"Ali... kenapa Raihan bisa bersamamu?" Mendengar pertanyaan Mamanya yang entah yang keberapa kalinya dilempar padanya membuatnya mengurut pangkal hidungnya. Sejak tadi malam Mamanya terus bertanya demikian hingga sarapan pagi berlangsung. Omong-omong, Raihan berada di taman belakang, bermain bersama pembantu rumah tangga. Putranya itu sarapan lebih dulu dengan disuapi Mamanya. "Ali, jawab Mama! Kalau kamu menemukan Raihan, bukankah kamu juga menemukan ibunya? Dimana Prilly?!" Ali tersentak saat Mamanya membanting kasar sendok ke atas piring. Dia menatap Mamanya kesal, tak ada raut marah. "Aku tak tahu." Risma tersenyum masam. Putranya berbohong padanya. Tidak mau terlalu banyak berbasa-basi, dia memperlihatkan amplop cokelat dan beberapa foto yang dia temukan di meja kerja putranya it

