Bab 1. Dijodohkan Dengan Duda

1022 Kata
“Apa kata Mama? Dijodohkan?! Nggak, Ma! Acha sama sekali nggak setuju!” Keterkejutan muncul di wajah Acha, ketika mamanya mengatakan bahwa ia akan dijodohkan. “Ini yang terbaik untuk keluarga kita, sekaligus untuk perusahaan. Kamu tahu kan, Mama dan Papa sudah mempertahankan perusahaan keluarga kita itu dengan susah payah,” kata Tania. Wanita itu tampak menggeram, mendapati penolakan putrinya. “Ya terus, apa hubungannya Acha sama perusahaan dan perjodohan ini?” tanya Acha dengan napas yang terengah. Ia murka dengan keputusan sepihak dari kedua orang tuanya. Tak ada pembicaraan mengenai persetujuan Acha akan perjodohan itu sebelumnya. “Nak, jangan keras kepala! Perusahaan kita saat ini sedang diambang kehancuran. Perusahaan keluarga kita akan gulung tikar karena korupsi yang dilakukan oleh salah satu petinggi perusahaan. Oleh karena itu, kita membutuhkan investor yang mau menanamkan modalnya besar-besaran,” terang Aryo. “Pa! Kalau perusahaan memang butuh investor, cari aja! Nggak perlulah kalian jodohkan Acha! Acha masih muda, belum mau membina rumah tangga. Lagipula, Acha cantik dan baik. Banyak cowok yang mau Acha. Kalian nggak perlu khawatir kalau anak kalian ini nggak laku,” tolak Acha. "Acha, Mama mohon! Ini yang terbaik buat kamu dan buat kita semua," ucap Tania. "Kalian bisa cari cara lain. Jangan maksa!" kukuh Acha. “Kami sudah memikirkan strategi terbaik untuk tetap mempertahankan perusahaan sekaligus membuatnya menjadi besar. Satu-satunya cara terbaik yang kami temukan adalah menjodohkan kamu dengan anak dari rekan kerja kami. Kamu pasti mau dengan orang itu. Selain kaya raya, dia juga baik. Kamu tidak akan pernah menyesal jika menikah dengannya!” sahut Aryo. Acha mengusap wajahnya dengan frustasi. Jadi, ini alasan kedua orang tuanya kembali dari luar kota? Mereka hanya ingin menjadikannya sebagai tameng, supaya perusahaan tetap berdiri. Tertawa sinis sekaligus miris, Acha mentertawakan nasibnya sendiri. “Apa yang paling penting bagi kalian, selain perusahaan? Kalian bahkan nggak peduli sama Acha!” ujarnya dengan lirih. “Ini semua yang terbaik buat kamu. Pernikahan nggak akan berlangsung dalam waktu cepat. Kamu dan dia bisa saling mengenal terlebih dahulu. Kalian punya waktu untuk saling memahami satu sama lain,” ujar Aryo. “Kalian benar-benar orang tua yang egois! Kalian memang selalu mementingkan hal lain terutama perihal perusahaan dan juga harta yang kalian punya, dibanding Acha. Sejak kecil, Acha nggak pernah merasakan kasih sayang kalian, seperti anak-anak pada umumnya. Rumah ini yang jadi saksi, betapa Acha kesepian. Hanya ada nenek dan Bu Sari yang menemani hari-hari Acha. Sementara orang tua Acha sendiri, lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja!” “Acha, cukup! Papa dan Mama tidak mau lagi mendengar penolakan dari kamu! Papa dan Mama mengatakan hal ini, bukan untuk kamu tolak. Pergi ke kamarmu dan beristirahatlah sebentar! Jam tujuh nanti, kita berangkat. Papa sudah mengatur pertemuan ini,” ucap Aryo. Acha semakin tersenyum dengan miris. Ia tak lagi menjawab ucapan dari orang tuanya dan memilih untuk meninggalkan ruang tamu, menuju kamarnya sendiri. *** Malam tiba. Seperti yang telah dikatakan oleh kedua orang tuanya, saat ini Acha sudah berada di sebuah restoran mewah bintang lima. Restoran yang tentunya dikhususkan untuk orang-orang berdompet tebal. Raut wajah kegembiraan terlihat dengan jelas dari kedua orang tuanya. Sementara Acha, dia hanya berdiam diri dengan wajah yang datar sembari menatap kedua orang tuanya yang terus saja tersenyum. Ia berdecak kesal, “Gila! Ini benar-benar gila!” gumam Acha. Tak lama kemudian, pintu ruangan VIP itu terbuka. Seorang wanita baya dengan tongkat sebagai penyangga, masuk ke dalam ruangan itu. Melihat kedua orang tuanya berdiri dan menyambut, Acha turut melakukan hal yang sama. “Hai, Anak Manis. Kamu pasti Acha, ‘kan?” tanya wanita itu. Acha tersenyum, “Iya, Nenek. Saya Acha. Salam kenal,” sapa Acha dengan sopan. Meskipun ia marah dengan kedua orang tuanya, tak mungkin ia memperlihatkan itu di hadapan orang lain. “Sopan sekali, putrimu ini, Aryo. Dia sudah tumbuh besar, ya? Cantik dan baik. Dia pasti sangat cocok dengan putraku,” ujar wanita baya itu. “Tentu saja, Bu Endah. Dia sangat cocok dengan putra Anda. Kami mendidiknya dengan baik dan penuh kasih sayang,” kata Tania. Acha berdecih dan mencibir. “Boro-boro mendidik. Nanyain anaknya udah makan apa belum aja nggak pernah,” kata Acha dalam hati. Gadis itu kemudian melongok ke arah pintu. Ia tak mendapati adanya laki-laki yang datang bersama nenek tadi. Jujur saja, ia sedikit penasaran dengan seseorang yang akan dijodohkan dengannya. Menyadari jika Acha mencari seseorang, Aryo berseru, “Lihatlah putriku, Bu! Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon suaminya,” katanya. “Iya. Dia tampak tidak sabar untuk bertemu. Mama yakin, kalian akan cocok. Dia laki-laki yang mapan, bertanggung jawab dan tentunya memiliki hati yang baik,” sahut Tania. “Anak kita benar-benar tidak akan menyesal.” Bu Endah tertawa, “Benarkah?! Maaf ya, Sayang. Calon suamimu itu sedang memenangkan putrinya yang merajuk.” Terkejut, itulah yang dirasakan oleh Acha. “Putri?!” “Iya. Cucuku sedang merajuk karena tidak mau diajak makan malam. Maklum saja, anak-anak memang suka rewel, apalagi bertemu dengan orang baru,” ujar Bu Endah. “Jadi, dia seorang duda?” tanya Acha, dengan tatapan yang semakin terkejut. Belum selesai keterkejutan Acha mengenai calon suaminya yang ternyata duda beranak, pintu tiba-tiba terbuka dan seorang laki-laki tampan memasuki ruangan itu. “Selamat malam, Semuanya. Mohon maaf, saya terlambat. Diora rewel sekali,” kata laki-laki itu. Acha seketika membatu di tempat. Kesadarannya seolah menguap setelah menyadari kehadiran orang itu. “Dia ....” tunjuk Acha. “Nak, perkenalkan! Dia Dirga, putra ibu yang paling bungsu. Dia calon suami kamu!” Acha seketika terduduk. Kakinya terasa lemas. Ia berkata dengan lirih, “Nggak! Ini nggak mungkin.” Sama seperti Acha. Laki-laki bernama Dirga itu juga sama terkejutnya kala melihat keberadaan Acha. “Acha, kamu ....” “Kalian sudah saling mengenal?” tanya Aryo, yang mulai menyadari situasi canggung ini. “Pa. Papa yakin kalau dia calon suami Acha?” tanya Acha dengan suara yang bergetar. Begitu juga dengan Dirga, ia menuntut jawaban yang sama dari Aryo, melalui tatapannya. “Iya. Dia calon suami kamu. Kenapa? Ada masalah?” tanya Bu Endah. Ia kemudian menatap pada Dirga, “ada apa ini, Dirga?” tanyanya. “Acha ini tetangga sekaligus mahasiswi Dirga, Bu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN