Makhluk Malam

2680 Kata
            Saya masih jaga malam bersama bapak-bapak yang senasib minggu kemarin. Saya masih ndak percaya, kenapa saya harus bersama para bapak yang penakut. Padahal awalnya saya bersyukur karena mereka ramah-ramah. Tapi kalau begini akhirnya, ya sama saja dengan bohong. Paling ndak saya ingin jaga malam bersama Pak Jalal. Pak Jalal ini jago bela diri, jadi saya berharapnya dengan beliau saja. Kalau ada masalah, Pak Jalal kan bisa melindungi. Iya, toh? Sekarang saya malah seperti seorang lelaki yang jaga sendirian. Para bapak itu sibuk dengan permainan kartu mereka. Poskamling mereka gunakan sebagai markas untuk main. Lah, Pak! Ini sih namanya menzalimi harta desa. Kan ini milik umum, kok ya dibuat kepentingan pribadi. Saya ingin protes, tapi saya ndak bisa. Kata simbok, saya ndak boleh melawan orang yang lebih tua. "Bapak-bapak ndak ada yang mau jalan ini?" Saya separuh bertanya, sekalian menyindir halus. Mereka masih sibuk bermain kartu. Sebagian dari mereka bahkan sudah berguling cantik dan ngorok di pojokan gardu poskamling. Saya menunggu respon mereka, tapi mereka masih cuek-cuek saja dan melanjutkan main kartu. "Mau jalan kemana, Mas? Ndak ada yang bisa dilihat." "Kalau ada maling gimana, Pak?" "Malingnya pergi, Mas." Pak Yu menjawab santai. "Bahkan dia lagi bobok nyenyak itu di sana..." Lelaki itu menunjuk seorang bapak yang asyik merem di pojokan gardu. Saya merengut. Bapak-bapak ini sengaja kumpul bukan untuk jaga malam, tapi untuk main kartu dan ngobrol. Saya nyerah. Percuma saja merayu mereka untuk keliling. Mereka kan jaga malam ini gratisan, semata-mata untuk memenuhi kewajiban sebagai warga yang baik. Saya beranjak dari poskamling dan memutuskan untuk berkeliling sendirian. Meski saya masih trauma dengan kejadian malam itu. Hanya saya yang mencium bau daging, jadi saya diam di poskamling sampai pagi datang. Saya ndak berani keluyuran sendiri. Sekarang saya malah jadi penasaran. Saya ini pengecut yang kepo. Saya kembali menyusuri jalanan yang dulu pernah saya lewati. Jalanan grusak-grusuk saya menyebutnya. Saya ndak punya julukan yang tepat untuk itu. Jalanan itu sebenarnya agak sepi. Hanya ada beberapa rumah dan itu juga rumah kosong. Penduduk desa saya kebanyakan merantau ke kota karena ndak nyaman dengan pekerjaannya sebagai nelayan. Grusuk... Grusuk... Duh, Gusti! Suara itu lagi! Saya ndak tahu harus bagaimana, jadi saya diam saja. Kalau saya lari, saya bisa dia kejar. Kalau maling bagaimana? Kalau dia membawa senjata tajam bagaimana? Kalau dia mengejar saya dan membunuh saya agar tutup mulut bagaimana? Saya ndak mau gegabah, jadi saya menunggu waktu untuk melarikan diri. "Siapa?" tanya saya lagi. Please, saya ini juga kepo. Kalau maling kan bisa saja dia diam. Saya diam, menunggu. Suara itu terdengar lagi. Kalau kucing, saya harap dia bermeong-meong. Kalau manusia, saya harap dia ndak menyakiti saya. Lalu saya mencoba mencocokkan. Saya menatap langit. Bulan masih bulat besar, indah begitu. Terang. Sesuai tanggal, sekarang waktunya bulan bunder. Apa ya istilahnya di bidang keilmuan? Begini-begini saya ini suka membaca buku, tahu! Saya memang lulusan SMP, tapi saya suka membaca buku. Saya juga belajar soal pasang surut air laut dari buku itu. Bulan itu perlahan tertutup awan tipis hitam. Astagah! Itu asap rokok, apa? Asap rokok warna putih, Ndalu! Kamu jangan ngaco! Suara grasak-grusuk itu terdengar lagi. Saya menoleh ke arah suatu sudut tempat. Tempat itu adalah semak-semak yang dulu ditanam warga untuk menghindari erosi. Erosi itu nama tetangga saya. Kalau ndak salah, pengikisan tanah karena air laut itu disebut abrasi. Tapi saya kan ndak sedang ingin membahas istilah. Tiba-tiba bau daging menyergap indera penciuman saya. Harusnya saya lapar kalau mencium bau daging, tapi sekarang ndak lagi. Kenyataan kalau bau ini identik dengan siluman anjing berdasarkan penjelasan simbok membuat saya merinding. Ketika saya mencoba berbalik, sekelebat bayangan tiba-tiba muncul. Bayangan itu menakutkan sekali. Saya melihat bayangan seperti... gajah? Gajah itu yang tinggi besar itu, kan ya? Tapi gajah kan ndak secepat itu. Atau itu macan gunung yang sedang migrasi ke pantai? Kok ya tega-teganya menyelinap ke pantai dan merusak ekosistem! Duh, dasar macan gun... Tunggu dulu! Macan itu badannya ndak sebesar gajah. Tubuhnya juga bisa bergerak lebih cepat. Tapi tadi saya melihat moncongnya. Wuaduh, jangan-jangan itu... Jangan teriak, Ndalu! Sekelebat bayangan binatang itu mungkin bisa saja marah dan menyerangmu. Baca doa! Baca doa! Ingat nasihat simbok, Ndalu! Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. Tuhan itu dekat meski tanpa bisa kita sentuh dan akal kita dapat menjangkaunya. Doa apa, ya? Terlalu banyak mikir kamu, Ndalu! Saya berbalik karena menyerah. Lebih baik saya kabur saja daripada harus mengambil resiko seperti itu. Saya cinta nyawa saya sendiri, jadi saya ndak akan menyia-nyiakannya. Saya belum memenuhi kewajiban sebagai anak terhadap orang tua saya. Lari, lari! Saya mencoba melarikan diri ketika suara itu makin terdengar jelas. Saya ingin menjerit dan minta tolong, tapi saya ndak mampu. Siapa memangnya yang bisa menolong saya saat ini? Ketika kaki saya berlari secepat yang saya bisa, saya tersandung dan akhirnya terjerembab manja di tanah. Kaki keseleo dan saya ndak bisa berlari lagi. "Tol... Tol..." Kok suara saya jadi m***m begini? Maksud saya bukan seperti itu! Saya ingin meminta tolong. Saya ingin menjerit dan berkata, "Toloooooooooong!" begitu! Saya ndak bisa bergerak dan mencoba bangkit tertatih, tetapi lagi-lagi saya sial malam ini. Malam begitu sunyi, sementara saya sampai di wilayah yang agak jauh dari poskamling. Saya tergagap panik, meminta tolong sebisa mungkin. Tetapi saya punya kemungkinan untuk ndak bisa melakukannya. Suara itu makin mendekat. Saya bisa merasakan kalau makhluk itu sedang mencoba mendekati saya dari belakang. Saya melihat bayangan berupa makhluk tinggi besar menyerupai hewan berkaki empat. "Jangan sakiti saya! Jangan sakiti saya! Daging saya ndak enak! Tulang semua!" Saya menjerit ketakutan. Kalau kamu tulang semua, anjing malah suka, Ndalu! Mikir, mikir! "Daging saya banyak lemaknya! Tolong jangan sakiti saya! Tolooong! Kasihan simbok saya di rumah..." Saya masih meracau ndak jelas. Makhluk itu makin mendekati saya. Saya mulai bisa melihat bayangannya. Saya ndak berani menoleh. Simbok, saya pasti akan dibunuh sekarang! Saya gemetar ketakutan. Saya ndak bisa bergerak sama sekali. Saya ingin meminta tolong dan menjerit, tapi tenggorokan saya rasanya sakit. Mungkin efek kebanyakan makan gorengan ini. Ndak, ini pasti kekuatan makhluk itu untuk membuat saya ndak bisa bicara! "Tolong jangan sakiti saya!" Saya sudah mewek sejak tadi. Sekujur tubuh sudah gemetar, sementara makhluk itu terlihat makin dekat. "Simbok saya sudah tua dan saya harus merawatnya. Tolong jangan bunuh saya!" Saya mencoba merangkak menjauh, tapi makhluk itu juga makin mendekat. Saya hanya bisa melihat bayangannya karena dia ada di belakang saya. Jangan sampai saya melihat bentuknya! Pokoknya jangan sampai! Saya ingin menjerit sekarang. Saya ingin minta tolong. Saya ingin... "Grrrr..." Bayangan itu menggeram. Duh, Gusti! Itu memang binatang, Gusti! Itu memang makhluk jadi-jadian, Gusti! Kalau memang binatang buas, mungkin sejak tadi binatang itu memangsa saya. Lagi pula di sini ndak mungkin ada binatang seperti itu. "Saya ndak berniat mengganggu!" Saya berbisik cepat, mencoba melarikan diri lagi. Makhluk itu makin mendekati saya. Mendekat, mendekat... Saya menoleh spontan dan terpaku. Mulut saya melongo, sementara mata saya masih berair karena tangis. Makhluk itu ndak seperti binatang pada umumnya. Makhluk itu juga bukan seperti manusia pada umumnya. Dulu saya pernah nonton makhluk seperti itu di TV setiap minggu pagi. Tapi yang di TV itu unyu, ndak seseram ini. Makhluk itu mirip manusia, tapi kakinya berbulu dan kukunya panjang sekali. Rambutnya panjang berwarna perak. Mirip yang di kartun-kartun itu. Tapi dia ndak seunyu itu pokoknya! Makhluk itu juga punya kuping runcing seperti kuping anjing. Matanya berwarna merah menyala seperti laser dan giginya bertaring panjang. Lehernya berbulu. Air liurnya menetes-netes. Duh, Gusti! Pasti dia menganggap saya tulang yang sangat nikmat! Dia makin mendekati saya. Saya menegang di tempat. Air mata sudah menghambur sejak tadi. Simbok memang pernah menceritakan makhluk seperti ini ada, tapi ndak pernah cerita bagaimana cara mengatasinya. "Grrrr..." Dia menggeram. Duh, Gusti! Saya mencoba membuka mulut. Siapa tahu saja dia bisa mengerti bahasa saya. Dia merangkak mendekati saya dengan kedua tangan dan kakinya yang berkuku tajam. Saya gemetar setengah mati sekarang. Saya ndak berani berbuat apapun. Kalau saya berbuat nakal, kemungkinan terbesarnya adalah... Saya mati. "Ap... Apa yang kamu inginkan?" Saya mencoba bernegosiasi. Siapa tahu saja dia punya hal yang dia inginkan daripada tulang saya. Saya bungkam, menunggu dia bicara. Kalau dia ndak bisa ngomong bagaimana? "Kamu ingin apa?" tanya saya lagi. "Grrrr..." Ketika makhluk itu menoleh, saya beringsut ketakutan. Suara lolongan dan gonggongan anjing makin terdengar bersahutan. Saya ingin kabur. Saya ingin pulang. Saya ndak mau mati! "Inuyasha..." Akhirnya kata konyol saya muncul juga. Saya ingat nama itu tiba-tiba. Itu nama tokoh yang mirip dengan makhluk ini. Tapi Inuyasha itu unyu sekali, ndak seram begini! Dia ndak mendengarkan saya dan menoleh tajam. Dia melolong setelah itu, membuat saya makin serba salah. Saya beringsut ketakutan, namun dia selalu mendekat. Semakin saya menjauh, dia juga ikut mendekat. Dia ndak menyakiti saya, tapi mungkin belum. Lalu saya mencoba membuat sebuah pergerakan. Saya mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah lain. Kalau anjing kan suka mengejar yang begituan. Tapi anjing di depan saya ini berbeda. Dia malah menatap saya tajam dengan mata merahnya. Duh, Ndalu! Kamu ini ndak paham dengan situasi dan kondisi sekarang? Kok ya kamu malah bermain-main dengan anjing ini! "Inuyasha, tolong lepaskan saya!" Makhluk itu menggeram. Mungkin dia ndak suka nama yang saya berikan. Lalu saya harus beri dia nama apa? Nama ini salah, nama itu juga salah. Kalau semua nama salah, saya harus panggil apa? "Guk-guk, tolong lepaskan saya!" Makhluk itu menggeram lagi. "Lalu saya harus panggil kamu apa?" Sumpah, saya ini sudah menyerah sejak tadi. Kalau memang dia protes, seharusnya dia memperkenalkan diri dengan baik pada saya. Saya ingin kabur. Saya ingin pulang. Saya akan menceritakan pada simbok soal kejadian malam ini. Kalau memang warga ndak percaya, saya juga ndak berharap begitu. Cerita Pak Kampung yang alay saja mereka percaya, masa pada cerita nyata saya ndak? "Grrr..." Dia masih melakukan itu. "Baik, Ger... Tolong lepaskan saya!" Dia masih menggeram. Saya ndak punya keinginan untuk memanggilnya lagi. Saya ndak ingin mencari tahu. Ketika saya sibuk mencarikan nama untuknya, dia makin mendekati saya. Hidungnya menempeli pipi saya, mengendus badan saya. Saya geli, jijik juga. Aroma daging menyergapi hidung saya. Rupanya bau daging itu berasal dari makhluk ini. Makhluk itu mengendus badan saya lagi. Saya terpejam ketakutan. Dia mengendus mulai dari pipi, lalu leher, lalu turun ke d**a saya. "Daging saya ndak enak...." Saya berucap ketakutan dengan mata terpejam. Tubuh saya makin gemetar hebat. "Lepaskan saya!" Saya masih memejamkan mata, ndak berani menatap makhluk itu. Makhluk itu terus mengendusi tubuh saya. Bahkan hidungnya sesekali menyentuh leher saya. Saya merinding. Rasanya aneh sekali. Rasanya seperti sedang ditelanjangi oleh orang lain. Malu. Ini pertama kalinya saya malu dan ketakutan sekaligus. Saya ndak sanggup kalau harus begini terus. Saya takut! Saya takut! "Tolong lepaskan saya!" Makhluk itu menggeram lagi. Saya ndak berani membuka mata. Saya gemetar. Rambut perak makhluk itu seperti sedang menyentuh wajah saya. Saya menggigit bibir agar ndak berteriak. Kalau saya berteriak, nanti dia marah. Saya merasakan embusan napas di depan wajah saya. Saya membuka mata dan terpaku. Mata merah itu ndak lagi muncul di sana. Mata itu berubah jadi cokelat. Mengerjap beberapa kali ke arah saya. Lalu taringnya juga sudah menghilang. Kukunya juga. Dia terlihat jadi lebih manusiawi. Wajah kami bertatapan seperti itu. Saya menelan ludah gugup. Kalau dia jadi seperti ini, dia malah terlihat ganteng. Pamor saya sebagai cowok paling ganteng satu desa pasti akan kalah kalau dia muncul. Saya ndak mau ini terjadi. Saya ndak mau saingan sama siluman anjing! "Kamu siapa?" tanya saya cepat. Dia bungkam. Geraman dia ndak muncul kembali. Mata tajamnya mulai mengusik saya. Dia ndak bicara apapun dan menatap saya seperti itu. Hati saya menghangat tiba-tiba. Saya ndak tahu kenapa, tapi wajahnya mampu membuat saya ndak takut seketika. Kalau Inuyasha unyu, maka makhluk ini ganteng. Dia ganteng sekali. Duh, kok ya ada makhluk jadi-jadian yang seganteng ini? Eh, ada! Ada! Di TV itu ada namanya ganteng-ganteng serigala. Serigalanya ganteng semua. Kalau ini namanya ganteng-ganteng anjing. "Kamu... siapa?" Saya kepo pada akhirnya. Dia mendengus mendengar pertanyaan saya. Dia mendekat lagi. Wajahnya mendekat ke arah wajah saya. Lalu... Dia menjilat pipi saya. Saya mengerjap beberapa kali. Dia menjilat lagi. Kali ini hidung saya, lalu dahi saya, dagu saya, dan bibir saya. Saya terpaku. Saya ini bukan orang yang neko-neko, tapi kok ya ciuman pertama saya malah sama siluman anjing begini? "Kamu..." Saya tergagap. Dia juga mengerjap. Wajah seramnya berubah jadi ganteng, tapi sekarang dia berubah jadi unyu-unyu polos begini. "Kamu siluman anjing?" Dia merengut ketika saya bertanya soal itu. Dia menggeleng, lalu mulai menjilati wajah saya lagi. Duh, Gusti! Makhluk apa ini kok ya manja begini? Tadi saya ndak berani karena seram, sekarang kok saya jadi takut kalau dia ini orang m***m. "Hen... Hentikan..." Saya tergagap. Lama-lama wajah saya pasti basah dengan air liur kalau begini terus. Ini anjing kok ndak tahu tata krama main jilat-jilat saya! Jemari saya terangkat dan menyentuh wajahnya. Dia tersentak ketika saya melakukan itu. Rasanya aneh sekali. Pipinya halus meski kotor. Saya ndak pernah sekagum ini dengan wajah laki-laki. Saya suka wajah cantik artis-artis, tapi kok ya sekarang ndak seperti itu. Makhluk di depan saya ini jauh lebih menarik. "Mas Ndalu! Mas Ndalu!" Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar. Saya dan makhluk itu tersentak, terkejut. "Mas Ndalu dimana?" Suara itu terdengar lagi. Saya yakin kalau itu suara para bapak di poskamling. Makhluk itu menoleh dan menggeram marah. Kuku tajamnya muncul lagi. Matanya berubah, menyala merah seperti sebelumnya. Saya gemetar ketakutan ketika melihat kemarahannya. Bagaimana kalau dia menyakiti penduduk lain yang ndak bersalah? Saya merinding hebat. Tapi saya sadar satu hal. Saya tiba-tiba ingin melindungi makhluk ini. Bisa gawat kalau sampai dia diburu oleh para bapak itu. "Ka... Kamu harus pergi!" ucap saya pelan. Dia menoleh ke arah saya dengan raut enggan. Dia menggeleng setelah itu. "Saya mohon! Mereka akan menangkap kamu, lalu menjadikan kamu tontonan. Bisa-bisa kamu diberi label dan dikarcisi." Saya memang suka ngelantur, tapi memang begitulah rakyat kita. Sukanya nonton yang aneh-aneh sampai rela bayar. Saya juga sama, sih! Saya juga senang nonton hal-hal aneh di sirkus desa. Dia menggeram ndak terima. "Kalau kamu ndak pergi, nanti mereka bisa membunuhmu." Saya mencoba merayu. Dia menggeleng dan menunjukkan cakarnya. Saya menegang. Ndak boleh ada pertumpahan darah apapun di sini. Saya ndak akan pernah membuat mereka terluka. Saya harus melindungi keduanya. "Tolonglah, pergi saja! Kamu harus pergi! Saya janji akan menemui kamu lagi di tempat ini." Ide bodoh macam apa lagi itu, Ndalu? Dia menggeram dan mengerjap. "Saya janji! Saya akan kembali lagi..." Dia berbalik dan pergi secepat kilat. Kecepatan tubuhnya jauh di atas binatang pada umumnya. Saya mencoba bangkit. Kalau saya cerita masalah ini, mungkin para bapak itu ndak akan percaya. "Mas Ndalu!" Mereka muncul pada akhirnya. Saya tertatih. "Mas baik-baik saja?" Mereka menghampiri saya dan membantu saya berdiri. Kaki saya sudah bengkak sejak tadi. "Saya jatuh, Pak." "Ah, kakinya keseleo begini!" "Iya, Pak. Mau minta tolong tapi terlalu jauh." "Saya juga mikir kok Mas Ndalu ini lama, jadi saya ajak yang lain nyusul." Saya sangat berterima kasih kali ini. Tumben mereka peduli dan ndak meninggalkan saya seperti minggu sebelumnya. "Mas Ndalu habis nangis?" Pak Yu bertanya cepat. Saya tersadar seketika. "Saya ndak apa, Pak. Tadi nangis karena kesakitan." Mereka manggut-manggut dan membantu saya melangkah. Saya malu kalau harus digendong dan diangkut begitu. Lagi pula saya ini lelaki, masa harus minta gendong karena jatuh. "Mas Ndalu, kok di lehernya kayak bekas gigitan?" Saya meraba leher saya. "Mas Ndalu tadi jatuhnya gimana kok bisa sampe begitu?" "Mas Ndalu sungguhan ndak apa-apa?" Saya tersenyum dan mencoba meraba leher saya. Ada darah di jemari saya. Darah. Saya digigit. Jangan-jangan setelah ini saya bisa jadi siluman anjing. Oh, simbok! Dan tatapan saya menggelap tiba-tiba. Saya pingsan. Ketika terbangun keesokan paginya, saya melihat wajah cemas simbok. Beliau memijat kaki saya yang keseleo semalam. Saya mengerjap beberapa kali, lalu memeluk simbok gemetar. Simbok mengusap punggung saya dan mulai bertanya. Naluri ibu itu selalu luar biasa. "Ada kejadian apa semalam, Ndalu?" Dan akhirnya bibir saya mulai terbuka untuk menceritakan banyak hal. Saya menceritakan semuanya dengan raut ketakutan. Simbok terkejut dengan cerita saya, mengelus pipi saya sebentar dan ikut menangis. "Duh, Gusti! Untung saja kamu ndak terluka parah, Nak!" Simbok menangis dalam syukur. Saya yakin kalau dia memang ndak berniat menyakiti saya, tetapi kejadiannya mengejutkan sekali. Lalu... "Simbok, apa Ndalu akan jadi siluman anjing kalau sudah digigit?" TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN