Tidak Direstui

1465 Kata
Mobil yang dikendarai oleh Bram memasuki sebuah apartemen. Sebelumnya Niko sudah meminta Bram mencarikan apartemen baru untuk Lia tinggali. Tentu saja permintaan Lia kost tidak disetujui oleh Niko termasuk bekerja lagi. Niko masih bisa dan lebih dari bisa untuk memenuhi kebutuhan seorang Lia. "Lia sayang, mulai sekarang kita akan tinggal disini?" ucap Niko mengajak Lia masuk kedalam. Bram mengikutinya dari belakang membawakan tas ransel Lia, mungkin ada isi yang penting didalamnya. Mungkin karena kebanyakan berfikir Lia menjadi tidak fokus. Niko mendudukannya di sofa ruang tamu, dia tau Lia sedang kacau, Niko pergi kedapur membuatkan susu untuk Lia, "Minum dulu susunya," Niko duduk disamping Lia menyodorkan segelas susu untuknya satu tangannya membelai rambut panjang Lia. "aku akan selalu jaga kamu. Minum dulu, habis tu kamu istirahat jangan sampai kamu sakit lagi sayang," ucap Niko dengan lembut dia mengganti panggilannya. Sekarang dia lebih nyaman memanggilnya seperti ini. Terdengar seperti sepasang kekasih bukan Setelah minum s**u Niko mengajak Lia kekamar apartemen ini tidak terlalu luas tetapi sangat nyaman cocok untuk Lia. Lia berbaring di ranjang, dia tidak banyak bicara. Niko berbaring disampingnya memeluk tubuh Lia memberikan rasa aman buat gadis itu. Bagi Lia sendiri, untuk saat ini dia merasa nyaman dipelukan ayah sahabatnya. Karena selama ini tidak pernah ada yang melindunginya. Sore hari Niko terbangun sedangkan Lia masih terlelap. Niko mengecup kening gadis yang membuatnya merasakan sesuatu gelenjar aneh dalam hatinya. Tepatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya setelah perceraiannya dengan mantan istrinya. Niko harus menemui putri dan ibunya, menjelaskan apa yang mereka pikirkan tentang Lia itu salah. Justru Lia sendiri adalah korban ketidakberdayaan sedangkan Niko memanfaatkan itu untuk mengikat gadis itu karena dia sudah menaruh hati sejak pertama kali dia melihatnya. Gadis yang ulet dan juga ramah. Niko meminta si mbok yang dia pekerjaan disana beberapa hari ini menginap diapartemen untuk melayani Lia. "Mbok tolong jaga Lia, selama saya pergi. Jangan bukakan pintu selain saya dan Bram, dan jangan biarkan Lia keluar apartemen," titah Niko. "Baik pak, mbok akan menjaga Nona Lia," sahut mbok Surti. Saya pergi dulu saya mau pulang kerumah. Ada banyak urusan yang harus saya selesaikan," ucap Niko melangkahkan kakinya menuju kearah pintu. "Kunci pintu mbok. Ingat pesan saya," kata Niko sebelum meninggalkan apartemen yang khusus dia beli untuk Lia. "Baik Pak," Si mbok langsung mengunci pintu lalu melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu majikannya bangun. * Niko sudah di tunggu oleh Bram yang menangkap menjadi sopirnya. Niko tidak mempercayai sopir yang lain karena mereka begitu mudah diintimidasi oleh Nayra maupun ibunya, berbeda dengan Bram yang hanya setia dengannya saja. "Sudah kamu selesaikan urusan sama Sabrina?" tanya Niko yang duduk di kursi penumpang. "Sudah Tuan, memang Sabrina yang menghubungi Nona Nayra waktu itu, dia cemburu karena tuan bersama wanita lain," jelas Bram sembari mengamati sang majikan dari kaca spion. Bram yakin majikanya kali ini begitu pusing. Bagaimana tidak majikannya jatuh cinta kepada sahabat putrinya sedangkan putrinya sudah memiliki calon idaman yang ingin dia jadikan ibu sambungan. Selama dalam mobil Niko hanya memejamkan matanya bukann karena mengantuk akan tetapi dia berfikir bagaimana cara memberikan pengertian kepada putrinya. Niko sangat menyanyangi putrinya. Apa salah dia jatuh cinta dengan sahabat putrinya sendiri? Tanpa terasa mobil sudah memasuki pelantaran rumahnya. Niko yakin ibunya pasti menginap dirumahnya dari pertama Nayra mengadu kepada sang nenek. "Baru inget pulang kamu Niko . Pelacurmu sekarang lebih penting dari putrimu sendiri." Niko yang baru masuk rumah langsung mendapatkan sambutan seperti itu dari ibunya. Disana tidak hanya ada ibunya ada juga Nayra sama Zara yang memutuskan menginap di rumah itu. Niko yang dasarnya keras kepala tidak peduli dengan ibunya. Dia melangkahkan kakinya dengan santai masuk kedalam rumahnya menaiki tangga menuju kekamarnya. Dia lebih memilih menyegarkan dirinya terlebih dahulu daripada meladeni mereka. Dia akan membahas masalah ini nanti setelah makan malam. Niko melepaskan pakaiannya, memperlihatkan tubuhnya yang kekar. Dia masuk kedalam kamar mandi lalu berdiri dibawah guyuran air Shower. Niko memejamkan matanya bayangkan Lia masuk dalam pikirannya, membuatnya miliknya seketika tegak. Beberapa hari ini dia sudah merindukan menyentuh gadisnya namun karena masalah yang terjadi dia tidak bisa melakukan itu dan terpaksa dia bermain solo menenangkan juniornya. "Niko aku bisa bantu kamu melakukannya bahkan lebih dari itu," suara Zara terdengar ditelinganya. Tangan Zara sudah mulai menyentuh tubuhnya. Niko langsung membuka matanya melihat Zara dengan tidak tau malunya sudah tanpa busana ada dalam ruangan kaca itu. Niko mendorong Zara membilas juniornya lalu keluar dari ruangan kaca itu mengambil bathrobe lalu mengenakannya. Niko menatap tajam tubuh Zara yang masih telanjang, tanpa tau malu Zara berfose sensual dihadapan Niko yang justru membuat Niko menjadi jijik dengan kelakuannya yang sama murahannya dengan wanita-wanita di club malam tempat yang sering Niko kunjungi sebelum mengenal Lia. Sejak menjalani hubungan dengan Lia, Niko tidak pernah lagi mengunjungi tempat seperti itu. "Kelakuan kamu gak jauh beda sama wanita di club malam," cibir Niko.Bibir Zara yang tadi tersenyum tiba-tiba menghilang. Sebuah lemparan bathrobe kearahnya siapalagi yang melakukannya kalo bukan Niko. Niko meninggalkan kamar mandi berjalan kekamarnya. Tangan Niko melipat di d**a menunggu Zara. Tak lama Zara keluar dari kamar mandi dengan balutan pakaian yang sudah lengkap. "Siapa yang memberimu ijin masuk ke kamarku?" ucap Niko dengan tatapan tidak suka. "Niko kita sudah sama-sama dewasa, aku melakukan ini demi Nayra. Dia menginginkan kita hidup bersama. Aku tak akan mempermasalahkan hubungan kamu dengan Lia sebelumnya." "Kamu sangat paham dengan keadaan ini Zara. Dari dulu aku tidak pernah memiliki rasa dengan kamu. Aku hanya menghargai kamu sebagai sahabat mantan istriku tidak lebih," tegas Niko. "Dan jangan pakai Nayra sebagai senjatamu. Aku tau kamu tidak pernah tulus mencintai putriku," imbuhnya dengan mengangkat sudut bibirnya. Zara melangkah lebih mendekat kearah Niko. "Aku jatuh cinta sama kamu dari dulu. Apa kamu tidak paham itu," ucapnya. "Cinta tidak bisa dipaksakan Zara jadi kamu hanya buang-buang waktu saja denganku," sahut Niko. "Kamu tau aku tidak akan menyerah dengan mudah, apalagi demi seorang gadis kecil seperti itu." "Aku mencintai gadis kecil itu dan akan menikahinya. Jika kamu berani menyentuh gadisku aku tidak akan segan-segan menghabisimu," ancam Niko terlihat dia tidak main-main dengan perkataanya Zara melangkah keluar dari kamar Niko sampai di depan pintu kamar dia berhenti. "Aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan," kata Zara kemudian meraih ngagang pintu meninggalkan Niko sendirian di kamarnya. "Kamu memang ular Zara, kamu kira aku ntidak tau kamu dalang dibalik perceraian ku dengan Astrid. Aku bukan Niko yang dulu lagi yang begitu mudah kamu percaya," lirih Niko dengan senyuman yang susah diartikan terbit dari bibirnya. ** Pada saat makan malam Niko turun dari kamarnya, lalu duduk di kursi kepala keluarga. Zara masih ada di rumah ini dan terlihat semakin akrab dengan Nayra dan juga ibunya. Zara memang pintar mengambil hati semua orang dengan kelembutan palsu yang dia tunjukkan. Zara layaknya sebagai seorang nyonya rumah ini melayani Nayra dan Mommy Rianti di meja makan, mengambilkan lauk kepiring dua wanita itu. Nayra selama ini memang begitu nyaman dengan Zara, kelembutan yang ditunjukkan oleh Zara membuatnya menemukan sosok seorang ibu. Niko dan Astrid bercerai saat umur Nayra 3th dan Zara masuk kehidupan Nayra tidak lama setelah perceraian mereka. "Kamu tidak usah melayani aku kamu bukan istriku," cegah Niko saat Zara akan mengambil piring Niko. "ayah, kok ayah kasar gitu sama Tante Zara. Lia ternyata bawa pengaruh buruk untuk ayah," sembur Nayra. "Nayra, gak boleh ngomong gitu sama ayah gak sopan," tegur Zara. "Nayra, jangan pernah menghina Lia lagi dia sahabatmu. Belum tentu yang terlihat baik di depan itu baik dibelakangmu," ucap Niko sembari melirik kearah Zara. Bukan Zara namanya dia pemain hebat. Zara menyunggikan senyuman dibibirnya. "ayah benar, Lia contohnya dia mengkhianatiku. Dibelakangku dia berhubungan dengan ayah" sahut Nayra yang tak mau kalah Kami sudah memiliki hubungan sebelum dia tau kalo ayah adalah ayahmu," jelas Niko. "Berarti dia memang wanita murahan mau berhubungan dengan dua laki-laki sekaligus. Apa ayah tau kalo Lia baru saja putus sama Rey. Jadi selama ini dia juga menghianati Rey juga donk. Entah berapa banyak lagi laki-laki yang sudah mencicipi tubuhnya." Brakkkkkk Suara gebrakan pada meja makan. Niko tidak bisa lagi menahan amarahnya, putrinya ini semakin tak terkendali menghina seseorang tanpa mau mendengar penjelasan orang itu terlebih dahulu. "Niko kamu apa-apan ini," bentak Mommynya. Nayra langsung mengeluarkan air matanya ini pertama kali sang ayah memarahinya. "Gara-gara p*****r itu kamu membentak putrimu Niko," bentak Mommynya lagi sambil memeluk Nayra. "Cucu Mommy mulutnya seperti anak yang gak pernah sekolah," bentak Niko kemudian beranjak dari tempat duduknya. Niko kembali kekamarnya hanya mengambil kunci mobil. "Niko kamu mau kemana?" Niko tidak peduli dia lelah tidak ada ketenangan dirumahnya. "Niko jangan harap mommy akan merestui hubungan kalian." Niko menghentikan langkahnya tanpa menoleh kebelakang. "Aku tidak butuh restu siapapun. Aku sudah dewasa dan bisa mengurus diriku sendiri. Aku akan menikahi Lia meski tanpa restu kalian," Setelah mengatakan itu Niko kembali melangkahkan kakinya. Nayra hendak mengejar ayahnya namun ditahan oleh Zara. "Jangan gegabah Nayra. Kita pakai cara lain pisahin mereka," ucap Zara dengan serigai licik di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN