Suara bel terdengar nyaring saat aku tengah menyeruput teh hijau di meja makan. Sepagi ini, entah siapa yang datang, membuat penasaran. Apa Emir? Tapi tidak mungkin, sebab dia masih memegang kunci cadangan. Dan lagi, sudah lima hari setelah kejadian malam itu dia tak menampakkan diri.
Tengtong!
Tengtong!
Tengtong!
Ya Tuhan... mengganggu sekali!
Setengah terpaksa aku lantas bangkit dan menyeret langkah menuju pintu. Membiarkan ketenangan yang tadi kunikmati buyar, demi mengecek siapa yang datang. Saat pintu terbuka, tampaklah seorang wanita muda seusiaku sudah berdiri dengan penampilan yang kusut. Wajahnya yang biasa full makeup kini tampak kuyu, matanya pun sembap.
“Eyjaz!” lirihnya.
“Ralin!”
“Eyjaz! Hiks hiks hiks....” Ralin langsung menghamburkan diri padaku dengan isak tangis yang terdengar pilu. Punggungnya bergetar, sementara aku yang masih terbengong berusaha menenangkannya. Meski masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Dia selingkuh, Eyjaz! Dia selingkuh!” adunya menyesakkan hati. “Liam benar-benar pria b******k!”
Aku tertegun mendengar pengakuannya yang menyadarkan diri akan masalahku sendiri. Ada apa ini? Apa semua pria sekarang sudah tak ada yang mampu setia?
Aku mengelus punggung Ralin, berharap tangisnya reda. Kemudian mengajaknya masuk, duduk di sofa. Dia masih terisak, kusodorkan beberapa helai tissu padanya. Mendadak rasa iba merayapi hati ini, saat kuingat pernikahannya hanya tinggal menghitung hari.
“Aku memergokinya bersama wanita di klub malam.” Ralin menjeda. Seolah meredam emosi yang ada dalam dirinya. “Lalu aku mengikutinya hingga mereka pergi ke hotel. Hiks hiks hiks....”
Aku masih terdiam, menanggapi. Entah, rasanya seperti mengorek luka, mendengarkan cerita ini. Aku bisa merasakan apa yang kini dirasakan Ralin. Dikhianati oleh orang yang kita cinta nyatanya memang sakit, perih!
“Lalu, apa yang kau lakukan?” tanyaku menyelidik. “Apa kau langsung melabrak mereka?”
Ralin mengangguk. “Aku bahkan hampir melukai w************n itu dengan vas bunga, jika Liam tak menghalangiku!” jawabnya miris.
“Liam melindungi wanita itu! Dia bahkan malah menyalahkanku atas kesalahannya.”
“Maksudmu?”
Sesaat, Ralin menghapus rinai yang membasahi pipinya. Dia menghela napas, seakan berat untuk melanjutkan ucapan. Hingga kemudian kembali bersuara. “Dia menyalahkan aku karena tidak mau menuruti permintaannya!”
“Permintaan apa?”
“Melayaninya!”
Ya Tuhan... dasar pria b******k! Otaknya hanya tertuju pada s**********n. Apa dia tak bisa bersabar? Pernikahannya bahkan hanya tinggal menghitung hari.
“Aku menolaknya karena aku pikir, hubungan kami bahkan akan segera sah untuk melakukan itu. Tapi dia malah marah padaku—“
“Dengar, Ralin!” potongku cepat. “Kau tidak bersalah! Dalam hal ini, dialah yang justru bersalah. Pria b******k sepertinya tak pantas untuk ditangisi! Lebih baik kau batalkan pernikahan kalian!”
Lagi, Ralin mengangguk. “Iya, aku memang akan membatalkan pernikahan kami! Aku akan mengadukan semua ini pada keluargaku, juga keluarganya.”
“Lihat saja, akan kubuat dia menyesal karena telah menghianatiku!”
Kini, gantian aku yang mengangguk, memberi dukungan. Meski sebenarnya hatiku tersentil. Saat aku justru lebih memilih menutupi aib Emir, Ralin malah tampak semangat untuk mengadukan kesalahan calon suaminya itu. Ya, masalah kami mungkin serupa, tapi jalan keluar yang ditempuh sangat berbeda.
“Ya sudah! Tunggu sebentar!” ucapku hendak mengambil air minum. Hingga tiba di dapur, segera kuambil gelas, lalu menuang air mineral. Kemudian kembali menuju ruang tamu.
“Minumlah!” Kusodorkan gelas itu, sembari duduk kembali di sofa sebelah Ralin.
Pelan, Ralin meneguk air yang kuberikan. Pandangannya kini menerawang, kedua netranya pun kembali berkaca-kaca. “Aku menyesal, Eyjaz!” ungkapnya. “Aku menyesal mengenal Liam. Dia benar-benar pria b******k!”
“Seandainya aku menuruti keinginan orang tuaku untuk menjauhinya, mungkin aku tak akan mengalami hal menyedihkan ini.” Ralin kembali berderai air mata. Napasnya seakan tersengal, sesekali matanya mengatup.
“Ternyata orang tuaku memang benar. Liam tidak sebaik yang kupikir!”
Dalam diam, ingatanku mundur pada saat Ralin bercerita tentang orang tuanya yang tidak menyetujui hubungan mereka. Pria blasteran indo-Jerman itu sama sekali tak mendapat sambutan saat diperkenalkan. Namun, Ralin tetap mempertahankannya hingga ia memilih pergi dari rumah.
Saat itu, aku tidak berpihak pada Ralin. Meski dia mengadu dan meminta dukungan padaku yang notabene sahabat sejak kecil. Sebaliknya, kusuruh dia untuk pulang karena iba pada orang tuanya yang juga meminta bantuan kepadaku, untuk menyadarkan Ralin.
Aku lebih memilih membantu orang tuanya untuk menyadarkan Ralin. Meski setelah itu dia malah berbalik menjauhiku. Memutuskan hubungan persahabatan hanya karena cintanya untuk pria s****n itu. Baru setelah beberapa bulan kemudian, kudengar Ralin akhirnya pulang pada orang tuanya. Dengan syarat mereka menerima Liam, dan memberi izin untuknya menikah.
“Lalu apa rencanamu, sekarang?” tanyaku memecah kebisuan.
Ralin langsung mengarahkan pandangan padaku. “Apa aku boleh beristirahat sebentar, di sini? Aku ingin menenangkan diri dulu!”
“Tentu! Kau bisa tinggal di sini sesukamu!”
“Apa Emir tidak akan keberatan?”
Aku berusaha tersenyum menanggapi pertanyaan itu, padahal hatiku mencelos. Entah ada di mana dia sekarang. Barangkali sedang sibuk mengurusi wanita itu, atau bisa jadi mereka sedang menyiapkan keperluan untuk jabang bayinya.
“Eyjaz!”
“Hahh... iya?!”
“Apa kau baik-baik saja?” Ralin menatap lekat. “Apa kau juga sedang ada masalah?”
Aku menggeleng cepat. “I’m fine! Istirahatlah! Tapi aku tidak bisa menemanimu. Aku harus pergi ke kafe.”
“Oke. Tidak apa-apa!”
“Kau bisa tidur di kamar itu!” Aku menunjuk ke arah kamar tamu. “Jika kau lapar, cari saja makanan di lemari es!”
Setelah mengucapkan itu, aku segera beranjak dari sofa. Namun Ralin menahan pergerakanku, hingga kembali duduk. “Ada apa?”
Tanpa diduga ia kembali memelukku. “Terima kasih, Eyjaz! Dan maafkan aku karena tidak percaya dan menurutimu, waktu itu!” ucapnya penuh penyesalan.
“Sudah, tidak usah dipikirkan! Sudah menjadi kewajibanku menerimamu di saat seperti ini. Bukankah dulu, aku juga pernah ada di posisimu. Kau yang selalu menyadarkan aku saat belum bisa menerima kehadiran ibu tiriku.”
“Istirahatlah!”
Kini, gantian Ralin yang tersenyum tipis. Kami lantas bangkit, dia menuju kamar tamu, sedangkan aku menuju kamar hendak bersiap untuk pergi. Menjalani aktivitas hari ini.
**
“Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun....”
Aku memindai sembari terus melangkah menuju Green kafe. Dari jarak yang semakin dekat, suara nyanyian ulang tahun itu semakin terdengar jelas di indra pendengaran. Pandanganku lantas tertuju pada kerumunan di dalam kafe. Entah ulang tahun siapa yang mereka rayakan. Coba kita lihat.
Tepat saat aku sudah masuk, tepuk tangan bergema. Segera aku mendekat, demi melihat siapa yang menjadi pusat perhatian dalam kerumunan itu. Araz! Ternyata dia.
“Potong kuenya, Bang!” seru Sukma. Wanita yang berusia dua puluh dua tahun itu menyodorkan pisau pada Araz. Aku memerhatikan tanpa bersuara. Belum ada yang sadar dengan keberadaanku sepertinya.
Araz meraih pisau itu, lalu memotong kue tart berbalut cokelat putih dengan hiasan sederhana. Kemudian, saat potongan kue itu sudah berpindah ke piring kertas, seketika ia mengedarkan pandangan. Lalu terhenti tepat padaku, hingga kami saling menatap.
“Ini untukmu, Non!” celetuknya membuat bingung. Dia mendekati, lalu kembali berucap. “Ini untukmu!”
Dengan ragu, aku pun mengambilnya. Entah mengapa suasana menjadi sedikit canggung di antara semua karyawan. Termasuk aku, yang tak sengaja melihat raut sendu Sukma. Ah, iya, aku lupa kalau gadis itu menyukai Araz. Tentu dia akan sedih melihat pria ini memberikan potongan kue pertama padaku.
“Jangan bilang, kau akan meminta kenaikan gaji, dengan memberiku kue ini!” candaku asal. Tak kusangka semua tergelak. Tak terkecuali Sukma yang tersenyum. Padahal aku merasa garing. Ah, mungkin mereka hanya menghargai saja sebab aku bos di sini.
“Tidaklah, Non!” sanggah Araz. “Tapi kalau kau mau, kami semua takan menolak jika satu hari diliburkan, lalu kita pergi jalan-jalan bersama.”
Kini giliran aku yang tertawa kecil. Mendadak tersadar bahwa selama ini kami nyaris tidak pernah punya agenda khusus seperti itu. Lebih tepatnya memang aku yang kurang perhatian pada mereka semua. “Oke, boleh juga! Kalian rembukan saja ingin pergi ke mana. Nanti kuatur jadwalnya!”
“Yeayy!”
“Yuhuu!”
“Ya sudah! Selesaikan makan kuenya segera! Sebentar lagi kita akan buka. Semangat!”
“Semangat!”
Bersaam dengan teriakan semangat para karyawan, aku pun langsung beranjak menuju ruang kerja sembari membawa potongan kue tadi. Langkahku terasa ringan, mood-ku sedikit lebih baik. Ya... semoga saja hari ini dapat kulewati dengan lebih baik.
**
“Green kafe, tempat yang cukup menarik. Suasananya adem, makanannya enak, asyiklah pokoknya! Recomended!” review pelanggan.
“Sukakk! Nyaman banget nongkrong di kafe ini! Love it!” review pelanggan.
“Gue kasih bintang lima aja, udah! Semoga pelayanannya lebih baik!”
“So far, sih, masih jadi tempat hangout favorit. Abis adem tempatnya!”
Aku tersenyum puas setelah membaca beberapa review pelanggan di media sosial tentang kafe ini. Bersyukur juga karena sejauh ini penilaian mereka selalu baik. Percayalah, untuk kafe sederhana ini point penting penilaian sungguh menjadi moodboster untuk terus memberikan yang terbaik. Begitu juga untuk evaluasi ke depan.
Sebenarnya, aku juga selalu meminta kritik dan saran pada para pelanggan, tapi sejauh ini mereka justru malah menyatakan kepuasan atas pelayanan kami. Lagi-lagi aku hanya bisa mensyukuri itu, tapi tak lupa untuk mencari terobosan baru tentunya. Sebab pujian biasanya selalu melenakan. Jika tidak bijak, bisa-bisa kita larut dan lupa untuk terus maju berkembang. Bukankah begitu?
Setelah merasa cukup mengecek akun media sosial, aku lantas segera menutup laptop. Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh lebih. Tak biasa perutku terasa lapar begini. Aku pengarahan pandangan ke luar jendela kaca, tampaknya matahari sudah mulai menyengat di atas sana.
“Non!”
Refleks aku menoleh ke sumber suara. Dari sekat kaca, kulihat setengah tubuh Araz. Dia berdiri tepat di belakang pintu dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Masuk!”
Araz langsung masuk, melangkah menghampiriku. “Ini!” ucapnya sembari menyodorkan sebuah amplop besar berwarna kuning kecoklatan.
Segera kuambil amplop tersebut, lalu kubuka perlahan. Ini... surat perceraian yang sudah ditandatangani Emir.
“Surat apa?” tanya Araz. Aku menoleh sekilas, lalu kembali menelisik surat ini.
Entah, tiba-tiba aku ingin menangis sekarang. Sesak kembali mendera hati saat menyadari bahwa statusku sudah berganti. Bukan lagi seorang istri, tetapi janda korban penghianatan. Ya Tuhan... ini seperti mimpi. Tak pernah terbayang episode hidupku akan melalui ujian semacam ini.
“Non!” panggil Araz lagi. “Apa kau baik-baik saja?”
Pelan, aku mengangguk. Meski rasanya kedua mata ini sudah berkabut. Sekali mengerjap, setetes bulir bening terasa merembes di pipi. “Ini surat perceraianku!”
“Oh....” Araz menghela napas. “Apa kau menyesal? Kenapa menangis?”
“Aku menangis bukan karena menyesal atas perceraian ini. Hanya saja, ini seperti mimpi!”
Araz terdiam, dia masih berdiri di dekat meja kerjaku. Kemudian tak lama kembali bersuara. “Kau tau, Non? Melalui ujian ini, bisa jadi Tuhan bermaksud memberikanmu kebahagiaan yang lain. Yang lebih baik, lebih sempurna. Saat kau merasa terluka, bisa jadi itu adalah jalan yang akan membawamu pada kebahagiaan yang sesungguhnya.”
“Berhentilah menangis! Kau tampak lemah jika terus begitu! Sementara pria itu mungkin sekarang malah sedang berbahagia. Apa kau tidak rugi?”
Dalam diam, aku mencoba mencerna nasihat pria bercelemek ini. Benar juga apa yang dia katakan. Kenapa aku baru menyadari ini. Sia-sia rasanya waktu yang kuhabiskan untuk meratapi kesedihan diri. Ya Tuhan... terima kasih Kau telah menyadarkanku melalui dia.
“Lagi pula, masih banyak pria di luar sana yang pasti bisa menerimamu dengan apa adanya.”
“Nah, kau lebih cantik jika tersenyum seperti itu!”
Aku mencebik mendengar pujian itu, entah bisa jadi itu juga sebuah candaan. Araz memang paling bisa menggodaku. Dasar!
“Kau tau, Araz! Kau sungguh pandai menasihatiku tentang masalah hubungan, padahal kau sendiri kuperhatikan masih stagnan. Sampai usiamu menginjak kepala tiga, aku tak pernah melihatmu dekat dengan wanita.” Aku menaikkan satu alis. “Apa jangan-jangan—“
Araz tertawa. “Apa? Kau pikir aku gay?”
“Hmm... kalau bukan, kenapa sampai sekarang kau tak pernah memperkenalkan seorang wanita padaku?”
“Aku masih menunggunya!”
“Menunggu? Bukankah itu biasa dilakukan seorang wanita? Harusnya kau bergerak, mendekati!”
“Maksudku, aku masih menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku padanya. Lagi pula aku perhatikan dia belum bisa melupakan pria lain.”
“Tunggu! Jadi kau mencintai wanita yang sudah memiliki pasangan?”
“Iya. Tapi sekarang tidak lagi. Dia sudah berstatus janda!”
Apa? Janda? Siapa yang dia maksud? Apa mungkin... ah! Tidak-tidak!
Aku mengalihkan perhatian pada amplop dengan cara melipatnya. Memasukkannya ke dalam tas, sementara Araz, sepertinya masih memperhatikanku. Haduh... kenapa aku jadi canggung seperti ini?
“Apa kau tidak ingin tahu siapa namanya?” celetuknya membuatku bingung.
Ya Tuhan... ada apa denganku? Kenapa aku jadi takut menatapnya.
“Ehmm... memang siapa?”
Sial! Kenapa aku malah bertanya seperti itu!
Aku berusaha bersikap tak acuh. Padahal hatiku resah tak tenang, entah kenapa. Seketika kurasa Araz tersenyum, dan sepertinya ia masih memperhatikanku.
“Nanti kuberitahu!” ucapnya lagi. Kemudian dia berlalu, bersamaan dengan itu aku mendongak. Menatap punggungnya yang semakin menjauh, lalu menghilang di balik pintu.
Bersambung.