Mobil yang dikendarai oleh Bram
memasuki sebuah apartemen.
Sebelumnya Niko sudah meminta
Bram mencarikan apartemen baru
untuk Lia tinggali. Tentu saja
permintaan Lia kost tidak
disetujui oleh Niko termasuk
bekerja lagi.
Niko masih bisa dan lebih dari bisa
untuk memenuhi kebutuhan
seorang Lia.
"Lia sayang, mulai sekarang kita
akan tinggal disini?" ucap Niko
mengajak Lia masuk kedalam.
Bram mengikutinya dari belakang
membawakan tas ransel Lia,
mungkin ada isi yang penting
didalamnya.
Mungkin karena kebanyakan
berfikir Lia menjadi tidak fokus.
Niko mendudukannya di sofa ruang
tamu, dia tau Lia sedang kacau,
Niko pergi kedapur membuatkan
susu untuk Lia, "Minum dulu
susunya," Niko duduk disamping
Lia menyodorkan segelas susu
untuknya satu tangannya
membelai rambut panjang Lia.
"aku akan selalu jaga kamu.
Minum dulu, habis tu kamu
istirahat jangan sampai kamu sakit
lagi sayang," ucap Niko dengan
lembut dia mengganti
panggilannya. Sekarang dia lebih
nyaman memanggilnya seperti ini.
Terdengar seperti sepasang
kekasih bukan
Setelah minum s**u Niko
mengajak Lia kekamar
apartemen ini tidak terlalu luas
tetapi sangat nyaman cocok untuk
Lia.
Lia berbaring di ranjang, dia tidak
banyak bicara. Niko berbaring
disampingnya memeluk tubuh
Lia memberikan rasa aman buat
gadis itu. Bagi Lia sendiri, untuk
saat ini dia merasa nyaman
dipelukan ayah sahabatnya.
Karena selama ini tidak pernah ada
yang melindunginya.
Sore hari Niko terbangun
sedangkan Lia masih terlelap.
Niko mengecup kening gadis yang
membuatnya merasakan sesuatu
gelenjar aneh dalam hatinya.
Tepatnya jatuh cinta untuk kedua
kalinya setelah perceraiannya
dengan mantan istrinya.
Niko harus menemui putri dan
ibunya, menjelaskan apa yang
mereka pikirkan tentang Lia itu
salah. Justru Lia sendiri adalah
korban ketidakberdayaan
sedangkan Niko memanfaatkan itu
untuk mengikat gadis itu karena
dia sudah menaruh hati sejak
pertama kali dia melihatnya. Gadis
yang ulet dan juga ramah.
Niko meminta si mbok yang dia
pekerjaan disana beberapa hari ini
menginap diapartemen untuk
melayani Lia.
"Mbok tolong jaga Lia, selama
saya pergi. Jangan bukakan pintu
selain saya dan Bram, dan jangan
biarkan Lia keluar apartemen,"
titah Niko.
"Baik pak, mbok akan menjaga
Nona Lia," sahut mbok Surti.
Saya pergi dulu saya mau pulang
kerumah. Ada banyak urusan yang
harus saya selesaikan," ucap Niko
melangkahkan kakinya menuju
kearah pintu.
"Kunci pintu mbok. Ingat pesan
saya," kata Niko sebelum
meninggalkan apartemen yang
khusus dia beli untuk Lia.
"Baik Pak," Si mbok langsung
mengunci pintu lalu melanjutkan
pekerjaannya sambil menunggu
majikannya bangun.
*
Niko sudah di tunggu oleh Bram
yang menangkap menjadi
sopirnya. Niko tidak mempercayai
sopir yang lain karena mereka
begitu mudah diintimidasi oleh
Nayra maupun ibunya, berbeda
dengan Bram yang hanya setia
dengannya saja.
"Sudah kamu selesaikan urusan
sama Sabrina?" tanya Niko yang
duduk di kursi penumpang.
"Sudah Tuan, memang Sabrina
yang menghubungi Nona Nayra
waktu itu, dia cemburu karena
tuan bersama wanita lain," jelas
Bram sembari mengamati sang
majikan dari kaca spion. Bram
yakin majikanya kali ini begitu
pusing. Bagaimana tidak
majikannya jatuh cinta kepada
sahabat putrinya sedangkan
putrinya sudah memiliki calon
idaman yang ingin dia jadikan ibu
sambungan.
Selama dalam mobil Niko hanya
memejamkan matanya bukann
karena mengantuk akan tetapi dia
berfikir bagaimana cara
memberikan pengertian kepada
putrinya. Niko sangat menyanyangi
putrinya. Apa salah dia jatuh cinta
dengan sahabat putrinya sendiri?
Tanpa terasa mobil sudah
memasuki pelantaran rumahnya.
Niko yakin ibunya pasti menginap
dirumahnya dari pertama Nayra
mengadu kepada sang nenek.
"Baru inget pulang kamu Niko .
Pelacurmu sekarang lebih penting
dari putrimu sendiri." Niko yang
baru masuk rumah langsung
mendapatkan sambutan seperti itu
dari ibunya. Disana tidak hanya
ada ibunya ada juga Nayra sama
Zara yang memutuskan menginap
di rumah itu.
Niko yang dasarnya keras kepala
tidak peduli dengan ibunya. Dia
melangkahkan
kakinya dengan
santai masuk kedalam rumahnya
menaiki tangga menuju
kekamarnya. Dia lebih memilih
menyegarkan dirinya terlebih
dahulu daripada meladeni mereka.
Dia akan membahas masalah ini
nanti setelah makan malam.
Niko melepaskan pakaiannya,
memperlihatkan tubuhnya yang
kekar. Dia masuk kedalam kamar
mandi lalu berdiri dibawah
guyuran air Shower. Niko
memejamkan matanya bayangkan
Lia masuk dalam pikirannya,
membuatnya miliknya seketika
tegak. Beberapa hari ini dia sudah
merindukan menyentuh gadisnya
namun karena masalah yang
terjadi dia tidak bisa melakukan
itu dan terpaksa dia bermain solo
menenangkan juniornya.
"Niko aku bisa bantu kamu
melakukannya bahkan lebih dari
itu," suara Zara terdengar
ditelinganya.
Tangan Zara sudah mulai
menyentuh tubuhnya. Niko
langsung membuka matanya
melihat Zara dengan tidak tau
malunya sudah tanpa busana ada
dalam ruangan kaca itu. Niko
mendorong Zara membilas
juniornya lalu keluar dari ruangan
kaca itu mengambil bathrobe lalu
mengenakannya.
Niko menatap tajam tubuh Zara
yang masih telanjang, tanpa tau
malu Zara berfose sensual
dihadapan Niko yang justru
membuat Niko menjadi jijik
dengan kelakuannya yang sama
murahannya dengan
wanita-wanita di club malam
tempat yang sering Niko kunjungi
sebelum mengenal Lia. Sejak
menjalani hubungan dengan Lia,
Niko tidak pernah lagi
mengunjungi tempat seperti itu.
"Kelakuan kamu gak jauh beda
sama wanita di club malam," cibir
Niko.Bibir Zara yang tadi tersenyum
tiba-tiba menghilang. Sebuah
lemparan bathrobe kearahnya
siapalagi yang melakukannya kalo
bukan Niko.
Niko meninggalkan kamar mandi
berjalan kekamarnya. Tangan Niko
melipat di d**a menunggu Zara.
Tak lama Zara keluar dari kamar
mandi dengan balutan pakaian
yang sudah lengkap.
"Siapa yang memberimu ijin
masuk ke kamarku?" ucap Niko
dengan tatapan tidak suka.
"Niko kita sudah sama-sama
dewasa, aku melakukan ini demi
Nayra. Dia menginginkan kita
hidup bersama. Aku tak akan
mempermasalahkan hubungan
kamu dengan Lia sebelumnya."
"Kamu sangat paham dengan
keadaan ini Zara. Dari dulu aku
tidak pernah memiliki rasa dengan
kamu. Aku hanya menghargai
kamu sebagai sahabat mantan
istriku tidak lebih," tegas Niko.
"Dan jangan pakai Nayra sebagai
senjatamu. Aku tau kamu tidak
pernah tulus mencintai putriku,"
imbuhnya dengan mengangkat
sudut bibirnya.
Zara melangkah lebih mendekat
kearah Niko.
"Aku jatuh cinta sama kamu dari
dulu. Apa kamu tidak paham itu,"
ucapnya.
"Cinta tidak bisa dipaksakan Zara
jadi kamu hanya buang-buang
waktu saja denganku," sahut Niko.
"Kamu tau aku tidak akan
menyerah dengan mudah, apalagi
demi seorang gadis kecil seperti
itu."
"Aku mencintai gadis kecil itu dan
akan menikahinya. Jika kamu
berani menyentuh gadisku aku
tidak akan segan-segan
menghabisimu," ancam Niko
terlihat dia tidak main-main
dengan perkataanya
Zara melangkah keluar dari kamar
Niko sampai di depan pintu kamar
dia berhenti.
"Aku akan mendapatkan apapun
yang aku inginkan," kata Zara
kemudian meraih ngagang pintu
meninggalkan Niko sendirian di
kamarnya.
"Kamu memang ular Zara, kamu
kira aku ntidak tau kamu dalang
dibalik perceraian ku dengan
Astrid. Aku bukan Niko yang dulu
lagi yang begitu mudah kamu
percaya," lirih Niko dengan
senyuman yang susah diartikan
terbit dari bibirnya.
**
Pada saat makan malam Niko
turun dari kamarnya, lalu duduk di
kursi kepala keluarga. Zara masih
ada di rumah ini dan terlihat
semakin akrab dengan Nayra dan
juga ibunya. Zara memang pintar
mengambil hati semua orang
dengan kelembutan palsu yang dia
tunjukkan.
Zara layaknya sebagai seorang
nyonya rumah ini melayani Nayra
dan Mommy Rianti di meja makan,
mengambilkan lauk kepiring dua
wanita itu. Nayra selama ini memang
begitu nyaman dengan Zara,
kelembutan yang ditunjukkan oleh
Zara membuatnya menemukan sosok
seorang ibu. Niko dan Astrid
bercerai saat umur Nayra 3th dan
Zara masuk kehidupan Nayra tidak
lama setelah perceraian mereka.
"Kamu tidak usah melayani aku
kamu bukan istriku," cegah Niko
saat Zara akan mengambil piring
Niko.
"ayah, kok ayah kasar gitu sama
Tante Zara. Lia ternyata bawa
pengaruh buruk untuk ayah,"
sembur Nayra.
"Nayra, gak boleh ngomong gitu
sama ayah gak sopan," tegur
Zara.
"Nayra, jangan pernah menghina
Lia lagi dia sahabatmu. Belum
tentu yang terlihat baik di depan
itu baik dibelakangmu," ucap Niko
sembari melirik kearah Zara.
Bukan Zara namanya dia pemain
hebat. Zara menyunggikan
senyuman dibibirnya.
"ayah benar, Lia contohnya dia
mengkhianatiku. Dibelakangku dia
berhubungan dengan ayah"
sahut Nayra yang tak mau kalah
Kami sudah memiliki hubungan
sebelum dia tau kalo ayah adalah
ayahmu," jelas Niko.
"Berarti dia memang wanita murahan
mau berhubungan dengan dua
laki-laki sekaligus. Apa ayah tau
kalo Lia baru saja putus sama
Rey. Jadi selama ini dia juga
menghianati Rey juga donk. Entah
berapa banyak lagi laki-laki yang
sudah mencicipi tubuhnya."
Brakkkkkk
Suara gebrakan pada meja makan.
Niko tidak bisa lagi menahan
amarahnya, putrinya ini semakin
tak terkendali menghina seseorang
tanpa mau mendengar penjelasan
orang itu terlebih dahulu.
"Niko kamu apa-apan ini," bentak
Mommynya. Nayra langsung
mengeluarkan air matanya ini
pertama kali sang ayah
memarahinya.
"Gara-gara p*****r itu kamu
membentak putrimu Niko," bentak
Mommynya lagi sambil memeluk
Nayra.
"Cucu Mommy mulutnya seperti
anak yang gak pernah sekolah,"
bentak Niko kemudian beranjak
dari tempat duduknya.
Niko kembali kekamarnya hanya
mengambil kunci mobil.
"Niko kamu mau kemana?" Niko
tidak peduli dia lelah tidak ada
ketenangan dirumahnya.
"Niko jangan harap mommy akan
merestui hubungan kalian."
Niko menghentikan langkahnya
tanpa menoleh kebelakang.
"Aku tidak butuh restu siapapun.
Aku sudah dewasa dan bisa
mengurus diriku sendiri. Aku akan
menikahi Lia meski tanpa restu
kalian," Setelah mengatakan itu
Niko kembali melangkahkan
kakinya.
Nayra hendak mengejar ayahnya
namun ditahan oleh Zara.
"Jangan gegabah Nayra. Kita pakai
cara lain pisahin mereka," ucap
Zara dengan serigai licik di
wajahnya.