Pria Yang Terus Mendekat

1128 Kata
Yoana terlonjak kaget setengah mati begitu melihat pria yang sedang duduk di sofa dengan santai. Pria itu tidak lain adalah pria bermata biru yang paling ditakutinya selama satu hari terakhir ini. Seseorang yang telah menghabisi nyawa manusia tanpa ragu dan iba. Lalu sekarang pria itu ada di depannya. Yoana seperti mau pingsan tapi tidak bisa. Ketakutannya membuatnya tetap tersadar. "A-anda..." ucap Yoana dengan bibir bergetar. Suhu tubuhnya langsung mendingin karena takutnya. Wajah Yoana yang cantik pun langsung memucat. Asher tersenyum penuh arti. "Ternyata, kamu masih ingat dengan aku ya? Yo-a-na." *** Sementara itu di sebuah rumah yang lebih pantas disebut gubuk, Yohan tampak gelisah. Sekarang sudah pukul 9 malam. Tapi kakaknya Yoana, belum juga pulang. Untuk ke sekian kali, Yohan mengintip keluar dari balik hordeng lusuh. Dari jendela itu, matanya menyapu sekeliling. Memang gelap. Tapi Yohan tahu bahwa Yoana belum terlihat. Itu artinya, kakaknya tersebut memang belum pulang. Yohan kian gelisah. Dan kini dia sudah tidak mampu untuk menahan kegelisahannya. Bukan apa, Yoana tidak pernah pulang kerja sampai selarut ini sebelumnya. Yohan langsung mengambil ponsel dari atas tempat tidur. Dia memutuskan untuk menelpon Rere, sahabat Yoana yang sama-sama bekerja di rumah makan. "Halo, Kak Re." Ucap Yohan begitu panggilannya tersambung. "Halo juga, Yo. Ada apa?" "Hm, aku hanya mau tanya. Kak Yoana apakah ada bersama kakak?" "Lho, kenapa kamu bertanya tentang Yoana? Tentu saja dia sudah pulang dari sebelum Maghrib. Karena katanya dia mau membeli gulai untuk kamu, kemungkinan hanya telat sebentar." "Tapi Kak Yoana nyatanya belum pulang, kak. Jadi bagaimana dong?" "Dan kamu juga belum makan malam?" "Belum kak." "Begini saja. Kakak ke sana sekarang ya. Kakak akan pinjam sepeda tetangga." "Baik kak. Aku tunggu. Tapi kakak apa tidak takut melewati area pertokoan yang terbakar itu? Ini sudah malam lho." "Tidak apa-apa. Kakak tidak takut. Kamu jangan khawatir. Kakak akan bawakan makanan untuk kamu. Kakak tidak mau kamu sakit lagi." "Baiklah kak. Aku tunggu ya." "Oke." Sambungan telepon diputus dari seberang. Yohan kembali mendekati jendela. Mengintip lewat hordeng lusuh. Berharap melihat bayang Yoana. Tapi dia mendengus kecewa. Lagi-lagi dia tidak mendapati Yoana. "Kak, kamu dimana? Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Pulang kak. Pulang kak. Bagaimana hidupku tanpa kakak? Aku tidak sanggup hidup sendirian. Aku tidak sanggup." Setetes bening mengalir dari sudut-sudut mata Yohan. Sedih sekali jika selamanya Yoana tidak pulang. Sejak ayahnya meninggal, Yoana adalah satu-satunya tempat bersandar. Yoana juga sangat menyayanginya. Kakak perempuannya itu mengurusnya seperti seorang ibu. Yohan mengambil duduk di tepi tempat tidur. Dia menunggu kedatangan Rere di sana. Kebetulan, kontrakan Rere tidak jauh. Area pertokoan terbakar itulah yang menyekat tempat tinggal mereka. Dari kontrakan Rere ke rumah ini tidak sampai sepuluh menit. Benar saja, tak sampai sepuluh menit, terdengar ketukan dan seruan di pintu. Tok! Tok! Tok! "Yo! Yohan! Ini Kak Rere! Buka pintunya!" Mendengar itu, Yohan langsung beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Begitu melihat Rere, wajahnya langsung menampakan kepanikan. "Kak, ayo kita cari Kak Yoana." Rere mengusap lengan Yohan. "Kamu makan dulu sekarang. Nih." Rere mengulurkan sebuah plastik berisi kotak bekal. Yohan menerima plastik itu. "Nanti saja makannya kak. Selera makanku hilang. Sekarang ini aku sangat mengkhawatirkan Kak Yoana." "Kakak juga. Tapi kita harus tetap tenang untuk bisa berpikir jernih." "Bagaimana kalau kita melapor pada Pak RT kak?" "Kita tidak bisa buru-buru melapor seperti itu. Yoana telat pulang baru beberapa jam. Kita tunggu sampai jam dua belas ya. Kalau masih belum pulang juga, kita akan lapor Pak RT." Yohan mengangguk. "Baiklah." BRAK! Tiba-tiba ada yang menendang pintu dengan kerasnya. Tentu saja Yohan dan Rere tersentak kaget. Mereka langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pria berwajah bringas dan bertubuh besar masuk ke dalam gubuk mereka. Tatapannya penuh dengan sorot ancaman yang mematikan. "Si-siapa kamu?!" Tanya Yohan ketakutan. Rere langsung merengkuh bahu Yohan, seperti bersiap untuk melindungi. Yohan memang bukan adiknya, tapi remaja ini adalah adik sahabatnya. Jadi sudah seperti adiknya sendiri. Pria itu yang tak lain adalah Leo terus melangkah mendekat sembari mengeluarkan sebuah pisau tajam dari balik pinggangnya. Setelah sampai di depan keduanya, ujung pisau yang tajam dia arahkan kepada keduanya. "Kalian tidak perlu tau siapa aku. Tapi kalian harus tau bahwa Yoana ada bersama bos kami. Jika kalian ingin dia tetap selamat, maka tutup mulut kalian dan jangan coba-coba untuk melapor kepada polisi atau kepada siapa pun. Ingat, aku selalu mengawasi gerak-gerik kalian dari jauh. Apa kalian mengerti?!" "Iya, kami mengerti." Jawab Rere cepat dan tegas. "Tapi disembunyikan dimana kakakku sekarang. Aku ingin tau. Atau kalau perlu bawa aku juga kesana." Leo menyeringai. "Tidak usah banyak tingkah. Untuk saat ini kalian hanya perlu menuruti apa yang aku ucapkan saja, maka Yoana bisa aku pastikan dalam keadaan baik-baik saja. Tapi jika kalian tidak menurut, lupakan dia untuk selamanya." Yohan dan Rere terdiam seketika. Ancaman itu terdengar sangat serius dan tidak main-main. Mereka bahkan bisa merasakan bahwa Yoana berada dalam genggaman orang yang sangat kuat dan berkuasa. Leo menatap mereka satu persatu dengan tatapan mengancam sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan gubuk itu. Yohan menoleh pada Rere dengan mata berkaca-kaca. "Kak, kak Yoana..." Rere mengusap lengan Yohan. "Kita harus mengikuti apa kata orang itu jika ingin Yoana selamat. Sementara hanya itu yang bisa kita lakukan." *** Kembali pada Yoana yang tengah ketakutan karena berhadapan dengan Asher di sebuah kamar mewah. Yoana terhenyak. Dia tidak menduga bahkan Asher sudah mengetahui namanya. Itu artinya sejak malam pembunuhan itu, dirinya terus diawasi. "Ke-kenapa anda menangkapku? Aku...aku telah menepati janjiku untuk tidak menceritakan kepada siapa pun mengenai pembunuhan itu. Bahkan a-aku tidak menceritakan kejadian itu kepada adikku." Ucap Yoana dengan bibir gemetar. Dia sangat berharap apa yang diucapkannya ini bisa membuat Asher membebaskannya. Mata elang Asher melebar begitu mendengar ucapan Yoana. Bagaimana bisa suara Yoana yang gemetar itu bahkan sangat menarik baginya? Asher menyeringai penuh arti. Lalu dia berdiri dari duduknya. Dengan langkah pelan dan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana, Asher kemudian melangkah ke arah Yoana. Tentu saja Yoana langsung bergerak mundur. Jika berjauhan saja sudah membuatnya takut setengah mati, apalagi jika berdekatan. 'Tuhan, bukankah aku sudah meminta kepada-Mu untuk tidak dipertemukan lagi dengan pria ini?' gumam Yoana dalam hati. Agak marah dengan Tuhannya. "Ja-jangan mendekat! Aku tidak mengingkari janjiku! Aku tidak mengatakan tentang pembunuhan itu kepada siapa pun!" Ucap Yoana lagi dengan agak lantang, berharap Asher mengerti dan tidak mendekatinya. Kedua kakinya sendiri terus melangkah mundur. Tapi apa yang diharapkannya itu tak berbuah hasil. Asher terus saja melangkah mendekat. Dug. Punggung Yoana sudah menabrak dinding. Dia tidak bisa lagi melangkah mundur. Bersamaan dengan itu, Asher sudah berada tepat di depan matanya dengan kedua tangan kekarnya berada di samping kiri kanan wajah Yoana. Mata biru pria itu menandai setiap inci wajah Yoana. Deg. Hati Asher kembali berdesir hebat. Bagaimana bisa, mata, hidung, dan bibir Yoana begitu memikat? Dia jadi ingin memiliki itu semua. Bersambung... Baca novelku yang lain. Dan follow ig-ku; mayang_noura. Thanks
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN