Calon Istri

1203 Kata
    "Nak Theo!" sapa wanita itu.     "Iya ini aku, Nek."     "Ayo sini duduk dulu. Sebentar Nenek ambilin lidah buayanya."     Theo segera duduk di kursi teras seperti biasanya. Tak butuh waktu lama, Nenek Widya datang membawa lidah buaya yang sudah dimasukkan dalam tas kresek.     "Kamu kenapa? Ada masalah?"     "Nggak kok, Nek."     "Kalo ada masalah, boleh cerita sama Nenek, biar plong."     "Nggak ada, Nek. Beneran."     Nenek Widya tersenyum. Hampir tujuh puluh tahun ia hidup di dunia. Dengan pengalaman hidup selama itu, cukup baginya untuk menghapal gerak-gerik, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah manusia. Apalagi jika hanya tentang anak muda galau macam Theo begini.     "Keluarga memang orang-orang terdekat kita. Tapi kadang manusia merasa lebih nyaman bercerita pada orang asing dari pada keluarga sendiri."     Theo menatap Nenek Widya, heran bagaimana wanita itu bisa tahu uneg-unegnya. Karena memang benar, ia tak mungkin bercerita pada keluarganya tentang masalah ini. Terlebih pada Yas.     "Saya, tuh, pengen cerita. Tentang keluarga dan juga tentang masalah hati saya. Tapi selama ini belum nemu seseorang yang nyaman."     "Makanya itu coba cerita! Siapa tahu kamu nyamannya sama Nenek." Wanita cantik itu senantiasa mempertahankan senyumannya.     "Saya takutnya habis ini Nenek nganggep saya aneh. Nganggep saya kelainan, atau apalah itu." Theo membicarakan tentang perasaan terpendamnya pada Bu Alila, yang jelas-jelas jauh lebih tua darinya. Pertanda dari sindrom Oedipus Complex.     "Emang Nenek kelihatan sejahat itu ya, sampek tega nganggep kamu kelainan?"     Theo malah tertawa mendengar pertanyaan Nenek Widya. Apanya yang jahat? Nenek Widya adalah orang yang sangat baik. Theo tahu itu. Mungkin berbagi dengan wanita ini tak ada salahnya.   ***       Elang nyelonong masuk ke kamar Theo. Si pemilik kamar segera memberinya tatapan mematikan. Tapi Elang seakan tak peduli.     "Ada sesuatu yang harus gue bicarain sama lo!" Elang duduk di pinggiran ranjang. "Gue udah yakin mau cariin istri buat Yas. Kasihan dia, tuh. Udah cukup umur buat nikah, tapi jomblo, punya anak lagi!"     Elang melirik Theo yang masih belum memberi tanggapan apapun. Elang menyeringai.     "Gue sekarang ngerti kenapa lo galau terus beberapa hari ini."     Theo menaikkan sebelah alisnya. Mulai terganggu dengan arah pembicaraan Elang.     "Lo pasti jatuh cinta, kan?"     'Mampus! Jangan-jangan Elang udah tahu kalo gue suka sama ....'     "Lo pasti suka sama nenek-nenek yang sering lo mintain lidah buaya itu, kan? Ngaku aja lo! Gila, gue nggak nyangka kalo selera lo ...."     "Sembarangan aja kalo ngomong, nggak dipikir dulu. Katanya pinter!?" Theo benar-benar tidak terima. "Nenek Widya itu baik, gue udah nganggep beliau seperti nenek sendiri. Jadi nggak mungkin gue jatuh cinta sama beliau."     "Terus lo jatuh cinta sama siapa dong?" Elang jadi kebingungan.     "Sama Bu Alila."     Hening. Theo melotot karena kata-katanya sendiri. Ia keceplosan. Bagaimana ini?     Dan Elang juga melakukan aksi yang sama. Ia juga melotot. Ia tak tahu bahwa jawaban jujur Theo akan membuatnya semarah ini.     "Nggak boleh!" tegas Elang.     "Kenapa nggak boleh?" Sudah kepalang tanggung, ya diteruskan saja. Toh Elang sudah terlanjur tahu.     "Karena Bu Alila adalah wanita yang gue pilih sebagai calon istrinya Yas. Meskipun Bu Alila itu ajaib, tapi dia itu calon istri yang paling pas buat Yas, yang bisa nerima Yas apa adanya, bahkan dia juga sayang sama Nami."     "Tapi gue suka sama Bu Alila udah lama, jauh sebelum Yas dan Bu Alila saling kenal."   ***       Setelah mandi, Yas segera menata semua makanan yang tadi dimasaknya. Yas kemudian naik untuk memberi tahu adik-adiknya bahwa makan malam sudah siap.     Ia bingung karena Elang tidak ada di kamarnya. Makanya ia meneruskan langkah ke kamar Theo.     Dan betapa terkejutnya ia melihat Theo dan Elang sedang berguling, saling bertindihan di atas karpet. Theo yang berada di bawah, sedang berusaha mendorong Elang. Sedangkan Elang yang berada di atas, sedang mencekik leher Theo. Tak peduli adiknya itu sudah batuk-batuk karena tercekik.     