Siswi beasiswa

1033 Kata
Aku menyusuri lorong sekolah yang sudah mulai sepi dan bergegas masuk ke dalam kelas XII IPA 1, untung saja belum ada Bu Marni yang terkenal sebagai guru killer di SMA Global. Wajahnya yang bulat dan berjerawat serta matanya yang selalu membulat jika melihat anak yang melanggar aturan membuatku sedikit enggan untuk berurusan dengannya dan sebisa mungkin melakukan hal baik saat jam pelajaran matematika yang diajari oleh Bu Marni. Beliau adalah wali kelasku sekaligus guru matematika dari kelas XII IPA 1 – XI IPA 3. Di dalam pelajarannya aku memang terbilang bagus, namun tidak terlalu bagus-bagus sekali karena sering juga aku remedial dan sering mendapatkan cacian oleh Bu Marni. “Arista, bagikan kertas selembar untuk seluruh teman sekelasmu. Hari ini ulangan matematika dan yang dibawah delapan otomatis akan ikut remedial. Gea pastikan nilaimu di atas delapan atau sama dengan delapan karena kamu adalah siswi beasiswaan dan tentunya harus lebih pandai dari teman-temanmu yang tidak masuk jalur prestasi,” tegas Bu Marni sambil menatapku tajam. Beberapa anak melihat ke arahku yang duduk dipojokan, mereka berbisik-bisik sambil tertawa kecil, kalau saja aku salah satu anak orang kaya pastilah Bu Marni tidak akan berani berkata seperti itu. Namun, lagi-lagi aku harus sadar bahwa aku hanyalah murid beasiswa yang kebetulan berhasil ujian tes beasiswa di SMA Global. “Aku harus bisa dan buktikan bahwa aku memang layak masuk di SMA ini!” gumamku yang menyemangaati diri sendiri. Aku harus berjuang demi diriku dan juga ibuku. “Jangan berharap kau mendapat nilai bagus kalau ekonomi saja masih belum becus,” bisik Arista ketika sampai di depan mejaku. Aku hanya diam dan menerima secarik kertas itu serta menatap dengan tatapan nanar. Semua orang begitu sombong, namun hanya Devan di sekolah ini yang peduli padaku. Sungguh luar biasa jika aku mendapatkan teman di sekolah jahat ini. “Aku akan memperbaiki ekonomi keluargaku dengan belajar yang benar,” bisikku lagi ketika Arista ingin kembali ke tempat duduknya. Ia menatapku dengan tatapan tajam, aku sudah biasa melihat Arista yang seperti itu dan bukan suatu hal yang patut dianehkan lagi. Aku menghela nafas pelan dan membaca doa agar hasil ulanganku ini berhasil. Ya, memang ini hanyalah ulangan harian, namun tetap saja aku harus mendapatkan nilai bagus seperti yang Bu Marni katakan. Di laci meja aku melihat foto berukuran kecil yang menampakkan wajah aku dan ibuku yang tampak tersenyum bahagia. Aku harus bisa membanggakan ibuku suatu saat nanti, janji itu akan selalu aku bawa kemana pun dan kapan pun waktu luangku. “Semua sudah dapat kertasnya?” tanya Bu Marni melihat sekeliling kelas tersebut. “Sudah, Bu,” ucap anak-anak dengan kompak, Bu Marni pun menyuruh kami untuk mengerjakan ulangan tersebut selama seratus dua puluh menit. Keringat dingin mengucuri keningku ketika melihat soal yang lumayan susah, aku spertinya akan remedial lagi dan akan menjadi korban cacian Bu Marni yang sangat menusuk hati jika sudah berbicara. ‘Aku harus bisa! Jangan permalukan dirimu di sekolah ini, Ge. Kamu siswi beasiswaan jangan sampai beasiswamu dicabut hanya karena nilai yang menurun’ batinku sambil mengeratkan kepalan tanganku kemudian sedikit demi sedikit menggoreskan tinta di kertas kosong tersebut. JIka sedang dikerjakan, menurutku soal ini tidaklah terlalu sulit, benar kata orang bahwa bagaimana pun sulitnya suatu hal memang akan lebih sulit untuk memulai seperti aku tadi yang terlalu berat untuk memulai hingga aku merasa tak mampu padahal soalnya begitu mudah. Beberapa kali Bu Marni melewati barisan tempat dudukku dan aku tahu bahwa guru itu mengawasiku, belum pernah aku serisih ini karena dilihat orang. Aura Bu Marni memang selalu berbeda entah kadang dia baik dan memihakku kadang juga membuatku seperti musuh bukan murid. “Waktu tinggal sepuluh menit lagi, harap diperiksa lagi karena saya tidak mau ada yang remedial diulangan ini!” suara lantang Bu Marni mengintrupsi semua yang ada di kelas itu dengan tegas membuat aku semakin gugup karena masih ragu bahwa aku bisa mendapatkan nilai diatas 8 atau sama dengan 8. Waktu berlalu dengan cepat, semua anak-anak kelas XII IPA 1 mengumpulkan kertas-kertas tersebut di meja Bu Marni. Mereka tampak sangat percaya diri karena tentu saja mereka sudah mengikuti Les di tempat Les bergengsi sementara aku harus merasa cukup dengan otak aku yang pas-pasan dan mengandalkan buku-buku dari perpustakaan sebagai referensi belajar. “Siap-siap deh kamu dicaci maki Bu Marni, lagian udah kelas 12 kok belum les? Padahal les yang abal-abal juga sudah murah, tapi gak bisa juga. Ngenes banget sih kamu,” ujar Vanes dengan wajah sinis, aku yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Jangankan untuk les, untuk makanku dengan ibuku saja rasanya sangat sulit dan aku harus berjuang keras. Aku tidak akan pernah marah jika mereka mengatakan itu karena aku merasa bahwa omongan itu adalah kebenaran bahwa aku adalah anak orang melarat yang bahkan untuk masuk ke les abal-abal pun tidak mampu. Namun, ada yang tersulut emosinya ketika aku diperlakukan, Devan. Iya, Devan akan terus memelototi orang-orang yang menjahatiku di sekolah itu dan parahnya sekarang Devan sedang memelototi Vaness yang menghinaku seperti itu. “Apa sih, Van? Aku ngomong yang bener loh, kita udah kelas 12 dan sudah seharusnya les kan untuk memperbaiki nilai kita?” tanya Vaness yang terlihat emosi karena dipelototi oleh Devan yang tidak jauh duduknya dari aku. “Terus masalah kamu apa kalau dia gak les? Buktinya peringkat dia selalu lebih tinggi dari kamu?” kata Devan dengan nada menghina. Aku salut pada Devan yang selalu membelaku dalam keadaan apapun, tapi aku tidak paham juga karena Devan adalah misterius. Aku melihat Vaness yang terdiam dan wajahnya yang memerah, aku memberikan kode agar Devan tidak berkata seperti itu lagi, namun Devan hanya mengerlingkan matanya padaku membuat diri ini salah tingkah dan bersemu merah. Vaness langsung keluar kelas dengan kesal, aku bisa melihat wajah dan langkah kakinya yang tak biasa. Aku jadi tidak enak jika Devan membelaku seperti itu karena setahuku Vaness pernah menjadi dua orang kekasih saat masih baru-baru menginjakkan kaki di sekolah ini, tapi entah mengapa sekarang mereka menjadi seperti itu. “Biarkan saja, dia memang seperti itu dari dulu,” ucap Devan kemudian tersenyum samar kepadaku dan keluar kelas. Aku merasa bahwa Devan tidak membelaku, namun mendidik Vaness yang dari dulu sudah memiliki sifat yang jelek. Devan sepertinya masih mencintai Vaness namun karena Vaness yang keras kepala, maka mereka jadi seperti sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN