begitu kencang mengiringi laju pergerakan. Tangan mencengkram kuat berpegangan, mata terpejam demi menetralisir ketakutan melihat ke bawah. Adrenalin benar-benar berpacu, hingga membuatku terus berteriak tak karuan.
Aku masih berada di ketinggian. Terus meluncur dengan cepat. Tiba-tiba ucapan Araz kembali terngiang, “berteriaklah! Lepaskan beban pikiran yang ada dalam hatimu!” Kalimat itu terus berdengung.
Arrrrgggh... Aaarrrgh... Arrrrgggh....
Aku sudah sampai, dan seketika bisa bernapas lega. Terima kasih Tuhan... aku masih hidup.
Usai lepas dari ikat pengaman, aku lekas duduk di bangku untuk menenangkan diri. “Minum, Mbak!” Sukma menyodorkan botol air mineral. Gadis berkerudung itu tersenyum, entah, barangkali menertawakan ekspresiku saat ini.
“Terima kasih!” ucapku sembari meraihnya. Lantas meneguk air minum itu perlahan, hingga hilang dahaga di kerongkongan.
Aku kembali mengatur napas sejenak, terasa lega. Kemudian, tak lama Araz muncul dengan senyum mengembang, menghampiriku. Dia duduk di bangku sebelah. Di tangannya terdapat sebotol air mineral seperti yang kupegang. Diteguknya air itu hingga habis.
Araz sendawa pelan. Lalu melirikku. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.
“Sedikit lebih lega.”
“Mau coba lagi?”
“Lain kali saja!”
Dia manggut-manggut. “Main trampolin?” tanyanya lagi.
Aku menyipitkan mata mengarah padanya. “Apa kau mau aku pingsan?” Sudah tahu aku masih gemetaran gara-gara flaying fox, malah menawariku mencoba trampolin. Dasar!
Dia terkekeh. “Oke, oke, lain kali saja!”
**
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saking asyiknya kami mencoba berbagai permainan. Gelak tawa terus mengiringi kebersamaan indah ini, hingga kemudian kami tersadar harus segera mengakhirinya. Namun, sebelum pulang, kami dibuat antusias dengan pembagian hadiah atas keberhasilan grup dari berbagai permainan yang diikuti tadi.
Araz langsung membagikan bingkisan pada setiap grup. “Jangan dilihat dari harganya, ya, teman-teman! Ini untuk kenang-kenangan saja!” ujarnya.
Dika yang mengambil hadiah tersebut langsung mengecek isinya, seketika dia terseru kegirangan saat mendapati kacamata. Lalu membaginya padaku dan Disti. Haha... ini lumayan juga untuk melengkapi penampilanku.
“Oke, kita foto bareng dulu ya! Ayo, ayo!”
Di depan landmark taman ini, kami semua berjejer menghadap kamera yang dipegang seorang petugas. Bapak itu mengarahkan agar kami berganti fose hingga beberapa kali. Kemudian berakhir dengan gaya bebas sesuka kami. Setelah selesai, barulah kami membubarkan diri untuk pulang.
Antrean menuju pintu keluar mengular, begitu juga dengan antrean pintu masuk yang terpaksa digunakan searah. Sejauh ini semua tertib, tapi tiba-tiba aku tersentak saat seorang pria dengan sengaja meremas daerah dadaku.
“Hey! Kurang ajar!!!” Napasku memburu saat melihat pria s****n itu malah cengengesan. Tak kuduga Araz langsung menarik kerah bajunya, hingga tubuhnya ikut tertarik ke depan.
BUGG!
BUGH!
BRUG!!!
Pria itu tersungkur ke tanah setelah mendapatkan beberapa kali bogem mentah yang dilayangkan Araz. Hanya berselang detik, Araz kembali hendak meninjunya. Suasana menjadi tegang dan riuh. Beberapa orang berusaha menenangkan Araz. Sementara aku hanya terdiam, berusaha meredam kesal dan rasa malu akibat dilecehkan.
“Sudah! Sudah! Sabar, Bang!” ucap Dika seraya menahan lengan Araz.
“Lepas! Biar aku patahkan tangannya!” Araz masih berusaha memberikan pelajaran. “Dasar kurang ajar!”
“Sudah, Bang! Tenang!”
Barangkali karena kejadian ini, beberapa petugas mengelola taman menghampiri kami. Mereka langsung mengamankan situasi, lalu membawa pria sinting itu ke post. Araz dimintai keterangan, begitu juga dengan aku yang menjadi korban.
Aku benar-benar tak nyaman dan malu dengan kejadian ini. Mencoba berintrospeksi diri. Apa penampilanku memang kurang sopan? Kupikir memakai jeans, tangtop, dilapisi kemeja seperti ini wajar. Apa karena aku tak mengancingkannya?
“Saya minta maaf!” ungkap pria itu. Kini wajahnya memelas, seakan mengharap iba karena mendengar ancaman Araz yang akan melaporkannya atas tindakan pelecehan. “Saya khilaf! Saya tidak tahan melihat tubuh molek, Mbaknya!”
“Kurang ajar!” bentak Araz. Sikapnya yang spontan itu benar-benar mewakili emosiku sendiri. “Dengar! Kami akan tetap melaporkan masalah ini pada polisi! Lihat saja kau!”
Di tengah situasi tegang ini, perlahan aku memilih untuk bangkit dari kursi. Sontak semua mata tertuju padaku, tapi aku tak peduli. Bergegas keluar dari ruangan, Araz mengekori seraya memanggilku. “Tolong kau urus saja, aku malu, aku ingin pulang!” kataku tanpa menatapnya.
“Dengar, kau harus memberikan keterangan! Jangan pergi dulu!”
Aku tidak tahu kenapa bersikap seperti ini. Harusnya aku marah. Harusnya aku tegas. Tapi entah mengapa aku justru merasa bodoh dan semakin malu. Mungkinkah hal ini terjadi karena kesalahanku sendiri, memakai pakaian seperti ini. Hingga mengundang keusilan pria itu.
“Jangan menangis! Kau tidak bersalah! Dia yang kurang ajar!”
Aku terus terisak. Sebab air mata ini mendesak tak bisa ditahan.
“Ya sudah, kalau begitu kau pulang saja. Tenangkan dulu hatimu. Nanti kita bisa lanjutkan masalah ini!”
Aku mengangguk setuju. Beranjak masuk mobil, lalu melajukannya. Pergi.
**
“Saya tidak tahan melihat tubuh molek mbak!”
“Saya tidak tahan melihat tubuh molek mbak!”
“Saya tidak tahan melihat tubuh moleh mbak!”
Kata-kata pria itu terus terngiang saat aku berusaha memejam setelah merebahkan diri di tempat tidur. Kusumpal telinga berharap mampu mengabaikannya, tapi tetap tak bisa. Yang ada malah semakin menyiknya. Ya Tuhan... tolong hilangkan suara pria itu! Aku tersiksa!
Kenapa aku seperti ini? Harusnya aku marah, tapi kenapa justru aku malu pada diriku sendiri. Pria itu bereaksi sebab aku yang lebih dulu beraksi. Iya... itu kebodohanku sendiri! Bodoh kau Eyjaz! Bodoh!
Suara bell terdengar nyaring mengalihkan perhatian. Aku bernapas panjang sejanak, lalu segera bangkit untuk mengecek siapa yang datang. Hingga tepat di depan pintu, aku mengintip dari lubang kecil di pintu. Tante Syarifah! Mau apa dia ke mari?
“Assalamualaikum!” sapanya saat aku membukakan pintu.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum menyambutnya. “Waalaikumsalam,” jawabku. “Tante, tumben.”
Tante Syarifah membalas senyumku. “Tante baru pulang dari rumah teman. Karena searah jadi mampir ke sini, tidak apa-apa ‘kan?”
“Oh, tentu. Ayo masuk!”
Mempersilakannya wanita ini masuk sebenarnya bukan hal yang benar. Sebab aku yakin dia pasti akan menanyakan keberadaan Emir. Atau bisa juga dia akan membahas seputar masalah konsultasi kehamilan. Atau... ah, sudahlah!
“Emir ke mana?”
Nah, kan, benar dugaanku. Baru saja aku menyuguhkan air minum, dia langsung menanyakan pria itu.
“Sedang di luar,” sahutku setenang mungkin. Lekas aku duduk di sebelahnya.
Tante Syarifah meneguk air teh yang kusuguhkan, lalu kembali bersuara. “Sudah lama tidak mampir ke sini. Rasanya pangling!” katanya. Aku tahu itu hanya basa basi. Maka kubalas saja dengan senyum seadanya.
“Matamu sembap? Kenapa? Apa ada masalah?”
Aku menggeleng pelan, dia masih memindai wajahku. “Hanya terkena debu, tidak apa-apa!”
“Jangan terlalu lelah bekerja! Jaga kesehatanmu!” Tante Syarifah terus menatapku. Aku, lagi-lagi hanya bisa mengangguk mengamini nasihatnya. “Oh, iya. Ini Tante bawakan mukena dan kerudung untukmu. Teman tante yang memberikannya, khusus ia beli dari Dubay. Ini untukmu!”
Aku langsung meraih paper bag warna putih yang ia sodorkan. Lalu menyahut ucapannya. “Terima kasih!” ucapku mengambang. Entah, rasanya ada sesuatu yang mengusik relung hatiku perlahan.
“Segera sempurnakan kewajiban menutup aurat. Tante yakin, kamu akan semakin cantik dengan pakaian syar’i!” ujarnya bijak. Membuatku semakin tak enak hati. Hingga hanya senyuman yang lagi-lagi kusunggingkan untuk menanggapinya.
“Ya sudah, kalau begitu Tante pulang dulu. Terima kasih teh nya!”
Tante Syarifah bangkit dari sofa. Sepertinya dia pun tak enak bila berlama-lama. Mungkin karena sikapku yang seperti ini. Ah... entahlah.
Saat dia mulai melangkah menuju pintu, tiba-tiba aku tergerak untuk menyakan sesuatu. Pertanyaan yang muncul dalam hati ini semakin mendesak, ingin kutanyakan. Semakin ditahan, malah semakin tak bisa. Hingga kemudian, akhirnya aku bersuara. Menahannya. “Tante!”
Tante Syarifah menoleh, “Iya.”
Telanjur. Tanyakan saja!
“Apa yang tante lakukan saat tau, papah menikah dengan mamaku?”
Terdiam. Tante Syarifah menatap seolah penuh tanya. Sorot matanya meredup, tak secerah saat ia datang. Hingga kemudian, ia kembali bersuara. “Apa kau sedang bermasalah dengan Emir.”
Seiring detak jarum jam yang terdengar mengiringi cerita yang kusampaikan pada Tante Syarifah, sejujurnya hatiku terasa semakin sesak. Namun, begitu melihat perhatiannya, menyimak ungkapan hatiku, perlahan rasa sesak itu mereda. Dia mengusap air mata yang merinai membasahi pipi ini dengan lembut.
Iya, barangkali seperti ini rasanya saat bisa berbicara dengan sosok ibu yang telah lama hilang dari hidupku.
“Perbanyak istighfar. Dekatkan diri pada Alloh. Itu jawabannya.” Tante Syarifah mulai memberi tanggapan. “Itu yang dulu Tante lakukan, hingga kemudian sadar bahwa tante pun mempunyai kesalahan. Terlalu mencintai. Padahal seharusnya, kita lebih mencintai Alloh.”
“Sebaik apa pun manusia, laki-laki, suami. Dia tetap manusia biasa, yang mempunyai napsu. Kecenderungan pada wanita lain pasti ada. Tapi semua itu bisa diredam, dengan ilmu agama jawabannya.”
“Menikah bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang ilmu agama yang harus mengiringi setiap langkahnya. Hanya dengan itu, insyaAlloh kita bisa saling menjaga. Menjaga diri, juga menjaga pasangan kita.”
Aku termenung meresapi semua nasihat itu. Hatiku seolah tertampar. Apa yang kulakukan selama ini? Terhadap rumah tangga ini? Sia-sia. Hanya napsu belaka. Hanya kesenangan dunia, hingga lupa akan agama. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali bersimpuh di hadapan-Nya. Kapan terakhir kali mendirikan perintah salatnya. Kapan terakhir kali mendalami ilmu agama-Nya.
Aku lupa, lebih tepatnya aku terlena. Terperdaya dengan rasa cinta yang buta. Ya Tuh... Ya Alloh ampun aku. Terima kasih sudah menyentuh hatiku dengan serentetan episode hidup ini. Bantu aku untuk bangkit, dan memperbaiki diri hingga aku kembali.
Bersambung.
Challange, kalau nyampe 2000 like+ 1000 komen. Part selanjutnya aku usahakan percepat. sub judul “Kisah cinta satu malam antara Emir dan Sandra.” Apa yang sebenarnya terjadi? Kronologisnya