"Iya. Udah, nggak usah tanya kenapa. Lo samperin gue sekarang." Sambil memegang lenganku, John menelepon temannya. Dia bersikeras untuk mengantarkanku pulang ke apartemen meskipun sudah kubilang aku ingin tinggal.
"Masih pusing?" tanyanya lagi setelah memutuskan panggilan.
Aku memandang cowok itu malas. "Kamu ngerti nggak kalo ini udah lima kali kamu ngajuin pertanyaan yang sama dalam waktu lima belas menit terakhir? Ya nggak ada progres yang beda lah!" Tanpa sengaja aku membentaknya. Dalam hati aku menyesal tapi rasanya gengsi menelan ludahku sendiri.
John menggaruk area di balik daun telinganya. "Lebay banget sih lo. Baru juga dua kali."
"Dua kali apaan? Kamu nggak lulus TK ya sampai nggak bisa ngitung satu sampai lima?"
Desahan mirip pengusiran tikus keluar dari mulutnya. "Simpen aja energi lo. Udah tahu pusing, masih aja bentak-bentak. Gorila betina lo emang," ejeknya yang kemudian membuatku makin nggak mau diam.
Jari telunjuk kananku teracung dan mengarah padanya. "Kalo aku nggak pusing, udah habis kamu." Nggak tahan rasanya aku untuk meninju cowok yang satu ini. Tapi masalahnya kepalaku jadi semakin pusing. Karena itulah aku mengurungkan niat dan berusaha lebih tenang.
Hari semakin malam, temperatur semakin turun. Angin sepoi-sepoi memperburuk keadaan. Kepalaku yang pusing jadi tambah berdenyut. Beruntung sebuah mobil sedan Ford putih yang pasti milik teman John tiba dengan cepat.
“Lah, lu ngapain anak orang, John?” Suara itulah yang pertama kali terdengar sewaktu jendela mobil diturunkan.
John mendesah kesal. “Diem lo, kampret. Tolongin nih,” katanya.
"Sini, sini." Tanpa melihat orangnya, aku tahu itu suara Chania. Suara serak-serak basahnya adalah ciri khas cewek itu. Dia membukakan pintu belakang dan membiarkanku masuk.
"Lo di belakang." John menyuruh Chania menyusulku sebelum ia menutupkan pintu dan menyusul masuk ke dalam mobil di jok depan. "Ayo jalan."
"Kemana?" Cowok, yang seingatku bernama Daniel, bertanya.
"Oh iya." John berpaling ke belakang dan bertanya, "Lo tinggal dimana?"
Aku tertawa kecil karena geli. Cowok itu berlagak seolah tahu dimana aku tinggal tapi nyatanya setelah itu bertanya. "University Square yang di Fifth Avenue."
"Oh, gue ngerti. Yang deketnya Seoul Mart ya kan?" Chania menyahut dan mengonfirmasi tebakannya padaku.
Aku mengangguk memegangi kepalaku. "Nyetirnya jangan nyelip-nyelip ya. Kalo belok juga jangan asal banting. Pusing banget nih," pintaku sama sekali tanpa berpikir akan menyinggung.
"Lo nggak usah khawatir tentang itu. Daniel itu supir berpengalaman," sahut John yang kemudian tertawa.
"Kampret lu," omel Daniel sembari mulai menjalankan mobil.
Dari ekor mata kananku, aku melihat Chania memiringkan kepalanya untuk melihatku. Dahinya berkerut seperti menunjukkan barisan pertanyaan demi pertanyaan tentang apa yang terjadi.
"Cuma kejedot kursi aja," beritahuku pada Chania dengan suara rendah.
"Kok bisa? Gara-gara John?" Ia mengambil kesempatan untuk mengajukan pertanyaan setelah aku membuka kesempatan baginya.
Tebakannya memang tepat, tapi terus terang John nggak melakukan apapun. Ini murni kesalahanku tapi aku nggak mau bercerita apa adanya. Bisa-bisa nanti aku jadi bulan-bulanan.
"Dan kenapa kamu juga ada di sana, Pam? Ini udah ketiga kalinya dalam tiga hari berturut-turut kalian ketemu ya kan?" Pertanyaan yang sebelumnya belum dijawab, Chania sudah mengajukan pertanyaan lainnya.
Aku merasa kesal mendengarnya. Tapi yang membuatku lebih kesal adalah kenapa ia tahu bahwa ini ketiga kalinya aku bertemu dengan John. Sudah pasti cowok itu bercerita pada kedua temannya ini.
"Eh, Chan, lo diem aja dulu. Nggak lihat itu wajah dia udah kaya nenek-nenek sampai keriput semuanya?" John menegur cewek ini. Di satu sisi aku senang karena John berinisiatif menghentikan Chania berbicara. Tapi di sisi lain, aku menjadi kesal lagi karena ejekannya.
Kepalaku yang menyandar pada bantalan jok terasa nggak nyaman. Aku bergerak ke arah kanan dan kiri mengubah posisiku demi merasa nyaman. Tapi tetap saja nggak nyaman. Untungnya perjalanan cuma makan sekitar sepuluh menit untuk sampai ke apartemenku.
Begitu mobil diparkirkan, Chania menggandengku untuk membantu berjalan dengan baik. Aku nggak berpikir tentang John dan Daniel. Aku meminta Chania untuk nggak menunggu mereka. Yang kuharapkan adalah untuk cepat sampai di kamarku. Kami berdua naik lift ke menuju ke lantai tiga.
Ini pertama kalinya aku mendapat pengalaman sakit seperti ini. Terus terang aku nggak tahu apakah tidur akan cukup untuk membuat aku sembuh. Tapi sekarang aku nggak tahan untuk segera berbaring di ranjang.
"Di sini." Aku menunjuk ke kamar di sebelah kanan tepat setelah kami keluar dari lift.
"Mana kunci lo? Sini gue bukain pintu." Chania menawarkan. Tangannya terbuka ke arahku.
Aku membuka tas yang sejak awal keluar dari kamar ini sampai kembali lagi belum kulepas. Tanganku merogoh bagian dalamnya dan mengangkat kunci yang langsung aku berikan ke Chania.
Pintu terbuka dan Chania membantu sampai aku berbaring di kasur. Rasanya nyaman sekali begitu menyentuh permukaan empuk ini. Kulepaskan sepatu yang kupakai begitu saja hingga jatuh nggak beraturan ke lantai.
"Siniin tas lo." Chania melepaskan tas yang melekat di tubuhku setelah aku mengangguk.
Tanganku masih memegangi kepalaku, berharap esensi berputar ini berhenti. "Makasih ya, Cha," kataku dengan sedikit membuka mata.
Chania duduk di pinggiran kasur dan tersenyum padaku. "Nggak papa. Lagian lo nggak ada siapapun untuk bantu lo kan dalam situasi kaya gini?" Sekali lagi tebakannya benar.
Sebenarnya aku bukan tipe orang yang tertutup dan nggak bisa berteman. Masalahnya selama ini aku berteman sama orang-orang yang benar-benar sibuk, atau pura-pura sibuk. Maka dari itulah aku selalu berusaha untuk mengatasi semuanya sendirian.
Aku cuma mengangguk untuk menanggapi Chania.
"Lo butuh gue nggak untuk tinggal di sini semalem bantuin lo?" Tawaran kedua diberikan Chania padaku. Nggak habis pikir, ternyata cewek yang aku kira hanya peduli pada popularitas bisa menunjukkan kepedulian sejauh ini.
"Emangnya nggak ngerepotin?"
Chania menggeleng. "Gue tahu rasanya berjuang sendirian, Pam. Dan Daniel dulu yang bantu gue. Sekarang mungkin saatnya gue terusin kebaikan itu ke orang lain," ungkapnya sambil menepuk lenganku. "Gue hubungin Daniel dulu tapi ya. Biar dia nggak usah nungguin."
"Iya," sahutku lemas.
Sementara Chania telepon Daniel di luar, aku coba untuk menenangkan pikiran. Mungkin dengan ini kepalaku juga jadi lebih ringan. Tapi belum satu menit, aku teringat bahwa jerawat akan muncul dalam semalam kalau makeup ini nggak dibersihkan. Alhasil aku bangun pelan-pelan dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku berusaha untuk menahan nyeri di kepalaku demi menyelesaikan kegiatan wajib setelah berdandan. Biasanya aku jarang memakai makeup karena tahu kerumitannya untuk membersihkan wajah setelahnya. Pelembab, pensil alis dan lip tint adalah tiga barang yang aku pakai sehari-hari.
Mungkin sekitar lima menit kemudian aku selesai membersihkan wajahku. Tepat saat itu juga panggilan alam datang. Aku duduk sebentar di atas kloset membuang racun cair dari tubuhku. Saat aku berdiri di wastafel untuk cuci tangan, tanganku nggak sengaja membuka kerannya terlalu besar sampai air muncrat kemana-mana. Akibatnya bajuku menjadi basah kuyup di bagian depannya.
Kulepas gaun sederhana tanpa resleting ini dan kulemparkan ke dalam keranjang pakaian kotor. Sebagai penggantinya, handuk yang menggantung di dekat jendela membungkus tubuhku. Sakit kepala sudah cukup, jadi aku nggak mau sampai kena demam. Karena itu aku terburu-buru keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian ganti di lemari.
Kemungkinan besar mataku sudah tinggal lima watt, sampai-sampai kubiarkan tertutup sambil berjalan. Aku sudah hafal peta lokasi kamarku sendiri, jadi aku nggak kesulitan ke arah mana aku harus pergi.
Suara pintu terbuka terdengar. Pasti Chania baru saja selesai menelpon Daniel, sampai dia baru kembali setelah aku selesai dari kamar mandi.
"Kamu ngobrolnya lama banget, Cha ... AAA!" Aku berteriak saat membuka mata dan melihat John yang ada di sampingku. Pintu lemari yang tadinya kututup langsung kubuka lagi sebagai tameng tubuhku yang masih berbalut handuk.
"Maaf, maaf." John langsung berlari keluar dari kamar.
"Tutup pintunya!" perintahku dengan berteriak padanya, nggak peduli orang di kamar sebelah akan mendengarnya.
Bisa-bisanya cowok nyebelin itu main masuk begitu saja tanpa permisi ke kamar cewek.
Kubawa pakaian baru dari lemari ke dalam kamar mandi untuk segera berganti. Rasa pusing yang tadi kurasakan jadi sempat menghilang selama semenit. Tetapi setelah keadaan menjadi tenang kembali, kepalaku justru terasa sakit lagi.
Dari kamar mandi, aku langsung membuka pintu kamar dan mendapati Chania dan Daniel tertawa terkekeh-kekeh. Sementara itu, John yang merasa bersalah lalu menyenggol kedua temannya waktu melihat aku.
"Kok lo bang*"
"Siapa yang ijinin John masuk ke kamarku?" tanyaku retoris penuh kemarahan, memotong perkataan Chania.
Chania menahan tawanya dan berjalan mendekatiku. "Maaf ya, Pam. Tadi John mau cek keadaan lo dan gue pikir lo udah tidur. Jadi gue suruh dia masuk aja," ia mengakui kesalahannya.
"Dan kayanya lo udah nggak sakit lagi. Buktinya lo punya kekuatan untuk marah-marah." John membumbui situasi yang sudah seperti ayam geprek pedas level sepuluh ini.
Otakku jadi mendidih sekarang. Kubuka pintu lebih lebar dan aku berdiri menantang. Jari telunjuk tangan kiriku mengacung pada John sembari berkata, "Pergi nggak lo?"
Chania menarik lenganku. "Pam, udah. Kaya nggak kenal John aja lo."
"Kan emang enggak," sahutku nggak peduli pada Chania.
"Oh iya. Maaf, maaf." Cewek itu tertawa tanpa dosa. "Ya intinya, jangan diambil hati. John itu suka ngeledekin emang. Tapi dia baik."
Perkataan Chania ada benarnya. Kalau cowok ini nggak baik, dia sudah meninggalkan aku begitu saja di sana. Walaupun aku belum percaya sepenuhnya, aku memilih untuk nggak meneruskan emosi ini.
"Ya udah, makasih, John. Daniel juga," ujarku. Walau bagaimanapun juga, yang namanya perbuatan baik harus dibalas, seenggaknya dengan ucapan terima kasih. "Sekarang aku mau istirahat. Kalian berdua pulang aja. Cuma Chania yang boleh di sini."
"Wah, lu tega banget misahin gua dari cewek gue," Daniel bertingkah seperti berpura-pura menangis di depan anak kecil.
Aku mengembuskan napas agak keras. "Bawa aja Chania pulang kalo gitu. Aku bisa sendiri, nggak papa kok," sahutku nggak mau berargumen lebih lama.
"Eh, nggak, nggak. Sori, Pam. Gua bercanda doang kali." Daniel cepat-cepat menjelaskan tingkahnya tadi. "Kalo lu misal butuh apa-apa, bilang aja sama Chania. Nanti Chania bakalan kasih tahu gua. Terus, gua suruh John yang urus."
Perkataannya otomatis membuatku tergelitik hingga tawaku meledak singkat.
"Eh, Pammie. Lo seneng ya kalo gue menderita?" John melipat kedua lengan di depan d**a dan dagunya agak naik.
Aku mengedikkan bahu. "Aku kan nggak bilang setuju sama omongannya Daniel," sergahku malas disertai ekspresi khas menyunggingkan bibir atas bagian kiri. "Udah ah. Capek. Pusing. Sekali lagi makasih. Chania kalau masih mau ngobrol silakan." Telapak tangan kananku yang terbuka terangkat setengah tiang lalu berbalik masuk ke dalam.
"Kata John, sweet dreams[1], Pam." Daniel menyuarakan pesan nggak penting. Sudah pasti dia membuat-buat perkataan yang nggak mungkin keluar dari mulut John.
Melupakan apa yang kudengar barusan, aku membaringkan tubuh di kasur lagi. Kuatur posisi tidur terenak supaya esok pagi aku bisa bangun dengan segar. Yah, aku harap memang begitu.
[MB]
Keterangan:
[1] Mimpi indah