Yas memijat pelipisnya. Apakah berlebihan jika ia ingin hidup tenang sehari saja? Sehari saja, tanpa pertengkeran dua manusia ini. Apalagi mereka sampai adu fisik begini.     Yas mendekati mereka, meletakkan kedua tangannya di d**a. Ia tak berbicara apapun, membiarkan sampai mereka sadar sendiri akan kehadirannya.     Benar saja, mereka langsung menghentikan aksinya begitu melihat Yas.     Mereka tak akan takut jika Yas bersikap seperti biasa. Tapi yang mereka lihat kali ini adalah Yas yang berbeda. Mereka segera duduk bersimpuh, layaknya dayang istana yang sedang memohon ampun pada rajanya.     "MAS NGGAK PEDULI APA KALI INI MASALAHNYA. MAS UDAH CAPEK! SEKARANG CEPETAN SALING MINTA MAAF, DAMAI, SALAMAN!"     Bukannya menuruti permintaan Yas, mereka hanya diam. Mereka takut setengah mati, karena Yas galak sekali.     Yas sebenarnya tidak tega karena muka mereka sudah seperti mau menangis. Tapi mau bagaimana lagi? Sekali-sekali mereka berdua harus ditegasi. Kalau tidak semakin lama akan semakin parah. Mereka tidak akan pernah dewasa.     Andai saja Yas tahu apa penyebab perkelahian mereka.   ***     Theo tahu siang ini Yas akan izin untuk mengurus masalah hutang Papa. Yas akan pergi bersama Oom Junot dan Jodi.     Dan Theo juga tahu, bahwa Yas takut untuk mengajukan izin lagi. Mengingat semenjak ia menjadi guru di sini, sudah beberapa kali ia melakukan izin. Sekali lagi semua itu dikarenakan kelakuan terpuji dari Theo dan Elang di masa lalu.     Theo khawatir kalau Yas dimarahi oleh Kepala Sekolah karena akan melakukan izin lagi. Apalagi jika ia sampai dipecat. Sekolah ini, kan, berbeda dengan sekolah lain. Meskipun swasta, tapi peraturannya tak main-main. Bukan hanya pada murid-muridnya, namun guru pun diikat oleh aturan yang sama.     Semenjak bel istirahat kedua tadi, Theo segera keluar dari kelas. Ia berlari menuju kantor guru. Ia ingin menemani Yas menghadap Kepala Sekolah. Meskipun tak banyak membantu, Theo bisa ikut meyakinkan Kepala Sekolah jika urusan yang akan dilakoni oleh Yas memang penting, dan tidak bisa ditinggal. Karena ini menyangkut kelangsungan hidup sebuah keluarga--yang miskin mendadak.     Tapi bukannya melakukan semua niat mulianya, Theo malah berakhir di sini. Bersembunyi di balik semak belukar yang berada di seberang kantor guru. Ia duduk berpangku tangan pada pinggiran sebuah pot yang cukup besar. Semoga saja pot ini kuat menopang berat badannya, karena sepertinya Theo akan berada di sini dalam kurun waktu yang lama.     Why do you do this to me?     Why do you do this, so easily     You make it hard to smile because     You make it hard to breathe     Why do you do this to me?       Alunan lagu Secondhand Serenade mengalun dari handphone Theo. Ia tahu persih, bahwa dengan berada di sini terus-menerus, akan semakin menyakiti hatinya sendiri. Tapi ia sama sekali tak berniat untuk pergi. Ia ingin di sini, dan melihat sesuatu yang menyakitkan itu.     Aneh? Sudah pasti. Tapi pada hakikatnya cinta memang aneh, bukan?     Theo seharusnya sudah menduga dari awal. Banyak yang bilang ia bodoh. Tapi baru kali ini ia sadar dan mengakui, bahwa ia memang benar-benar bodoh.     Seharusnya Theo tak perlu repot-repot menemani Yas menghadap Kepala Sekolah. Karena sudah ada Bu Alila yang pasti memikirkan Yas lebih dari dirinya.     Jika saja Theo menyadari semua sejak awal, ia tak perlu ngos-ngosan berlari kemari. Dan pastinya tak perlu melihat mereka berdua, berjalan bersama keluar dari kantor guru, menuju kantor kepala sekolah, dengan bercuap-cuap nan saling tersenyum manis.     Perlu dicatat, sikap Yas benar-benar sudah berubah. Ia merespon saat Bu Alila bicara padanya. Ia tersenyum saat Bu ALila melontarkan gombalan ajaibnya. Ia tertawa saat Bu Alila mengeluarkan candaan garingnya. Dan itu semakin menyakiti hati Theo. Kenapa cinta harus aneh? Seharusnya Theo pergi, tapi ia malah menetap dan meneruskan melihat semuanya.     Theo duduk meratapi nasib, tanpa tahu bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan dirinya.   *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN