Kakiku lumayan capek setelah berjalan berkilo-kilo jauhnya hanya untuk mengantar John sampai ke apartemennya. Kalau nggak ada imbalan traktiran makanan Korea ―yang katanya terlalu banyak untuk dirinya sendiri― dan pulang naik taksi, mana mau aku mengikuti apa yang dia minta. Semalam aku sudah bisa menghemat untuk makan malam, sekarang pun untuk makan siang. Kuanggap pertemuanku dengan John hari ini bukan suatu kesialan tapi keberuntungan. Seenggaknya itu sisi positifnya.
Kenyang dengan makan siang, aku langsung duduk di depan laptop untuk mengerjakan tesis. Ide yang sudah merasukiku selama perjalanan pulang harus segera kutumpahkan. Tahu kalau diriku ini pelupa, nggak ada kata untuk menunda. Sekali lagi aku bersyukur pernah dapat pelajaran tentang kedisiplinan meskipun sampai muntah-muntah sangking nggak sukanya.
Aku perlu data baru dan yang pertama aku lakukan adalah menggali informasi di internet tentang keberadaan orang-orang yang belajar Bahasa Indonesia di Pittsburgh. Beruntung teknologi sekarang bisa membantu sekali untuk menemukan mereka. Memang nggak banyak, tapi seenggaknya ada tiga dari sepuluh orang yang aku perlu. Mungkin sisanya bisa aku dapat dari koneksi teman-teman dari perkumpulan orang Indonesia di sini.
Blup.
Suara notifikasi pesan di HP terdengar. Kupikir dari w******p tapi ternyata itu sebuah DM i********:. Aku hanya meliriknya tanpa tergoda untuk menyentuh layar sama sekali. Setengah jam lamanya aku biarkan begitu saja. Aku masih perlu fokus menyelesaikan rekapan data. Begitu selesai, barulah aku memberikan perhatian pada si pengirim pesan.
|Chania_Kelsey| Hai, Pamela. Nggak perlu kenalin diri kali ya. Lo pasti inget gue.
Belum selesai membaca pesannya, aku langsung mengunjungi profilnya. Ternyata ini si cewek yang berulang tahun semalam. Astaga, pengikutnya hampir nyaingin seleb Indonesia.
Biasanya cewek yang sudah terkenal begini nggak akan mau kirim DM ke orang awam. Aku contohnya. Pengikut di bawah seratus, jarang unggah foto, dan pasang foto profil bergambar anjing. Nggak heran kalau nggak ada orang yang mau mengikuti aku. Karena penasaran atas motif Chania, aku langsung membalas DM-nya.
|Pam_N| Hai, Chania. Kan udah punya nomor HPku. Kenapa nge-DM?
|Chania_Kelsey| Iya sih. Cuman mau temenan aja di i********:.
"Temenan? Nggak salah nih?" Aku bergumam. Zat kecurigaan di dalam otakku keluar dari persembunyiannya seketika.
|Pam_N| Yakin cuma mau temenan? Nggak ada agenda lain? Aku inget tentang taruhannya kok. Aku bakalan buktiin kalo aku bisa temuin cowok yang aku bilang itu.
|Chania_Kelsey| Ternyata lo gigih juga. Padahal kalo kalah juga lo bisa nikah sama model cakep plus tajir.
Spontan aku tertawa sinis seperti mak lampir tontonan tetangga di TV nasional sewaktu balita. Mungkin Chania hidup bergelimang harta sampai orientasinya hanya ke hal-hal materi, seperti tampang dan kekayaan. Entah kenapa aku merasa orang-orang seperti ini harus dikasihani. Ada banyak hal di dunia yang jauh lebih berharga dari itu. Membahagiakan orang tua lewat prestasi, misalnya.
|Pam_N| Nggak tertarik.
|Chania_Kelsey| Terus lo tertariknya sama apa? Padahal kalo punya suami kaya John, hidup lo bakalan sejahtera. Nggak perlu kerja keras cari uang. Tinggal duduk di rumah, manjain diri dan suami deh.
|Pam_N| Duduk di rumah? Nggak deh. Makasih. I'll just pass[1].
Jauh-jauh ke Amerika sekolah S2 dan ujung-ujungnya di rumah. Itu akan memalukan sekali untuk aku dan keluargaku. Masalahnya keluarga dari pihak mama terdiri dari orang-orang sukses. Sementara itu, satu-satunya keluarga papa, yaitu Tante Cindy, juga pengacara. Mereka semua kerja meniti karir dan punya sesuatu yang dibanggakan. Nggak mungkin aku membiarkan masa depanku menjadi sekadar istri yang nggak berkarya. Amit-amit.
|Chania_Kelsey| John orangnya baik loh. Nggak cuma modal tampang. Dia juga care banget orangnya.
Mungkin cewek ini salah bicara. Jelas sekali John tega membuatku berjalan kaki jauh dari tempat tinggalku untuk mengantar dia ke apartemennya. Kalau memang cowok itu perhatian, sudah seharusnya dia yang mengantar aku ke apartemen dan bukan sebaliknya. Memang benar kami nggak kenal sedekat itu sampai dia harus antar aku ke apartemen. Tapi, seenggaknya dia nggak minta aku mengantar dia.
|Pam_N| Kamu lagi ngapain sih, Cha? Bujuk aku supaya mau nikah sama John? With all due respect[2], aku nggak tertarik sama dia. So, kita berhenti bahas itu ya.
|Chania_Kelsey| Iya, maaf. Tapi kita bisa tetep temenan kan?
|Pam_N| Selama kamu nggak usik hidupku sih.
|Chania_Kelsey| XD Sadis banget lo. Blak-blakan bener. Tapi gue suka lah gaya lo. Lebih baik gini daripada manis di depan tapi nusuk di belakang.
|Pam_N| Oke. Makasih. Udah ya. Bye.
Aku benar-benar nggak peduli apa kata dia nanti dengan sikap cuekku ini. Pengalamanku di masa lalu kehilangan kepercayaan orang yang aku anggap orang paling dekat membentukku seperti ini. Jika dengan sikapku yang seperti ini Chania terus bertahan seperti Poppy, artinya dia tulus.
Hal yang sama aku lakukan ke sahabatku di masa SMA. Itulah pertama kalinya aku bertemu dengan Poppy. Mulut pedas dan sikap dinginku ternyata nggak membuat Poppy yang centil dan manja itu lari. Dia bahkan jadi orang yang aku percayai selain orang tuaku sendiri. Mereka bertiga memang support system[3]-ku.
Tetapi karena Chania aku jadi teringat bahwa taruhan ini adalah beban. Nggak akan aku biarkan diriku kalah. Belum ada orang yang masuk ke dalam kriteriaku itu di sini, tapi aku tetap yakin bahwa orang seperti itu pasti ada. Mungkin ini saatnya aku lebih terbuka dan banyak berteman. Siapa tahu aku juga bisa mendapat tujuh orang lagi untuk jadi sumber dataku.
Seperti doa yang terjawab instan, ada email yang baru masuk dari perkumpulan orang Indonesia. Isinya adalah undangan untuk mengikuti acara festival gamelan yang diadakan oleh Organisasi Budaya Indonesia Pittsburgh besok malam jam enam. Lokasinya ada di Pittsburgh's Grand Hall dan itu nggak terlalu jauh dari apartemen. Naik bus cuma tiga puluh menit dan kalau pulang sampai malam, tarif taksi jadi terjangkau.
Akun i********: organisasi ini tertulis di undangannya. Mungkin ada informasi yang bisa aku dapat di sana sebelum hari H. Karena itu aku nggak menunggu lama dan langsung mengetik nama akunnya di area pencarian. Kutelusuri foto demi foto yang diunggah di akun dengan pengikut hanya sekitar seribuan jumlahnya.
Sepertinya mereka punya kegiatan yang cukup menarik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya adalah kesukaanku. Aku jadi berpikir untuk sesekali bergabung dengan perkumpulan mereka.
