Sabrina membawa alat praktikum yang baru di beli oleh Pak Bryan untuk di bawa ke laboratorium, entah kenapa harus dia yang bawa alat ini ke lab padahal ada laki-laki di kelas yang bisa dia minta tolong. Dia sepertinya ingin mengerjai ku. Ah dasar pak Bryan kenapa di jadi menyebabkan begini, semenjak kejadian tadi Ina jadi kesal sendiri. Sudahlah mau protes pun tidak bisa dia harus tetap profesional menjalankan perannya sebagai mahasiswi di kampus ini.
Sesuai dengan kesepakatan tadi mereka berdua akan bertemu di luar kampus untuk membahas masalah tadi.
Sabrina mengekori Pak Bryan menuju ke Lab, hanya terdengar langkah mereka tanpa ada pembicaraan lagi.
Bryan dengan langkah cepat sedangkan Ina memilih berhenti sejenak membicarakan Pak Bryan duluan. Terlihat Pak Bryan memberikan kunci lab kepada Mahasiswa untuk membuka Ruang Lab.
Sabrina membiarakan Pak Bryan masuk terlebih dahulu barulah dia masuk belakang.
"Maaf sedikit terlambat ada tamu tadi di ruang ku." Ucap Bryan merasa bersalah sama mahasiswa-mahasiswinya.
"Tidak papa Pak kami bisa mengerti." Ucap teman Ina di lab. Ina mendengarkan dari luar
"Huuh." Ina mengambil napas dalam-dalam sebelum masuk ke Lab dia akan kembali ke stelan wajahnya seperti semula seolah diruangan Pak Bryan tidak terjadi apa-apa tadi.
Dia melangkahkan kakinya masuk ke lab.
"Eh kamu bawa apa Ina butuh bantuan nggak ?" Celetuk Angga.
"Terlambat, gue udah nyampe di lab loe baru nawarin bantuan sekarang ? lain kali tuh peka masa biarkan gue bawa barang berat ini." Ucap Ina dengan nada sindirannya.
"Ka—,
"Ina tolong tarok di depan sini alat nya." Potong cepat Bryan melerai ucapan Sabrina dengan Angga.
"Iya Pak."
Angga mengunci mulutnya rapat ucapannya tidak di lanjutkan lagi.
Sedangkan Ina membawa alat tersebut dan di letakkan di atas meja sesuai dengan yang di perintahkan sama Pak Bryan. Dia kembali ke belakang mencari tempat duduk, mencari bangku yang kosong.
Naswa melambaikan tangan ternyata
Naswa sudah menyediakan bangku kosong di belakang bersama dengan dia. Seperti biasa kalau kelas Pak Bryan para perempuan rebutan untuk duduk di depan, hanya tersisa posisi tempat duduk pada bagian belakang. Kalau dapat di belakang berarti kurang gercep karena kedahulaan yang lain begitulah intinya tidak cuma wanita aja sih pria juga suka belajar dengan pak Bryan apa yang disampaikan mudah dipahami jadi intinya mereka berlomba-lomba duduk diposisi nyaman mereka.
"Kok lama Na..?" Ucap Naswa saat Sabrina duduk di sebelahnya.
"Iya, hampir lumutan aku duduk di luar nungguin tamu pak Bryan keluar dari ruangannya."
"Siapa Na ? kamu lihat nggak siapa Na?" tanya Naswa penasaran.
"Sepertinya Mama nya yang datang soalnya ada panggilan Ma tadi yang aku dengar." Bohong Ina sama Naswa bisa gawat dia harus jujur. Ada waktunya rahasia itu tidak kita umbarkan kepada orang lain karena privasi.
"Owh, pasti Mama mertua kita cantik banget kan Na ?"
"Boro-boro natap dan memperhatikan, aku hanya lihat sekilas aku keburu grogi berhadapan dengan pesona kulkas dua pintu itu apalagi basa basi sama Mama nya. Duh, kamu pikir aku berani. Yang ada aku langsung di skamat oleh Pak Bryan, kita nggak akan bertemu di kelas lagi Wa. Aku cuma duduk di depan ruangan Pak Bryan aku pura-pura sibuk dengan ponsel ku. Untung nggak beku aku di depan ruangannya."
Naswa terkekeh pelan.
"Maaf Wa, aku bohong lagi padahal aku udah di kenali sama Camer Wa. Maaf aku terpaksa merahasiakannya lagi dari mu." Batin Sabrina lagi.
"Hmm, iya juga sih kalau dekat dengan Pak Bryan bawaannya deg degan ya Na. Kadang lupa untuk bernapas."
"Banget.."
"Tapi sekilas ada dong kamu lihat, jadi penasaran Pak Bryan seganteng itu udah pasti Mamanya cantik banget kan Na."
"Sepertinya iya sih, aku nggak memperhatikan dengan jelas tadi, tapi sepertinya yang kamu gambarkan dia benar cantik walaupun aku cuma liat sekilas."
Ina kemudian terpaku, membiarkan riuh rendah suara Pak Bryan sedang menjelaskan di depan, di sekitarnya mendadak menjadi latar belakang yang kabur. Di dalam kepalanya, ingatan itu berputar ulang lagi, tangan Pak Bryan yang kokoh menarik pinggangnya, jemarinya yang mendekap telapak tangan Ina dengan protektif.
“Pinggangku dan tanganku sudah nggak perawan lagi, Wa,” batin Ina berteriak getir. Kalimat itu hanya mampu ia telan sendiri, mengendap menjadi rahasia yang menyesakkan d**a. Ia merasa seolah ada tanda permanen yang tertinggal di sana, sebuah stempel kepemilikan dari seseorang yang bahkan mungkin tidak sadar telah mengubah detak jantungnya menjadi berantakan.
Di tengah lamunan itu, suara Naswa memecah keheningan dengan nada penuh harap yang berbahaya. “Ina, bisa nggak ya kita dapatkan hati Pak Bryan?”
Pertanyaan itu terasa seperti siraman air es yang menyentak Ina kembali ke realita. Ia menoleh, menatap sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan peringatan untuk Naswa dan dirinya sendiri.
“Naswa, tolong hayalannya jangan ketinggian. Kalau jatuh, ini beneran bikin sakit,” ujar Ina pelan namun tajam. Suaranya bukan sekadar teguran untuk Naswa, melainkan mantra pelindung untuk hatinya sendiri yang mulai goyah. “Sekedarnya saja. Jangan terlalu jauh mendekat. Dia bukan level kita, Wa. Jarak antara kita dan dia itu sejauh bumi dan langit.”
Naswa hanya menyengir, sedikit tersipu meski peringatan Ina cukup masuk akal.
“Hehe, ketahuan ya kalau aku suka banget sama Pak Bryan? Habisnya, dia tipe aku banget, Na,” bisik Naswa dengan mata berbinar-binar, membayangkan kemungkinan-kemungkinan indah yang mustahil.
Ina hanya terdiam, kembali membuang muka. Ia tahu benar rasanya berada di posisi Naswa, namun ia juga tahu perihnya menyadari bahwa genggaman tangan tadi hanyalah sebuah ketidaksengajaan bagi Pak Bryan. Dia tidak mungkin mendapatkan Pak Bryan di dunia nyatanya.
"Nanti kamu ada acara nggak ?"
"Hah, kenapa?"
"Malah jadi melamun maksud ku tadi kamu ada acara nggak ..?"
"Aku sibuk bantu Mama ku di toko kue Wa, kalau tidak ada urusan penting tentang kampus aku memilih membantu Mama ku aja dari pada keluyuran nggak jelas , hmm Kecuali kamu yang ngajak aku bisa mempertimbangkannya." Ucap tegas Sabrina.
"Iya juga sih anak Mama banget sih kamu Na."
"Aku cuma punya Mama dan aku tidak ingin Mama ku kerjain sendiri makanya pulang kuliah aku langsung ke toko kue cuma itu yang tersisa untuk kami."
Naswa mengangguk mengerti. "Aku ikut prihatin Na, tapi minggu besok aku mau pesan roti Mama mu Na untuk aku bagikan untuk anak-anak panti."
"Siap, Makasih ya wa selalu jadi langganan di toko Mama."
"Sama-sama."
"Kalian berdua di belakang kalau mau ngobrol di luar saja, jangan di kelas saya." Ujar Bryan tegas.
Seketika pandang itu langsung menuju ke arah kami berdua seolah sedang di adili sebagai tersangka.
"Maaf Pak ucap Sabrina." Mereka berdua merasa bersalah sudah larut dalam obrolan membicarakan orang di depan matanya sendiri. Membicarakan tentang Pak Bryan tidak pernah bosan dan tidak pernah ada habisnya terlalu sayang untuk dilewatkan. Mereka kembali fokus mendengarkan penjelasan Pak Bryan.
Alat yang dibawa Ina tadi benar bukan sembarang alat, pantasan dia menyuruh aku membawanya secara pelan-pelan. gila itu alat lab, bisa untuk membayar hutang papa dan untuk biaya hidup.
Setelah melihat pak Bryan memperagakan alat baru dan di uji dengan bahan yang digunakannya mendapatkan reaksi wow dari mahasiswa-mahasiswi untuk ingin tahu. Tidak salah lagi di gemari para Mahasiswi udah pintar dan jago lagi di lab.
Setelah belajar d lab, kami pun keluar. Lab kembali di kunci kami kembali ke kelas untuk mengikuti satu mata kuliah lagi hari ini.
Layar ponsel Ina tiba-tiba menyala, menampilkan sebaris pesan singkat yang terasa lebih seperti perintah daripada sebuah ajakan.
"Nanti malam kita akan bertemu di restoran, PENTING!!"
Ina terpaku di bangku kelasnya. Napasnya tertahan sejenak. Pikiran liar mulai berkejaran di kepalanya, mencoba mencari makna yang tepat untuk pertemuan ini.
"Apakah ini bisa dibilang makan malam romantis? Sebuah kencan?"
"Tidak, tidak! Ngaco kamu, Ina!" batinnya memekik, mencoba menghalau rona merah yang hampir menjalar ke pipinya. Ia memejamkan mata kuat-kuat, memaksa logikanya untuk kembali berkuasa. "Mana ada hal seperti itu. Ingat, kamu masih dalam masalah. Fokus, Ina, fokus!"
Ia tahu benar bahwa pertemuan ini adalah buntut dari insiden yang terjadi sebelumnya. Bayang-bayang tangan Pak Bryan di pinggangnya kembali melintas, membuat konsentrasinya buyar seketika. Masalah ini belum kelar.
Suasana kelas yang bising perlahan memudar dari pendengarannya. Ina menghela napas panjang, sebuah embusan napas dengan beban kecemasan. Ternyata, urusan dengan Pak Bryan tidak sesederhana yang ia bayangkan. Pria itu bukan sekadar dosennya saja tetapi sosok yang sangat jauh untuk dia gapai secara nyata karena Pak Bryan ibaratnya sebuah labirin yang semakin Ina masuki, semakin membuatnya tersesat.
Dengan jari yang sedikit gemetar, Ina mengetik balasan singkat. Sebuah persetujuan yang ia kirimkan bersamaan dengan debar jantung yang tak kunjung tenang. Pesan terkirim. Tak ada jalan kembali. Malam ini, ia harus menghadapi sang badai di sebuah meja restoran, tanpa tahu apakah ia akan pulang dengan jawaban atau justru masalah yang lebih besar.
***