"Duh kenapa sih segala jatuh." Aliza ingin menenggelamkan kepala ke bantal, ekor matanya melirik ke arah pintu kamar mandi karena Gibran ada di sana. Tentu setelah mengomel panjang dan meletakkan tubuh mungilnya ke ranjang ukuran king, bahkan suaminya menumpuk bantal untuk sandaran punggungnya agar nyaman saat duduk. Aliza menghela napas, kemudian tangannya menggapai meja demi meraih ponsel yang tadi di tas selempangnya. Dia harus menjelaskan pada sang kakak agar tidak salah paham lagi. Dicarinya kontak Zelina serta menghubungi berkali-kali, hasilnya nihil. "Ayolah, angkat sebentar saja." Ia menggigit bibir bawahnya cemas. Gibran keluar dari kamar mandi mendekat ke arah perempuan yang masih fokus menempelkan ponsel ke daun telinga, lalu duduk di tepi ranjang. "Kamu menelepon siapa?"

