SALMA POV
Hari ini aku berangkat ke Bali bersama Rico. Rasanya jantungku berdebar kencang saat membayangkan berdua bersamanya. Aku membawa pakaian secukupnya dan aku berharap kami segera kembali ke Jakarta dengan selamat. Entah kenapa aku merasa harus menjaga jarak dengannya karena aku tau sampai kapanpun perasaanku terhadapnya tidak akan terbalas.
Aku hanya bisa memendam perasaan cintaku terhadapnya dan aku tau diri jika aku bukanlah siapa - siapa baginya. Kami mendarat di Bali pukul sembilan pagi dan kami langsung pergi menuju ke hotel. Kami menempuh perjalanan hampir setengah jam sampai kami tiba di hotel. Beruntung kamar kami tidak bersebelahan sehingga aku bisa menjaga jarak dengan Rico.
Aku berusaha bersikap seprofesional mungkin saat berhadapan dengannya karena aku tidak ingin urusan pribadi bercampur dengan pekerjaan. Aku sangat senang ketika mendapat kamar yang dekat dengan pantai sehingga aku bisa melihat pemandangan laut yang sangat indah. Tidak beberapa lama Rico menghubungiku dan ia memberitahuku untuk menemuinya di restoran hotel.
Lalu aku turun ke lantai bawah dan pergi menuju ke restoran. Saat masuk ke dalam restoran, aku sangat terkejut dengan dekorasi restoran yang sangat indah dan mewah. Tidak beberapa lama aku menemukan Rico sedang duduk di dekat kolam ikan dan aku datang menghampirinya. Rasanya aku tidak bisa berhenti mengagumi ketampanannya yang memukau.
" Akhirnya kau datang juga. Sebentar lagi Tuan Takeshi akan datang menemui kita dan aku harap kau sudah mempersiapkan semua dokumen untuk di tanda tangani oleh Tuan Takeshi." kata Rico sambil menatapku dengan tatapan yang sulit ku mengerti.
" Saya sudah menyiapkan semua dokumen yang di butuhkan jadi anda tenang saja." kataku sambil menyembunyikan kegugupanku di hadapannya.
Tidak beberapa lama pelayan datang membawakan minuman dan makanan ringan di atas meja. Aku yakin Rico sudah terbiasa dengan pelayanan fasilitas mewah karena ia seorang pengusaha dan sering menjamu kliennya di tempat mewah. Satu jam kemudian, Tuan Takeshi datang bersama anak buahnya dan menurutku beliau sekelas konglomerat di Jepang.
Aku dan Rico memberi hormat dengan membungkukkan badan ke arah Tuan Takeshi, begitu juga dengan Tuan Takeshi yang membungkukkan badan di hadapan kami. Lalu berlanjut ke pembahasan bisnis yang akan di laksanakan bulan depan dan Tuan Takeshi setuju untuk menanam modal di perusahaan Rico.
Ku akui Rico sangat handal dalam membujuk Tuan Takeshi untuk menanamkan modal di perusahaannya dan aku semakin kagum terhadap Rico. Entah kenapa aku merasa Tuan Takeshi tidak berhenti menatapku sehingga membuat Rico sedikit tidak suka akan hal itu meskipun aku sangat heran alasan Rico bersikap demikian.
Setelah selesai membahas bisnis, Rico buru - buru mengajakku untuk berpamitan kepada Tuan Takeshi. Lalu ia mengajakku untuk masuk ke dalam kamarnya dan saat itu aku semakin gugup saat berdua di dalam kamarnya. Aku mencium aroma parfum yang sangat khas dan rasanya aku tidak bisa berpikir jernih saat Rico menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
" Maaf jika aku mengajakmu untuk masuk ke dalam kamarku karena ada yang ingin aku sampaikan padamu." kata Rico dengan nada yang sangat serius dan sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku.
" Apa yang ingin anda sampaikan kepada saya?" tanya ku dengan rasa penasaran.
" Sejujurnya aku tidak suka saat Tuan Takeshi melihatmu dengan tatapan ingin menerkammu karena aku...." kata Rico terputus saat ponselnya berbunyi dan ia langsung mengangkat telfon.
Rico langsung pergi ke arah balkon dan ia menelfon sampai setengah jam sampai akhirnya ia kembali padaku dan meminta maaf jika tadi ada sedikit gangguan dari orang kantor. Sejujurnya saat itu aku ingin segera keluar dari dalam kamar Rico tetapi Rico berusaha menahanku dengan ia mencium bibirku secara spontan dan saat itu aku tidak bisa melawan karena aku terhanyut oleh ciumannya yang memabukkan.
Tiba - tiba ponselku berbunyi dan Rico langsung melepaskan ciumannya di bibirku dan aku langsung menjawab telfon dan ternyata tetanggaku, Mira, yang menghubungiku. Ia memberitahu jika saat ini ayahku sedang di rawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan kerja saat berada di pabrik dan rasanya saat itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih karena aku sangat takut terjadi sesuatu terhadap ayah.
Setelah selesai menelfon, Rico datang menghampiriku dan ia menanyakan apa yang terjadi. Lalu aku bercerita padanya jika ayahku mengalami kecelakaan kerja dan sekarang di rawat di rumah sakit. Tiba - tiba Rico menanyakan nomor rekeningku dan ia ingin membantu biaya pengobatan ayah dengan mentransfer sejumlah uang ke rekeningku tetapi aku menolaknya karena aku tidak ingin merepotkan orang lain tetapi ia tetap memaksaku sehingga aku memberitahu nomor rekeningku.
" Seharusnya anda tidak usah repot - repot membantu ayah saya karena itu sudah tanggung jawab perusahaan jika terjadi sesuatu kepada karyawannya." kataku tanpa berani menatapnya apalagi setelah ia menciumku secara spontan.
" Aku tidak merasa di repotkan. Justru aku sangat senang membantu ayahmu. Aku sudah mentransfer ke rekeningmu dan semoga uang itu sangat bermanfaat untuk biaya pengobatan ayahmu." kata Rico sambil tersenyum padaku dan ia mengambil telapak tanganku dan menciumnya dengan lembut.
Rasanya saat itu jantungku berdebar kencang saat Rico tidak melepaskan tangannya dariku dan tiba - tiba ia memeluk tubuhku sangat erat sehingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Lalu ia membisikkan kata cinta di telingaku dan membuat diriku melayang seperti terbang ke angkasa. Dan Rico melanjutkan ciumannya dan aku tidak bisa menolaknya karena saat itu aku sangat menginginkannya.
***
Aku terbangun ketika waktu menunjukkan pukul lima sore dan aku menyadari jika aku tidur di sebelah Rico yang tidak mengenakan apapun. Sama hal nya sepertiku dan aku teringat ketika kami melakukan sesuatu yang sangat terlarang dan sekarang aku sangat menyesalinya. Sesuatu yang dari dulu selalu ku jaga untuk suamiku kelak kini hilang di ambil oleh pria yang aku cintai.
Aku hanya bisa menangisi kebodohanku dan Rico terbangun saat aku menangis terisak. Lalu ia berusaha memelukku tetapi aku berusaha menjauh darinya dan aku langsung bangkit dari tempat tidur dan mengambil pakaianku yang berserakan di lantai. Lalu aku dengan cepat memakai bajuku dan aku berlari keluar dari kamar Rico dengan menahan kesedihan di dalam hati.
Aku mendengar Rico berteriak memanggil namaku tetapi aku tidak menghiraukannya sampai aku masuk ke dalam kamarku dan aku membanting pintu dengan kasar karena aku merasa sudah tidak berharga lagi sebagai seorang wanita. Tiba - tiba Rico mengetuk pintu kamarku dan aku tidak membukakan pintu untuknya karena saat ini aku tidak ingin bertemu dengannya.
" Salma! tolong buka pintunya! aku mohon tolong maafkan aku." kata Rico sambil memohon padaku.
Berulang kali Rico memohon padaku tetapi aku tetap diam membisu di atas ranjang sampai akhirnya Rico pergi. Rasanya saat ini aku ingin segera pulang untuk menemui ayah yang di rawat di rumah sakit tetapi aku tidak bisa pulang begitu saja karena aku harus berada di Bali sampai pekerjaanku selesai.
Aku berusaha menghubungi Mira dan menanyakan kabar ayah. Mira memberitahuku jika kondisi ayah sudah membaik dan lusa di perbolehkan pulang oleh dokter. Aku sangat bersyukur mengetahui kondisi ayah dalam keadaan baik - baik saja. Setelah selesai menelfon, aku mandi dan berusaha membersihkan diri agar aku tidak teringat peristiwa yang membuatku hancur.
Rasanya aku tidak bisa berhenti menangis mengingat peristiwa itu dan rasanya aku sangat malu untuk bertemu dengan orang tuaku karena aku tidak bisa menjaga diri dengan baik. Setelah selesai mandi, aku mendengar ponselku berdering. Lalu aku langsung mengangkatnya dan ternyata Rico yang menghubungiku.
Ia meminta maaf padaku dan menyuruhku untuk makan malam dengannya. Tetapi saat itu aku menolak karena aku ingin beristirahat di kamar. Tiba - tiba telfon terputus dan aku berusaha untuk memejamkan mata tetapi tidak bisa karena sejujurnya saat ini badanku sangat lemas. Tidak beberapa lama ada seseorang yang mengetuk pintu dan pria itu mengaku adalah petugas hotel.
Lalu aku membuka pintu hotel dan ternyata di sana ada Rico. Saat aku berusaha menutup pintu, Rico sengaja menghalangiku sehingga ia bisa masuk ke dalam kamar. Rico terlihat sangat khawatir padaku dan ia mengajakku untuk makan malam bersama karena ia tau wajahku sangat pucat.
" Salma, kau harus makan malam bersamaku karena kau butuh makan." kata Rico sambil menarik tanganku tetapi aku berusaha melepas tangannya karena aku tidak ingin makan malam bersamanya.
" Saya tidak lapar dan sebaiknya anda saja yang makan malam." kataku dengan nada ketus tanpa memperdulikan perasaannya.
" Ayolah, aku mohon kau harus makan karena wajahmu sangat pucat dan kau sangat lemas sekarang. Aku tidak ingin melihatmu jatuh sakit karena kau tidak makan." kata Rico dengan nada memaksa dan rasanya saat itu aku sangat membencinya karena perbuatannya padaku.
Tiba - tiba aku terjatuh ke lantai dan Rico langsung mengangkat tubuhku ke atas ranjang dan ia meminta tolong pada petugas hotel untuk membawakan makanan untukku. Saat itu Rico terlihat sangat cemas memikirkan kondisiku dan tidak beberapa lama petugas hotel membawakan makanan untukku dan Rico berusaha menyuapiku meskipun aku berusaha menolak untuk makan.
Entah kenapa aku merasa bersalah terhadap Rico karena aku bersikap dingin terhadapnya padahal ia sangat mencemaskanku dan ia menyesali kesalahannya padaku. Lalu aku mengambil makanan yang baru saja ia letakkan di atas nakas dan menghabiskan makanan itu sampai tidak bersisa.
Rico terlihat sangat senang dan ia mengucapkan permintaan maaf padaku karena telah membuatku terluka dan aku memaafkan kesalahannya meskipun aku belum bisa seratus persen melupakan apa yang pernah terjadi. Setelah selesai makan, Rico menyuruhku untuk beristirahat karena besok kami akan melakukan pertemuan dengan Tuan Takeshi dan Rico tidak ingin aku jatuh sakit karena kelelahan.
Lalu ia pergi dari kamarku dan aku mencoba untuk beristirahat. Aku berusaha memejamkan mata tetapi tidak bisa karena aku masih memikirkan kejadian tadi siang dan rasanya aku sangat malu terhadap diriku sendiri karena tidak bisa menjaga kehormatan diriku sendiri. Semoga aku bisa melupakan kejadian hari ini agar tidak berpengaruh terhadap hubunganku dengan Rico karena bagaimana pun juga Rico adalah atasanku dan aku tidak ingin kehilangan pekerjaan karena sikapku yang kurang baik padanya.