Suasana kampus tampak ramai dengan mahasiswa yang menonton pertandingan basket, di lapangan utama. Hari ini adalah pertandingan antar kampus yang tentunya diikuti oleh kaptennya.
Acha berdiri di sisi lapangan bersama dengan Naura dan Jessica. Ketiganya tampak histeris kala Miko berhasil mencetak score.
"G*la! Miko keren banget, Acha," kata Jessica.
"Dia pinter main taktik yang nggak bisa ditebak lawan. Miko emang nggak pernah mengecewakan," puji Naura.
Acha dari teman-temannya itu dengan senyum bangga. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa Miko adalah kekasihnya, sebagai wujud dari rasa bangga itu sendiri. Akan tetapi, mereka menjalani hubungan backstreet.
"Siapapun yang jadi pacarnya Miko nanti bakalan jadi cewek paling populer. Cowoknya aja bisa sekeren itu," ujar Jessica lagi.
"Kenapa nggak lo aja yang jadi pacarnya? Semua orang tahu kalau lo suka sama dia dari jaman SMA," kata Naura.
Jessica menjawab dengan anggukan kepala. "Andaikan Acha sama Miko nggak deket, udah gue embat juga itu anak orang."
"Kenapa jadi gue?" tunjuk Acha pada dirinya sendiri.
"Ya karena semua orang tahu kalau kalian emang sedekat itu. Mungkin aja 'kan, kalau kalian itu pacaran tapi backstreet." Jawaban dari Jessica membuat Acha tersentak.
Gadis itu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak fakta yang disampaikan oleh Jessica. Tidak ada siapapun yang boleh mengetahui hubungannya dengan Miko.
"Mungkin aja 'kan. Lagipula, kalau kalian emang lagi backstreet, nggak mungkin juga gue ngedeketin pacar temen gue sendiri."
Entah kenapa, mendengar ucapan dari Jessica, Naura tampak berdehem pelan. Ia memandang ke depan dan mengalihkan perhatian yang lainnya. "Udah ngobrolnya. Lihat pertandingan yang lagi seru," ucap gadis itu.
Acha dan Jessica kembali fokus pada pertandingan hingga kemudian sorak-sorai set pertama berakhir pun terdengar.
Di lapangan sana, Miko tampak tersenyum ke arah tiga gadis itu yang langsung membuat Jessica dan Naura tampak tersipu malu. Terlebih lagi, Miko berlari ke arahnya.
Akan tetapi, wajah penuh rasa kecewa tergambar di wajah Naura ketika Miko ternyata menghampiri Acha dan meminta air dari gadis itu.
"Keren nggak, gue mainnya?" tanya Miko dengan tersenyum bangga sembari menepuk dadanya sendiri.
Jessica sontak mengacungkan dua jempol. "Miko emang nggak pernah ada tandingannya," jawab gadis itu.
Acha menganggukkan kepalanya dengan setuju. Ia menatap pada Miko dengan perasaan yang terus saja menggebu-gebu. Akan tetapi, tiba-tiba sekelebat bayangan Dirga muncul di otaknya.
Hal ini langsung membuat Acha mundur dua langkah dengan refleks yang cepat. Miko tentu saja terkejut. Ia bertanya dengan perasaan yang khawatir. "Are you oke?"
Acha menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap pada Miko dengan perasaan yang tidak nyaman. Statusnya sebagai seorang istri membuat dirinya merasa tidak nyaman berada di dekat Miko. Apalagi dengan janjinya yang telah dibuat bersama Dirga semalam.
"Kalau nggak sehat, mending ke ruang kesehatan aja," kata Jessica.
"Gue nggak papa kok. Semuanya baik-baik aja," jawab Acha.
Apa yang dia katakan tentu saja berbanding terbalik dengan perasaannya yang berperang. Ia benar-benar bingung untuk menentukan sikap. Miko adalah kekasihnya, tapi di sisi lain ada Dirga yang telah menjadi suaminya.
"Kalau ada apa-apa, jangan ragu buat cerita. Lo kelihatan nggak sehat. Keringat dingin juga," ujar Miko.
Perhatian Miko semakin membuat perasaan Acha tak karuan. Hatinya merasa sangat bersalah telah menghianati kekasihnya. Meskipun tahu bahwa ini bukanlah kesalahan yang dia buat, tapi Miko telah dilukainya.
"Gue pergi dulu," ujar Acha yang kemudian meninggalkan area lapangan.
Sementara Acha meninggalkan lapangan, Dirga yang sejak tadi memperhatikannya pun bergegas mengikuti sang istri.
Hingga tiba di depan ruang kesehatan. Dirga segera menarik tangan Acha dan membawanya masuk.
Acha tentu saja terkejut. Namun, ia cepat mengendalikan diri setelah mengetahui bahwa itu adalah Dirga.
"Hai, Istri," kekeh Dirga, menyapa Acha.
Acha memerah mendengar panggilan dari Dirga. "Om ngapain di sini?" tanya Acha.
"Mas dari tadi kangen sama kamu," kekeh Dirga.
Acha terbengong. "Ada-ada aja sih," kekehnya kemudian.
"Panggilannya diganti, ya? Jangan Om kalau lagi berdua. Serasa p*****l yang lagi mojokin anak SD," jawab Dirga yang membuat Acha terkekeh.
"Om kan memang p*****l," jawab Acha.
Dirga mengacak rambut Acha dengan gemas. "Ada-ada aja. Panggil saya dengan sebutan 'Mas' saat berdua. Kalau di kampus, terserah kamu," ujar Dirga.
"Emang boleh?"
"Boleh. Kenapa juga nggak boleh? Kan istri sendiri," jawab Dirga dengan santai.
"Oh ya, nanti habis pulang kuliah, kita langsung ke rumah sakit. Hari ini Ibu diperbolehkan pulang," sambung Dirga.
"Oh, oke."
Obrolan keduanya terhenti dengan rasa canggung di perasaan masing-masing. Acha tersenyum malu-malu, sementara Dirga juga salah tingkah karenanya.
"Mas keluar dulu kalau gitu," kata Dirga yang kemudian segera keluar dari ruang kesehatan.
Sementara itu, Acha memegangi dadanya. Ia mendadak sesak dengan keberadaan Dirga yang selalu membuat jantungnya bekerja dua kali lebih cepat.
"Rasanya kayak orang selingkuh, takut ketahuan sama pacar," ucap Acha.
"Oke. Lo harus tenang, Acha. Jangan salah tingkah. Itu nggak baik buat kesehatan hati dan pikiran."
***
Dirga yang sedang duduk di ruang dosen melihat Miko yang masuk ke dalam ruangan itu. Melihat Miko yang mengendap-endap masuk, membuat ia sedikit curiga.
Posisinya saat ini tertutup oleh tirai, membuat dirinya mungkin tak terlihat dari posisi keponakannya.
"Sedang apa dia di sana?" batin Dirga. Miko melihat sekeliling, menanti apakah ada hal lain yang dilakukan keponakannya itu. Namun, tidak ada apa-apa.
Miko kemudian meletakkan paper bag berwarna merah di atas meja seorang dosen wanita. Itu semakin membuat Dirga bertanya-tanya, kenapa Miko membawa paper bag itu ditangannya.
"Tingkahnya ada-ada aja. Dia pasti sedang menyogok Miss Chelsea supaya memberinya nilai plus. Anak-anak jaman sekarang memang suka lulus dengan instan."
Miko segera pergi setelah meletakkan benda itu. Dirga mengacuhkannya dan berpikir bahwa Miko sama seperti mahasiswa lainnya. Ada banyak sekali mahasiswa yang terkadang memberikan makanan atau hadiah pada dosennya supaya diberi nilai baik.
Dirga berjalan menuju mejanya dan ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia membuka pesan dan tersenyum mendapati pesannya dibalas oleh Acha.
"Kamu makan siang dengan apa?" ketik Dirga dalam baris pesan itu.
Jawaban dari Acha yang mengatakan bahwa dia memakan bakso di kantin, membuat dirinya tersenyum semakin lebar.
Dirga tampak seperti remaja kasmaran. Wajahnya tersipu dengan gurat bahagia yang tergambar dengan jelas di wajahnya.
Hingga kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor lain, membuat Dirga terbelalak. "Ini tidak mungkin. Ini benar-benar tidak mungkin!"
Dirga langsung keluar dari ruangannya. Meninggalkan beberapa pekerjaan yang masih menumpuk di dalam ruangan.