Chapter 10

1228 Kata
--Happy Reading-- “Aleandra, saudara sepupuku!” ucap Shella, salah satu saudari sepupu kembar Aleandra yang berjalan mendekat dengan langkah cepat. “K-kak, Shella!” sahut Aleandra terbata. Puk! Shella memeluk tubuh Aleandra dengan sangat rindu, hampir satu bulan lebih dia mencarinya. Air mata Shella tidak kuasa untuk mengalir deras di pipi cantiknya. Aleandra pun pasrah saja saat dipeluk oleh saudara sepupunya itu. Karena, Shella sangat baik dan sering membantunya di saat dia dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan di dalam rumahnya yang begitu mirip dengan neraka. “Ke mana saja kamu, Dik?” tanya Shella sesaat mengurai pelukkannya. “Kak Shella dan Papa khawatir dan sudah mencari kamu sebulan terakhir ini. Ma’afkan Kak Shella dan Papa yang tidak bisa membelamu di depan Mama dan Shelly. Kakak dan Papa tidak tahu kalau kamu pergi malam itu. Mama dan Shelly memang sangat keterlaluan,” celoteh Shella dengan rasa penyesalan. Hikkz... Hikkz… Hikkz… Tangis Aleandra pun pecah, takkala teringat kejadian di masa itu. Sepintas bayangan keji dan kejam bibi Sandra dengan Shelly yang sudah menyiksanya selama ini. Hanya paman Daniel dan Shella lah yang selalu membantu dan membela dirinya hingga bertahan cukup lama berada di rumah yang seperti neraka bagi Aleandra. Tidak ada sahutan dari bibir Aleandra, dia begitu terpukul dengan kejadian malam itu. Malam di mana dirinya nekad untuk kabur dari rumah paman Daniel. Karena, sudah tidak tahan dan tidak sanggup menerima caci maki dan sikap keji bibi Sandra dan Shelly yang kejam dan kerap kali menyiksanya. Shella pun kembali memeluk tubuh Aleandra yang terlihat bergetar dengan tangisan yang begitu memilukan. “Ma’afkan Kak Shella, Dik! Kakak menyesal,” ucap Shella lirih dalam pelukkan sang adik sepupunya. Dengan lembut Shella mengusap punggung Aleandra, agar lebih tenang dan menghentikan tangisannya. “Sudah, Dik! Jangan menangis lagi!” Tangisan Aleandra pun berangsur-angsur terhenti, setelah puas menumpahkan rasa sedihnya dalam dekapan Shella. Perlahan-lahan dia pun mengusap air matanya dengan jemari lentiknya. Erix Angelo yang berada diantara keduanya pun, hanya bergeming dan memperhatikan interaksi mereka. Ada sayatan luka di hatinya, melihat kekasihnya menangis seperti itu, dirinya dapat merasakan kepedihan hati Aleandra selama ini. “Oh, ya, Kak Shella. Kenalkan ini, Kak Erix Angelo!” ucap Aleandra memperkenalkan kekasihnya. “Salam kenal, Kak Erix Angelo! Saya Shella Nicholas, sepupu Adik Aleandra,” ucap Shella seraya mengulurkan tangannya ke arah Erix. Erix Angelo menerima uluran tangan Shella, dengan mengangguk kecil. “Salam kenal juga, Nona Shella Nicholas.” Shella melemparkan senyuman kecil, saat Erix Angelo membalas sapa’annya. “Oh, ya. Kak Shella di sini sama siapa? Kok sendirian?” tanya Aleandra yang baru menyadari sepupunya itu tidak sedang bersama Shelly, maupun papa dan mamanya. “Kak Shella sedang berkencan, Dik! Namun, dia belum sampai di sini,” terang Shella jujur. “Ooh… Kak Shella sekarang sudah punya kekasih. Kuliah Kak Shella bagaimana? Apakah Bi Sandra tidak melarangnya?” “Huus… kami backstreet!” ucap Shella sambil menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. Nampak jelas, raut wajah Shella yang takut terdengar oleh kekasihnya, yang baru saja terjalin seminggu yang lalu. Apalagi kalau sampai tertangkap basah oleh saudari kembar dan kedua orang tuanya. Hahahaha…. Aleandra pun tertawa lepas, melihat raut wajah Shella yang panik. “Aish… Kak Shella, di sini nggak ada Bi Sandra, Kak Shelly atau pun Paman Daniel.” Shella pun tersenyum meringis, mendengar apa yang dikatakan oleh Aleandra ada benarnya. Mengapa dia harus panik dan takut? Di sini ‘kan tidak ada mereka. “Ayo, gabung di meja kami, Kak!” ajak Aleandra. “Boleh ‘kan, Kak Erix?” tanyanya kemudian melihat ke arah Erix. Erix hanya mengangguk kecil, tidak bisa menolak permintaan sang kekasih. “Terima kasih, Dik! T-tapi, Kak Shella tidak bisa di sini. Kami sudah memesan tempat di sana,” tolak Shella sambil menunjuk ke arah meja yang tidak begitu jauh. “Okay!” ucap Aleandra tidak bisa memaksa. “Oh, ya, Dik! Satu bulan yang lalu, ada dua orang pria yang mencari kamu,” ujar Shella teringat dua hari setelah kepergian Aleandra dari rumah. Aleandra mengerutkan keningnya dalam, kemudian menggelengkan kepalanya ragu. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca, membayangkan kembali wajah pria yang sudah merampas kesuciannya malam itu. Deg! Jantungnya berdebar takut, tubuhnya pun bergetar hebat. Rasa sakit dan perih yang telah dia lewati malam itu, membuat dirinya merasakan trauma yang teramat sangat. Aleandra yakin yang dimaksud oleh Shella adalah laki-laki yang berwajah sangar yang membawanya ke tempat lucnut itu dan laki-laki berwajah malaikat, akan tetapi berhati iblis yang telah tega merampas harta satu-satunya yang paling berharga. “Kamu kenapa, Dik? Mereka pria yang sangat baik dan juga tampan.” Shella melihat keanehan dengan raut wajah Aleandra dan tubuhnya pun bergetar hebat. Erix yang menyimak hal itu pun, dengan sigap menarik tubuh Aleandra ke dalam pelukkannya. Kemudian, membenamkan wajah Aleandra di depan dadanya yang bidang dengan membelai rambutnya lembut dan sayang. “Tenanglah, sayang! Aku ada di sini.” Isak tangis Aleandra pun pecah di dalam dekapan Erix Angelo, hingga air matanya pun membasahi baju kemeja yang dikenakan oleh Erix. Luapan tangis ketakutan itu pun berangsur-angsur tenang setelah beberapa saat berada dalam dekapan sang kekasih. Shella merasakan ada sesuatu yang telah terjadi dengan saudari sepupunya itu, nampak jelas wajah ketakutan Aleandra saat mendengar apa yang baru saja dirinya katakan. Apalagi tangisan yang sangat memilukan terdengar begitu jelas dari bibir Aleandra. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu, Dik?” tanya Shella begitu penasaran, setelah tangisan Aleandra reda. Aleandra tidak menjawab pertanyaan Shella, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Erix yang sebenarnya tidak tahu juga dengan masa lalu Aleandra, hanya bisa diam dan menenangkan tangisan Aleandra. Shella tidak bisa berdiam diri saja. Karena, dua pria yang sedang mencari Aleandra itu bukanlah pria sembarangan. Kedua pria itu nampak berasal dari keluarga berkelas dan berada, yang memiliki kekuasaan di kota itu. “Katakanlah, Dik! Mereka bukan orang sembarangan. Kakak wajib melaporkan hal ini kepada mereka, jika Kakak bertemu dan melihat kamu, Dik!” kejar Shella terus memaksa untuk memberikan penjelasan. Shella sudah diberi amanah oleh Tuan Almaher dan Tuan Roy, untuk memberitahu keberadaan Aleandra kepada mereka dengan cara menghubunginya lewat telpon secepatnya. Jika, dirinya bertemu dan melihat di mana Aleandra berada. Tentu saja, Shella harus bertanya dahulu kepada Aleandra sepupunya sebelum memberitahu informasi keberadaan Aleandra kepada mereka. Mungkin lain cerita, jika Shelly saudara kembarnya yang melihat Aleandra. Tanpa berpikir panjang, sudah barang tentu dia akan langsung menghubungi Tuan Almaher dan Tuan Roy. “No! J-jangan, Kak Shella! Jangan katakan kepada mereka, di mana aku sekarang!” ucap Aleandra lirih dan terbata. Air mata Aleandra kembali menetes di pipinya, setelah apa yang baru saja dikatakan oleh Shella. Erix Angelo menyimpan tanda tanya besar di hatinya. Apa mungkin kedua laki-laki itu ada kaitannya dengan kejadian Aleandra yang pingsan di bibir pantai, rasa trauma yang Aleandra alami saat pertama kali menemukannya. “Mengapa, Dik? Coba jelaskan kepada Kakak!” paksa Shella agar Aleandra berkata jujur. Mau tidak mau, Aleandra pun terpaksa berkata jujur kepada Shella, tentang dua orang pria tersebut. “M-mereka bukan orang baik. A-aku membenci mereka! Mereka itu iblis yang kejam.” Raut wajah Aleandra menyimpan dendam dengan kilatan mata yang penuh amarah. Kedua tangannya pun mengepal kuat, saat dendam di hatinya kembali menyala dan berkobar. Deg! Shella terkejut tidak percaya atas ungkapan Aleandra. Sementara, Erix dapat menerka, jika Aleandra sudah ternoda dan tersakiti oleh salah satu dari pria yang dimaksud oleh Shella. Karena, beberapa saat yang lalu Aleandra mengakui sudah tidak perawan lagi. --To be Continue--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN