Wulandari merasa kali ini dia tidur lebih panjang dari sebelumnya. Masih terekam jelas di ingatannya saat dia jatuh ke dalam danau. Dia merasa saat itu hidup dan matinya. Berada di dalam air, membuatnya sulit untuk bernapas, kepalanya terasa ingin pecah. Ini sangat berbeda dengan saat dia kecelakaan dahulu, saat tenggelam dia menyaksikan detik demi detik dirinya menuju ambang kematian. Sekali lagi, satu kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan diterimanya. Saat dia membuka matanya pertama kali ada sebuah rasa lega dan juga bahagia ketika dia bisa melihat orang itu sekali lagi. “Wulan!” Cahaya bergegas menghampirinya. Dibandingkan dengan Wulandari, Cahaya lebih dulu sadar. “Bu Aya!” ucap Wulandari tersenyum. “Ki-kita selamat?” tanya Wulandari memastikan. Bisa saja mereka ini sudah tid

