Bab 2. Sudah Terlambat

1024 Kata
Beberapa hari setelah kejadian itu, ada perbedaan yang begitu kentara pada hubungan Delia dan Raffi. Semua anggota keluarga nampaknya memerhatikan keanehan tersebut, terlebih Surya, ayah kandung Delia. Pria berkacamata itu lantas menarik lengan Raffi, menyeretnya ke halaman belakang demi bertanya apakah telah terjadi sesuatu pada mereka berdua. "Ada apa dengan kalian? Bertengkar lagi?" Raffi tidak langsung menjawab. Mungkin bertanya-tanya, mengapa semudah itu ketahuannya apabila dia dan Delia sedang bertengkar. Apakah memang sekentara itu? "Tidak mau menjawab, berarti iya. Apa lagi masalahnya sekarang?" tanya Surya lagi seraya mengangkat alis. "Masalah pernikahan?" tebaknya tepat sasaran. Melihat pria muda di depannya tidak menjawab lagi, akhirnya dia menemukan letak permasalahannya sekarang. "Raff, dengarkan Paman, mengenai keputusan Delia, bukankah sebagai sahabatnya kau harus mendukungnya? Bahkan meski rasanya pahit, apa kau tega melihat putri paman bersedih? Ternyata gara-gara kau rupanya yang membuat Delia jadi murung." "Tak disangka tapi tak mengejutkan juga. Harusnya paman sudah bisa menebaknya." ucapnya terdengar mengeluh. "Maafkan saya," Raffi berkata dengan kepala menunduk rendah. Ia sadar betul bahwa sikapnya sekarang tidak menunjukkan selayaknya pria yang dewasa. Masih bertindak kekanak-kanakan padahal dia senantiasa memastikan dirinya dipandang sebagai pria dewasa, bukankah itu lelucon sekarang? Surya mengembuskan napas keras, merasa dilema sekaligus kasihan dengan pria muda di hadapannya. Ia tahu dari awal malah, bagaimana Raffi memendam suka pada putrinya tersebut. Ia tidak bertindak apa pun, tidak juga menghalangi dan sepenuhnya membiarkan kedua orang bersahabat itu menentukan hubungan masing-masing. Dia hanya tak mengira, bila Raffi tidak langsung mengungkapkan perasaannya pada Delia dan malah memendamnya lama sekali. Sudah bertahun-tahun, entah sakit macam apa yang dirasakan oleh Raffi tiap kali melihat putrinya itu dekat dengan pria lain. Namun, dia juga tak bisa menyalahkan Delia atas tindakan tak sengajanya di mana telah menyakiti sahabatnya itu. Delia tak pernah tahu bila Raffi memiliki perasaan lebih dari sekedar persahabatan. Raffi terlalu lihai menyembunyikan isi hatinya hingga Delia tak pernah bisa melihatnya. Surya yang tadinya berdiri kemudian duduk. Kedua tangannya ada di atas meja, saling bertautan erat, "Paman berulang kali mengingatkan kau tentang ini. Jangan menyesal karena memilih memutuskan memendam perasaan tanpa mau mengutarakannya." Rahang pria itu mengetat, pertanda betapa dia kini menyalahkan dirinya sendiri. Ucapan pria dewasa di belakangnya tidaklah salah. Dia lah yang salah, yang terlalu pengecut. Karena takut ditolak dan menyebabkan hubungan persahabatan mereka hancur berantakan, dia lebih memilih memendam perasaan selama bertahun-tahun. Lalu sekarang, setelah hal yang ditakutinya benar-benar terjadi, hanya ada penyesalan serta rasa sakit yang menantinya. "Bodoh, aku benar-benar bodoh!" makinya penuh emosi. Sepasang matanya kembali memerah, air mata rasa-rasanya memaksa ingin jatuh tapi dia menahannya sekuat tenaga. Sakit hatinya ini, bukankah dia lah yang menyebabkannya? Lantas mengapa, harus menyalahkan orang lain atas kepengecutan ini? Tanpa kedua pria itu sadari, terdapat orang lain yang tak sengaja mencuri dengar isi percakapan keduanya. Sebelum ada yang menyadari keberadaanya, orang itu pergi dari sana. Di sisi lain, Delia sedang berada di kamar. Gadis itu merebahkan badannya di atas tempat tidur, dengan tatapan kosong menatap ke luar jendela. Walau di lantai bawah sedang ada pesta perayaan, dia tidak kunjung turun. Dia enggan berada di sana selagi orang itu juga turut hadir. Dia masih belum siap menemui sahabatnya yang tiba-tiba berubah. "Bagaimana mungkin Raffi tega melakukan itu padaku?" gumamnya dengan bibir mengerucut. Seolah dia masih bisa merasakan ciuman keras itu, digigitnya bibirnya kuat demi mengenyahkan perasaan berdesir yang tak seharusnya dirasakan. "Kenapa harus sekarang? Kenapa setelah semuanya berjalan ke arah ini? Di saat dia tak lama lagi dipinang laki-laki lain. Laki-laki yang menjadi kekasihnya selama dua tahun terakhir?" tanyanya lagi tak habis pikir. "Kalau memang cinta dari dulu, kenapa tidak diutarakan saat itu juga? Kenapa harus menunggu sekarang? Raffi bodoh! Dasar bodoh!" makinya berulang-ulang. Dan dia kembali teringat dengan ucapan Raffi waktu itu. "Karena aku takut kehilanganmu," ujarnya seraya mengelus bibir bengkak yang baru saja habis diciumnya, "Adelia, aku takut, takut begitu aku menyatakan perasaanku padamu, aku akan kehilangan dirimu." Delia hanya bisa membeku di tempat, napasnya masih terengah-engah dikarenakan ciuman keras yang dia terima. "Apa maksudnya?" Raffi nampaknya tidak memedulikan sekitar apabila mereka kini menjadi tontonan beberapa orang yang lewat. Ia masih dengan teguh merangkul pinggang wanita yang dicintainya dalam pelukan erat. Seolah tak ingin melepasnya. Karena begitu ia melonggarkan sedikit pegangannya, yang tersisa hanyalah perpisahan. "Seandainya aku minta padamu untuk melepaskan pria itu dan memilih diriku, apa kau bersedia? Antara dia dan diriku, manakah yang lebih penting bagimu, Adelia?" Gila! Hanya itu yang terpikirkan Delia begitu pertanyaan yang dilontarkan Raffi terngiang-ngiang dalam pendengarannya. Bahkan sampai pria itu melepasnya dan pergi dari jalanan itu, ia masih belum pulih dari perasaan terkejut yang menyesatkan serta menyesakkan d**a tersebut. Sejak hari itu hingga kini, dia belum memberikan jawabannya pada Raffi. Karena dia tidak tahu, dia tidak dapat berpikir dengan jelas apa yang benar-benar dirinya inginkan. Di kala Delia tengah dilema dengan pikirannya yang berantakan, terdengar suara mobil baru saja masuk ke halaman rumah. Keluarga Prasetya telah tiba. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu, dan sosok wanita cantik, berpenampilan menarik dan awet muda berjalan menuju ke sisi ranjang di mana Delia masih betah dengan posisinya. "Keluarga Morgan sudah tiba, papamu meminta mama menjemputmu supaya turun ke bawah." Wanita yang terlihat awet muda itu biasa dipanggil Mama Sarah, ibu tiri Delia. "Apa Paman Halim dan Raffi ada di bawah juga, Ma?" Dia harap kata tidak lah yang akan di dengarnya, tapi sayang sekali dia harus kecewa karena gelengan kepala dari Mama Sarah yang dilihatnya. "Cepat bersiap, lalu turun. Tidak sopan membuat tamu menunggu lama. Apalagi ini merupakan hari bahagia keluarga kita." "Beri aku waktu beberapa menit buat ganti baju, setelah selesai, aku akan langsung turun." ujar Delia enggan, tapi tetap setuju. Sarah yang sudah berniat pergi kemudian terhenti di tengah jalan begitu suara Delia terdengar memanggil. "Apa Elsa akan pulang?" "Kau tidak perlu khawatir, begitu hari ini sudah diputuskan kapan tanggal pernikahan kalian resmi diadakan, Elsa akan Mama suruh pulang. Kau tidak perlu memikirkan adikmu, fokus saja pada pernikahan dan jangan kecewakan kami." Jangan kecewakan kami! Pintu kemudian tertutup, Delia hanya bisa terduduk pasrah dengan sepasang mata nanar menatap lantai marmer kamarnya. "Tidak ada jalan kembali, semuanya telah diputuskan. Setelah ini, apa yang akan terjadi padaku? Jika setelah ini Raffi memutuskan persahabatan kami, apa yang harus aku perbuat?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN