Selepas kepergian Adipati, Cahaya kemudian membuka pintu kamar kost Wulandari. Dia meraba-raba dinding untuk mencari sakelar lampu kamar. Seketika itu, lampu menyala membuat pandangannya semakin jelas. Cukup lama dirinya berdiri meneliti keadaan kamar. Di sinilah kali ini Cahaya, harus hidup sementara di sebuah kamar sempit dengan fasilitas sebuah kamar mandi di dalam. Tempat tidur untuk ukuran satu orang. Lemari pakaian dua pintu. Tidak ada dapur. Semuanya terlihat sederhana, baginya. Tidak sekali pun dia merasakan hidup dalam kontrakan sempit seumur hidupnya. Sejak dirinya lahir, dia telah dilimpahkan kasih sayang dan juga harta yang melimpah. Sebagai puteri satu-satunya, orang tuanya selalu mengikuti kehendak hatinya. Namun, jika memikirkan kembali semuanya. Salah satu penyebab semua