Mataku langsung mengarah pada informasi yang tertera di bagian bio akun ini. Di sana tertulis hari dan tempat mereka biasa berkumpul.
“Ayo bergabung dengan kami. Terbuka untuk umum. Setiap Jumat, 4 PM di Schenley Plaza.”
"Oh? Ini kan setengah jam lagi. Mana deket juga," komentarku riang setelah melirik ke jam di HP.
Pikiranku memang agak lelah, tapi tubuhku sudah lebih baik. Duduk selama beberapa waktu terakhir ini memberikanku cukup energi. Apa lagi ini adalah kesempatan yang baik. Tanpa berlama-lama, aku menutup laptopku dan membiarkannya dalam mode sleep begitu saja. Lalu aku bangkit sambil menyambar HP dan tas sebelum meninggalkan apartemen.
Perjalanan yang memakan sekitar dua belas menit itu ―aku memang suka melihat GPS hingga perkiraanku pasti tepat― kunikmati sambil melihat kanan dan kiri. Meskipun sudah lewat setahun di sini, aku masih suka mempelajari tempat-tempat di sekitar. Kata orang, aku cocok untuk jadi pemandu wisata. Memang benar aku nggak pernah tersesat karena otakku sudah seperti peta virtual.
Di tengah-tengah taman dekat bunga berwarna-warni, kulihat sekumpulan orang duduk di atas bangku yang disediakan di sana. Sejauh mataku memandang, jumlah mereka nggak lebih dari hitungan jari tangan dan kakiku. Aku yakin itu adalah orang-orang dari organisasi budaya Indonesia, karena itu aku berjalan mendekati mereka dengan percaya diri.
Yang menarik di pemandanganku, fitur wajah mereka nggak seperti yang kubayangkan. Aku pikir akan banyak orang bule di sana yang mau belajar tentang Indonesia. Tapi justru hampir semuanya bermata sipit dan berkulit terang atau bermata belo dan berkulit sawo matang. Sementara itu, ada tiga orang berwajah latin dan berkulit hitam seperti orang Papua atau Afrika.
Melihatku datang mendekat, ada salah seorang cewek yang berdiri dan menyapa. "Halo. Orang Indonesia ya?" tanyanya diikuti cowok di sebelahnya yang tersenyum menyambut.
Aku juga tersenyum balik dengan sopan. "Ya. Jadi ini Organisasi Budaya Indonesia Pittsburgh ya?" Aku tahu ini pertanyaan retoris, tapi aku nggak punya amunisi untuk memulai percakapan.
"Halo. Aku Janice. Dia Brandon." Cewek itu memperkenalkan dirinya sendiri sekaligus cowok yang sekarang ikut berdiri di sampingnya itu. Aksennya kental sekali dan pikiranku otomatis menebak kalau dia berasal dari Surabaya atau sekitarnya.
"Pamela," balasku.
"Yuk, duduk. Ini kita agak molor kayaknya," ajak Janice yang langsung kuturuti.
Dari belakang Janice, Brandon memiringkan badannya untuk bicara denganku. "Pamela baru ya di Pittsburgh?" tanyanya penasaran sambil tersenyum.
Lesung pipitnya, nggak nahan. Sel-sel otak bagian kekaguman langsung aktif waktu mataku menangkap dua titik cekung di pipi cowok yang matanya lebar tapi kulitnya agak kemerahan itu. "Nggak juga sih. Udah satu setengah tahun," jawabku sambil bersyukur dalam hati karena mulutku masih bisa dikontrol.
Beberapa tahun lalu di masa SMA aku sempat kehilangan kontrol mulutku sewaktu lihat cowok berlesung pipit seperti ini juga. Sialnya, komentar pujianku keluar dari mulut di saat keadaan sedang hening. Alhasil, semua mata tertuju padaku! Kalau saja situasi itu seperti ada di iklan, aku akan baik-baik saja. Sayangnya ini kehidupan nyataku. Setelah hari itu, satu angkatan suka menggodaku setiap kali berpapasan di lorong sekolah atau di manapun.
"Wah, cukup lama loh. Kenapa nggak gabung dari awal?" tanya Brandon lagi, didukung Janice yang mengangguk-angguk.
Seringai polos otomatis terpasang di wajahku. "Fokus urus tesis jadi jarang kumpul-kumpul. Baru terakhiran aku ngerasa kalau aku butuh komunitas," aku mengakui.
"Kamu ambil S2?" sambung Janice.
Anggukan beberapa kali ala hiasan anjing di dashboard mobil kuperlihatkan pada mereka. "Iya, pendidikan Bahasa Inggris. Kalian?" Aku bertanya balik.
"Wah, aku berasa muda," sahut Janice cekikikan. "Masih semester lima ambil Bachelor of Psychology di Duquesne aku ini. Kalo Brandon ini yang masih muda tapi udah ambil PhD[4]."
Nggak heran rasanya waktu dengar Janice memberitahu pendidikan yang Brandon ambil. Wajah dan penampilannya yang rapi sudah mencerminkan otak encernya. Aku paling suka berteman dengan orang-orang berpendidikan seperti dia. Siapa tahu dia bisa menularkanku sedikit virus kecerdasannya.
"Ah, kamu sukanya gitu," Brandon mengusap wajah Janice dari atas ke bawah seperti sedang mencuci mukanya.
Janice langsung mengeluarkan nada marah bercampur manja sebagai tanggapan. "Ah, jangan suka gitu tah. Ini wajah harganya triliunan lho," ucapnya diikuti tawa kedua insan yang sudah terlihat seperti pasangan itu.
"Kalian ini pacaran ya?" Kali ini aku kelepasan. Dalam hati aku merutuki diriku sambil berharap aku nggak menyinggung mereka.
Tawa lepas sontak diperdengarkan oleh cewek berambut panjang lurus dan ujungnya diwarnai abu-abu. "Brandon? Pacar? Pret. Gak mau aku sama dia," katanya dengan juluran lidah.
Brandon membalas dengan ekspresi wajah jelek yang tidak jelek. Aku bingung menggambarkannya karena dia tetap rupawan di mataku. "Tapi iya sih, Pam. Janice itu udah kaya adikku sendiri. Papinya nitip dia ke aku," jelasnya geli.
"Nih ya, Pamela ―eh, aku gak papa manggil gitu ya?" Janice menyela perkataannya sendiri dengan pertanyaan konfirmasi. Setelah aku mengangguk, dia melanjutkan lagi. "Brandon tuh padahal orangnya udah care, pendidikan tinggi, family-oriented[5] banget lah, dan kerjaan juga mantap. Bisnis clothing gitu. Tapi sampai sekarang gak punya cewek. Padahal udah dua puluh enam tahun. Ih, jomblo menahun."
Cowok itu nggak segan menoyor kepala Janice. "Kurang ajar dibilang jomblo menahun. Daripada kamu gonta ganti pacar? Mendingan aku nunggu yang tepat," komentarnyanya membela diri.
Entah kenapa aku jadi berbunga-bunga sekarang. Cowok ini kelihatan sekali punya karakter hangat dan latar belakang yang mantap. Keyakinanku terbukti bahwa ada cowok seperti yang aku sebut semalam. Memang Tuhan sayang padaku sampai Dia nggak membiarkan aku kalah taruhan dan menikah sama model kekanak-kanakan itu.
"Eh, Kak Gina udah dateng. Itu ketuanya, Pam," kata Janice sambil mendorong Brandon agar bergeser agak ke kanan dan menarikku ke arah yang sama.
Kayanya bakalan seru banget di perkumpulan ini. Bahkan aku mungkin bisa batalin niat untuk tanya-tanya ke perkumpulan orang Indonesia-nya John dekaka yang nggak jelas tujuannya itu. Aku mengesampingkan pikiranku dan berfokus pada lingkaran pertemanan yang baru ini.
[MB]
Keterangan:
[1] Lewati saja aku.
[2] Dengan segala kerendahan hati
[3] Orang-orang yang mendukung di kala suka dan duka
[4] Level pendidikan universitas tertinggi
[5] Berpusat pada keluarga